Endometriosis part 3.

Dengan membulatkan tekad, aku kembali mengunjungi dokter spesialis kebidanan. Kali ini, aku konsultasi dengan dokter yang berbeda, karena dokter kandunganku yang biasa hanya bisa laparatomi, bukan laparaskopi.

“Cara konvensional yang telah lebih dahulu digunakan adalah laparotomi, yakni membuat sayatan yang dilakukan pada dinding perut, kurang lebih seperti operasi Caesar. Laparaskopi menggunakan kamera dan instrumen-instrumen khusus yang dimasukkan ke perut. Eksplorasi dapat dilakukan hanya dengan melakukan sayatan minimal sepanjang 2-3 cm, sehingga proses penyembuhan relatif lebih cepat .”

Dokter kandungan yang kudatangi ini, wanita berhijab. Dari data yang kubaca di internet, sepertinya mumpuni . Selain spesialis kebidanan, beliau juga spesialis onkologi atau sub bidang medis yang mempelajari dan merawat kanker. Titelnya SpOG(Onk).

Setelah periksa ini itu ( periksa dalam, yang horor banget bagi para ibu ), dokter meminta aku untuk tes lab, untuk tau kadar CA 125.

Tau ngga, 24 jam lebih aku stress membayangkan hasilnya, meski katanya tidak bisa dijadikan acuan ada tidaknya sel kanker. 3 hari sebelumnya, aku baru kehilangan tante terakhir dari pihak bapak.

Selain 6 orang adik laki-laki, bapakku punya 3 adik perempuan. Ketiganya meninggal dunia akibat kanker. Yang pertama kanker paru, padahal tak pernah merokok seumur hidupnya. Disusul tante terkecil, kanker payudara. Terakhir, tante tengah, juga karena payudara yang entah kenapa… di akhir hayatnya berubah menjadi kanker darah atau leukimia.

Nah kan. Gimana aku ngga parno?

Keesokan harinya, dengan berdebar debar, kutelepon poli kebidanan untuk tahu nilai dari tes CA 125.

Hasilnya, nilai rujukan tak boleh lebih dari 35 mg/iu, punyaku 65.7 mg/iu. Hampir 2 kalinya. Apa artinya?

Entahlah. Yang pasti melebihi batas maksimal. Namun, katanya, namanya juga ada benda asing di tubuh ( kista tersebut dianggap tumor ) maka biasanya memang ada kenaikan kadar CA 125.

Dokter Berhijab ini menyatakan, lagi lagi, harus operasi. Akhirnya aku setuju.

” Ini suami sudah setuju, bu?”

” Saya orangtua tunggal, Dok.”

” Sudah lama? Bercerai?”

” Iya. Tahun lalu.”

” Punya asuransi?”

Aku menggeleng.

” Punya pekerjaan?”

” Freelance, Dok.”

Si Ibu Dokter meletakkan pulpen yang sedianya buat menuliskan rujukan persiapan operasi.

” Operasi laparaskopi itu mahal sekali. Bisa 60-70 juta. Sayang uangnya, mending untuk hidup. Ibu pakai BPJS saja. Minta rujukan ke RSCM. Nanti saya sendiri yang mengoperasi. ”

Aku terdiam. Baik juga dokternya. Padahal dia kan tinggal iyakan saja. Masalah finansialku, dia kan bisa saja tutup mata. Karena yang kudengar, fee dokter yang menangani pasien BPJS berbeda jauh, apalagi di rumah sakit swasta.

” Ini saya kasih nomer HP saya, kabari saja sejauh mana prosesnya.”

Aduh. Baik banget ya, dokternya.

Sebelumnya, aku sudah bersiap-siap kalau harus operasi, mau tak mau aku akan cairkan deposito, yang tentunya berimbas dengan cash flow bulanan. Karena terus terang, saat ini aku masih membutuhkan bunga bulanan dari deposito.

Okelah, jika si Ibu Dokter menjanjikan akan menangani sendiri operasiku. Akan kucoba melewati jalur BPJS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s