Menurutku, menulis itu pekerjaan orang-orang idealis. Ada berapa juta, bahkan ratusan juta orang yang berprofesi sebagai penulis.

Tapi…Berapa persennyakah yang menjadi kaya? I mean kaaayaaaa roayaaa yah. Bukan sekedar kaya hati dan pengalaman doang.

Jangan dibandingkan dengan pemulis penulis luar negeri.. apalagi JK Rowling, yang menulis buku Harry Potter. Beliau itu hanya seperberapanya dari sekian banyak penulis lain, yang masih struggling dalam memenuhi kebutuhan sehari hari dan cenderung menjadikan menulis sebagai hobi atau pendapatan sampingan.

Di Indonesia saja, adakah seorang penulis yang menjadi kaya raya dengan menulis?

Kalo yang sudah kaya, lalu menulis… banyaaaaak. Entah dia nulis sendiri, apa ditulis hantu ( ghost writer, maksudnya ).

Etapiiii…….

Menurutku ya, daripada mengupah seorang ghost writer trus diaku sebagai hasil tulisannya, mengapa engga memang ngaku aja : ” Buku tentang aku ini, ditulis sama si ini!”. Kasihan, penulisnya. Punya karya, namun tak dapat pengakuan.

Sama seperti masakan yang dimasak seorang koki, pakaian yang dijahit atau didisain oleh seorang perancang busana, tulisan itu adalah sebuah karya seni. Menulis, ya berarti berkesenian. Sebuah tulisan itu memiliki jiwa, nafas tersendiri, sebuah ciri khas dari masing masing tangan yang membuatnya. Persis seperti sebuah lukisan. Intinya, penulis itu bagiku ya seorang seniman.

Pertanyaannya adalah, dengan citra yang biasanya idealis, moody, bisakah seorang seniman menghasilkan karya seni yang indah, jika selama ini harus mengikuti aturan dan arahan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s