All hell breaks loose now.

Selama ini, aku terlalu malas menjelaskan tentang kabar, rumor yang aku rasa tak sesuai. Tetapi, setelah sekian tahun, kenapa rasanya ganggu juga ya….

Tau ngga, ” FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARI PEMBUNUHAN ” itu benar adanya. Kalo pembunuhan, sekali tusuk, isded, kelar. Lepas 40 hari orang juga sudah mulai lupa, move on, dan seringkali merasa enggan untuk membicarakan (keburukan) si almarhum.

Sementara fitnah, ya ampun…bisa menetap selamanya dari orang yang dibicarakan. Pembunuhan karakter, istilahnya. Penghancuran nama baik. Sementara, yang difitnah bisa apa? Mau koar koar bela diri? Emang ada yang mau dengerin? Emang ada yang percaya?

Fitnah itu bisa dari mana? Mungkin yang pertama menceritakan tentang keburukan seseorang tak berniat demikian ( etapi in my case, mungkin ada niat juga, sih ).

Nah yang mendengar, mungkin nangkepnya setengah, atau.. punya persepsi yang berbeda ( tergantung nalar dan IQ ). Karena dasarnya perempuan gemar bergosip, si Pendengar ini menyampaikan lagi berita ini ke si A, mungkin juga si B atau bahkan sekalian dengan si C dan si D. Rame lah pokoknya. Nah, masing masing A, B, C dan D bisa jadi juga punya persepsi, nalar, dan IQ yang berbeda yang akhirnya berita awal bisa berubah menjadi berita akhir yang artinya sungguh berbeda bahkan cenderung mengada-ngada.

Seperti fitnah yang kudengar barusan dari kasus lama banget amit amit ternyata ikut dibahas juga.

Katanya aku menghidupi seseorang sampai membelikan kendaraan roda dua.

Lah bagaimanaaa bisaaaaaa….

Dengan uang rumah tangga yang terakhir kali di tahun 2013 sebesar 18jt rupiah setengahnya saja sudah habis buat bayar belanja bulanan 2jt-an rupiah, belanja mingguan 1.2-1.5jt, gaji pembantu 2 orang sekitar 2.5jt, bayar tagihan hp 2 orang, tagihan telepon rumah, tagihan listrik yang nominalnya tak pernah kurang dari 1 koma sekian, tagihan internet+tv kabel, keperluan buat 2 anak, bensin, tol, parkir, jajan anak, menyisihkan untuk ditabung meski cuma tersisa ratusan ribu, trus aku bisa menafkahi orang lain? So gila ngana.

( Selanjutnya ia dengan pedenya berkata: ada kejanggalan dengan pengelolaan keuangan. Karena baginya mestinya tak butuh sebesar itu untuk rumah tangga. Padahal, aku tak pernah terjerat hutang. Semua tagihan terbayar tepat waktu, tak pernah meleset apalagi terkena denda. Gaji pembantu tak pernah telat apalagi menunggak. Mungkin yah….dia lupa, ibu rumah tangga itu bukannya berhak punya uang saku juga? Untuk ikut arisan, beli bedak, pakaian, celana dalam, beha? Ya Tuhan, kalau dia seorang supir angkot atau tukang sapu dan tinggal di kontrakan satu kamar dengan kamar mandi dan dapur menempel jadi satu, adalah terlalu aku pegang uang segitu dan selalu habis. Tapi percayalah… uang di dompetnya selalu berlapis lapis, sementara aku paling banter 150ribu rupiah saja untuk pegangan ).

Aduh, ngirim orang tua perbulan saja aku tidak, saking uang bulanan terasa sesak, dengan gaya hidup yang lumayan tinggi standartnya. Gak cuma aku, anak anakku pun. Sekali pergi ke mal, paling tidak 300-500 ribu melayang, haree geneee. Siapa suruh, membiasakan anak anak ke mal setiap minggu dan gampang membelikan barang dengan harga yang mahal?

( Siapa juga yang suruh pindah ke rumah megah di kawasan elit Kebayoran Lama , sehingga harus berhemat habis-habisan demi perawatan rumah? Emang begitu kesepakatan kita dulu yang dikatakan di depan almarhum ayahmu ? )

Lagian sih…gila aja aku menghidupi orang lain, laki laki lain dengan uang suami. It’s an insult to my intelligence!

A man should provide for me. Selama ini, I always take care of my own bills. Sori dori mori aja bayar bayarin orang, apalagi bukan dari keringat sendiri.

Geeze.

Tahun 2014, yang dari 18juta itu disunat drastis menjadi 4juta rupiah perbulan. Itupun terkadang disunat lagi jika mengesek kartu kredit untuk membeli obat muka di klinik kecantikan dengan nominal 200-an ribu ( katanya ini bukan perkara kebutuhan medis, tapi for beauty ), vaksin kucing sebesar 300-400an ribu ( akhirnya dengan sangat menyesal, kucing lucu itu terpaksa diadopsikan daripada tak terurus). Dan gongnya adaaalaaaaah : pernah disunat lagi beberapa ratus ribu gara gara belanja supermarket yang tentu, untuk keperluan rumah juga ( emang gua mo beli mek ap atau kutang di sana??? ).

Emang sih, akhirnya diganti. Tapi tamparan di mukanya itu loh. Seolah olah gua ngabisin duit buat beli tas Hermes Birkin atau berlian 7 krat atau 3 pasang Louboutin. Tuhaaan, nominalnya hanya ratusan ribu sementara tinggal di rumah warisan ortu nan megah berharga puluhan milyar di daerah elit dan perusahaan yang konon lagi meleduk sakseis ( i dunno, i never get the info berapa pendapatannya, mungkin takut gue minta jatah. Mengeluhnya sih…cari uang susah, tapi dia sendiri..beli ini itu yang ia suka, jajan ini, traktir-traktir makan minum orang kok tampak gampang beneeer ).

Setelah struggling for my rights, naik lah uang saku ibu rumah tangga tapi dihilangkan hak mengatur rumah tangga ini menjadi 6jt rupiah + 600rb buat bensin sebulan. Ya sudah, mang gue protes? Meneng ae, toh?

Trus mau menghidupi dan memberi nafkah orang lain?

So gila ngana.

He holds everything. Aset, savings, all of them. He had trust issue towards me, and he said it before bluntly: ” I dont trust you.”

Well.. F*ck you. You need a wife or a slave? Ngawinin gua karena cuma perlu rahim gue untuk menghasilkan anak anak yang kata orang good looking dengan kulit putih bersih doang? Eh tapi, alhamdulillah mereka terlahir seperti itu. I bet they all think : must be from the mother’s ( ME! ME! ME! ) side.

Okay.. jadi…Itulah mengapa selalu aku berkata,” Yang kaya dia dan orang tuanya. Aku tetap hanya seorang utusan daerah.”

Jadi jangan ngocol, katakan aku berfoya foya menikmati uangnya yang katanya dicari susah payah sampai berdarah darah ( ini aku lebay sih..bagian berdarah-darahnya ).

Paling mahal harta yang pernah diberi mungkin hanya deretan tas kulit yang pernah kalian lihat. Perhiasan? Selama nyaris 17 tahun hanya 2 kali membelikan, sebuah kalung seharga 800ribu, dan sebuah cincin seharga 16juta rupiah yang berulang ulang disebutkan nominalnya. He said he doesn’t believe jewelleries as investment. Ofcourse. Because it’s gonna be MY investment. Not his.

Mobil seharga 300 jutaan yang kupunya adalah hasil jual aset rumah yang kucinta hingga saat pelepasannya saja aku berurai air mata, ya Tuhan..anak-anakku lahir di rumah itu (alasan menjual rumah pun tak tahu kenapa, intinya pengen jual saja. Dan sesudahnya aku dipaksa pindah. Bayangkan saja, saat duduk mengunyah makan siang, tiba tiba sekelompok orang datang mengepak barang, tanpa aku diberi tahu sebelumnya).

Itu pun jangan salah, sebagian dana untuk mobilku sekarang berasal dari jual mobilku yang lama. Janji sebelumnya : jual itu rumah, aku akan dapat sebuah mobil seharga 500juta. Padahal, kalau tak karena aku bertahan, rumah pertama kami itu sudah akan ia jual dengan harga 1 milyar lebih murah. Uang penjualan itu rumah, tahukah aku ke mana? Tidak. Katanya, ini punyaku. Punya orangtuaku ( f*ck you! ).

Nafkahi laki laki lain. Cis. So gila ngana. Hanya karena diam diam mendaftarkan akun tabunganku ( tanpa sepengetahuanku, tentu.. ) di mana di situ isinya adalah murni uang orangtuaku, dan menemukan 1 kali, catet… SATU KALI transferan sebesar 500ribu dianggap aku menafkahi? Padahal murni karena saat itu aku membayar hutang, akibat kartu atm yg mendadak ngadat saat digunakan.

So gila ngana. Sarap parnonya. Sarap juga mulutnya, nyebar fitnah dan own version of hallucination yang ditimpali dengan komporan mulut mulut nyinyir para ibu ibu di bawah sebuah tenda di sekolah. Sampai mengorbankan anak anak demi.. ya ampun…….Ketololan akibat dramatisasi rasa insekuriti yang mengkudeta hati.

Advertisements

11 thoughts on “All hell breaks loose now.

      1. Oh itu, jangan sedih , sebelumnya gue dikasih harga 4jetong + sunatan2 manjaah… tapi murni uang saku gue kok.. karena bayar2 pembantu bayar ltagihan belanja bulanan dese take over selama 2.5 tahun terakhir…katanya : banyak kejanggalan ( syit!) . Jangan pernah lakukan itu ya, wahai suami. Asli tu rasanya bagi seorang istri uda kayak ditampar, diinjek2 dan diludahi…

        Like

      2. Good. Bapakku pun begitu, semua gaji dipegang ibuku. Kalo dasarnya gue berantakan megang duit, gue terima. Tapi ini gue rasa, lebih ke arah gunakan ego pake kuasa uang. Ngga banget. Abis ni gue mo post yg indah indah ah…. nguras enerjik banget . 😂

        Like

  1. yang lebih cepat dari suara adalah cahaya, dan yg lebih cepat dari cahaya adalah gosip.

    Karena gosip dpt meredam kekuatan suara dan cahaya, itulah sebabnya tukang gosip cuma bisa bisik bisik dan gak berani terang terangan

    Ikhlasin semua, Allah ganti yg lebih baik 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s