Goda.

Liat foto di sosial media, seorang teman berpose bersama mas mas yang kukenal, badannya bagus, atletis. Mukanya tampan. Tapi katanya tak suka perempuan.

Sejenak iseng ingin kuketik : ” Bilang sama mas itu, kutunggu jandamu…!”

Tapi sejurus kemudian kubatalkan niat itu. Untuk sebuah keisengan saja, tetap masih aku pikirkan. Bahwa untuk sekedar menggoda, aku masih pilih pilih pria.

Advertisements

Mengapa punya blog?

Karena…

Menulis adalah sesuatu yang aku suka. Di dalam diam, pikiranku bebas melanglang buana ke mana saja, tak terhingga. Dan aku punya kemampuan merangkai setiap kata, sehingga menjadi kalimat yang bisa kau baca. Lihat saja, tanpa sadar telah kubuat paragraf ini berakhiran dengan huruf ‘a’ saja. Jika aku tak miliki bakat, lantas apa itu namanya?

Karena…

A legacy. For my kids. Entah sampai kapan dunia dijital ini masih musim. Mana tau kan.. ketika mereka dewasa kelak, orang orang sudah tidak main internet lagi. Tapi udah yang lebih canggih. Atauuu… malah balik ke zaman urdu, back to jungle and back to nature?

Tapi 10 tahun dari sekarang, aku rasa mereka masih melihat lah… internet dan hopefully, blog ini. So they will know,.. How the struggles their mother has been through, her feelings, her thoughts, her love, and her dreams.

Karena…

Aku lelah dan tak punya waktu untuk menjelaskan tentang siapa diriku. Karena pada kenyataannya, kebanyakan orang di luar sana terlalu malas untuk mengelola lebih jauh tentang apa yang terlanjur mereka dengar dan lihat. Lebih gampang segera menjatuhkan vonis :” Ah si A ini anaknya begini..” atau ” Katanya si B kayak gitu sih emang..” atau…” Pasti penyebabnya karena anu…”

Trus mau, menjelaskan :” Enggaaa, jadi begini ceritanya, aku tu sebenernya…” ?

Engga ah.

They won’t really listen eniwei. Jangan lupa, bad news is a good news. Jadi jika terlanjur berita atau stempel negatif sudah mereka pilih untuk disematkan di jidatku, ya udah. Be it. Tapi kalo ada yang kepo dan masih punya waktu, they are more than welcome to read this.

Judulnya aja sudah “beingyunizm”. Sudah jelas blog ini bersifat personal dan sejujur-jujurnya. Malahan, lebih jujur isi blog ini deh, ketimbang jawabanku saat seseorang menanyakan berapa angka timbanganku.

Netijen.

Mengapa sesorang memutuskan menjadi netijen yang ikut berkomentar ( yang cenderung negatif dan subyektif ) dalam sebuah unggahan?

Apakah karena :

1. Gak ada hal lain yang dikerjakan, atau…

2. Ada hal lain yang dikerjakan tapi mau iseng doang, atau…

3. Cupu di dunia nyata, paling tidak bisa eksis di dunia maya, atau…

4. Enak aja kalo bisa menghakimi orang yang gak dikenal, atau…

5. Semuanya benar.

Kamu yang mana?

Aku sudah pasti nomer 2.

Aku pernah bersinggungan dengan netijen, yang tentunya aku nggak kenal, akunnya aja pake nama toko onlen. Padahal aku artis bukaaaan, politikus bukaaaan, anak pengusaha kaya apalagi.. bukaaaaan banget.

Padahal komentarku saat itu tidak menjurus ke sebuah nama, sekedar menceritakan kejadian yang AKU alami.

Lah lantas, maksudku apa?

Motivasi aja. Dari pengalamanku, agar JANGAN MANJA. Apalagi perempuan. Yang santai aja. Aku sih, emang tak suka perempuan menye-menye manja.

Problem?

Terserah.

Orang aku yang gak suka. Yeeee. Kalo kamu demen model gituan, monggoooo..silakeeeun saja.

Tapi tak semua netijen berpikiran sama. Ya sudah, hapus saja komentar yang keburu terbaca.

Takut?

Engga. Ribut di dunia maya, capede. Kalo hal itu bisa menghasilkan duit, lessgoh lah. Kalo nggak, ogah.

Selain itu, malas, nanti di reply lagi, jadi panjang. Kan nongol di notif, genggeusss.

Apalagi, aku artis bukaaaan, politikus bukaaaan, anak pengusaha kaya apalagi.. bukaaaaan banget!

Tabur tuai.

Dia pernah menjadi sebuah topik berita

Dari orang orang yang gemar berkumpul di bawah sebuah tenda

Yang terdiri dari banyak wanita

Dan dua.. atau tiga orang pria

Salah satunya adalah orang yang semestinya membuatnya punya harga

Dan seseorang yang sedari dulu miliki dengki level sempurna

Tiap kali cerita itu sampai di telinga

Dari orang orang yang langsung mendengarkan mereka

Atau bahkan ketika omongan itu telah sampai pada pihak ketiga

Hanya ada sedikit kemarahan di dada

Namun ada sebuah kesedihan yang terasa perih tak terhingga

Pada ia yang justru pertama membuka aib keluarga

Dan seolah bertepuk tangan ketika Dia dipojokkan dan dihina

Tanpa berusaha membela

Meski sudah berikan 2 hartanya yang paling berharga

Waktu bisa menyembuhkan sebuah luka

Namun bekas yang tertinggal ada selamanya

Setiap kali Dia menatap wajah mereka

Orang orang yang berkumpul di bawah tenda,

Sebuah doa tersemat di sana

Dan keyakinan bahwa sesungguhnya

Tuhan Yang Maha Adil tak akan tutup mata

Kita semua tinggal menunggu giliran saja…

BPJS part 1, Faskes I.

Setelah browsing di internet bagaimana prosedur penggunaan BPJS yang baik dan benar ( demi menghindari tolakan, yang akhirnya bikin kita ribet bolak balik ), aku segera memulai proses penggunaan Kartu Indonesia Sehatku.

Pertama tama, aku ke faskes tingkat 1, yakni Puskesmas terdekat untuk minta rujukan. Karena Puskesmas tak mampu menangani penyakit kistaku ( obviously ), oleh dokter muda nan manis berkulit putih di Puskesmas aku dirujuk ke faskes tingkat berikutnya. Penunjukan RS ini tergantung wilayah tempat kita tinggal, ya.

Sehabis dari Puskesmas, aku pulang ke rumah. Dari rumah kutelepon RS yang dirujuk oleh Puskesmas tadi. Tanya, bagaimana prosedurnya.

Oleh customer service rumah sakit tersebut, aku diberi nomer jalur khusus BPJS. Rupanya, harus dapat nomor appointment dulu dengan dokter, sebelum memulai proses registrasi.

Butuh waktu sekitar 5 hari, untuk aku bisa mendapatkan appointment dokter. Karena entah kenapa, tiap kali aku menelepon nomor khusus BPJS itu, yang kudapat nada sibuk, atau tak diangkat sama sekali. Kenapa, ya? Apa karena kebetulan saja, belum rejeki?

Akhirnya di suatu pagi yang cerah, nomor khusus tersebut diangkat oleh seorang mas mas dengan suaranya yang cukup ramah. Aku dijadwalkan bertemu seorang dokter kandungan, di hari Selasa, minggu depannya.

Sebut saja nama dokternya adalah Dr. Fulan.

Duh, reaksiku saat itu.

Aku pernah konsultasi dengan Dr. Fulan tersebut beberapa bulan sebelumnya. Dengan jalur biasa, dalam artian : bayar.

Saat itu, Dr Fulan melayani dengan ramah, meski aku agak syok saat beliau berkata salah satu indung telurku harus diangkat. Karena dokter kandunganku yang biasa, tak mengatakan hal seekstrim itu. Meski salah satu indung telurku diangkat, tak menjamin endometriosis tak akan terjadi lagi .

“Endometriosis memiliki kecenderungan untuk kambuh. Pada kasus endometriosis yang dilakukan bedah definitif, 3% dari kasus tersebut akan timbul endometriosis berulang. Sementara pada pasien yang menjalani pembedahan konservatif, timbul kekambuhan pada 10% kasus dalam 3 tahun pertama. Tingkat kekambuhan pada endometriosis mencapai 40% dalam 5 tahun.”

” Berapa, ya Dok.. biaya operasi?” Tanyaku kemudian.

” Oh tergantung kelas. Mulai dari 20 juta, sampai 40 juta. Kalo ibu ambil kelas VIP atau VVIP ya lebih mahal.”

Buset. Main kelas VIP aja, pikirku. Mungkin karena aku berkulit putih, bermata sipit, citranya banyak duit aja, kali ya?

” Kalo pake BPJS, bisa Dok?”

Sejenak Dr. Fulan tak langsung menjawab. Matanya tertunduk, dan berkata pelan ( tak seantusias sebelumnya) ,” Ya bisa aja, siiiiih…”

Saat itu juga aku hilang simpati.

Tapiiiiii….kini aku harus ketemu beliau lagi, dan dengan jalur BPJS pula! Aduuuuh! Kalau ternyata secara prosedur aku tak bisa dirujuk ke RSCM dan berakhir di meja operasi di rumah sakit itu dan dengan dokter itu, bagaaaaimaaanaaa???

Endometriosis part 3.

Dengan membulatkan tekad, aku kembali mengunjungi dokter spesialis kebidanan. Kali ini, aku konsultasi dengan dokter yang berbeda, karena dokter kandunganku yang biasa hanya bisa laparatomi, bukan laparaskopi.

“Cara konvensional yang telah lebih dahulu digunakan adalah laparotomi, yakni membuat sayatan yang dilakukan pada dinding perut, kurang lebih seperti operasi Caesar. Laparaskopi menggunakan kamera dan instrumen-instrumen khusus yang dimasukkan ke perut. Eksplorasi dapat dilakukan hanya dengan melakukan sayatan minimal sepanjang 2-3 cm, sehingga proses penyembuhan relatif lebih cepat .”

Dokter kandungan yang kudatangi ini, wanita berhijab. Dari data yang kubaca di internet, sepertinya mumpuni . Selain spesialis kebidanan, beliau juga spesialis onkologi atau sub bidang medis yang mempelajari dan merawat kanker. Titelnya SpOG(Onk).

Setelah periksa ini itu ( periksa dalam, yang horor banget bagi para ibu ), dokter meminta aku untuk tes lab, untuk tau kadar CA 125.

Tau ngga, 24 jam lebih aku stress membayangkan hasilnya, meski katanya tidak bisa dijadikan acuan ada tidaknya sel kanker. 3 hari sebelumnya, aku baru kehilangan tante terakhir dari pihak bapak.

Selain 6 orang adik laki-laki, bapakku punya 3 adik perempuan. Ketiganya meninggal dunia akibat kanker. Yang pertama kanker paru, padahal tak pernah merokok seumur hidupnya. Disusul tante terkecil, kanker payudara. Terakhir, tante tengah, juga karena payudara yang entah kenapa… di akhir hayatnya berubah menjadi kanker darah atau leukimia.

Nah kan. Gimana aku ngga parno?

Keesokan harinya, dengan berdebar debar, kutelepon poli kebidanan untuk tahu nilai dari tes CA 125.

Hasilnya, nilai rujukan tak boleh lebih dari 35 mg/iu, punyaku 65.7 mg/iu. Hampir 2 kalinya. Apa artinya?

Entahlah. Yang pasti melebihi batas maksimal. Namun, katanya, namanya juga ada benda asing di tubuh ( kista tersebut dianggap tumor ) maka biasanya memang ada kenaikan kadar CA 125.

Dokter Berhijab ini menyatakan, lagi lagi, harus operasi. Akhirnya aku setuju.

” Ini suami sudah setuju, bu?”

” Saya orangtua tunggal, Dok.”

” Sudah lama? Bercerai?”

” Iya. Tahun lalu.”

” Punya asuransi?”

Aku menggeleng.

” Punya pekerjaan?”

” Freelance, Dok.”

Si Ibu Dokter meletakkan pulpen yang sedianya buat menuliskan rujukan persiapan operasi.

” Operasi laparaskopi itu mahal sekali. Bisa 60-70 juta. Sayang uangnya, mending untuk hidup. Ibu pakai BPJS saja. Minta rujukan ke RSCM. Nanti saya sendiri yang mengoperasi. ”

Aku terdiam. Baik juga dokternya. Padahal dia kan tinggal iyakan saja. Masalah finansialku, dia kan bisa saja tutup mata. Karena yang kudengar, fee dokter yang menangani pasien BPJS berbeda jauh, apalagi di rumah sakit swasta.

” Ini saya kasih nomer HP saya, kabari saja sejauh mana prosesnya.”

Aduh. Baik banget ya, dokternya.

Sebelumnya, aku sudah bersiap-siap kalau harus operasi, mau tak mau aku akan cairkan deposito, yang tentunya berimbas dengan cash flow bulanan. Karena terus terang, saat ini aku masih membutuhkan bunga bulanan dari deposito.

Okelah, jika si Ibu Dokter menjanjikan akan menangani sendiri operasiku. Akan kucoba melewati jalur BPJS.