Menulis pendek.

Suatu hari, aku dikomplen anakku. 

Katanya, ” Mami, kalau lagi ngomong ( maksudnya kalau aku lagi ngomel, bisaaalaah..ibu-ibu ), jangan pake kata kata yang panjang. aku pusing. ”

Sehari-hari, aku rutin menulis artikel untuk sebuah website dunia hiburan. Biasanya dalam sehari ada 3 artikel yang harus kutulis, dan jika beritanya cukup ‘panas’ bisa membengkak jadi 5-7 artikel.

Mulanya aku menulis dengan berusaha menjabarkan sedetil mungkin sebuah peristiwa atau hasil wawancara dengan si narasumber. Kenapa? Karena saat membaca berita dari portal berita online seringkali aku berpikir : “bused, ini berita pendek amat, gak jelas runutannya”.

Atau : “ini kok satu berita, dibikin beberapa judul, padahal isinya diulang ulang mirip artikel sebelum-sebelumnya”.

Dan aku merasa pointless, untuk meneruskan membaca artikel berikutnya, karena yang membedakan antara artikel satu dengan yang lainnya paling hanya 1-2 kalimat.

Jadilah aku menulis 1 artikel untuk 1 judul untuk 1 peristiwa dengan berusaha sedetil mungkin agar si pembaca merasa cukup puas. Tentunya, artikelku cenderung panjang…panjaaaaang.

Yang aku lupa adalah, ini adalah cara berpikirku. Bukan cara berpikir sebagian besar netizen, bahkan anakku yang merupakan generasi kekinian gitu lah, istilahnya.

Aku lupa, kalau hari gini, kita terbiasa dengan segala sesuatu yang cepat, dan instan. Mungkin juga aku lupa, atau sengaja lupa, kalau aku ini memang generasi masa lalu yang terbiasa membaca novel, buku dan koran yang penjabarannya lebih detil daripada isi portal media online di masa kini. 

Perhatikan saja, buku-buku yang sekarang beredar dari penulis-penulis muda cenderung lebih tipis, dan terdiri dari berbagai cerita yang berbeda dalam bab-babnya.

Selain terbiasa dengan segala sesuatu yang cepat, manusia-manusia sekarang cenderung tidak sabaran dan mudah bosan. Jadi, detil dirasakan bikin ribet. Cukup garis besarnya sajalah. 

Padahal menurutku, detil itu penting. Agar tak jadi sebuah kesalahpahaman, karena pasti setiap orang bisa memiliki interpretasi yang berbeda satu sama lain. Tapi sekali lagi, ini adalah aku. Bukan menggambarkan sebagian besar bagaimana pembaca saat ini. Sementara, sebagai seorang penulis, harus pula mengelus ego dan minat pembaca, bukan? 

Advertisements

4 thoughts on “Menulis pendek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s