Stress dan Hal-hal Resek yang Mengikutinya

Hampir 2 tahun terakhir seingatku aku sudah 4 kali mengalami sakit kepala yang menyiksa. Tak seperti sakit kepala hormonal yang biasa datang sebulan sekali, dengan durasi tak lebih dari 24 jam, sakit kepala yang satu ini…..OHMYGOD! Ampuuuun, ganggu banget..nget..nget!

Serangan pertama dan kedua dalam dua tahun terakhir ini awalnya kukira karena faktor syaraf terjepit di C5 dan C6, yang memang sudah tahunan kuidap. Sempat keder juga, aduh.. kalo suka kumat kumatan begini, bagaimana ke depannya? Kan serem banget kalo mesti operasi?

Serangan ketiga terjadi di akhir 2017 lalu. Sakitnya sempat kutahan-tahan, sehari.. dua hari.. tiga hari.. hari ke empat, aku nggak kuat. Aku datangi deh, Pak Dokter.

“Dok, saya sudah 4 hari sakit kepala di belakang sini dok..” ujarku menunjuk kepala bagian belakang. ” Leher dan bahu saya kakunya minta ampunuuun… Oh ya, dok.. saya punya sejarah syaraf kejepit di leher.”

Pak Dokter yang tinggi besar itu manggut manggut. Beliau bertanya umur, dan aktivitas yang sehari-hari aku lakukan. Trus aku disuruh berbaring, lalu duduk, diperiksa pake stetoskop dan dipegang pundak dan leherku.

“Apa kolesterol tinggi ya, Dok? Apa syaraf leher saya kumat lagi?”

Pak Dokter bilang, melihat aktivitasku yang harian berolahraga, dan pola makanku, beliau merasa sepertinya bukan karena kolesterol.

“Kelihatan, usia 40 tahun lebih, bentuk badan begitu. Kamu pasti rutin olahraga dan jaga makan.”

(((Aduuuuuuuh… akunya kan jadi kepengen Ge-eR…)))

“Saya cenderung menduga ini sakit kepala karena ketegangan otot. Kamu banyak kerja pakai laptop, atau yang bikin kamu sering nunduk?” Tanya Pak Dokter.

Aku mengangguk. Kemudian oleh Pak Dokter aku diberi 3 jenis obat. Parasetamol, vitamin syaraf, dan apa ya satu lagi? Percuma juga, karena yang sudah sudah, biasanya aku malas minum obat.

Di kepalaku cuma satu yang kupikir : jika ini karena otot, dan tak mempan hanya dengan stretching, maka harus di…….akupuntur.

Sepulang dari dokter, aku segera mencari tahu tentang sakit kepala yang kuderita. Ternyata namanya adalah : Tension Type Headache.

TTH ini memiliki gejala khas, yaitu :

  • Bisa berlangsung dari 30 menit, hingga berhari hari. Bahkan sampai mingguan!
  • Gejala yang kurang nyaman yakni ketegangan, mulai terasa ketika tubuh sudah mulai dipakai beraktivitas. Dalam kasusku, aku bangun pagi dalam keadaan bahagia, enteng,nyaman. Namun sesudah jam makan siang, mulai tuh… seperti ada ketegangan yang menjalar, dari bahu, leher dan kepala belakang. Makin sore, intensitasnya makin cihuy… Besok paginya hilang, sesudah makan siang mulai kumat lagi, begitu seterusnya hingga berhari hari.
  • Jika sakit kepala hormonal begitu diminumkan obat ( aku mah biasanya cuma panadol saja, yang bagi sebagian orang “gak nendang”), akan perlahan lahan mereda, sakit kepala jenis ini cenderung susah redanya.
  • Rasa sakitnya khas, tidak berdenyut seperti migren biasa. Gimana ya menjabarkannya? Hmmmm… gini. Kalo migren kan ada senuut…senuuut….gitu rasanya. Si TTH ini ya cuma sakit aja. Rasanya seperti membawa sebuah batu besar berbentuk bola di belakang leher. Atau rasanya seperti diduduki seseorang di bahu dan leher, seperti di film horor Thailand yang judulnya “Shutter”. It’s there, and it hurts just like that.

Penyebabnya apa? Kata Mbah Gugel sih ini :

  • Stress and/or anxiety
  • Poor posture
  • Depression

Jiaah.

Itu sih, aku semua punya. Hahahahhaaa…

Postur badanku memang kurang baik, dari kecil. Aku agak bungkuk. Dan ada skoliosis, kecil sih. Hanya 15 derajat. Aku terbiasa membawa beban hanya di satu lengan dan bahu, yakni sisi kiri. Itu,membuatku menderita syaraf terjepit di bagian leher.

Pekerjaanku yang berkaitan dengan tulis menulis pun ternyata berkontribusi juga. Aku sering mengetik menggunakan handphone, dan ini menambah tekanan pada leherku.

Ah. Sebal.

Kutengok bungkusan obat yang kudapat dari Pak Dokter.

Aduuuh, malas sangat meminumnya. Akhirnya kuputuskan kembali ke cara lama, yang aku rasakan paling cespleng untuk urusan syaraf syarafan begini : akupuntur.

Perkenalanku dengan akupuntur terjadi di sekitar tahun 1997-1998. Saat itu, mungkin karena kecapekan kerja sekalian kuliah, ditambah flu yang cukup berat, tiba tiba aku merasakan dunia berputar. Pusing sekali. Tiap kali aku mencoba berdiri, aku hilang keseimbangan dan jauh terduduk sembari rapat rapat memejamkan mata.

Setelah ke dokter, dan melakukan MRI, aku divonis vertigo. Seperti biasa, aku dapat segabruk obat.

Obat habis, sensasi berputar itu masih kurasakan. Ganggu sekali, dan bikin parno.

Sampai suatu ketika seorang teman kos menawarkan untuk ikut pulang ke rumahnya ke Bogor. Katanya, ada dokter ahli akupuntur langganan kedua orang tuanya, yang mungkin bisa membantu.

Singkat kata, aku mau mencoba.

Saat mendatangi ruang prakter dokter tersebut, aku dalam kondisi gamang. Dalam artian, benar benar langkahku bak tidak menjejak bumi, seperti melayang. Sekelilingku ibaratnya seperti terus menerus bergoyang membentuk sebuah putaran. Pusing.

Setelah menceritakan keluhanku, aku berbaring dan membiarkan Dokter Akupuntur itu menusuki tubuhku dengan sejumlah jarum jarum halus di kaki, tangan, belakang telinga, dan kepalaku.

“Tunggu 30 menit ya, coba rileks, ” ujar si Dokter.

Aku melirik ke jam yang terpaku di tembok, nampak bergoyang ringan seperti dialun ombak. Pukul 10.10. Kupejamkan mata.

Eh ternyata susah ya tidur kalau mesti terbujur kaku begini, pikirku saat itu.

Kubuka mata.

Huh. Baru juga sepuluh menit…

EH.

Loh…kok jamnya jadi diam? Nggak goyang goyang lagi? I swear to God, saat aku baru membuka mata, aku bisa melihat jam di tenbok itu dari (terasa) bergoyang perlahan hingga pelan pelan mantep, diam. Tak bergoyang lagi. Kuputar mata mencoba melihat objek yang lain, lampu, tirai,ujung kakiku, semua nampak stabil. Diam pada tempatnya!

This is really working!

Setelah 3 kali sesi, aku merasa jauhhhh lebih baik daripada saat aku harus meminum segala macam pil pil itu, dan gerakan gerakan fisioterapi yang harus kulakukan setiap hari.

Sejak saat itu, selain pada Tuhan, aku percaya, bangetttt pada pengobatan asal negeri Tiongkok tersebut. Top lah, tapi asal dengan dokter spesialis akupuntur yaaa…

Hal yang sama kini kulakukan untuk pening kepala yang kata Pak Dokter tadi akibat : stress atau tekanan psikis.

What do you know…. Padahal aku merasa aku gak stress-stress amat. Pikiran, pasti punya lah. Akan tetapi, tubuh itu pasti memberi alarm jika ada sesuatu yang tak beres. Tinggal sejeli apa kita menyikapinya.

Contohnya nih ya… kalau aku mulai sering migren, biasanya aku akan mengurangi asin. Jika lidahku terasa gatal, biasanya makanan yang kumakan berlebihan kadar MSG nya. Jika aku sariawan, berarti fisikku lagi drop, jika tak dihajar dengan buah dan sayuran segar, maka dipastikan aku bisa terkena flu.

Kira kira begitu.

Aku pada dasarnya amat malas minum obat. Maaaaaalaaaaaas banget. Kalo ada cara lain yang lebih natural, lebih baik itu saja yang kulakukan meski butuh waktu lebih lama.

Sakit kepala ya aku pilih pijat, segala macam pijat, you name it. Pijat refleksi, Thai massage, pijat seluruh badan, totok kecantikan, totok sirkulasi darah, pijat sport, aku punya semua datanya. Sesudah pijat, aku biasanya tidur. Kalo bangun tidur masih terasa, okelah…berarti parah bener tu sakit kepala. Minum saja obat yang dijual bebas dan terhitung aman. Satu saja. Biasanya untukku, sudah jauh lebih baik.

Sakit kepala pun aku bisa membedakan, mana yang karena kebanyakan makan yang gurih gurih ( alias garam ), mana yang hormonal, dan yang terakhir ini. Tension Type Headache.

Untuk tipe yang terakhir ini, akupun sudah tahu, semua tindakan di atas udah nggak mempan. Hanya bisa : dijarumin!

Advertisements

2 thoughts on “Stress dan Hal-hal Resek yang Mengikutinya

  1. woh..samaa nih , aku juga sering sakit berat keterlaluan. Penyebabnya sama.

    apalagi kalau makanan nya terlu asiin.. langsung cleeeee n g.

    solusinya keren nih, mau ikutan coba

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s