What happen to them, based on what I read on online news, sounds familiar to me.

Even the Singapore situation.

[ Ofcourse, there are significant differences WHICH, I’m too lazy to describe because of… It’s been ages ago…it has been his words, their words….my words…. *YAAAAWN! ]

I’d rather be curious, what’s behind Veronica Tan’s closed lips.

She has 3 sons. IF she really loves that other man ( IF this affair really exist ), what made her so foolish to sacrifice her 3 sons? Does LOVE really can make you sacrifice the most precious thing that ever happened to you?

I compare her with me. I’d die, if I lost my sons. So I definitely will do everything, anything, in order to keep them always with me. Losing child custody for me, feels like a death penalty.

Does love between a man and a woman ( again, IF the affair really exist ) can make a mother ( sort of ) neglect her own flesh and blood?

I understand if a man can do such thing. Meet another woman, divorce his wife, and leave his children to their mother. It happens all the time.

But a mother?

For me , in this world, there is no purest love except from a mother to her child(ren). It’s the real form of what they call : unconditional love ( sorry Dads, no matter how good you think you are, but I think you can never compare because it’s just the way it is ).

What happened between her and kokoh Ahok my idol?

You see…

In my opinion, there is no right or wrong in marital problem, but always a reason and cause.

Ahok seems like a lovable husband, romantic too. But we never know what’s really happen behind their closed door. How he is in front of Bu Vero, vice versa.

A wise man told me, nobody knows better about a person except who is sharing the bed with her/him. And the funniest thing about marriage is, you tend to hold your ego to maintain good name, good image towards everybody, except your own spouse. You don’t need to maintain anything to your spouse, because… hey… you already got that certificate or little green/brown book of “ownership”, riiiight? <—– and this is so WRONG!

Advertisements

Suatu ketika, ada notifikasi muncul dari sebuah situs aplikasi pencari kerja. Katanya, ada yang melihat profilku di sana.

Sebagai seorang yang bukan dari kalangan eksekutif keceh karir sakseis dan sederet titel yang biasa tercantum di profil seseorang, aku sebenarnya iseng saja membuat akun di situ. Yaaa…kali kali suatu saat berguna.

[Asal jangan iseng yang berbuah syok karena pernah tak sengaja aku mendaftar di sebuah situs pertemanan, dan ternyata adalah…….situs cari jodoh! Waduuuh… delete! Deleeeteee….]

Pas kutengok, halaaah…

Alih alih ngarep yang lihat adalah calon pemberi pekerjaan yang bisa ngasi duit, malahan pacar seseorang….yang… let’s say… Deuh, gak jadi lah, mbahasnya aja sumpah males banget. *emojingantuk*

Oh well… unless, emang pengen ngasih gua pekerjaan kali ya?

Ya… aku anaknya berusaha positip thinking aja lah. Kesian, kalo ngeliat profil seorang aku yang apalah ateuh hanya ibarat butiran debu dan bak kresek alpamart melayang layang di udara ini cuma buat kepo dan ajang kompetisi padahal kan katanya gak secantik dan sebagus kamu bodiku inih…. Iiiiiihiiiyyy!!!

*moonwalking

Eropa.

Aku lebih sering traveling di seputar Asia. Singapura apalagi, sampai sampai anakku ketika SD pernah ditanya, ke mana kalau pulang kampung? Dengan polos ia menjawab : ” Singapura.”

Sejujurnya ya agak bosen juga saban liburan harus ke sana. Urutannya selalu sama : Orchard Rd, keluar masuk mal, makan di Jumbo Seafood, bawa anak anak entah ke kebun binatang, Universal Studio, atau ngubek-ngubek di Sentosa . Keluar masuk mal lagi, beli mainan. Beli.. makan…beli.. makan…beli..dan beli….

Sebenarnya, jika boleh memilih, daripada setahun 2-3x mengunjungi Singapura, mendingan berangkat setahun sekali, tapi langsung ke destinasi yang berbeda-beda. Ya kalau mahal untuk pergi berempat ke destinasi yang jauh, puterin Asia dulu lah ( selain Singapura tentunya ), bahkan wisata dalam negeri pun tak kalah banyaknya. Biar anak anak bisa memiliki pengalaman yang berbeda-beda.

Itu mauku. Dan itu : dulu……..hihihi.

Beberapa tahun kemarin, aku sempat terpikir, untuk berkunjung ke Eropa lagi. Ke destinasi yang belum pernah aku datangi. Maka pergilah aku ke Berlin, melalui Amsterdam. Dan kini, Praha, yang katanya indah. Dengan bujet dibikin seekonomis mungkin, namun tentu tetap harus nyaman, tanpa ribet.

Dadakan, karena persiapannya hanya sebulan. Ide yang terhitung nekat ini baru terpikir di akhir November 2017, jelang persiapan aku operasi laparaskopi kistektomi yang mengharu biru seperti di tulisanku sebelumnya ( dan belum pula ada ending-nya šŸ¤£ ). Tepat sehari setelah recovery pasca operasi, masih sedikit meringis meringis manjah, kuhubungi adikku : ” Beli tiket ke Belanda!”

[ Saat terbaring di kamar kelas 3 RSCM itu, aku hanya berpikir, hidup itu terlalu singkat jika aku hanya terlalu sibuk berjaga jaga ngekepin duit. Things might happen, dan yang namanya uang itu jika harus hilang, maka ia bisa hilang hanya dalam sekejab. Tapi pengalaman, mata yang masih bisa melihat dunia, ingatan itu akan menetap selamanya. Jika memang ada dananya, tak pula berhutang, mengapa tidak? ] engajuan visa saja baru aku mulai tgl 21 Desember dengan hitungan akan terpotong liburan natal dan tahun baru. Sebelumnya, kami sudah ke 3 agen travel dan kesemuanya menolak untuk pengurusan visa Schengen dengan alasan : mepet. Akhirnya aku dan adikku datang sendiri untuk mengurusnya. Tempatnya di lantai 1 Mal Kuningan City. Namanya VFS apaaaa gitu ( googling aja, aku lupa…hehehe ).

Kali ini, aku memang pergi sendiri. Berdua ding, sama adik.

Sendiri, tak bawa anak anak karena terus terang dananya belum siap. Aku sih ingin mereka melihat salju di negeri orang, namun ketika berada di sini, rasanya belum pas membawa si kecil menikmati suhu yang kalau pagi mencapai -2. Kalau ada rejeki ( entah kapan nih…karena setelah kuhitung-hitung aku mesti siap paling tidak 100juta rupiah ), aku ingin bawa mereka di suhu yang lebih nyaman, musim semi misalnya.<<<<<<
tu indah, menurutku. Apalagi dengan adanya kastil kastil dan bangunan gereja dari abad pertengahan yang hingga kini masih terjaga. Aku suka, melihat bangunan bangunan dari batu yang menjulang tinggi di angkasa itu. Setiap kali aku mendongakkan kepala melihat sebuah menara, yang terbayang di kepalaku adalah Rapunzel yang sedang menyisir rambut emasnya yang panjangnya gak kira-kira.

Beberapa hari yang lalu, aku sempat menaiki menara dari katedral di lokasi Kastil Praha, Cekoslavakia. Ya Tuhan, baru 1/2 jalan saja menaiki tangga berulir itu aku sudah mulai merasakan pening, ditambah efek phobia ketinggian. Akhirnya aku memutuskan untuk turun, tanpa sempat mencapai puncak.

Orang masa kini membuat bagunan sebegitu tinggi dengan bantuan alat dan mesin. Lah mereka, manual! Segimana orang jaman dulu yang membuatnya? Canggih ya mereka.

Singkat cerita, aku bahagia melihat bangunan bangunan tua yang berada di Praha. Sebelumnya, aku pernah terpesona dengan beberapa istana dan katedral di Lisbon, Portugal. Aku pernah masuk Notre Dame dan beberapa katedral di Paris. Namun saat itu menurutku, mereka masih kalah indah dengan yang berada di Lisbon.

Trip kali ini juga aku tak banyak belanja. Dalam artian belanja fashion, ya. Tidak seperti….mungkin 5-10 tahun yang lalu, yang tiap pulang dari luar negeri pasti menenteng sebuah tas baru.

Bagiku kalau untuk pakaian saja sih, di Indonesia juga gak kalah variatif. Malah merk-merk lokal tak kalah lucu, dengan harga yang jauh lebih bersahabat.

Di beberapa tempat, semisal Primark, New Yorker atau Hema di Belanda, harga pakaiannya terhitung murah. Namun tetap tuh, aku tak bergeming. Ribet juga membawanya, mengingat koper besar yang kubawa sudah penuh dengan pakaian musim dingin yang menghabiskan banyak tempat.

Yah, mungkin juga aku sedang malas saja bergaya gaya. Sedikit merasa, ah da mulai tua, sudah malas kebanyakan acara. Mungkin, kalau usia lebih muda, ceritanya bisa berbeda….

<<
itten somewhere in #Prague, #Hilversum, and #Jakarta *

#traveleurope #lifegoals #40something #whatmakesyouhappy #turningpoints

Good cop/bad cop.

Dalam sebuah rumah tangga yang utuh, tak mengapa jika masing masing orang tua memiliki peran yang bertolak belakang.

Jadi ingat orang tuaku dulu :

Aku : ” Maaaa, minta uang.. mau jajan.”

Emak : ” Ngga ada.”

Atau..

Aku : ” Maaa..aku mau sepatu yang itu…”

Emak : ” Astaga, mahalnya. Udah yang ini aja.”

Lalu aku sebal sama ibuku.

Ketika aku ke bapakku :

Aku : ” Paaaa… aku minta uang mau jajan.”

Bapak : ” Berapa?”

Atau..

Aku : ” Paaaa, aku mau sepatu yang itu doong ”

Bapak : ” Yauda.”

BAM!!! Bapakku langsung menjadi idolaku, (hingga kini). Bagiku ibuku kuno, pelit, galak… ngga menyenangkan deh pokoknya. Sementara bapakku lebih gak banyak cingcong, bapakku pula lah yang punya uang karena berkerja.

Tapi..

Ketika ibuku marah, bapakku tak memihak kepadaku, seperti balik memarahi ibuku. Begitupun saat bapakku memarahi aku, ibu pun tak pernah memihakku. Seolah mereka meski tanpa kata kata, sudah sepakat untuk menjadi satu suara. Dan oleh karenanya, bagiku mereka satu paket tak terpisahkan. Bapakku karena gampang iya, ibuku karena masakan dan lumayan sadis dalam pengajaran norma, tatakrama sebagai penyeimbangnya. Hidupku nyaris pas, yin dan yangnya.

Apa yang sekiranya terjadi dalam sebuah rumah tangga yang patah namun memiliki perbedaan yang amat mencolok dari contoh good cop/bad cop di atas?

Biasanya anak anak akan memilih sosok yang dianggapnya paling membuat nyaman.

Gapapa, toh orangtuanya juga. Yang jadi masalah adalah, jika jomplang banget di antara keduanya. Bapaknya kaya banget, ibunya perhitungan banget. Bapaknya iya semua, ibunya banyak nasehat dan aturan. Bapaknya gak satu rumah sama ibunya dan gak saling bicara. Apalagi jika ada api dendam yang terus menyala. Sudahlah anak masih terluka akan problem orangtuanya, tambah lagi luka oleh sosok orangtua yang membuatnya “gerah”.

Sesungguhnya, mengerikan jika seorang anak bisa membenci orangtuanya. Dan ga ada yang paling merusak mental seorang anak, selain membiarkan ia membenci orangtuanya. Padahal, dipukulin kan, juga enggak…?

#semuadaringayal

Saat duduk di bangku SD, aku nggak kepingin boneka Barbie. Kayaknya, memang aku ngga pengen apa apa deh waktu itu. Selain pengen diijinkan berenang kapanpun aku mau, meski sampai gosong kepanggang matahari.

Ketika SMP, gara gara aku ngeliat anak anak bule di sekolah internasional di kampungku, aku jadi kepengen punya sepatu kayak mereka. Merk yang paling kondyang saat itu : Robeek. Trus aku ngayal, gimana caranya dapet sepatu Robeek, secara ngga mungkin banget dijual di kampungku, paling banter juga ada merk Elang atau Sepotek atau Kaksogi.

Sekitar tahun 1988 itu, aku juga nggak tau sudah ada yang jual atau tidak di ibukota Jekardaaah. Intinya, aku ngayal punya sepatu itu.

Sampai suatu ketika, bapakku bilang : ” Sini, gambar kakimu di kertas. Ukur berapa senti.”

Tak lama kemudian, bapakku pulang membawa sepasang sepatu Robeek. Warna putih, yang ternyata di tahun 2018 ini, kembali hitz lagi. Darimana bapakku mendapatkannya? Oooo, ternyata titip mbak pramugari Pelita Air yang kebagian shift ke Sinjiapoh. Nah, ngayalku jadi nyata.

Menginjak bangku SMA, khayalanku makin mengada ngada dan makin tak tahu diri. Aku menghayalkan, keluar dari kampungku di belantara Kalimantan sana dan selanjutnya menetap di kota besar. Aku menghayal, suatu saat jadi orang kaya. Bisa ke luar negeri. Paling nggak, ke Malessya lah… sekatrok-katroknya.

” Lo liat ya, suatu saat, gue pasti hidup enak,” kata seorang sahabat yang kini telah meninggal, menirukan ucapanku. Lucunya, aku bahkan tak ingat aku pernah berkata demikian. Namun almarhum mengaku mengingat dengan jelas, sekaligus salut dengan khayalanku saat itu, karena baginya, khayalanku jadi nyata.

Selanjutnya khayalan-khayalanku semakin gak guna, dan keduaniawian banget. Pengen punya tas merk ini. Sesudahnya pengen tas merk itu. Lalu tas merk yang onoh juga. Nah, khayalan itu sudah pula jadi nyata. Sekarang, mau liat tas merek apa, aku sudah santai saja. Sayang duitnya. Kalo diitung uda ratusan juta. Bodoh, ah…aku waktu itu.

Selanjutnya aku berkhayal mau liat dunia. Nah saat ini pun khayalku sudah menjadi nyata ( lagi , alhamdulillah ).

Saat sedang menjalani khayalan yang menjadi nyataku ini, aku kembali berkhayal. Bahwa suatu saat aku akan bisa mencari nafkah yang lebih baik. Mendapatkan rezeki yang jauh lebih baik juga. Tegak berdiri untuk diri sendiri, sekaligus bisa pula memberi.

Aku tak melihat ada gambaran sebuah sosok yang bisa mewujudkan khayalku. Seperti sebelumnya. Entahlah… lebih baik punya pendapatan sendiri. Tapi kalo pasangan yang baik hati, dan ikhlas memberi, wah…. mungkin habis itu aku tak tahu apa yang harus aku khayalkan lagi.

…..ZionkirchstraƟe, Berlin, 20 Januari 2018, 06.18 am

All hell breaks loose now.

Selama ini, aku terlalu malas menjelaskan tentang kabar, rumor yang aku rasa tak sesuai. Tetapi, setelah sekian tahun, kenapa rasanya ganggu juga ya….

Tau ngga, ” FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARI PEMBUNUHAN ” itu benar adanya. Kalo pembunuhan, sekali tusuk, isded, kelar. Lepas 40 hari orang juga sudah mulai lupa, move on, dan seringkali merasa enggan untuk membicarakan (keburukan) si almarhum.

Sementara fitnah, ya ampun…bisa menetap selamanya dari orang yang dibicarakan. Pembunuhan karakter, istilahnya. Penghancuran nama baik. Sementara, yang difitnah bisa apa? Mau koar koar bela diri? Emang ada yang mau dengerin? Emang ada yang percaya?

Fitnah itu bisa dari mana? Mungkin yang pertama menceritakan tentang keburukan seseorang tak berniat demikian ( etapi in my case, mungkin ada niat juga, sih ).

Nah yang mendengar, mungkin nangkepnya setengah, atau.. punya persepsi yang berbeda ( tergantung nalar dan IQ ). Karena dasarnya perempuan gemar bergosip, si Pendengar ini menyampaikan lagi berita ini ke si A, mungkin juga si B atau bahkan sekalian dengan si C dan si D. Rame lah pokoknya. Nah, masing masing A, B, C dan D bisa jadi juga punya persepsi, nalar, dan IQ yang berbeda yang akhirnya berita awal bisa berubah menjadi berita akhir yang artinya sungguh berbeda bahkan cenderung mengada-ngada.

Seperti fitnah yang kudengar barusan dari kasus lama banget amit amit ternyata ikut dibahas juga.

Katanya aku menghidupi seseorang sampai membelikan kendaraan roda dua.

Lah bagaimanaaa bisaaaaaa….

Dengan uang rumah tangga yang terakhir kali di tahun 2013 sebesar 18jt rupiah setengahnya saja sudah habis buat bayar belanja bulanan 2jt-an rupiah, belanja mingguan 1.2-1.5jt, gaji pembantu 2 orang sekitar 2.5jt, bayar tagihan hp 2 orang, tagihan telepon rumah, tagihan listrik yang nominalnya tak pernah kurang dari 1 koma sekian, tagihan internet+tv kabel, keperluan buat 2 anak, bensin, tol, parkir, jajan anak, menyisihkan untuk ditabung meski cuma tersisa ratusan ribu, trus aku bisa menafkahi orang lain? So gila ngana.

( Selanjutnya ia dengan pedenya berkata: ada kejanggalan dengan pengelolaan keuangan. Karena baginya mestinya tak butuh sebesar itu untuk rumah tangga. Padahal, aku tak pernah terjerat hutang. Semua tagihan terbayar tepat waktu, tak pernah meleset apalagi terkena denda. Gaji pembantu tak pernah telat apalagi menunggak. Mungkin yah….dia lupa, ibu rumah tangga itu bukannya berhak punya uang saku juga? Untuk ikut arisan, beli bedak, pakaian, celana dalam, beha? Ya Tuhan, kalau dia seorang supir angkot atau tukang sapu dan tinggal di kontrakan satu kamar dengan kamar mandi dan dapur menempel jadi satu, adalah terlalu aku pegang uang segitu dan selalu habis. Tapi percayalah… uang di dompetnya selalu berlapis lapis, sementara aku paling banter 150ribu rupiah saja untuk pegangan ).

Aduh, ngirim orang tua perbulan saja aku tidak, saking uang bulanan terasa sesak, dengan gaya hidup yang lumayan tinggi standartnya. Gak cuma aku, anak anakku pun. Sekali pergi ke mal, paling tidak 300-500 ribu melayang, haree geneee. Siapa suruh, membiasakan anak anak ke mal setiap minggu dan gampang membelikan barang dengan harga yang mahal?

( Siapa juga yang suruh pindah ke rumah megah di kawasan elit Kebayoran Lama , sehingga harus berhemat habis-habisan demi perawatan rumah? Emang begitu kesepakatan kita dulu yang dikatakan di depan almarhum ayahmu ? )

Lagian sih…gila aja aku menghidupi orang lain, laki laki lain dengan uang suami. It’s an insult to my intelligence!

A man should provide for me. Selama ini, I always take care of my own bills. Sori dori mori aja bayar bayarin orang, apalagi bukan dari keringat sendiri.

Geeze.

Tahun 2014, yang dari 18juta itu disunat drastis menjadi 4juta rupiah perbulan. Itupun terkadang disunat lagi jika mengesek kartu kredit untuk membeli obat muka di klinik kecantikan dengan nominal 200-an ribu ( katanya ini bukan perkara kebutuhan medis, tapi for beauty ), vaksin kucing sebesar 300-400an ribu ( akhirnya dengan sangat menyesal, kucing lucu itu terpaksa diadopsikan daripada tak terurus). Dan gongnya adaaalaaaaah : pernah disunat lagi beberapa ratus ribu gara gara belanja supermarket yang tentu, untuk keperluan rumah juga ( emang gua mo beli mek ap atau kutang di sana??? ).

Emang sih, akhirnya diganti. Tapi tamparan di mukanya itu loh. Seolah olah gua ngabisin duit buat beli tas Hermes Birkin atau berlian 7 krat atau 3 pasang Louboutin. Tuhaaan, nominalnya hanya ratusan ribu sementara tinggal di rumah warisan ortu nan megah berharga puluhan milyar di daerah elit dan perusahaan yang konon lagi meleduk sakseis ( i dunno, i never get the info berapa pendapatannya, mungkin takut gue minta jatah. Mengeluhnya sih…cari uang susah, tapi dia sendiri..beli ini itu yang ia suka, jajan ini, traktir-traktir makan minum orang kok tampak gampang beneeer ).

Setelah struggling for my rights, naik lah uang saku ibu rumah tangga tapi dihilangkan hak mengatur rumah tangga ini menjadi 6jt rupiah + 600rb buat bensin sebulan. Ya sudah, mang gue protes? Meneng ae, toh?

Trus mau menghidupi dan memberi nafkah orang lain?

So gila ngana.

He holds everything. Aset, savings, all of them. He had trust issue towards me, and he said it before bluntly: ” I dont trust you.”

Well.. F*ck you. You need a wife or a slave? Ngawinin gua karena cuma perlu rahim gue untuk menghasilkan anak anak yang kata orang good looking dengan kulit putih bersih doang? Eh tapi, alhamdulillah mereka terlahir seperti itu. I bet they all think : must be from the mother’s ( ME! ME! ME! ) side.

Okay.. jadi…Itulah mengapa selalu aku berkata,” Yang kaya dia dan orang tuanya. Aku tetap hanya seorang utusan daerah.”

Jadi jangan ngocol, katakan aku berfoya foya menikmati uangnya yang katanya dicari susah payah sampai berdarah darah ( ini aku lebay sih..bagian berdarah-darahnya ).

Paling mahal harta yang pernah diberi mungkin hanya deretan tas kulit yang pernah kalian lihat. Perhiasan? Selama nyaris 17 tahun hanya 2 kali membelikan, sebuah kalung seharga 800ribu, dan sebuah cincin seharga 16juta rupiah yang berulang ulang disebutkan nominalnya. He said he doesn’t believe jewelleries as investment. Ofcourse. Because it’s gonna be MY investment. Not his.

Mobil seharga 300 jutaan yang kupunya adalah hasil jual aset rumah yang kucinta hingga saat pelepasannya saja aku berurai air mata, ya Tuhan..anak-anakku lahir di rumah itu (alasan menjual rumah pun tak tahu kenapa, intinya pengen jual saja. Dan sesudahnya aku dipaksa pindah. Bayangkan saja, saat duduk mengunyah makan siang, tiba tiba sekelompok orang datang mengepak barang, tanpa aku diberi tahu sebelumnya).

Itu pun jangan salah, sebagian dana untuk mobilku sekarang berasal dari jual mobilku yang lama. Janji sebelumnya : jual itu rumah, aku akan dapat sebuah mobil seharga 500juta. Padahal, kalau tak karena aku bertahan, rumah pertama kami itu sudah akan ia jual dengan harga 1 milyar lebih murah. Uang penjualan itu rumah, tahukah aku ke mana? Tidak. Katanya, ini punyaku. Punya orangtuaku ( f*ck you! ).

Nafkahi laki laki lain. Cis. So gila ngana. Hanya karena diam diam mendaftarkan akun tabunganku ( tanpa sepengetahuanku, tentu.. ) di mana di situ isinya adalah murni uang orangtuaku, dan menemukan 1 kali, catet… SATU KALI transferan sebesar 500ribu dianggap aku menafkahi? Padahal murni karena saat itu aku membayar hutang, akibat kartu atm yg mendadak ngadat saat digunakan.

So gila ngana. Sarap parnonya. Sarap juga mulutnya, nyebar fitnah dan own version of hallucination yang ditimpali dengan komporan mulut mulut nyinyir para ibu ibu di bawah sebuah tenda di sekolah. Sampai mengorbankan anak anak demi.. ya ampun…….Ketololan akibat dramatisasi rasa insekuriti yang mengkudeta hati.

Jedun, Bunda and Daddy Effect.

Perempuan ya begitu, pintu maaf dan pemaklumannya luas …laki laki berbuat 1x salah, ya dihitung 1x.

Namun sebaliknya, jika perempuan bikin 1x salah, maka di mata laki laki bisa sama dengan sudah 25x bikin salah<— ini petuah dari seorang oma-oma keturunan Belanda peramal kartu tarot kepadaku bertahun-tahun yang lalu.

Ketika seorang laki laki terperosok, berselingkuh, sebagian besar perempuan, apalagi seorang istri dan ibu, akan menerimanya kembali. Alasannya demi cinta. Anak. Komitmen perkawinan. Maka tudingan, hujatan tetap pada perempuan lain yang jadi selingkuhan. Padahal, lakinya juga tuh…yang hidung belang.

Kata mereka : kucing disodorin ikan asin, ya pasti maulah! Dan sayangnya, sesama perempuan pula yang kerap melontarkan kata kata serupa.

…..Perempuan lagi toh, yang kena apeknya.

Sementara bagi laki-laki, belum tentu bisa berlaku sebaliknya. Tak terbukti berselingkuh saja, dia bisa buang wanitanya begitu saja. Bahkan hanya karena hal yang tak prinsip dan mendasar. Baginya : ah wanita kan banyak.

Maka aku bertanya, mengapa nasib perempuan sebatas itu saja? Apakah akan terus begitu selamanya?

Jangan bilang karena begitulah pria, sudah kodratnya. Maka maklumi saja.

Kalo bisa memilih sih, aku pikir pikir dulu deh untuk terlahir dengan jenis kelamin perempuan. Melelahkan, tampaknya… kelewat rentan jadi sasaran tembak.