#semuadaringayal

Saat duduk di bangku SD, aku nggak kepingin boneka Barbie. Kayaknya, memang aku ngga pengen apa apa deh waktu itu. Selain pengen diijinkan berenang kapanpun aku mau, meski sampai gosong kepanggang matahari.

Ketika SMP, gara gara aku ngeliat anak anak bule di sekolah internasional di kampungku, aku jadi kepengen punya sepatu kayak mereka. Merk yang paling kondyang saat itu : Robeek. Trus aku ngayal, gimana caranya dapet sepatu Robeek, secara ngga mungkin banget dijual di kampungku, paling banter juga ada merk Elang atau Sepotek atau Kaksogi.

Sekitar tahun 1988 itu, aku juga nggak tau sudah ada yang jual atau tidak di ibukota Jekardaaah. Intinya, aku ngayal punya sepatu itu.

Sampai suatu ketika, bapakku bilang : ” Sini, gambar kakimu di kertas. Ukur berapa senti.”

Tak lama kemudian, bapakku pulang membawa sepasang sepatu Robeek. Warna putih, yang ternyata di tahun 2018 ini, kembali hitz lagi. Darimana bapakku mendapatkannya? Oooo, ternyata titip mbak pramugari Pelita Air yang kebagian shift ke Sinjiapoh. Nah, ngayalku jadi nyata.

Menginjak bangku SMA, khayalanku makin mengada ngada dan makin tak tahu diri. Aku menghayalkan, keluar dari kampungku di belantara Kalimantan sana dan selanjutnya menetap di kota besar. Aku menghayal, suatu saat jadi orang kaya. Bisa ke luar negeri. Paling nggak, ke Malessya lah… sekatrok-katroknya.

” Lo liat ya, suatu saat, gue pasti hidup enak,” kata seorang sahabat yang kini telah meninggal, menirukan ucapanku. Lucunya, aku bahkan tak ingat aku pernah berkata demikian. Namun almarhum mengaku mengingat dengan jelas, sekaligus salut dengan khayalanku saat itu, karena baginya, khayalanku jadi nyata.

Selanjutnya khayalan-khayalanku semakin gak guna, dan keduaniawian banget. Pengen punya tas merk ini. Sesudahnya pengen tas merk itu. Lalu tas merk yang onoh juga. Nah, khayalan itu sudah pula jadi nyata. Sekarang, mau liat tas merek apa, aku sudah santai saja. Sayang duitnya. Kalo diitung uda ratusan juta. Bodoh, ah…aku waktu itu.

Selanjutnya aku berkhayal mau liat dunia. Nah saat ini pun khayalku sudah menjadi nyata ( lagi , alhamdulillah ).

Saat sedang menjalani khayalan yang menjadi nyataku ini, aku kembali berkhayal. Bahwa suatu saat aku akan bisa mencari nafkah yang lebih baik. Mendapatkan rezeki yang jauh lebih baik juga. Tegak berdiri untuk diri sendiri, sekaligus bisa pula memberi.

Aku tak melihat ada gambaran sebuah sosok yang bisa mewujudkan khayalku. Seperti sebelumnya. Entahlah… lebih baik punya pendapatan sendiri. Tapi kalo pasangan yang baik hati, dan ikhlas memberi, wah…. mungkin habis itu aku tak tahu apa yang harus aku khayalkan lagi.

…..Zionkirchstraße, Berlin, 20 Januari 2018, 06.18 am

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s