Netijen.

Mengapa sesorang memutuskan menjadi netijen yang ikut berkomentar ( yang cenderung negatif dan subyektif ) dalam sebuah unggahan?

Apakah karena :

1. Gak ada hal lain yang dikerjakan, atau…

2. Ada hal lain yang dikerjakan tapi mau iseng doang, atau…

3. Cupu di dunia nyata, paling tidak bisa eksis di dunia maya, atau…

4. Enak aja kalo bisa menghakimi orang yang gak dikenal, atau…

5. Semuanya benar.

Kamu yang mana?

Aku sudah pasti nomer 2.

Aku pernah bersinggungan dengan netijen, yang tentunya aku nggak kenal, akunnya aja pake nama toko onlen. Padahal aku artis bukaaaan, politikus bukaaaan, anak pengusaha kaya apalagi.. bukaaaaan banget.

Padahal komentarku saat itu tidak menjurus ke sebuah nama, sekedar menceritakan kejadian yang AKU alami.

Lah lantas, maksudku apa?

Motivasi aja. Dari pengalamanku, agar JANGAN MANJA. Apalagi perempuan. Yang santai aja. Aku sih, emang tak suka perempuan menye-menye manja.

Problem?

Terserah.

Orang aku yang gak suka. Yeeee. Kalo kamu demen model gituan, monggoooo..silakeeeun saja.

Tapi tak semua netijen berpikiran sama. Ya sudah, hapus saja komentar yang keburu terbaca.

Takut?

Engga. Ribut di dunia maya, capede. Kalo hal itu bisa menghasilkan duit, lessgoh lah. Kalo nggak, ogah.

Selain itu, malas, nanti di reply lagi, jadi panjang. Kan nongol di notif, genggeusss.

Apalagi, aku artis bukaaaan, politikus bukaaaan, anak pengusaha kaya apalagi.. bukaaaaan banget!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s