Dangdutan.

Aku sudah 17 tahun lebih menetap di Jakarta. 10 tahun pertama tinggal di sebuah kompleks dengan 18 rumah yang jaraknya paling banter hanya 20-25 meter dari jalan raya. 

3 tahun kemudian, pindah dan tinggal lagi-lagi di sebuah kompleks kecil  berisi 7 rumah yang jaraknya…hmmm… kurang dari 100m dari jalan yang jauh lebih raya. 3 tahun kemudian, pindah lagi ke sebuah rumah yang nyaris di pinggir jalan super raya. Hitungannya sudah jalan arteri, kali ya.

Setahun terakhir, aku pindah ke rumahku yang sekarang. Lokasinya lebih ke dalam, jauh dari jalan raya. Mungkin sekitar 1.5km atau mungkin lebih, jaraknya.

Belasan tahun ( jika dihitung dari tempat kosku di kota Bandung sebelumnya, mencapai 20 tahunan ) sudah aku tinggal di pinggir jalan raya. Tentu saja aku sudah familiar dengan hingar bingar suara klakson dan deru kendaraan. Sesekali terdengar suara rem berdecit, bahkan braaaak! Suara tabrakan. Terkadang suara kendaraan yang lalu lalang justru menjadi semacam lagu pengantar tidur buatku. 

Begitu pindah ke rumah ini, mendadak hingar bingar itu hilang. Tak ada suara klakson berulang, deru knalpot kendaraan,    apalagi bunyi tabrakan. Hanya ketenangan, begitu hari beranjak malam.

Kukira, aku tak tahan dengan kesunyian. Sama ketika dulu saat kami masih sering berlibur ke sebuah rumah milik almarhum orang tua ayah dari anak-anakku di kota Bandung. Menjelang tidur, ada suara berdenging panjang di telingaku. Katanya, itu adalah sound of silence, saking sunyinya daerah di sekitar rumah itu.

Suara kesunyian itu acap kali menderaku, sampai pernah saking aku tidak tahan, aku tidur sembari mendengarkan musik dari telepon genggam, atau perangkat penyimpan lagu.

Namun kini, kesunyian ini justru menenangkanku. Suara paling berisik yang pernah kudengar adalah deru angin, karena posisi rumah ini cukup tinggi sehingga terpaan angin langsung masuk ke bagian belakang rumah. Itupun, siang hari saja terdengar. Nguuuuung…. nguuuuuungg… begitu suaranya.

Di kompleks ini terdiri dari 23 unit rumah mungil yang saling menempel dengan disain masa kini : minimalis. Istilah kerennya, townhouse. Ada 28 unit lagi yang luas tanahnya tak sebesar unit yang kutinggali.

Lingkungan sekitarku bagi kaum urban Jakarta masih disebut…uhm…kampung. Masih banyak penduduk asli Jakarta, yakni suku Betawi yang tinggal di sekitar sini. Mereka baik baik, ramah. Aku sering bertegur sapa baik dengan ibu RT, tetangga di luar kompleks, pemilik warung, tukang vermak baju, dan tukang sayur. 

Di kampung belakang, ada penjual gado gado yang seporsi hanya Rp 12.000 yang isinya segabruk-gabruk, bisa dimakan berdua, dan itupun masih menyisa.

Berbeda sekali dengan lingkungan di rumah terakhir yang kutinggali sebelum ini. Rumah gedong, mewah berlantai marmer dengan luas tanah… uhmmm… berapa ya..  mungkin 600-700m2 di lokasi yang harga tanahnya permeternya sudah bisa buat berangkat naik haji. 

3 tahun tinggal di situ, aku tak tahu menahu siapa tetangga di depanku. Mengapa banyak mobil keluar masuk situ. Atau siapa tetangga di sebelahku. Ibarat kata jika ada pesta bahkan tindakan kriminal di situ pun, kami tak akan pernah tahu, akibat tebal dan tingginya tembok yang membatasi. Oh well… aku tak terlalu merindukan juga rumah itu. Seperti menumpang tinggal saja, lagipula…batinku tak pernah menyatu dengan rumah itu.

Di rumahku yang sekarang, aku bisa leluasa naik sepeda, ke luar kompleks pun masih nyaman. Karena jalan yang kulewati bukan jalan utama. Setiap malam Minggu, ada satu ruas yang selalu ditutup karena ada semacam pasar malam yang diselenggarakan di sepanjang jalan itu. Seru atau tidaknya pasar malam itu aku belum tahu. Belum ada kesempatan untuk sekedar melihat-lihat ke situ.

Namun yang lumayan terasa saat malam Minggu, adalah sayup sayup terdengar alunan musik dangdut dengan suara vokalisnya yang khas, meliuk-liuk. Aku yakin, arahnya dari jalan yang ditutup itu. 

Kulihat jam, menunjuk ke angka 11, dan sudah menjelang tengah malam. Kutarik selimut, kucoba pejamkan mata. Jika puluhan tahun aku terbiasa dengan suara knalpot atau motor yang ngebut, apalah artinya satu malam dalam seminggu tidur diiringi penduduk yang lagi asik berjoged dangdut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s