Endometriosis part 2.

3 tahun lalu, aku merasakan linu yang lumayan mengganggu menjelang menstruasi. Kupikir, ini pasti ada yang salah, meski hanya terjadi sekali.

Tak menunggu lama-lama, aku memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Tarrrraaaa.

Dapat hadiah kista endometriosis, ternyata. Saat itu ukurannya masih sekitar 7 senti lebih.

“Kista Endometriosis adalah penyakit kista coklat yang ditandai dengan adanya suatu keadaan dimana jaringan yang melapisi rahim yang diawali dari pertumbuhan di luar tersebut. Dan biasanya lebih mudah kita bayangkan adalah sebagai suatu kantung yang isinya adalah gumpalan darah dengan warna merah pekat yang agak cokelat dan menempel di luar rahim. Biasanya juga bisa menempel pada daerah panggul, indung telur, usus, rektum serta kandung kemih.”

” Penyebabnya apa, Dok?”

” Biasanya dari gaya hidup. ”

” Saya rewel, kok Dok..dalam makanan. Saya ngga makan jerohan, lemak berlebih, santan, suka sayur-sayuran dan makan buah.”

” Ibu olahraga?”

” Hampir tiap hari , minimal 1 jam.”

” Biasanya penyakit begini gak jauh jauh dari gaya hidup, dan pola makan, karena lekat kaitannya dengan ketidakseimbangan hormon. Oh ya, sama manajemen stress.”

Stress?

Aku nyengir.

Pas, waktunya. Kalau dihitung dari stressnya. Okelah, sudahlah… toh kistanya sudah ada. Tinggal selanjutnya bagaimana. Dokter sih mengatakan, di atas 5 cm : operasi.

Aku bergidik.

Hari demi hari berlalu. Begitupun bulan dan tahun. Karena sibuk ini itu, urus ini itu, planning ini itu, aku baru memeriksakan kembali kista endometriosisku tahun lalu.

Tarrrrraaaaa.

Naik 2cm. Jadi 9 koma sekianlah.

6 bulan kemudian, aku kontrol lagi. Masih di ukuran yang sama, yakni 9cm-an.

Sampai 2 bulan kemudian, tepatnya bulan Agustus 2017 ini, aku dihantam masalah yang cukup pelik dan cukup menguras air mata. Entah kebetulan, entah ada pengaruhnya atau tidak, saat itu aku merasakan bagian perutku tempat di mana kista itu bersemayam, berdenyut ngilu.

Aku datangi kembali dokter kandungan.

Taaarrrraaa.

Naik jadi 10 koma sekian senti. Ok. Fix. Stress pemicu utamanya. Dokter mengatakan ( tentunya ) : OPERASI.

Whaduuuuuuuuhhh!!!!

Sumpede.

Aku takut operasi. Takut dibius. Meski sudah 2 kali menjalani operasi Caesar, namun tidak juga menjadikan itu sebuah pengalaman yang ngangenin untuk diulangi lagi.

Belum lagi biaya. Untuk biaya sebuah operasi laparaskopi kista, berkisar antara 50-60-70 juta tergantung kasus, dan jenis kamar.

Aku sempat mencoba pengobatan alternatif. Dari minum rebusan bawang dayak yang rasanya…ya gitu deh. Dengan pijit di jari kaki yang bujub sakitnya ( semoga membuat aku bertambah pahala, karena asik-asik berteriak memanggil nama Tuhan dengan berlinangan air mata).

Namun pada akhirnya, aku menyerah dengan berniat memilih tindakan medis: operasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s