BPJS part 2, Faskes II.

Selasa, 14 November 2017

Setelah drop baby boy di sekolah, aku menuju faskes II, yakni RS terdekat yang telah dirujuk oleh Puskesmas / Faskes I yang sebelumnya telah kudatangi.

Di RS tersebut, aku segera menuju ruang khusus antre pasien BPJS di lantai 2 yang lebih tepat disebut basement sih. Sampai di situ kira kira pukul 8.20 pagi, daaaaaaaaaan….. antrean sudah mengular, panjaaaaang dan pasti laaaaaamaaa. Untuk mendapatkan surat eligibilitas pasien BPJS aku harus menunggu sekitar 4 jam.

Setelah surat tersebut didapat, aku naik ke lantai 4, poli kebidanan untuk menunggu giliran komsultasi dengan si Dr. Fulan.

” Bagaimana bu, jadi dioperasi? ” demikian kata Dr. Fulan saat bertemu muka denganku sejam kemudian.

” Kelihatannya begitu Dok….tapi apakah bisa saya mendapatkan operasi laparaskopi, mengingat aktivitas saya mengharuskan cepat pulih?”

” Tak bisa, bu. Dengan kista sebesar ini beresiko untuk pecah saat dilakukan laparaskopi.”

Aku terdiam.

Lah kok berbeda dengan 2 dokter yabg sebelumnya aku datangi? Dokter kandunganku selama ini dokter senior loh. Dokter kedua yang kudatangi, dari hasil browsing, juga bukan dokter main-main. Praktek di rumah sakit pemerintah pusat seperti RSCM tak mungkin dokter sembarangan, toh?

” Terus, indung telur kanan saya juga mesti diangkat?”

” Iya, karena kita angkat utuh kistanya. Seperti ini ,” lalu dokter tersebut menunjuk berbagai foto operasi kista melalui telepon pintarnya.

Lah, berbeda lagi. Kedua dokter yang kudatangi sebelumnya mengatakan akan berupaya sebisanya mempertahankan indung telur yang terkena kista. Tidak main asal copot saja.

” Saya ingin laparaskopi saja, dok..” ucapku kemudian.

Dengan perlahan, Dokter Fulan menjelaskan bahwa tindakan laparaskopi di rumah sakit itu tidak ditanggung BPJS. Hanya laparatomi saja yang bisa.

Untungnya, Dokter Berhijab yang memintaku untuk menggunakan fasilitas BPJS sempat memberikan sebuah surat pengantar yang ditulis tangan sendiri oleh beliau. Kuserahkan surat tersebut.

” Baiklah, ” ucap Dokter Fulan tadi sambil menuliskan surat rujukan.”Saya sih… ngga mau ngomong sebenernya. Tapi di sana ( RSCM ) takutnya ibu …. gimana ya. Dijadikan kelinci percobaan. ”

OK.

That’s it. Confirm. I don’t like this doctor. May I never have to consult with him ever again!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s