Psikolog “Seleb“ Itu….

Psikolog yang tepat menurutku adalah yang melihat kasus kliennya secara menyeluruh. Bukan malah menganggap hal itu seolah membuang waktu.

Setiap tindakan seseorang, dan tentunya karakter seseorang, tak akan lepas dari latar belakangnya. Jadi, menurutku seorang psikolog yang baik akan menggali lebih dalam semua faktor dan orang yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya berkonsentrasi dengan masalah yang sedang dihadapi dan memiliki target menyelesaikannya sesegera mungkin.

( Padahal kan, lebih banyak sesi, lebih untung dong buat doi? )

Aku pernah punya 2 sesi dengan psikolog selebriti ini, yang suka wara wiri di depan tipi. Yang rambutnya tergerai panjang dengan make up komplit dan dandanan ala sosialita masa kini.

Sebenarnya aku lebih memilih psikolog yang lebih keibuan dan kebapakan ( iya, kalau perlu konsultasi dengan 2 psikolog sekaligus yang terdiri dari seorang ibu dan seorang bapak) , mengingat masalah yang kuhadapi berkaitan dengan anak remaja yang lagi “sedèng-sedéngnya”.

[Namun apa daya, secara bukan gue yang keluar duitnya, mesti terima dengan psikolog yang sudah tersedia]

Bagiku psikolog yang baik, akan bertindak netral. Apalagi mengenai masalah keluarga. Menurutku harus melibatkan semua pihak : bapak, ibu, kakak, adik, kalo perlu keluarga besar. Ya karena suka tidak suka, di budaya Indonesia, keluarga itu bukan cuma bapak, ibu dan anak saja.

( Dan yang mengejutkan, si Ibu Psikolog ini mengesampingkan faktor keluarga besar. Lah, tak seperti bapaknya yang lebih individual, pada dasarnya aku datang dari lingkungan yang kekerabatan keluarganya amat erat. Lantas, apakah demi kenyamanan anak, aku tak dapat mengajarkannya untuk tetap dekat dan hormat dengan kakek nenek dan buyutnya?)

Kedatangan pertamaku, lumayan ada sebuah perspektif baru. Misalnya selama ini, sama seperti kebanyakan ibu ibu lainnya, aku adalah “polisi buruk”. Di mana aturan, perintah, omelan ( yang disebut anakku sebagai ceramah ), keluar dari mulutku. Sementara pihak seberang, alias bapaknya adalah “polisi baik”, di mana tidak banyak omong, lebih mengiyakan, dan pemenuhan semua materi yang dibutuhkan dan diinginkan.

Biasa. Kasus seperti itu. Gak terlalu masalah, jika masih dalam sebuah rumah tangga yang sama. Asal bisa saling mendukung, akhirnya anak tidak berpihak dan menganggap kekurangan salah satu orang tua adalah kelebihan orang tua lainnya, begitupun sebaliknya. Orang tuakupun begitu. Jadi aku tahu rasanya.

Tapiiiii…….

Jika dalam 2 rumah tangga yang berbeda, ditambah dari awal kedua orang tua tak bisa saling dukung, dan memiliki pola asuh yang bertolak belakang, dapat dipastikan anak akan frontal memilih berada di salah satu pihak.

Dalam kasus ekstrim, bahkan membenci salah satu orang tuanya.

[Sad, isn’t it?]

Aku, sebagai ibu, dikomplen anak karena terlalu banyak ngatur, terlalu banyak bertanya, terlalu banyak ceramah ( jika mencoba mengajarkan sesuatu).

Awalnya aku sempat berpikir : ” WTH!!!!! Segini dibilang aku ribet? You are so lucky I’m not your grandma, otherwise I’ll put chillies in your mouth!”

Tapi rupanya, remaja jaman now, berbeda dengan remaja jamanku dulu…eh salah. Mungkin tepatnya, anakku berbeda dengan aku dulu.

Padahal, rasanya sih sama aja. Bapakku bagian yang baik-baik, ibuku bagian yang resek resek. Tapi, aku tak akan pernah punya nyali untuk ngajak perang ibuku, apalagi berlindung di balik punggung bapakku.

Balik ke si Psikolog Seleb tadi, singkat cerita, blio mengungkapkan bahwa :

” Anak jaman sekarang ngga bisa diperlakukan seperti anak jaman dulu…Anggap sebagai teman…”

Okelah. Selintas terbayang di kepalaku, seperti beberapa episode dalam sebuah film.

Ada adegan dimana aku dan anakku saling bercerita tentang teman teman di sekolahnya, atau hal hal lain seperti :

Ada yang sudah pacaran…ada yang kecanduan film porno…ada yang terlalu dimanja…ada yang ketahuan ciuman di toilet sekolah…musik yang lagi “in” di radio…bagaimana cara berlari tanpa harus berhenti karena kehabisan nafas…bahwa Relox itu bukanlah satu-satunya jam tangan paling keren di dunia…

Well, I know what you mean, mam.

” Apa yang ibu lakukan, mungkin maksudnya baik, tapi diterimanya salah oleh anak.”

Terlintas kembali beberapa cuplikan adegan film yang berupa kisah nyata dengan pemeran utama aku dan anakku.

Ketika aku sering kali, berulangkali berselisih paham tentang hobi main game nya saat itu. Sekali aku mengingatkan, beberapa menit kemudian aku kembali bersuara mengingatkan.

” Kaaaaak, maghriiib….”

” Kaaak, stop dulu, makan…”

” Kak, mandi!”

” Kak, berhenti dulu… kasihan matanya…”

Sampai akhirnya aku berteriak :” Berhenti nggak?! Atau mau mami plester mukanya di depan komputer?!!?”

Satu hal yang aku baca, tentang anak anak korban perceraian, ada tipikal anak yang memaksa dirinya menjadi lebih dewasa dari usianya.

Kehilangan salah satu figur orang tua di rumah, membuat anak secara tak langsung berusaha menghilangkan atau mengesampingkan kebutuhan figur akan sosok yang hilang tersebut.

“What to do, they’re separated…i can’t have them both now. Life goes on, I got this.”

Kira-kira itu bayanganku tentang apa yang di benak anakku. Muuuuuungkiiiin, ya. Mungkin.

Sementara bagiku, dan mungkin bagi sebagian besar ibu-ibu, anak tetaplah seorang anak.

Sampai kapanpun, sudah naluri seorang ibu untuk tetap mengatur, mengurus, mencoba meluruskan apa yang dianggapnya belok, yang resek resek… seperti itulah.

Coba deh liat, kalau ada yang tak jadi menikah karena terganjal restu orang tua, tanya : restu siapa?

90% mah yakin, pasti terganjal restu ibunya.

Yang terkadang si ibu ini jawabannya suka susah diterima akal, semisal : ” Ibu ngga bisa jelaskan alasannya apa… feeling ibu mengatakan dia gak tepat buat kamu.”

Padahal anaknya sudah dewasa, sudah bekerja, masiiih aja diurusin ibunya sampai ke urusan jodoh.

My point is, begitulah kebanyakan seorang ibu.

Psikolog tadi, aku tebak dia tidak pernah bercerai. Mungkin saja keluarganya keluarga bahagia sejahtera. Mungkin saja suaminya tipe suami sayang istri. Mungkin saja suaminya tipe yang iya iya saja, jadi hidupnya bak di taman bunga.

Tapi kan dia semestinya bisa berempati mengingat mungkin sudah ratusan atau bahkan jutaan klien yang datang kepadanya?

Lantas, bagaimana dia bisa menjatuhkan vonis ( eh, tepatnya gue yang merasa dijatuhkan vonis ) based on 2-3 jam pertemuan?

Did she know, bahwa selama ini aku pun sudah menerapkan hubungan sebagai teman?

Bukankah dia semestinya tahu dan mencari tahu latar belakang aku dibesarkan, latar belakang bapaknya anak-anak dibesarkan karena jelas itu akan mempengaruhi cara pola asuh kami ( yang apesnya rada bertolak belakang )?

Kedatanganku kedua ( and most likely will be my LAST ), si Psikolog Seleb ini dengan penuh percaya diri mengatakan, tak ada kaitannya antara sikap si Sulung dengan perceraian orang tuanya.

Did she know that once, my son accused me for being the reason why his dad filed the divorce?

Emang ada ya, anak yang orang tuanya bercerai terus hidupnya malah bahagia? Si Psikolog ini berkonsentrasi hanya dengan hubunganku dengan anakku. Titik.

Bagi anakku, aku bersalah. Dan he demanded my apology.

Bagiku, jika permintaanku agar ia rutin mengunjungiku, always stay in touch , dan kalau bisa menginap di rumah ini dengan aku dan adiknya dianggap adalah suatu kesalahan, maka bagiku ia belum paham akan tanggung jawabnya sebagai seorang anak. Then I shall never apologize about this.

Sebagai anak tertua, aku sudah paham akan kewajibanku. Hakku sudah diberikan orangtuaku, dibesarkan, dididik, disekolahkan, jadi kini adalah kewajibanku menjaga, merawat mereka hingga akhir hayat. Sebagaimana aku melihat bagaimana bapak dan adik-adiknya terhadap nenekku.

Nenekku keras, punya prinsip tegas. Begitupun ibuku. Apalagi yang berkaitan dengan tingkah laku dan tata krama ketimuran. Cetakan jaman dulu. Akupun begitu.

What is so wrong dengan adat ketimuran, anyway?

Aku suka bergidik, saat nonton acara atau film barat. Di mana bisa seorang anak tak berbicara dengan ayah atau ibunya selama bertahun tahun, seorang kakek atau nenek yang tak pernah bertemu cucunya. Gak usah jauh jauh deh, anak kawin lari atau kawin diam diam deh, bagiku aduuuh kayak apa rasanya orangtuanya?

Aku masih edisi jaman dulu, kolot, aku akui.

Anak anak ini, dari kecil selalu tidur bersamaku dalam satu tempat tidur. Setiap pagi kuhirup bau jigongnya dan membangunkan mereka dengan peluk dan cium. I love them with all my heart, and God knows I’d die for them.

What I want for them always all the best that I can give to them.

Meski tak bisa memberikan hal terbaik berupa materi, what I can do is shaping them to be the best man they can be.

Laki laki yang tahu menghargai dan memperlakukan wanita, istri, ibu bagi anak anaknya kelak. Menghargai perkawinan sebagai sebuah komitmen. Bersikap hormat kepada sesama apalagi terhadap orang tua, dan mertuanya kelak. Laki laki yang berbahagia demi anak anaknya ketimbang demi dirinya sendiri. Laki laki yang memilih punya sikap, prinsip ketimbang berusaha untuk disukai semua orang. Laki laki yang ngga banyak bacot apalagi demen curhat demi dapat simpati. Laki laki yang penuh percaya diri bukan hanya karena punya materi. But most of all, laki laki yang takut akan Tuhan. Dah, gitu aja.

Bagaimana itu terjadi jik aku diharapkan untuk kelak tidak banyak mengatur, memberitahu, dan menegur?

I can’t apologize for things that I thought are the best for them.

Apakah si Psikolog Seleb tadi tahu, bahwa untuk membuat aku akhirnya berteriak itu setelah ada 3 kali pelanggaran? Apakah dia perduli bahwa aku pun menerapkan proses negosiasi? Lantas bagaimana bisa menjatuhkan vonis hanya karena keluhan seorang anak remaja?

Tidakka si Ibu Psikolog itu tahu, atau mencari tahu adanya dualisme dengan cara didik anak anakku?

Bapaknya thought know what’s best for them.

Aku sebagai ibunya know too what’s best for them.

But what’s best for me and him lebih sering berupa hal yang bertolak belakang. Did she ever try to find out about this?

Gue sih bukan psikolog ya. Boro boro. Tapi jika dualisme ini terus berjalan, tanpa ada kerjasama atau dukungan satu sama lain antara aku dan bapaknya, hal yang sama akan berulang ulang.

Aku resek, anak berlindung pada bapaknya. Gitu terus, sampai kodok bisa salto tujuh kali.

Jadi, bagiku, butuh sesi antara aku dan bapaknya agar ketemu satu titik tengah, jadi meski di rumah tangga yang berbeda, tetap dengan pola asuh yang , well at least hampir serupa lah.

Contoh :

Aku tipikal ibu yang jika anak menginginkan sesuatu, apalagi hal yang mahal, dia harus buktikan dengan nilai pelajaran. Gak musti harus 8-9 semua lah. Dengan nilai KKM 7 dan 7.5 saja : “Bisa tidak, pertahankan nilai jangan sampai ada satupun yang berada di bawah angka itu?”

Bagiku, I’m reasonable.

Toh mereka pintar juga bukan buat aku, buat mereka kelak. Walau pasti lah, anak pintar, orang tua pasti bangga.

But my point is, i want them to try. Punya sesuatu yang dikejar. Punya sedikit jiwa kompetisi dengan hasil yang dicapai sendiri.

The fact is, anak anakku bisa mendapatkan apa yang mereka mau dengan mudah. Telepon selular harga belasan juta, jam tangan puluhan juta, pakaian sepatu berjuta juta, mainan harga berjuta. Gampang, tinggal bilang.

Bukan ke aku tentunya, mintanya.

Emang bisa, gue protes?

Ya nggak. Apalagi kalo nanti diberi jawaban ,” Anak-anak gue, duit-duit gue… I have the right. Sape loh?”

Hanyiiir, kan. Mami resek, papa asik. Dah begitu seterusnya.

Lah kok ni Psikolog Seleb tak bisa melihat ke arah situ, ya?

Satu jam sesi, aku merasa poinnya hanya adalah aku harus meminta maaf pada anakku, regardless tulus apa enggak.

So I said to her : ” Jika saya harus meminta maaf, untuk sesuatu hal yang merupakan kewajiban anakku, dan sebenarnya adalah hak saya sebagai seorang ibu, maka lebih baik saya ikhlaskan ia pada ayahnya.”

” Sebagai seorang ibu, sampai kapanpun saya akan punya keinginan untuk anak saya mengunjungi saya, spend waktu bersama saya, menghubungi saya secara rutin. Jika saya harus minta maaf dan setelah ia memaafkan, saya tak bisa meminta hal yang sama karena itu sepertinya adalah sebuah kesalahan? Saya rasa saya tak akan sanggup untuk tidak meminta hak saya yang satu itu, dan saya akan selalu punya ekspektasi ia melakukan hal yang saya anggap berupa kewajibannya sebagai seorang anak…” lanjutku.

” Tapi ini anak ibu, lho!” Kata si Psikolog Seleb yang kata beberapa temanku suka ikut acara acara sosialita ini. Mungkin dia agak kaget karena aku memilih menyerah.

” Justru karena dia anak saya,” jawabku. Saat berkata ini air mataku sudah meleleh tak terbendung.” I want what’s the best for him, what makes him happy. Jika keberadaan saya adalah sebuah beban baginya, dengan aturan aturan saya, dengan ceramah dan cerewetnya saya, maka saya ikhlaskan dia… Dia anak saya, tapi dia bukan milik saya. Dia milik Tuhan. Jadi, saya ikhlaskan dia.. Suatu saat dia pasti akan mencari saya..”

Bersama lelehan air mataku, kulepas perlahan lahan semua ekspektasiku. Sekelebat terlintas bayangan bagaimana saat ia berada di kandunganku, ketika ia keluar dari rahimku, malam malam di mana ia tidur dalam pelukanku, tangisnya di pergelangan kakiku tak mengizinkan aku keluar rumah, bagaimana ia berceloteh di atas pangkuanku, wajahnya yang malu malu ketika kupeluk, dadaku yang serasa akan meledak tiap kali ia berkata “i love you, mom” …kulepas semua perlahan lahan.

He’s a young man now. 17 tahun. Tak bisa kusamakan lagi ketika ia masih kecil. Dari menjelang SMP, dia sudah mulai mencari dirinya sendiri. Dia anakku, tetapi memang ia bukan milikku. Dia laki laki, toh kelak akan menjadi milik istrinya, milik anak anaknya.

Ketika perceraian ini terjadi, dia sudah menentukan sendiri jalan hidupnya. Dan jika ia memilih bersama ayahnya adalah yang terbaik buat dirinya, maka meski betapa remuk redam hancurnya rasanya hati ini, maka kurestui langkahnya. Biarlah aku mundur perlahan.

Cinta itu adalah sesuatu yang ketika diberi haruslah diterima. Untuk bisa diterima, cinta itu harus berada di frekwensi yang sama. Saat ini, bagiku, frekwensiku dengan anakku belum sama (apalagi sama bapaknya, HA!). Mungkin suatu saat, akan tiba masanya untuk sama…who knows kan.

Psikolog Seleb itu bagiku tak memberikan solusi terbaik. Tapi paling tidak dia telah membantu membukakan mata hatiku, tentang sebuah keikhlasan yang tak main-main. Secara tak langsung, ia membantu aku mencapai ke level itu, meski sebenarnya bukan itu tujuan konsultasi ini.

So I guess, I owe her a thank you. Meski I would never recommend you to see her. Anyway, selama ini I have another better option than her...

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s