Menulis lucu.

Seingatku, aku belum pernah membuat sebuah tulisan yang lucu. Kebanyakan sih…tulisan getir, nyinyir, atau pemikiran yang rada berat dan sedikit njlimet yang terkadang setelah kubaca ulang, buatku berpikir, “ Ini gua lagi kenapa, ya?”

Kalau cuma kalimat kalimat singkat lucu sih sering, terutama di sosial media Path. Malas, ngetik panjang panjang di situ. Karena aku sendiri, kalo liat postingan panjang, cenderung cuma baca judul, dan langsung scroll.

Sampai suatu ketika……

Aku membaca ulasan lucu dari seseorang blogger, tentang sebuah film horor yang saat tulisan ini diketik, lagi hot-hotnya. 

Tulisannya ringan. Tentu. Kalo gak ringan ya susah menjadi lucu.

Jalan ceritanya cukup teratur, dengan agak belok ngawur kanan kiri sedikit khas anak muda, meski aku nggak tau yang nulis umurnya berapa.

Si Blogger tadi menyelipkan beberapa cuplikan foto dan meme lengkap dengan captionnya. Ini serasa menampar: ya ampuuun… blog gue ternyata standart banget, bacaan emak-emak abis gitu kali ya….. 

Padahal sih…… aku sendiri emang seorang emak-emak. Bukan anak muda lagi, yang memandang hidup masih deg-deg an dan penuh rasa senapsaran

Setiap fase yang dilewati, tentu merubah cara pandang seorang penulis atau orang yang gemar menulis, dan tentu berimbas pula ke warna dan rasa sebuah tulisan. 

Lingkungan juga memberikan kontribusi. Contohnya begini, aku punya teman yang gemar juga menulis. Karena lingkungan sekitarnya dekat dengan segala jenis manusia dari berbagai umur, kulihat si kawan tadi tulisannya bervariasi pula.

Ada masa tulisannya bisa serius dewasa matang mapan nan bijaksana. Namun di lain waktu, bisa dengan lincah melompat lompat memainkan kata khas bacaan penggemar anggota boiben Korea, meski topiknya ya topik dunia dewasa.

Hebat loh kalo bisa begitu ….👍🏼

Mungkin aku belakangan ini lupa. Aku juga sebenarnya bisa menulis dengan tema yang ringan dan sederhana. Tanpa perlu bergetir-getir dan mencoba menggiring orang yang baca buat mikir,” Apaan ya ini, maksudnya?”

Mungkin aku juga lupa, dalam hidup, sebaiknya kita  hadapi  saja dengan canda dan tawa. Bukan untung menggampangkan masalah, hanya supaya isi kepala ngga kusut seperti jalinan kabel listrik dan telepon di ruas jalan perumahan ibukota (betewe,di kampung tempat aku dibesarkan, semua kabel ditanam di bawah tanah *sombooooong* ). Bukan untuk ditertawakan, lalu dilupakan. Namun anggap saja sebagai bantuan agar kepala bisa lebih enteng dan jernih dalam mengambil keputusan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s