Stress dan Hal-hal Resek yang Mengikutinya

Hampir 2 tahun terakhir seingatku aku sudah 4 kali mengalami sakit kepala yang menyiksa. Tak seperti sakit kepala hormonal yang biasa datang sebulan sekali, dengan durasi tak lebih dari 24 jam, sakit kepala yang satu ini…..OHMYGOD! Ampuuuun, ganggu banget..nget..nget!

Serangan pertama dan kedua dalam dua tahun terakhir ini awalnya kukira karena faktor syaraf terjepit di C5 dan C6, yang memang sudah tahunan kuidap. Sempat keder juga, aduh.. kalo suka kumat kumatan begini, bagaimana ke depannya? Kan serem banget kalo mesti operasi?

Serangan ketiga terjadi di akhir 2017 lalu. Sakitnya sempat kutahan-tahan, sehari.. dua hari.. tiga hari.. hari ke empat, aku nggak kuat. Aku datangi deh, Pak Dokter.

“Dok, saya sudah 4 hari sakit kepala di belakang sini dok..” ujarku menunjuk kepala bagian belakang. ” Leher dan bahu saya kakunya minta ampunuuun… Oh ya, dok.. saya punya sejarah syaraf kejepit di leher.”

Pak Dokter yang tinggi besar itu manggut manggut. Beliau bertanya umur, dan aktivitas yang sehari-hari aku lakukan. Trus aku disuruh berbaring, lalu duduk, diperiksa pake stetoskop dan dipegang pundak dan leherku.

“Apa kolesterol tinggi ya, Dok? Apa syaraf leher saya kumat lagi?”

Pak Dokter bilang, melihat aktivitasku yang harian berolahraga, dan pola makanku, beliau merasa sepertinya bukan karena kolesterol.

“Kelihatan, usia 40 tahun lebih, bentuk badan begitu. Kamu pasti rutin olahraga dan jaga makan.”

(((Aduuuuuuuh… akunya kan jadi kepengen Ge-eR…)))

“Saya cenderung menduga ini sakit kepala karena ketegangan otot. Kamu banyak kerja pakai laptop, atau yang bikin kamu sering nunduk?” Tanya Pak Dokter.

Aku mengangguk. Kemudian oleh Pak Dokter aku diberi 3 jenis obat. Parasetamol, vitamin syaraf, dan apa ya satu lagi? Percuma juga, karena yang sudah sudah, biasanya aku malas minum obat.

Di kepalaku cuma satu yang kupikir : jika ini karena otot, dan tak mempan hanya dengan stretching, maka harus di…….akupuntur.

Sepulang dari dokter, aku segera mencari tahu tentang sakit kepala yang kuderita. Ternyata namanya adalah : Tension Type Headache.

TTH ini memiliki gejala khas, yaitu :

  • Bisa berlangsung dari 30 menit, hingga berhari hari. Bahkan sampai mingguan!
  • Gejala yang kurang nyaman yakni ketegangan, mulai terasa ketika tubuh sudah mulai dipakai beraktivitas. Dalam kasusku, aku bangun pagi dalam keadaan bahagia, enteng,nyaman. Namun sesudah jam makan siang, mulai tuh… seperti ada ketegangan yang menjalar, dari bahu, leher dan kepala belakang. Makin sore, intensitasnya makin cihuy… Besok paginya hilang, sesudah makan siang mulai kumat lagi, begitu seterusnya hingga berhari hari.
  • Jika sakit kepala hormonal begitu diminumkan obat ( aku mah biasanya cuma panadol saja, yang bagi sebagian orang “gak nendang”), akan perlahan lahan mereda, sakit kepala jenis ini cenderung susah redanya.
  • Rasa sakitnya khas, tidak berdenyut seperti migren biasa. Gimana ya menjabarkannya? Hmmmm… gini. Kalo migren kan ada senuut…senuuut….gitu rasanya. Si TTH ini ya cuma sakit aja. Rasanya seperti membawa sebuah batu besar berbentuk bola di belakang leher. Atau rasanya seperti diduduki seseorang di bahu dan leher, seperti di film horor Thailand yang judulnya “Shutter”. It’s there, and it hurts just like that.

Penyebabnya apa? Kata Mbah Gugel sih ini :

  • Stress and/or anxiety
  • Poor posture
  • Depression

Jiaah.

Itu sih, aku semua punya. Hahahahhaaa…

Postur badanku memang kurang baik, dari kecil. Aku agak bungkuk. Dan ada skoliosis, kecil sih. Hanya 15 derajat. Aku terbiasa membawa beban hanya di satu lengan dan bahu, yakni sisi kiri. Itu,membuatku menderita syaraf terjepit di bagian leher.

Pekerjaanku yang berkaitan dengan tulis menulis pun ternyata berkontribusi juga. Aku sering mengetik menggunakan handphone, dan ini menambah tekanan pada leherku.

Ah. Sebal.

Kutengok bungkusan obat yang kudapat dari Pak Dokter.

Aduuuh, malas sangat meminumnya. Akhirnya kuputuskan kembali ke cara lama, yang aku rasakan paling cespleng untuk urusan syaraf syarafan begini : akupuntur.

Perkenalanku dengan akupuntur terjadi di sekitar tahun 1997-1998. Saat itu, mungkin karena kecapekan kerja sekalian kuliah, ditambah flu yang cukup berat, tiba tiba aku merasakan dunia berputar. Pusing sekali. Tiap kali aku mencoba berdiri, aku hilang keseimbangan dan jauh terduduk sembari rapat rapat memejamkan mata.

Setelah ke dokter, dan melakukan MRI, aku divonis vertigo. Seperti biasa, aku dapat segabruk obat.

Obat habis, sensasi berputar itu masih kurasakan. Ganggu sekali, dan bikin parno.

Sampai suatu ketika seorang teman kos menawarkan untuk ikut pulang ke rumahnya ke Bogor. Katanya, ada dokter ahli akupuntur langganan kedua orang tuanya, yang mungkin bisa membantu.

Singkat kata, aku mau mencoba.

Saat mendatangi ruang prakter dokter tersebut, aku dalam kondisi gamang. Dalam artian, benar benar langkahku bak tidak menjejak bumi, seperti melayang. Sekelilingku ibaratnya seperti terus menerus bergoyang membentuk sebuah putaran. Pusing.

Setelah menceritakan keluhanku, aku berbaring dan membiarkan Dokter Akupuntur itu menusuki tubuhku dengan sejumlah jarum jarum halus di kaki, tangan, belakang telinga, dan kepalaku.

“Tunggu 30 menit ya, coba rileks, ” ujar si Dokter.

Aku melirik ke jam yang terpaku di tembok, nampak bergoyang ringan seperti dialun ombak. Pukul 10.10. Kupejamkan mata.

Eh ternyata susah ya tidur kalau mesti terbujur kaku begini, pikirku saat itu.

Kubuka mata.

Huh. Baru juga sepuluh menit…

EH.

Loh…kok jamnya jadi diam? Nggak goyang goyang lagi? I swear to God, saat aku baru membuka mata, aku bisa melihat jam di tenbok itu dari (terasa) bergoyang perlahan hingga pelan pelan mantep, diam. Tak bergoyang lagi. Kuputar mata mencoba melihat objek yang lain, lampu, tirai,ujung kakiku, semua nampak stabil. Diam pada tempatnya!

This is really working!

Setelah 3 kali sesi, aku merasa jauhhhh lebih baik daripada saat aku harus meminum segala macam pil pil itu, dan gerakan gerakan fisioterapi yang harus kulakukan setiap hari.

Sejak saat itu, selain pada Tuhan, aku percaya, bangetttt pada pengobatan asal negeri Tiongkok tersebut. Top lah, tapi asal dengan dokter spesialis akupuntur yaaa…

Hal yang sama kini kulakukan untuk pening kepala yang kata Pak Dokter tadi akibat : stress atau tekanan psikis.

What do you know…. Padahal aku merasa aku gak stress-stress amat. Pikiran, pasti punya lah. Akan tetapi, tubuh itu pasti memberi alarm jika ada sesuatu yang tak beres. Tinggal sejeli apa kita menyikapinya.

Contohnya nih ya… kalau aku mulai sering migren, biasanya aku akan mengurangi asin. Jika lidahku terasa gatal, biasanya makanan yang kumakan berlebihan kadar MSG nya. Jika aku sariawan, berarti fisikku lagi drop, jika tak dihajar dengan buah dan sayuran segar, maka dipastikan aku bisa terkena flu.

Kira kira begitu.

Aku pada dasarnya amat malas minum obat. Maaaaaalaaaaaas banget. Kalo ada cara lain yang lebih natural, lebih baik itu saja yang kulakukan meski butuh waktu lebih lama.

Sakit kepala ya aku pilih pijat, segala macam pijat, you name it. Pijat refleksi, Thai massage, pijat seluruh badan, totok kecantikan, totok sirkulasi darah, pijat sport, aku punya semua datanya. Sesudah pijat, aku biasanya tidur. Kalo bangun tidur masih terasa, okelah…berarti parah bener tu sakit kepala. Minum saja obat yang dijual bebas dan terhitung aman. Satu saja. Biasanya untukku, sudah jauh lebih baik.

Sakit kepala pun aku bisa membedakan, mana yang karena kebanyakan makan yang gurih gurih ( alias garam ), mana yang hormonal, dan yang terakhir ini. Tension Type Headache.

Untuk tipe yang terakhir ini, akupun sudah tahu, semua tindakan di atas udah nggak mempan. Hanya bisa : dijarumin!

Advertisements

Perkawinan? Blah.

I thought I’m the one who has been thru hell..

I thought I’m the one who is sailing the most uncertain sea..

But when I look at my right and left, Actually…I’m not alone.

Really.

There are other women who are still struggling, and living what other thought is hell. Yes, at the moment, we all are fighting our own battle in life, and facing different demons.

Tak ada indikatornya sih, mana yang perangnya lebih besar, atau musuh siapa yang lebih keji. Karena masing masing adalah individu yang berbeda, berhadapan dengan individu yang berbeda, mengalami problematika yang berbeda pula.

Ada yang istrinya baik, setia, tapi ga mau di”pegang”. Ada yang suaminya ganteng, mesra, tapi doyan main gila. Ada yang suaminya tekun rajin bekerja kaya raya, tapi gak percayaan sama bini sendiri. Ada yang istrinya ibu yang baik, salihah, cetak anak pintar tapi gak jaga penampilan raganya. Ada istri yang ngeluh mulu tentang suaminya a i u e o, padahal suaminya terlihat anteng aja, gak banyak bacot. Ada yang suaminya cuma gegara kepincut janda jadi lupa segala galanya. Ada istri yang gak bawel, cerewet, ngatur, mandiri, duit terima sedikasihnya aja tapi tetap dianggap gak guna karena mungkin diharapkan merangkap jadi babu juga. Ada yang lama pacaran dan akhirnya nikah dengan orang yang sama, akhirnya selingkuh, mungkin niatnya sekedar variasi, malah kepatil juga. Ada yang suaminya kaya roaya sakseis dalam karir hasil keringet sendiri, sayang istri, eh..demen beli perempuan juga. Ada suami yang terlihat lugu dan cupu, eeee….taunya suka juga beli perempuan, gak kalah sama bos besar. Ada seorang istri yang punya suami yang selisih umur jauh lebih tua tapi baik, sakseis, sayang bini, eh mau lari dan rela diporotin ama laki laki lain cuma gara gara urusan ranjang.

Pilih mana :

Punya suami yang ngga ketauan atau emang engga main gila, tapi insecurenya aujubilah,

Atau

Punya suami yang sayang, cinta begitu rupa, tapi males malesan cari nafkah?

Pilih mana :

Suami yang uda ketauan main gila, tapi mati matian tetap berusaha mempertahankan kita yang katanya nomer satu yang paling dia cinta, tapi ga mau juga setia

Atau

Suami yang gak tau setia atau enggak, tapi control freak dan pelitnya juara?

Pilih mana,

Disakiti di depan mata, suami punya anak dari perempuan lain namun memenuhi semua kemauan dengan harta,

Atau

Suami yang kelihatannya diam dan nurut saja, ga ada angin ga ada badai tanpa bicara main gugat cerai saja dengan alasan yang ngga banget?

Pilih mana,

Berjuang mempertahankan pernikahan menjalani babak demi babak proses pengadilan agama yang menyakitkan itu demi laki laki yang kepincut wanita lain namun pada akhirnya dicerai juga dan tak lama setelah cerai lakinya kawin lagi juga?

Atau..

Memilih tutup mata tutup telinga dan fokus jalani hidup ke depan, karena kadung letih dan sakit hati karena sudah sampai 3x diancam kata cerai oleh suaminya?

Untuk seorang saya, sekarang ini, dengan semua yang telah saya alami dan lihat dan dengar, nilai plus dari sebuah perkawinan itu hanyalah adanya pegangan bahwa if shit happens : entah sakit, atau musibah, ada partner yang BERKEWAJIBAN membantu. Baik dari segi finansial maupun moral. Dah gitu aja.

Ngeri ya?

Entahlah. Mungkin karena saya masih eneg dengan berkurangnya komitmen orang orang masa kini dengan lembaga perkawinan. Mungkin juga saya selama ini udah dibentuk untuk sadar bahwa meski menikah : I am my own hero. I’m the one who can save myself. I depend on myself.

Jadinya ya kayak gini. Perkawinan nampak seperti sebuah belenggu, based on sudah dinafkahi secara materi, ya harus tunduk pada suami.

Ya kan itu getir gila.

Wagelaaaseh.

Eh tapi….

Moga moga ke depannya enggak ya. Tetaplah, saya kepingin lah merasakan ketenangan dan kenyamanan batin bersama seseorang.

Lagian…Kan saya maunya Lebaran ada foto keluarga, ada yang dibawa saat bertemu keluarga besar… Dan saat naik haji kelak , bersama pasangan, biar bisa gandengan. Sesederhana itu saja dulu lah.

Awesome Trip Ever!

It has been 2 months since our last trip to Europe, but me and my sister are finding hard to move on.

We still keep talking about it. About Hilversum. About Berlin. About Prague. Until today, we are still looking at the pictures, and the video we took during the trip.

We are still talking about the weather : the chilly wind in Amsterdam, the icy rain in Berlin, the snow in Prague. The beginning of our trip, but hardly talk about the end of it.


Me in Sissy waiting to get on board, Soetta-Jakarta Me and Sissy waiting just before boarding, Soetta-Jakarta


It took approximately 8 hours from Jakarta to Dubai by Emirates Airlines. Less than 1 hour transit in Dubai, we boarded another Emirates aircraft to Amsterdam for 7.5 hours flight.


Emirates plane that took us to Amsterdam from Dubai


After arrived in Schipol, we took 30 minutes train ride to Hilversum, a city in North Holland. From Hilversum to Amsterdam also takes 30 minutes train ride.

In Hilversum, we stayed at a friend’s house. After 1 day of resting and easy strolling in Amsterdam, we went to Berlin by train.

From Hilversum, we had to go to Amsterdam Centraal first, and waited for our train to Berlin. After 4 hours train ride, we arrived in Berlin.

In Berlin, we rented a room at Sabine’s apartement in Zionkirche Straße, Berlin Mitte. We got her place by using the Air BnB application.

Sabine is a very nice lady, a single mother with her teenage son. The flat is tidy and clean. I remember how her kitchen always smell like bell pepper/ capsicum.


Our room at Sabine’s apartement

Our room at Sabine’s apartemen


I’ve been to Europe before. But the last trip made me hook on Europe more than ever.

The trip was actually unplanned. Ofcourse we have talked about it, me and my sister couple of months before. But since I still had a lot what ifs in my mind, I didn’t have the courage to give it a go.

But something happened.

Something big.

Something that made me realize, no way I’m gonna live my life only to pay bills and die. So I picked up my cellphone and asked my sister to buy us plane tickets, to Amsterdam.

I’ve been to Amsterdam in 2012, for a short visit, 3 days. I still remember the hotel I was staying, the Madame Tussaud’s, and the alleys I was walking at that time. I didn’t wish to see all of these places. I wished to erase that memory, and planned to make a new one.

But I can’t erase the memory of walking on those alleys. What am I supposed to do with that, anyway..?

Our trip was an awesome one. So many things we saw, experienced. We saw old buildings, visited museums, walked and walked til our feet hurt. And ofcourse, we had a little bit of drama too, spiced the trip up.

It’s just 2 months ago, but my heart and mind is already set a goal to go back to Europe again, to different destinations. Maybe we’ll go to Norway and Sweden next year.

Maybe to Italy, Spain, Switzerland in 2020.

Maybe.

It costs nothing to have a dream, doesn’t it?

Psikolog “Seleb“ Itu….

Psikolog yang tepat menurutku adalah yang melihat kasus kliennya secara menyeluruh. Bukan malah menganggap hal itu seolah membuang waktu.

Setiap tindakan seseorang, dan tentunya karakter seseorang, tak akan lepas dari latar belakangnya. Jadi, menurutku seorang psikolog yang baik akan menggali lebih dalam semua faktor dan orang yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya berkonsentrasi dengan masalah yang sedang dihadapi dan memiliki target menyelesaikannya sesegera mungkin.

( Padahal kan, lebih banyak sesi, lebih untung dong buat doi? )

Aku pernah punya 2 sesi dengan psikolog selebriti ini, yang suka wara wiri di depan tipi. Yang rambutnya tergerai panjang dengan make up komplit dan dandanan ala sosialita masa kini.

Sebenarnya aku lebih memilih psikolog yang lebih keibuan dan kebapakan ( iya, kalau perlu konsultasi dengan 2 psikolog sekaligus yang terdiri dari seorang ibu dan seorang bapak) , mengingat masalah yang kuhadapi berkaitan dengan anak remaja yang lagi “sedèng-sedéngnya”.

[Namun apa daya, secara bukan gue yang keluar duitnya, mesti terima dengan psikolog yang sudah tersedia]

Bagiku psikolog yang baik, akan bertindak netral. Apalagi mengenai masalah keluarga. Menurutku harus melibatkan semua pihak : bapak, ibu, kakak, adik, kalo perlu keluarga besar. Ya karena suka tidak suka, di budaya Indonesia, keluarga itu bukan cuma bapak, ibu dan anak saja.

( Dan yang mengejutkan, si Ibu Psikolog ini mengesampingkan faktor keluarga besar. Lah, tak seperti bapaknya yang lebih individual, pada dasarnya aku datang dari lingkungan yang kekerabatan keluarganya amat erat. Lantas, apakah demi kenyamanan anak, aku tak dapat mengajarkannya untuk tetap dekat dan hormat dengan kakek nenek dan buyutnya?)

Kedatangan pertamaku, lumayan ada sebuah perspektif baru. Misalnya selama ini, sama seperti kebanyakan ibu ibu lainnya, aku adalah “polisi buruk”. Di mana aturan, perintah, omelan ( yang disebut anakku sebagai ceramah ), keluar dari mulutku. Sementara pihak seberang, alias bapaknya adalah “polisi baik”, di mana tidak banyak omong, lebih mengiyakan, dan pemenuhan semua materi yang dibutuhkan dan diinginkan.

Biasa. Kasus seperti itu. Gak terlalu masalah, jika masih dalam sebuah rumah tangga yang sama. Asal bisa saling mendukung, akhirnya anak tidak berpihak dan menganggap kekurangan salah satu orang tua adalah kelebihan orang tua lainnya, begitupun sebaliknya. Orang tuakupun begitu. Jadi aku tahu rasanya.

Tapiiiii…….

Jika dalam 2 rumah tangga yang berbeda, ditambah dari awal kedua orang tua tak bisa saling dukung, dan memiliki pola asuh yang bertolak belakang, dapat dipastikan anak akan frontal memilih berada di salah satu pihak.

Dalam kasus ekstrim, bahkan membenci salah satu orang tuanya.

[Sad, isn’t it?]

Aku, sebagai ibu, dikomplen anak karena terlalu banyak ngatur, terlalu banyak bertanya, terlalu banyak ceramah ( jika mencoba mengajarkan sesuatu).

Awalnya aku sempat berpikir : ” WTH!!!!! Segini dibilang aku ribet? You are so lucky I’m not your grandma, otherwise I’ll put chillies in your mouth!”

Tapi rupanya, remaja jaman now, berbeda dengan remaja jamanku dulu…eh salah. Mungkin tepatnya, anakku berbeda dengan aku dulu.

Padahal, rasanya sih sama aja. Bapakku bagian yang baik-baik, ibuku bagian yang resek resek. Tapi, aku tak akan pernah punya nyali untuk ngajak perang ibuku, apalagi berlindung di balik punggung bapakku.

Balik ke si Psikolog Seleb tadi, singkat cerita, blio mengungkapkan bahwa :

” Anak jaman sekarang ngga bisa diperlakukan seperti anak jaman dulu…Anggap sebagai teman…”

Okelah. Selintas terbayang di kepalaku, seperti beberapa episode dalam sebuah film.

Ada adegan dimana aku dan anakku saling bercerita tentang teman teman di sekolahnya, atau hal hal lain seperti :

Ada yang sudah pacaran…ada yang kecanduan film porno…ada yang terlalu dimanja…ada yang ketahuan ciuman di toilet sekolah…musik yang lagi “in” di radio…bagaimana cara berlari tanpa harus berhenti karena kehabisan nafas…bahwa Relox itu bukanlah satu-satunya jam tangan paling keren di dunia…

Well, I know what you mean, mam.

” Apa yang ibu lakukan, mungkin maksudnya baik, tapi diterimanya salah oleh anak.”

Terlintas kembali beberapa cuplikan adegan film yang berupa kisah nyata dengan pemeran utama aku dan anakku.

Ketika aku sering kali, berulangkali berselisih paham tentang hobi main game nya saat itu. Sekali aku mengingatkan, beberapa menit kemudian aku kembali bersuara mengingatkan.

” Kaaaaak, maghriiib….”

” Kaaak, stop dulu, makan…”

” Kak, mandi!”

” Kak, berhenti dulu… kasihan matanya…”

Sampai akhirnya aku berteriak :” Berhenti nggak?! Atau mau mami plester mukanya di depan komputer?!!?”

Satu hal yang aku baca, tentang anak anak korban perceraian, ada tipikal anak yang memaksa dirinya menjadi lebih dewasa dari usianya.

Kehilangan salah satu figur orang tua di rumah, membuat anak secara tak langsung berusaha menghilangkan atau mengesampingkan kebutuhan figur akan sosok yang hilang tersebut.

“What to do, they’re separated…i can’t have them both now. Life goes on, I got this.”

Kira-kira itu bayanganku tentang apa yang di benak anakku. Muuuuuungkiiiin, ya. Mungkin.

Sementara bagiku, dan mungkin bagi sebagian besar ibu-ibu, anak tetaplah seorang anak.

Sampai kapanpun, sudah naluri seorang ibu untuk tetap mengatur, mengurus, mencoba meluruskan apa yang dianggapnya belok, yang resek resek… seperti itulah.

Coba deh liat, kalau ada yang tak jadi menikah karena terganjal restu orang tua, tanya : restu siapa?

90% mah yakin, pasti terganjal restu ibunya.

Yang terkadang si ibu ini jawabannya suka susah diterima akal, semisal : ” Ibu ngga bisa jelaskan alasannya apa… feeling ibu mengatakan dia gak tepat buat kamu.”

Padahal anaknya sudah dewasa, sudah bekerja, masiiih aja diurusin ibunya sampai ke urusan jodoh.

My point is, begitulah kebanyakan seorang ibu.

Psikolog tadi, aku tebak dia tidak pernah bercerai. Mungkin saja keluarganya keluarga bahagia sejahtera. Mungkin saja suaminya tipe suami sayang istri. Mungkin saja suaminya tipe yang iya iya saja, jadi hidupnya bak di taman bunga.

Tapi kan dia semestinya bisa berempati mengingat mungkin sudah ratusan atau bahkan jutaan klien yang datang kepadanya?

Lantas, bagaimana dia bisa menjatuhkan vonis ( eh, tepatnya gue yang merasa dijatuhkan vonis ) based on 2-3 jam pertemuan?

Did she know, bahwa selama ini aku pun sudah menerapkan hubungan sebagai teman?

Bukankah dia semestinya tahu dan mencari tahu latar belakang aku dibesarkan, latar belakang bapaknya anak-anak dibesarkan karena jelas itu akan mempengaruhi cara pola asuh kami ( yang apesnya rada bertolak belakang )?

Kedatanganku kedua ( and most likely will be my LAST ), si Psikolog Seleb ini dengan penuh percaya diri mengatakan, tak ada kaitannya antara sikap si Sulung dengan perceraian orang tuanya.

Did she know that once, my son accused me for being the reason why his dad filed the divorce?

Emang ada ya, anak yang orang tuanya bercerai terus hidupnya malah bahagia? Si Psikolog ini berkonsentrasi hanya dengan hubunganku dengan anakku. Titik.

Bagi anakku, aku bersalah. Dan he demanded my apology.

Bagiku, jika permintaanku agar ia rutin mengunjungiku, always stay in touch , dan kalau bisa menginap di rumah ini dengan aku dan adiknya dianggap adalah suatu kesalahan, maka bagiku ia belum paham akan tanggung jawabnya sebagai seorang anak. Then I shall never apologize about this.

Sebagai anak tertua, aku sudah paham akan kewajibanku. Hakku sudah diberikan orangtuaku, dibesarkan, dididik, disekolahkan, jadi kini adalah kewajibanku menjaga, merawat mereka hingga akhir hayat. Sebagaimana aku melihat bagaimana bapak dan adik-adiknya terhadap nenekku.

Nenekku keras, punya prinsip tegas. Begitupun ibuku. Apalagi yang berkaitan dengan tingkah laku dan tata krama ketimuran. Cetakan jaman dulu. Akupun begitu.

What is so wrong dengan adat ketimuran, anyway?

Aku suka bergidik, saat nonton acara atau film barat. Di mana bisa seorang anak tak berbicara dengan ayah atau ibunya selama bertahun tahun, seorang kakek atau nenek yang tak pernah bertemu cucunya. Gak usah jauh jauh deh, anak kawin lari atau kawin diam diam deh, bagiku aduuuh kayak apa rasanya orangtuanya?

Aku masih edisi jaman dulu, kolot, aku akui.

Anak anak ini, dari kecil selalu tidur bersamaku dalam satu tempat tidur. Setiap pagi kuhirup bau jigongnya dan membangunkan mereka dengan peluk dan cium. I love them with all my heart, and God knows I’d die for them.

What I want for them always all the best that I can give to them.

Meski tak bisa memberikan hal terbaik berupa materi, what I can do is shaping them to be the best man they can be.

Laki laki yang tahu menghargai dan memperlakukan wanita, istri, ibu bagi anak anaknya kelak. Menghargai perkawinan sebagai sebuah komitmen. Bersikap hormat kepada sesama apalagi terhadap orang tua, dan mertuanya kelak. Laki laki yang berbahagia demi anak anaknya ketimbang demi dirinya sendiri. Laki laki yang memilih punya sikap, prinsip ketimbang berusaha untuk disukai semua orang. Laki laki yang ngga banyak bacot apalagi demen curhat demi dapat simpati. Laki laki yang penuh percaya diri bukan hanya karena punya materi. But most of all, laki laki yang takut akan Tuhan. Dah, gitu aja.

Bagaimana itu terjadi jik aku diharapkan untuk kelak tidak banyak mengatur, memberitahu, dan menegur?

I can’t apologize for things that I thought are the best for them.

Apakah si Psikolog Seleb tadi tahu, bahwa untuk membuat aku akhirnya berteriak itu setelah ada 3 kali pelanggaran? Apakah dia perduli bahwa aku pun menerapkan proses negosiasi? Lantas bagaimana bisa menjatuhkan vonis hanya karena keluhan seorang anak remaja?

Tidakka si Ibu Psikolog itu tahu, atau mencari tahu adanya dualisme dengan cara didik anak anakku?

Bapaknya thought know what’s best for them.

Aku sebagai ibunya know too what’s best for them.

But what’s best for me and him lebih sering berupa hal yang bertolak belakang. Did she ever try to find out about this?

Gue sih bukan psikolog ya. Boro boro. Tapi jika dualisme ini terus berjalan, tanpa ada kerjasama atau dukungan satu sama lain antara aku dan bapaknya, hal yang sama akan berulang ulang.

Aku resek, anak berlindung pada bapaknya. Gitu terus, sampai kodok bisa salto tujuh kali.

Jadi, bagiku, butuh sesi antara aku dan bapaknya agar ketemu satu titik tengah, jadi meski di rumah tangga yang berbeda, tetap dengan pola asuh yang , well at least hampir serupa lah.

Contoh :

Aku tipikal ibu yang jika anak menginginkan sesuatu, apalagi hal yang mahal, dia harus buktikan dengan nilai pelajaran. Gak musti harus 8-9 semua lah. Dengan nilai KKM 7 dan 7.5 saja : “Bisa tidak, pertahankan nilai jangan sampai ada satupun yang berada di bawah angka itu?”

Bagiku, I’m reasonable.

Toh mereka pintar juga bukan buat aku, buat mereka kelak. Walau pasti lah, anak pintar, orang tua pasti bangga.

But my point is, i want them to try. Punya sesuatu yang dikejar. Punya sedikit jiwa kompetisi dengan hasil yang dicapai sendiri.

The fact is, anak anakku bisa mendapatkan apa yang mereka mau dengan mudah. Telepon selular harga belasan juta, jam tangan puluhan juta, pakaian sepatu berjuta juta, mainan harga berjuta. Gampang, tinggal bilang.

Bukan ke aku tentunya, mintanya.

Emang bisa, gue protes?

Ya nggak. Apalagi kalo nanti diberi jawaban ,” Anak-anak gue, duit-duit gue… I have the right. Sape loh?”

Hanyiiir, kan. Mami resek, papa asik. Dah begitu seterusnya.

Lah kok ni Psikolog Seleb tak bisa melihat ke arah situ, ya?

Satu jam sesi, aku merasa poinnya hanya adalah aku harus meminta maaf pada anakku, regardless tulus apa enggak.

So I said to her : ” Jika saya harus meminta maaf, untuk sesuatu hal yang merupakan kewajiban anakku, dan sebenarnya adalah hak saya sebagai seorang ibu, maka lebih baik saya ikhlaskan ia pada ayahnya.”

” Sebagai seorang ibu, sampai kapanpun saya akan punya keinginan untuk anak saya mengunjungi saya, spend waktu bersama saya, menghubungi saya secara rutin. Jika saya harus minta maaf dan setelah ia memaafkan, saya tak bisa meminta hal yang sama karena itu sepertinya adalah sebuah kesalahan? Saya rasa saya tak akan sanggup untuk tidak meminta hak saya yang satu itu, dan saya akan selalu punya ekspektasi ia melakukan hal yang saya anggap berupa kewajibannya sebagai seorang anak…” lanjutku.

” Tapi ini anak ibu, lho!” Kata si Psikolog Seleb yang kata beberapa temanku suka ikut acara acara sosialita ini. Mungkin dia agak kaget karena aku memilih menyerah.

” Justru karena dia anak saya,” jawabku. Saat berkata ini air mataku sudah meleleh tak terbendung.” I want what’s the best for him, what makes him happy. Jika keberadaan saya adalah sebuah beban baginya, dengan aturan aturan saya, dengan ceramah dan cerewetnya saya, maka saya ikhlaskan dia… Dia anak saya, tapi dia bukan milik saya. Dia milik Tuhan. Jadi, saya ikhlaskan dia.. Suatu saat dia pasti akan mencari saya..”

Bersama lelehan air mataku, kulepas perlahan lahan semua ekspektasiku. Sekelebat terlintas bayangan bagaimana saat ia berada di kandunganku, ketika ia keluar dari rahimku, malam malam di mana ia tidur dalam pelukanku, tangisnya di pergelangan kakiku tak mengizinkan aku keluar rumah, bagaimana ia berceloteh di atas pangkuanku, wajahnya yang malu malu ketika kupeluk, dadaku yang serasa akan meledak tiap kali ia berkata “i love you, mom” …kulepas semua perlahan lahan.

He’s a young man now. 17 tahun. Tak bisa kusamakan lagi ketika ia masih kecil. Dari menjelang SMP, dia sudah mulai mencari dirinya sendiri. Dia anakku, tetapi memang ia bukan milikku. Dia laki laki, toh kelak akan menjadi milik istrinya, milik anak anaknya.

Ketika perceraian ini terjadi, dia sudah menentukan sendiri jalan hidupnya. Dan jika ia memilih bersama ayahnya adalah yang terbaik buat dirinya, maka meski betapa remuk redam hancurnya rasanya hati ini, maka kurestui langkahnya. Biarlah aku mundur perlahan.

Cinta itu adalah sesuatu yang ketika diberi haruslah diterima. Untuk bisa diterima, cinta itu harus berada di frekwensi yang sama. Saat ini, bagiku, frekwensiku dengan anakku belum sama (apalagi sama bapaknya, HA!). Mungkin suatu saat, akan tiba masanya untuk sama…who knows kan.

Psikolog Seleb itu bagiku tak memberikan solusi terbaik. Tapi paling tidak dia telah membantu membukakan mata hatiku, tentang sebuah keikhlasan yang tak main-main. Secara tak langsung, ia membantu aku mencapai ke level itu, meski sebenarnya bukan itu tujuan konsultasi ini.

So I guess, I owe her a thank you. Meski I would never recommend you to see her. Anyway, selama ini I have another better option than her...

E.g.p

Kenapa ya, adeeee ajeee yang demen banget bilang seorang mantan gue semakin tajir, sakseis, koayaaa rooayaa padahal gue ngga nanyak dan gak pernah pengen tau.

Trus gue mesti bahagiyak, gituh?

Yaaaa kalo kecipratan duitnya mah… Bolehlah adek joged, bwaaaaang….

Kalo kagak juga, emang gue mesti tau dan pikiriiiin?

The Tale of Mr. Stefan Scrooge.

For Stefan, Anja was a liability, when she’s nolonger useful to him.

Eventhough she’s the mother of his children, for him, Anja was a broken goods. He could get and buy a new one, easily.

Stefan counted every penny, every dime he had to spend for her meals, her clothes, even her soaps. It became his burden, day by day. It irritated him. Oh yes, it did.

So he cut her loose.

Ofcourse, he gave Anja enough money to have a decent life. But still, he counted every dime, every penny. He made sure that the money is “just enough”. And he made sure Anja knew that she would never have a taste of his earns anymore, even a penny. Even a dime.

But Anja was a fighter, she struggled, and wiggled, if must. She always thought that she was nobody before, so what she’s dealing with that day was not something new. She would survive. She would be just fine.

So she was.