Enggan.

Pagi ini aku membuka mata dengan keengganan yang luar biasa. Entahlah, bagian yang salahnya ada di mana. Tapi sepertinya liburan panjang barusan, membuatku sedikit merenung dan berpikir. Tentang apa yang kumau, dan apa yang kuperlukan dalam hidupku.

Aku tak mau lagi menggerutu, atau menyimpan kekecewaan yang lama. Bahkan sampai bertahun tahun.

Jika semua orang berjalan maju bahkan berlari dalam hidupnya, mengapa aku kini hanya beringsut perlahan?

Aku tak ingin diperlakukan sebagai pelengkap. Apalagi menjadi aksesoris bagi kebahagiaan orang lain. Aku juga berhak bahagia, seutuhnya. Bukan sekedar bahagia, karena aku harus menerima saja keadaan yang ada. Ah, yang begitu kan sudah lama kualami dan sudah tau rasanya untuk menelan hal itu bulat-bulat.

Aku tak ingin lagi diletakkan di nomer 3, 4, 5…dan seterusnya. Aku ingin rasakan juga bagaimana menjadi prioritas utama, dihargai bak harta yang paling berharga. Karena ya Tuhan….aku tahu aku bisa dan akan melakukan hal yang sama!

Bukankah Tuhan mengatakan bahwa Dia tak akan merubah nasib seseorang kecuali seseorang itu berusaha mengubah nasibnya sendiri? Jadi aku tentu bisa, bukan? Menentukan sendiri bagaimana aku ingin bahagia?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s