Eropa.

Aku lebih sering traveling di seputar Asia. Singapura apalagi, sampai sampai anakku ketika SD pernah ditanya, ke mana kalau pulang kampung? Dengan polos ia menjawab : ” Singapura.”

Sejujurnya ya agak bosen juga saban liburan harus ke sana. Urutannya selalu sama : Orchard Rd, keluar masuk mal, makan di Jumbo Seafood, bawa anak anak entah ke kebun binatang, Universal Studio, atau ngubek-ngubek di Sentosa . Keluar masuk mal lagi, beli mainan. Beli.. makan…beli.. makan…beli..dan beli….

Sebenarnya, jika boleh memilih, daripada setahun 2-3x mengunjungi Singapura, mendingan berangkat setahun sekali, tapi langsung ke destinasi yang berbeda-beda. Ya kalau mahal untuk pergi berempat ke destinasi yang jauh, puterin Asia dulu lah ( selain Singapura tentunya ), bahkan wisata dalam negeri pun tak kalah banyaknya. Biar anak anak bisa memiliki pengalaman yang berbeda-beda.

Itu mauku. Dan itu : dulu……..hihihi.

Beberapa tahun kemarin, aku sempat terpikir, untuk berkunjung ke Eropa lagi. Ke destinasi yang belum pernah aku datangi. Maka pergilah aku ke Berlin, melalui Amsterdam. Dan kini, Praha, yang katanya indah. Dengan bujet dibikin seekonomis mungkin, namun tentu tetap harus nyaman, tanpa ribet.

Dadakan, karena persiapannya hanya sebulan. Ide yang terhitung nekat ini baru terpikir di akhir November 2017, jelang persiapan aku operasi laparaskopi kistektomi yang mengharu biru seperti di tulisanku sebelumnya ( dan belum pula ada ending-nya 🤣 ). Tepat sehari setelah recovery pasca operasi, masih sedikit meringis meringis manjah, kuhubungi adikku : ” Beli tiket ke Belanda!”

[ Saat terbaring di kamar kelas 3 RSCM itu, aku hanya berpikir, hidup itu terlalu singkat jika aku hanya terlalu sibuk berjaga jaga ngekepin duit. Things might happen, dan yang namanya uang itu jika harus hilang, maka ia bisa hilang hanya dalam sekejab. Tapi pengalaman, mata yang masih bisa melihat dunia, ingatan itu akan menetap selamanya. Jika memang ada dananya, tak pula berhutang, mengapa tidak? ] engajuan visa saja baru aku mulai tgl 21 Desember dengan hitungan akan terpotong liburan natal dan tahun baru. Sebelumnya, kami sudah ke 3 agen travel dan kesemuanya menolak untuk pengurusan visa Schengen dengan alasan : mepet. Akhirnya aku dan adikku datang sendiri untuk mengurusnya. Tempatnya di lantai 1 Mal Kuningan City. Namanya VFS apaaaa gitu ( googling aja, aku lupa…hehehe ).

Kali ini, aku memang pergi sendiri. Berdua ding, sama adik.

Sendiri, tak bawa anak anak karena terus terang dananya belum siap. Aku sih ingin mereka melihat salju di negeri orang, namun ketika berada di sini, rasanya belum pas membawa si kecil menikmati suhu yang kalau pagi mencapai -2. Kalau ada rejeki ( entah kapan nih…karena setelah kuhitung-hitung aku mesti siap paling tidak 100juta rupiah ), aku ingin bawa mereka di suhu yang lebih nyaman, musim semi misalnya.<<<<<<
tu indah, menurutku. Apalagi dengan adanya kastil kastil dan bangunan gereja dari abad pertengahan yang hingga kini masih terjaga. Aku suka, melihat bangunan bangunan dari batu yang menjulang tinggi di angkasa itu. Setiap kali aku mendongakkan kepala melihat sebuah menara, yang terbayang di kepalaku adalah Rapunzel yang sedang menyisir rambut emasnya yang panjangnya gak kira-kira.

Beberapa hari yang lalu, aku sempat menaiki menara dari katedral di lokasi Kastil Praha, Cekoslavakia. Ya Tuhan, baru 1/2 jalan saja menaiki tangga berulir itu aku sudah mulai merasakan pening, ditambah efek phobia ketinggian. Akhirnya aku memutuskan untuk turun, tanpa sempat mencapai puncak.

Orang masa kini membuat bagunan sebegitu tinggi dengan bantuan alat dan mesin. Lah mereka, manual! Segimana orang jaman dulu yang membuatnya? Canggih ya mereka.

Singkat cerita, aku bahagia melihat bangunan bangunan tua yang berada di Praha. Sebelumnya, aku pernah terpesona dengan beberapa istana dan katedral di Lisbon, Portugal. Aku pernah masuk Notre Dame dan beberapa katedral di Paris. Namun saat itu menurutku, mereka masih kalah indah dengan yang berada di Lisbon.

Trip kali ini juga aku tak banyak belanja. Dalam artian belanja fashion, ya. Tidak seperti….mungkin 5-10 tahun yang lalu, yang tiap pulang dari luar negeri pasti menenteng sebuah tas baru.

Bagiku kalau untuk pakaian saja sih, di Indonesia juga gak kalah variatif. Malah merk-merk lokal tak kalah lucu, dengan harga yang jauh lebih bersahabat.

Di beberapa tempat, semisal Primark, New Yorker atau Hema di Belanda, harga pakaiannya terhitung murah. Namun tetap tuh, aku tak bergeming. Ribet juga membawanya, mengingat koper besar yang kubawa sudah penuh dengan pakaian musim dingin yang menghabiskan banyak tempat.

Yah, mungkin juga aku sedang malas saja bergaya gaya. Sedikit merasa, ah da mulai tua, sudah malas kebanyakan acara. Mungkin, kalau usia lebih muda, ceritanya bisa berbeda….

<<
itten somewhere in #Prague, #Hilversum, and #Jakarta *

#traveleurope #lifegoals #40something #whatmakesyouhappy #turningpoints

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s