None of your business.

Setiap orang itu punya versinya masing-masing. Tentang seseorang, tentang sesuatu.

Di usia gue sekarang, gue berpegang pada sebuah sikap. Jika seseorang atau beberapa orang terlanjur mengkategorikan gue sebagai A, B atau C, so be it… it’s their problem. Not mine. I keep moving on, and mind my own business.


Advertisements

Bukan salah siapa-siapa.

Nyeri hati itu, ketika kita sudah merasa memberi sepenuh hati, namun pada akhirnya merasa tak mendapat balasan yang setimpal.

Tau nggak…?

That’s nobody’s fault. It’s yours, and yours only.

Kalau memberi, lakukan karena memang ingin memberi. Bukan menumpuk harapan agar itu kembali. Itu tandanya kau berpamrih.

Tuhan itu adil. 

Universe itu bekerja dengan cara yang tak terduga. Jadi jangan terpaku pada pemberianmu pada orang itu saja. Mana tau kau dibalasNya dengan jauh lebih baik, indah meski bukan darinya, orang yang kau rasa sudah kau beri semuanya. Namun bisa jadi akan kau dapat dari dia, dia, dia dan mereka.

Rumah makan prasmanan.

2 porsi nasi

1 pepes ikan mas

1 paru goreng

1 ayam bakar

1 sayur urap

1 sayur pare

1 tumis tauge

1 sayur daun pepaya

2 perkedel jagung

1 tahu bacem

1 pisang

2 bungkus kerupuk

1 es kelapa jeruk

2 air mineral

Total Rp. 126.000

Cara menghapal itu semestinya sistematis. Seperti deretan menu untuk 3 orang di atas. Dimulai dari karbohidrat dulu, karena sebagai bangsa Indonesia, pasti makan nasi dulu yang utama. Tapi aku nggak. Meski aku anak metal, melayu total dengan raut oriental.

Selanjutnya lauk, berupa protein. Disusul sayur mayur, dan pelengkap makanan utama. Biasanya yang terakhir ini berupa tahu, tempe, perkedel, sejenis itu lah.

Lalu, aksesoris tambahan di piring. Yang istilahnya kalo ada syukur, gak ada ya uda gak papa. Yaitu kerupuk. Ada juga, kebiasaan lama, yakni “cuci mulut” yang berupa buah-buahan.

Last but not least, ofcourse…

Minum.

Jadi intinya, menghapal sesuatu itu agar mudah, harus sistematis. Seperti menghapal 16 deretan kartu kredit untuk transaksi online. Kan males, uda ribet ngetik, harus buka dompet, liat contekan nomer kartunya.

Hapalkan per4 angka.

XXXX 4 angka pertama ini biasanya kode bank penerbit kartu.

XXXX 4 angka kedua adalah kode jenis kartu, apakah jenis mastercard ataukah visa, rankingnya : gold, platinum dan titanium. Silver udah nggak laku, jaman sekarang.

XXXX nomer kartu

XXXX sama, nomer kartu juga

Tanggal berlaku, biasanya ini reminderku untuk bersiap-siap dikenakan iuran tahunan yang mempengaruhi total oustanding due.

Nomer CVV. Cuma 3 angka. Gampanglah, menghapalnya.

Hapalkan 1 kartu saja, untuk dipakai buat transaksi online. Kalo punya 3 karti kredit, dan dipakai semuanya, nanti repot gak kelacak pemakaian “hutang”nya.

Nomer telepon. Jika 7 angka, aku menghapalnya dengan cara : 3 angka pertama terlebih dahulu. Angka pertama menunjukkan lokasi. Kepala 7 wilayah Jakarta Selatan dan sekitarnya, kepala 4 Kelap Gading dan sekitarnya, atau kepala 5 wilayah Jakarta Barat dan sekitarnya. 

Lalu 4 angka berikutnya. Misalnya: 731… 0732 . Atau 450…3643

Jika terdiri dari 8 angka, ya sama saja seperti menghapal nomer kartu kredit. Per 4 angka. Semisal : 4584…7192, atau 2272…8865. Naaaah, yang kepala 2 ini biasanya nomer telpon rumah yang pakai penyedia jasa 3 in 1 : tv kabel, internet dan rumah kantor dari PT. Telkom. Kalo akhirannya bagus, misalnya : 2766…1500.. atau 3317…0000 dan kalo dicuekin ga berapa lama menelepon lagi dengan nomer yang nyaris nyaris mirip, jangan diangkat.

Biasanya itu marketing kartu kredit, yang mencoba menawarkan kita, yang seringkali dengan cara bicara nyerocos tanpa jeda, untuk berhutang lebih banyak dengan fasilitas KTA, penawaran asuransi, cicilan tetap, dst..dst…dst..

Film.

Aku hanya punya satu kategori film bagus : film yang bisa berkali-kali aku tonton. 

Susah, untuk aku nonton berulang sebuah film. Dari judulnya saja, jika aku sudah terkenang jalinan ceritanya, aku suka malas menonton. Atau…. saat kutonton, tiba-tiba aku dalam hati aku berkata : ” Prasaan ini uda gua tonton…”

[ Konsen sebentar lihat layar kaca ]

” NAAH!!!! Benar!!!!! Sudah pernah nonton!”

Tandanya film itu jelek. Saking jeleknya, aku bisa lupa, alias gak ninggalin kesan apa-apa.

Sementara film yang kurasa bagus, walau masih teringat jalinan ceritanya, tetap menggelitik untuk kutonton lagi. Seolah ingin sebuah ingatan lengkap tentang urutan adegan dalam film tersebut.

Contohnya :

– Trilogi The Lord of the Rings

– Trilogi the Hobbits

– Seri Pirates of the Caribbean

– Seri Harry Potter

– Seri Jason Bourne

–  The Lovely Bones

–  Room


Nah. Dikit, kan?

Gak perlu, nikah muda.

Saat adikku pulang pagi. Dari jarak semeter tercium apek, bau asap rokok. Mungkin dia tak merokok,tapi mungkin juga iya. Namun di suatu tempat di mana ada keriaan sampai pagi, biasanya pasti bau rokok.

Karaoke. Kelab malam. Resto bar. Disko dangdut. Bau rokok, dan aneka bau bau lainnya melebur jadi satu.

Adikku perempuan, di usia jelang 30. Sedang menikmati hidupnya. Capek kerja, ya liburan. Bokek, ya cari uang. Ada uang, ya balik lagi, pergi liburan.

She has seen the world. Asia, Eropa, penjuru nusantara. And planning to see more and more parts of the world.

I told her to, I encouraged her. Because I imagined, if I were her, I’d do the same. 

You see. 

Perempuan adalah perempuan. Setinggi apapun pendidikan dan karirnya, tetap hakikatnya adalah seorang ibu rumah tangga. Menikmati hidup ada masa kadaluarsanya. Sementara menjadi seorang ibu dan istri ( kalooo bisaaa ) itu selamanya. Jadi kalo nggak pernah punya cita cita nikah muda dan masih punya passion berjumpa banyak orang dan melihat dunia, tak usahlah nikah cepat cepat.

Seperti yang sudah kujalani. Menikah di usia duapuluhtiga. Meski telah membuahkan 2 jejaka muda yang teramat sangat aku sayang, sesungguhnya banyak liur yang harus kutelan, dan kini…terasa seperti ada sebuah rasa kerugian.

I should’ve been smarter!

Bisa.

Jika ada bisa yang mematikan selain dari yang dimiliki ular, maka itu adalah ucapan dari mulut perempuan.

Ya.

Kukenal seorang perempuan, yang hatinya penuh rasa iri dengki tak berkesudahan.

Yang menakar seseorang dari harta dan bawaan.

Jika orang tersebut ia rasa lebih baik, maka ia rela menjadi bak babu emban.

Namun lebih banyak yang ia anggap mestinya sepadan.

Maka dari itu, mereka tak boleh lebih di depan.

Padahal, jika mau berkaca diri, apakah sebegitu yakin dia punya kelebihan?

Itulah yang jadi sebuah alasan.

Hati yang tak terima akan sebuah kekurangan.

Maka seorang aku pun tak boleh berada di depan.

Sejak lama ia incar untuk hancurkan.

Dengan bisa yang terbungkus dalam lisan.

Kali ini ia berhasil buatku terhempaskan.

Tak apa, kuasa Tuhan aku masih bisa bertahan.

Nikmati tawamu wahai pemilik bisa dalam lisan.

Kaukira sudah sempurna, hidupmu dengan lahirnya seorang pejantan?

Ingat kau punya  2 anak perempuan.

Tak ngerikah engkau, akan yang akan terjadi di masa depan?

[ yea..yea…i curse you b*tch, for the tears of my 2 sons ]