Obat. 

[ sayup-sayup terngiang potongan lagu dari penyanyi Pink : “…you’re just like a pill….’Stead of makin’ me better, you keep makin’ me ill….You keep makin’ me ill…” ]

Jadi begini. Aku ini orang yang saaaangat malas minum obat. Mungkin karena terbiasa dari kecil saat masuk ke kamar kakekku yang seorang tenaga medis, aku selalu ( merasa ) mencium bau obat.
Di kamar kakek-nenekku yang biasanya full AC itu, ada sebuah lemari berlaci yang kalau dibuka di dalamnya ada berjenis-jenis obat. 
Aku ingat, tiap kali ada kata kata , ” Nanti habis maghrib masuk kamar Yai ( yang artinya kakek dalam bahasa Palembang )..” biasanya artinya akan disuntik, entah vaksin.. entah vitamin. Jadi…ya. Pengalaman itu cukup horor, dan terkenang sepanjang hidupku.. 

Aku lalu melihat bagaimana ibuku, yang rentan terkena migren, kerap minum obat untuk meredakan nyerinya. Dimulai dari obat merk ini, begitu dianggap kurang cespleng, pindah ke merk itu, yang aku yakin dosisnya juga pasti makin naik.

Aku juga melihat ibuku setiap hari minum obat, yang dikemudian hari aku paham, bahwa obat obat berukuran mungil dan ditandai dengan angka itu adalah pil KB. Dan aku juga akhirnya paham, mengapa beliau sering nyeri kepala. Dan hal ini yang menyebabkan aku, hingga kini, di tahun 2017 ini, tak pernah mau menggunakan alat kontrasepsi hormonal.

Singkat cerita, aku jadi malas minum obat.

Aku percaya akan konsep self healing. Sebenarnya tubuh itu sakit dan sembuh oleh kita sendiri. Kecuali penyakit bawaan, kalo itu sih sudah urusan Tuhan.

Tapi aku juga percaya, bahwa Tuhan memberi otak dan kemampuan untuk manusia terus belajar. Makanya ada dokter. Juga penemu dan pembuat obat.

Aku lebih percaya lagi, bahwa buatan Tuhan tak pernah salah. Buatan manusia ( dalam hal ini obat-obatan ), terlalu banyak celah.

Aku memilih memakan sayur dan buah, yang notabene memang buatan Tuhan, demi kelancaran fungsi fungsi organ tubuh. Karena aku enggan minum vitamin atau supplemen. 

Aku memilih terapi pijat daripada minum obat sakit kepala. Lebih mahal sih. 1 kali sesi pijat bisa beli sekantong obat sakit kepala. Minum sebutir obat pereda nyeri memang lebih cepat menghilangkan senut-senut. 1 kali sesi pijat terkadang hanya meredakan keluhan, dan harus disambung dengan tidur sejenak. Butuh waktu lebih lama, tapi paling tidak aku tak mesti minum obat.

Untuk hidup sehat hari gini pun sedikit susah. Okelah, sayur dan buah adalah buatan Tuhan. Tapi bagaimana dengan pestisida dan genetika silang yg notabene kerjaan manusia?

Well. Ada opsi. Pindah ke produk yang disebut organik. Mahal? Yasudah.. coba minimalkan kerusakan sayur dan buah tersebut dengan sabun pencuci khusus. Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s