Gak perlu, nikah muda.

Saat adikku pulang pagi. Dari jarak semeter tercium apek, bau asap rokok. Mungkin dia tak merokok,tapi mungkin juga iya. Namun di suatu tempat di mana ada keriaan sampai pagi, biasanya pasti bau rokok.

Karaoke. Kelab malam. Resto bar. Disko dangdut. Bau rokok, dan aneka bau bau lainnya melebur jadi satu.

Adikku perempuan, di usia jelang 30. Sedang menikmati hidupnya. Capek kerja, ya liburan. Bokek, ya cari uang. Ada uang, ya balik lagi, pergi liburan.

She has seen the world. Asia, Eropa, penjuru nusantara. And planning to see more and more parts of the world.

I told her to, I encouraged her. Because I imagined, if I were her, I’d do the same. 

You see. 

Perempuan adalah perempuan. Setinggi apapun pendidikan dan karirnya, tetap hakikatnya adalah seorang ibu rumah tangga. Menikmati hidup ada masa kadaluarsanya. Sementara menjadi seorang ibu dan istri ( kalooo bisaaa ) itu selamanya. Jadi kalo nggak pernah punya cita cita nikah muda dan masih punya passion berjumpa banyak orang dan melihat dunia, tak usahlah nikah cepat cepat.

Seperti yang sudah kujalani. Menikah di usia duapuluhtiga. Meski telah membuahkan 2 jejaka muda yang teramat sangat aku sayang, sesungguhnya banyak liur yang harus kutelan, dan kini…terasa seperti ada sebuah rasa kerugian.

I should’ve been smarter!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s