Endometriosis part 1.

Dulu, sekitar 7-8 tahun yang lalu, pertama kalinya aku membubuhkan tandatanganku untuk dua polis asuransi. Keduanya untuk anak anakku. Saat itu aku tak terlalu mengerti apa kegunaan 2 polis asuransi tersebut, sepintas kubaca, sepertinya untuk tabungan pendidikan, yang mengcover pula biaya kesehatan.

Kemudian, seorang teman yang seorang agen asuransi bertanya : “Kamu punya, asuransi?”

Aku menggeleng.

“Kamu mesti punya, untuk proteksi.”

Selanjutnya aku dikirimkan beberapa ilustrasi polis asuransi. Kukatakan pada temanku tadi, aku tanyakan dulu pada bapaknya anak-anak.

Ketika hal itu kutanyakan, mengapa aku tak dibuatkan asuransi, jawaban yang kuterima adalah : ” Tidak perlu. Yang perlu itu aku, sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah yang perlu diproteksi. Kalau ada apa-apa, toh semua jatuhnya ke kamu juga.”

Pun ketika beberapa tahun lalu seorang kerabat mencoba menawarkan agar aku dibuatkan asuransi, jawaban “tidak” pun tetap diterima.

Sayangnya, aku…diam saja. Entah bodoh, entah memang merasa premi yang harus dibayarkan adalah berupa beban, karena jika aku mengiyakan, kemungkinan besar aku sendiri yang harus membayarkan.

Jika ditanyakan, adakah sebuah sesal, maka ya. Ada sebuah sesal mengapa tidak dari bertahun tahun lalu aku memaksakan diri membuat asuransi kesehatan. Kini, saat usia sudah di kepala 4, saat beberapa bagian tubuh mulai sedikit bertingkah, mungkin aku tak perlu seribet ini.

Karena sesungguhnya, jika bagian tubuh ada yang bertingkah cukup bandel sehingga membutuhkan tindakan operasi, premi asuransi yang bisa dicicil perbulan itu sungguh terasa manfaatnya.

Untuuungnya… masih untungnyaaa nih… aku cukup nekad memaksakan diri membuat BPJS, yang kalau di kartuku tertulis : Kartu Indonesia Sehat.

Meski kadang kudengar atau kubaca, kartu BPJS ini cukup lekat dengan citra “kurang asyik”.

Mulai dari katanya birokrasi yang ribet, antrian yang paaaaanjaaaaang dan laaaamaaaa…. Dokter yang ogah-ogahan karena hanya dibayar seperberapa plus lama pula turunnya itu fee dari negara.

Belum lagi, berita bahwa BPJS mengalami defisit hingga 9 trilyun, karena klaim penyakit tak sebanding dengan dana yang terhimpun. Sehingga, masyarakat banyak meragukan kualitas pelayanan yang mereka terima. Intinya, tampak dipandang sebelah mata lah, pasien pasien yang datang dengan fasilitas BPJS ini.

https://www.google.co.id/amp/s/amp.tirto.id/mengakhiri-defisit-dana-bpjs-kesehatan-yang-menahun-cz8v

“Mau gratis, kok minta yang bagus..”

Lah.

Siapa bilang gratis? Tiap bulan aku bayar Rp.80.000 loh, perorang. Kalau 10 bulan aja nggak kupake, sudah Rp 800.000 dana yang bisa dipergunakan oleh saudara saudara lain yang membutuhkan. Itu baru dari aku seorang. Sementara, BPJS kan kalau bayar , wajib bayar pula seluruh anggota keluarga yg tertera di kartu keluarga. Kalau dalam satu KK aja ada 7 orang dikalikan Rp 80.000, sudah berapa dana yang terhimpun perbulannya? Kan belum tentu dipakai semua buat berobat. Siapa jugaaa, yang mau sakit, kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s