Broken hearted.

It is… when you feel like something is missing.

When a slow romantic song about love makes you wanna shed a tear.

When everything reminds you of him, even the sound of rain.

When your heart says to keep going on, while your brain tells you to stop.

And that.. oh that excrutiating hopeless feeling!

…..But somehow, somewhere deep inside you’re still yearning to see the light, a clue, something to hold on to. Ah.

Advertisements

Esensi Shalat 5 Waktu, dan Segudang Pertanyaanku.

Apakah maknanya shalat lima waktu :

Ketika ujianmu datang, hatimu tak juga bisa tenang?

Apakah maknanya shalat lima waktu :

Ketika kau masih mempertanyakan apa yang telah menjadi ketentuanNya.

Apakah maknanya shalat lima waktu :

Ketika mulutmu masih dengan gampang menilai dan menjatuhkan vonis negatif terhadap orang lain?

Apa maknanya shalat lima waktu :

Jika masih terbersit di benakmu kau merasa lebih tinggi derajatmu dari dia atau mereka?

Apakah maknanya shalat 5 waktu :

Jika kau masih saja gemar pamerkan keintimanmu dengan Tuhan-mu.

Apakah maknanya shalat 5 waktu :

Jika ibadah itu kau lakukan hanya karena ritual ketimbang jadi sebuah kebutuhan?

Pertanyaanku :

Terlepas dari kewajiban melakukannya 5 kali dalam sehari, manakah yang kau pilih, satu shalat dengan kekhusyukan yang maha dashyat atau 5 shalat yang tanpa makna selain hanya sebatas berdiri, nungging, dan duduk?

Kebebasan anak memilih, sejauh mana?

Lebak Bulus, 12 Februari 2018,

Kukatakan pada anakku malam ini :

” Tak ada seorangpun ibu, yang mau anaknya sakit, jelek, buruk tingkah lakunya, dan menjadi orang yang tak baik. Kecuali ibu itu “crazy”.

Untuk itu, semua ada aturan, larangan, dan perintah. Jadi, sampai kapanpun, mami akan tetap mengatur kalian, walaupun dianggap cerewet, bawel, tukang ceramah… because that’s what I do, what we mothers do.”

[ menjawab pertanyaan seorang anak usia 10 tahun yang telah diimplementasikan di kepalanya bahwa he has the right to speak up his mind but somehow I got the idea that what he thinks instead is he can do whatever he wants based on this sort-of fredoom-of-speech, padahal yang gue suruh simply sikat gigi sebelum tidur yang berulang-ulang ude gue ulang dengan nada yang manis sampai akhirnya rada maksa karena uda deket jam 10 malam, dan kala itu anak gue berkata : ” Kenapa sih mami suka ngatur-ngatur?”]

Kata kata bijak.

Aku mendengar sebuah kata kata bijak pagi tadi.

Katanya,” Orang ikhlas itu kelak dibayarNya kontan kok…”

Baiklah.

Kini kata kata itu akan kucamkan dan kupegang erat erat bak balonku masih ada lima.

Jika ada sesuatu hal terjadi yang tak kuasa kubendung, ya sudah…ikhlaskan.

Jika aku punya keinginan agar bisa terjadi hal ini, namun terjadinya malah yang itu…ya sudah… ikhlaskan.

Jika aturanku yang ini diobrak abrik oleh yang itu, ya sudah..ikhlaskan.

Jika cinta yang kupunya tak terbalas, dipandang sebelah mata, bahkan dianggap tak ada… ya sudah, ikhlaskan.

Namun terus aku akan mencinta. Jangan sampai berhenti memberi cinta. Sama seperti jika berzakat atau berderma…beri tanpa berharap kembali, layaknya cinta seorang ibu.

[Ah…

Cepatlah kau menikah lagi. Kudoakan cepat lekas datang wanita yang tepat untukmu. Mungkin kelak kau sibuk dengan keluarga dan anak anak barumu, semoga akan kau dapat anak-anak perempuan yang kau cinta dan jaga segenap hatimu, sama seperti bagaimana ayahku kepadaku.

Dan mungkin setelah itu, kau biarkan aku dalam damai, mengurus anak anakku.]

Hijab.

Seingatku, nenekku sudah 3x bertanya: ” Mengapa belum berhijab?”

Hampir semua wanita di keluargaku sudah menutup auratnya. Bahkan, keponakan yang jauh lebih kecil dariku pun sudah pula. Aku belum. Adik perempuanku belum. Satu sepupuku belum. Sementara sepupu yang satu lagi sedang berproses.

Mengapa aku belum?

Entah lah. Kalau dibilang belum siap, aku bingung. Apa sih, yang mesti disiapkan? Bukankah jika hendak berhijab, ya berhijab saja. Gak usah mikir macam-macam, takut nanti a takut nanti b. Kan aku bukan artis yang penampilanku harus selalu a harus selalu b, demi para penggemar dan tuntutan pekerjaan.

Oooo… mungkin tepatnya belum terpanggil.

Meski katanya kalo belum berhijab itu….berdosa, ya?

Nah ini. Dosa.

Terkadang, aku melihat beberapa teman yang sudah menutup rapat rapat auratnya, namun perilakunya, duh…. Maaf ya, bagiku tak sesuai dengan sejatinya kita memandang wanita muslimah .

Misalnya : judgemental. Gak tau ya, apakah lembaran kain yang menutup rapat auratnya adalah semacam jubah kebesaran yang menyebabkan derajatnya lebih tinggi dari modelan yang kayak saya-saya ini yang rentan akan dosa dan laknat Tuhan?

Riya, tanpa disadari. Mungkin maksudnya bagus, ya… semacam mengajak dengan halus menuju ke arah kebaikan. Mungkin caranya saja yang menurutku kurang tepat. Sesekali menceritakan perjalanan batin baik melalui sosial media ataukah secara langsung, tentu tak mengapa. Itu bagian dari dakwah, membawa pahala. Tapi jika terlalu berlebihan ( tentu saja yang serba terlalu menurut pedangdut Vety Vera itu tidak baik ), rasanya kok ya lebay juga. Kalau aku pribadi sih, lebih suka melihat orang yang jika telah menemukan pencerahan, terlihat lebih kalem. Lebih tenang, damai. Tak perlu berkoar-koar, tindak tanduknya otomatis akan terlihat lebih baik secara wajar.

Aku sih tidak terlalu mempersoalkan penampilan luar teman teman yang telah berhijab, atau berhijrah. Selagi menurutku tak juga memakai pakaian serba tertutup namun ketat di sana dan sini, buatku ya bagus bagus saja. Bisa kok, fashionable, meski katanya suka tak sesuai syariat. Selagi masih gombrang alias tak mereketengteng seperti lepet, ya cakep cakep aja dan justru menarik perhatian bagi aku yang belum berhijab ini. Tapi kalo pakaiannya harus hitam legam dan ditambah cadar, terus terang… Jujur, aku masih agak gimaaaanaaaa gitu…

Sebuah Introspeksi : Narsis, ataukah Ge-er?

Aku merasakan bagi beberapa orang, eh.. atau banyak orang ( biasanya perempuan ), aku tak terlalu disukai.

Mungkin karena aku kurang senyum.

Mungkin garis garis wajah dan tulang pipiku terlalu tajam.

Mungkin karena mataku yang sipit.

Mungkin karena bibirku yang tipis.

Mungkin karena aku tak suka dan tak bisa diatur.

Mungkin karena aku terlalu straight forward kalo ngomong.

Aduh, aku ngga banyak omong saja, bahkan diam tak bicara, orang suka ngeri, sungkan atau tak nyaman.

Mungkin karena begitulah auraku, nyebelin… (if this kind of thing really exist).

Mungkin karena aku tak bisa basa basi seperti umumnya perempuan.

Mungkin, aku nampak terlalu kuat, keras.

Hingga di saat yang dianggap titik terendahku pun, aku tampak tetap tegak, arogan, menantang.

Mungkin beberapa orang mengharap sekali saja melihatku terpuruk, tersungkur.

Dengan demikian mereka berpikir, aku sama, tak beda dengan mereka.

Dan jika demikian, hati mereka melembut dan bersimpati padaku.

Masalahnya, apakah aku bisa, dan mau…

…begitu?

Yang buatku malas liat sosial media.

Ada kalanya di suatu masa,

Liat postingan dan hati berkata :

“ Deile, kok gitu2 aja..bosen juga kali liatnya..”

Ketahuilah wahai netijen yang maha semuanya ..

Lah itu emang lapak dia, mereka…

Ya suka suka lah.

Tapi aku suka malas melihatnya.

Berkali kaki pula hatiku berkata :

” Jangan nyinyirr.. plis jangan nyinyiir.. jangan nyelaaaa…”