D*****a.

Suatu ketika, seorang anak bertanya : “Berdosakah aku jika aku membenci ibu kandungku?”

Alasannya :

1. Sang ayah mengatakan bahwa ibunya serong dengan laki laki lain.

2. Di usia 7 tahun ia menyaksikan bagaimana ibunya kerap pergi dengan laki laki lain.

3. Setelah kedua orangtuanya bercerai, ia akhirnya memilih ikut dengan sang ayah. Sementara sang ibu pergi dengan membawa adiknya.

4. Pasca berpisah, si anak mengaku bahwa sang ibu tak pernah menanyakan kabar beritanya ( daaan….Justru mengatakan ia kini lebih sayang dengan ibu tirinya daripada ibu kandungnya. *OUCH!* )

Singkat kata , ia bertanya : ” Wajarkah jika aku membenci ibu kandungku?”

Jawabku : TIDAK WAJAR.

Punya rasa benci itu, regardless dengan siapapun, sudah merupakan wujud ketidakwajaran. Emang ada ya, orang yang bisa tenang dan bahagia dengan memupuk kebencian?

Apalagi terhadap ibu kandung sendiri.

Aku punya cerita. Tentang seorang ibu yang sedang dibenci anaknya. Oh well, at least, less loved daripada si bapak.

Hampir mirip ceritanya dengan kisah di atas. Si ibu diceraikan bapaknya , sedikit banyak karena kisah tuduhan perselingkuhan yang sudah bertahun tahun lamanya berlalu ( mungkin si bapak baperan dan susah move on ), dan merembet ke urusan lainnya, mulai dari urusan ranjang sampai pembayaran gaji pembantu.

Karena rumah yang ditinggali saat itu statusnya adalah rumah warisan orang tua si Bapak, mau tak mau si Ibu yang harus angkat kaki. Karena anaknya yang tertua sudah bisa memilih, akhirnya ia memilih ikut sang ayah yang lengkap dengan fasilitas mewah dan aturan tak sekaku ibunya. Sementara, si ibu pergi membawa si Adik.

Si Ibu membeli ( tepatnya diberi ) rumah baru hasil gono gini. Secermatnya ia memilih lokasi dan rumah yang sesuai dengan bujet yang tersedia, karena hanya segitu-gitunya yang ia punya untuk bertahan entah sampai kapan.

Di kepalanya, telah terbayang, salah satu kamar ini adalah untuk anaknya jika hendak menginap, atau sekedar beristirahat.

Namun, jangankan menginap. Si Anak Tertua datang pun hanya sekedar bertandang. 10-15 menit, dan selanjutnya ucapkan selamat tinggal.

Padahal sang Ibu sudah berusaha membuat rumah yang nyaman sedemikian rupa.

Padahal sang Ibu berkali kali meminta agar diberi kesempatan meluangkan waktu bersama.

Padahal tanpa lelah sang Ibu setiap hari menelepon menanyakan kabarnya meski lebih sering sebuah telepon tak terjawab terbiar begitu saja.

Padahal tak jarang sang Ibu menitikkan air mata dalam doa demi anak anaknya.

Padahal sesungguhnya remuk sungguh hatinya tatkala sang Anak terasa tak membutuhkan lagi sosoknya.

Atau ketika sang Anak merasakan adalah sebuah keterpaksaan untuk sekedar menghabiskan waktu bersama perempuan yang telah 9 bulan berbagi denyut nadi dengannya.

Atau ketika dengan pongah seorang anak memaksakan ibunyalah yang harus memohon maaf untuk sebuah permintaan waktu bersama.

Lupakah ia, bahwa 2 malam perempuan itu didera nyeri dan bertarung nyawa agar ia terlahir di dunia?

Lupakah ia, dengan siapa yang pertama mengajarinya melangkahkan kaki dan bertutur kata ?

Lupakah ia kata pertama yang diucapkannya di dunia adalah “mama”?

Lupakah ia belasan tahun sudah jika ia sakit, siapa yang tak tidur dan berjaga di sampingnya?

Sebegitu hebatnya uang dan harta.

Hingga bisa membuat seorang anak lupa akan ibunya.

Apakah cukup hal itu disebut d*****a?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s