Lirik Lagu Menye-menye.

Lirik dalam sebuah lagu.

Katanya :

“Kini t’lah kutemukan arti cinta”..

“Kutahu engkaulah jawabannya”…

“Ku akan menjagamu selamanya”…

“Kau yang terakhir”…

“Satu-satunya dalam hatiku”..

“Kita kan raih bahagia bersama”…

Pret.

Tunggu 5 tahun kemudian. Tunggu 10 tahun kemudian. Tunggu 15 tahun kemudian. Tunggu 20 tahun kemudian.

Akankah rasa itu akan sama? Akankan masing-masing akan setia dan tetap bisa tetap mesra?

Akankan tak ada keluhan ,”Kamu kenapa begini? ” atau “Kok kamu gitu sih?”

Or worse….

” Suamiku itu aslinya kayak gini , tau gak siiih..”

Atau.

” Ya lo tau lah bini gue, dia kan suka begitu.. suka anu…suka begini..begitu…”

You see…

Cinta itu dinamis. Dia bisa berubah. Iya, saat sedang tumbuh dan mekar, itu lagi indah indahnya.

And then what?

Tinggal menunggu layu, dan akhirnya rontok. Jadi kompos?

Bisaaaaaaaa.

Bagiku, gak ada cinta yang bertahan sama diantara 2 manusia yang berlawanan jenis. Semua nanti bakal ada adjustment-nya kok.

Kecuali….cinta seorang ibu pada anak anaknya, atau kakek pada cucunya deh.

Cinta kakak dan seorang adik atau sebaliknya aja masih bisa kok, terkena distorsi.

But yeah… masih mending lah.

Gak secetek antara cinta antara laki laki dan perempuan dalam hubungan asmara. Mungkin, ya… mungkin. Karena ada nafsu yang terlibat didalamnya. Makanya bisa get corrupted.

Seberantem-berantemnya kakak dan adik, pada akhirnya tetap akan baikan juga. Ya gimana, satu darah. Mau lari ke mana, tetap saja berbagi darah yang sama.

Tapi antara 2 orang yang (cuma) pacaran?

“Hih! Sape elu… ortu gueh bukaaan… sudara juga bukaaan, minta makan dari elu kagaaa… sapeeeh loooghhh…”

Begitu kira-kiranya.

Sementara dalam pernikahan, lebih kompleks lagi urusannya, karena makin berat embel embel yang mengikutinya, yang terkadang jadi sebuah beban yang ditumpuk perlahan lahan.

You knowlah…. hal hal seperti janji pas ijab kabul, keluarga besar yang harus dijaga, sanksi sosial, anak-anak, endebre endebra obladi oblada…

Hal hal seperti ini yang jika tak cermat menyikapinya berpotensi bikin pasal di masa yang akan datang. Bahkan bisa bikin berantakan, gak sesimpel dari sekedar hubungan pacaran.

Ya itu sih kalo kebetulan aja apek.. ketemu pasangan yang egois atau gengsinya 7 lapis durjana. Yang punya visi berbeda tentang apa yang telah menjadi komitmen pernikahan…

Advertisements

Manajemen Waktu.

Saat menumpang tinggal di apartemen Sabine Klank di Berlin, aku tertarik melihat sebuah notes di samping telepon yang tergantung di dinding.

Notes panjang itu berisi tanggal, hari dan garis panjang untuk diisi/ ditulis disamping keterangan waktu.

Keesokan harinya, Sabine akan menyobek lembar yang tanggalnya telah lewat, dan mengisi dengan data atau janji terbaru.

Rasanya, tak satu pun seorang temanku, yang sama sama ibu rumah tangga seperti Sabine, melakukan hal yang terencana dan sistimatis seperti itu.

Yang ada :

” Ya Tuhaaan! Aku terlewat, lupa kalau hari ini arisan!”

Atau,

” Rasanya, kita kemarin ada janji, ya? Kapan dan ke mana ya?”

Atau,

” Apa? Acaranya hari ini? Waduh! Aku tabrakan dengan janjianku dengan si Itu.. Gimana, ya?”

Termasuk aku sendiri. Di kepala sih sudah terbayang kira-kira seperti ini :

04.00 Bangun, persiapkan bekal anak

05.00 Subuhan

06.00 Bangunkan anak sekolah, lalu berangkat.

07.00

08.00 Olahraga di gym

09.00 Submit artikel

10.00 Mandi

11.00 Makan siang

12.00 Submit content medsos

13.00 Jemput anak sekolah

14.00 Istirahat , shalat

15.00 Istirahat , shalat

16.00 Mulai mengumpulkan materi artikel

17.00 Mulai menulis dan makan malam

18.00 Maghriban

19.00 Cek feedback netijen

20.00 Cek persiapan sekolah anak

21.00 Shalat, dan bersiap tidur

Idealnya mah gitu.. Kenyataannya, wah, amburadul…

Mungkin begitulah tipikal orang Indonesia. Nyantai, kurang disiplin. Ngga heran batal atau meleset janji dan jam karet biasa dimaklumi di sini.

Sementara di luar negeri, wadaow. Bisa habis kita, kena omel karena dianggap tidak sopan.

Aku pernah mencoba, membeli sebuah notes kecil yang formatnya kira kira miriplah dengan notes panjang milik Sabine tadi.

Seminggu sih tertib…

Sekarang, aku tak tahu ke mana notes itu pergi. Entahlah, mungkin terselip, atau tercecer. Dan akhirnya… manajemen waktuku kembali amburadul acakadul.

Tentang Amarah.

Jika selama ini kau dengar kata kata : bahaya akan marahnya seorang pendiam, maka kataku bahaya juga akan diamnya seorang yang biasa bicara.

Barusan kubaca, katanya amarah itu memang sifat dasar manusia. Namun, Allah/Tuhan menjanjikan, bagi orang orang yang mampu menahan amarahnya, maka Dia menjanjikan orang tersebut di akhirat kelak bisa memilih satu bidadari yang diinginkannya.

Pertanyaannya, bidadari itu sebenarnya laki-laki atau perempuan?

Dalam konteks agama yang kutahu, aku sering mendengar : lakukan A, maka kelak Tuhan menjanjikan bidadari-bidadari bagimu kelak.

Boom!

Lalu orang ini, yang biasanya laki-laki, melakukan bom bunuh diri demi dapat bidadari.

Jadi, konotasinya bidadari itu perempuan. Yes?

Di acara TV yang sedang kutonton saat ini, seorang host acara mengomentari dua wanita di belakangnya sebagai bidadari-bidadari cantik.

Nah kan. Jadi bidadari itu perempuan?

Jadi, jika kelak jika seseorang mampu menahan amarahnya dan dijanjikan bidadari, aku yang perempuan ini kelak dijanjikan apa ya, jika mampu menahan amarahku? Bidadari untuk mengerjakan pekerjaan rumah, atau sebagai teman curhat?

Ngomong-ngomong, apakah masih ada nafsukah di akhirat kelak? Jika sudah tak ada nafsu, mengapa perlu dijanjikan bidadari untuk menemani?

Lisan.

Ucapan itu ibarat pisau bermata dua. Terkadang bisa menyenangkan, membahagiakan, meski hanya sekedar dusta. Tapi sebaliknya, bisa menyakitkan, mengiris, meski katanya : ah hanya becanda.

Maka sebaik-baiknya lah kita menjaga lisan. Ucapkan apa yang perlu diucapkan, jika memang datang dari lubuk hati yang paling dalam.

Mungkin itu lebih baik daripada mengucapkan kata-kata yang terasa menyakitkan walau hanya sekedar untuk menggoda.

Tidak Ada Wanita yang Sempurna

Suatu hari, ada seseorang yang posting ini di WA grup :

Tulisan yang sepertinya diambil dari postingan di sebuah media sosial itu sungguh terasa menyejukkan. Aku berharap, oh sangat berharap yang menulis itu adalah seorang pria, seorang suami, atau seorang bapak yang tengah mengajarkan hal yang sama kepada anak laki-lakinya.

You see…

Sama seperti jika ada sesuatu yang tak beres pada seorang anak, dan orang yang nomer satu dituding adalah ibu, maka menurutku jika ada yang salah dari seorang istri, yang dituding ya suaminya. Mengapa tak pandai menakhodai rumah tangganya?

[Eh tapi…. liat case per case ya. Walau bagaimanapun di luar sana tetaplah ada seorang istri atau suami yang brengsek dari sononya bagaimanapun baiknya pasangan mereka ]

Cuma, ada satu kalimat dari tulisan di atas yang aku kurang setuju. Yakni : “apa kamu punya tabungan yang tak terbatas jumlahnya?”

Wah.

Yang nulis lupa, cobaan pria itu kan ada 3 : Tahkta, Harta dan Wanita.

Ketika takhta telah diraih, otomatis hartanya juga mengikuti. Begitu harta mengikuti, laki laki suka banyak yang jadi lupa. Kalo gak banyak bersyukur dan banyak ingat Tuhan sih….apalagi jika sampai dikelilingi wanita, mendadak istri di rumah banyak cela dan kekurangan.

Yang punya bini cakep, katanya bikin ribet.

Yang punya bini gak cakep, katanya ga bisa rawat diri.

Yang punya bini ibu rumah tangga, katanya kurang greget.

Yang punya bini tak berpenghasilan, dianggap sebelah mata.

Yang punya bini aktif di dunia sosial, katanya bisanya menghamburkan uang saja.

Yang punya bini ngga gaul, katanya cupu bikin malu.

Yang punya bini nurut manut, katanya membosankan.

Yang punya bini smart, katanya ngeyel gak tunduk pada suami.

Lalu, mentang-mentang ada uang dan tabungan dan bisa main tunjuk wanita yang disuka, lalu semena-mena deh…

(((Adaaaaaaaaaaaaa…)))

Mestinya kata-kata di atas itu diganti, karena punya tabungan luas tak terhingga tapi misalnya pelit juga, ya ngga ada gunanya.

Harusnya kalimat itu berbunyi : apa kau sudah cukup memanjakan istri dari segi materi?

Naaaaaaaah, kalau itu baru tepat!

3 Things.

3 the most important things in my bags :

…wallet, car key, mobile phone(s).

3 the most important persons m in my life :

…my children, my monkey, my dad.

3 hal yang diidamkan dari pasangan hidup :

… bisa menjadi teman/sahabat, ngga pelit, sering beraktivitas bareng.

3 hal yang disebelin hari ini :

… orang yang perhitungan sama orang tua, harga makanan yang terlalu mahal, kerupuk udang yang rasanya ngga udang banget.

3 hal yang jadi impian :

…kembali tinggal di area Cipete, ganti mobil merk dan jenis yang sama tapi tahun lebih baru, duit buat bisa jalan jalan.

3 kejelekan yang dimiliki :

…suka menggampangkan, keras hati, terlalu cuek.

3 kebohongan besar yang pernah dilakukan :

…keturunan separo Korea (haha!), ngaku-ngaku pinter, engg… jumlah mantan?

3 harapan dalam waktu dekat :

…turun 5 kilo, cicilan cepet lunas, embak cepet pulang.

3 rutinitas sehari hari :

…gym, anter jemput bocah, nulis artikel ( yang semestinya saat ini gue lakukan ketimbang ngetik pertanyaan sendiri, jawab-jawab juga sendiri ini).

3 hal yang akan dirubah demi pasangan :

…akan jauh mengurangin sensik , ngurangin gengsi, tak berekspektasi.

3 kriteria positif sebagai pasangan :

… I know probably I’m hard to love, but man… when I love, I can love hard !….sure can handle budget and money, definitely will keep a home tidy and clean.

3 hal yang bikin orang males deketin :

…raut wajah jutek, ngomong suka terlalu blunt, sering kecuekan ngeloyor-ngeloyor aja jadi sering dibilang songong.

3 hal yang bikin ketar ketir :

…duit menipis, jika badan sakit atau ngasi sinyal ada yang ngga beres, duit menipis.

…ya sekian lah, makasih jika ada yang baca hal ngga penting bagi hidup kleyan ini….

Percaya.

Aku punya seorang teman, seorang artis. Aku masih ingat, ketika pertama kali mendengar namanya, aku masih kuliah, pertengahan tahun 90’an lah.

Dari ceritanya, kisah hidupnya dari dulu lumayan dramatis, penuh warna warni. Penuh pergolakan dan perjuangan, bahkan nyaris menyerempet kematian.

Pun hingga kini.

Namun, temanku tadi memilih percaya, dan bersandar pada Tuhan. Dalam artian BENAR-BENAR percaya dengan kekuatan teguh akan doa dan pertolongan Tuhan.

Which

Untuk yang satu ini, entah kenapa masih saja susah kujalani.

[rollingmyowneyes]

Katanya,” Aku mencoba bersyukur tentang apapun juga setiap saat. Aku bersyukur, aku masih bisa bernafas, kakiku masih menapak lantai. Aku bersyukur, jari jemariku masih bisa digerakkan… aku bersyukur berapapun uang yang tersisa di di dompetku… Bagiku, Tuhan masih sangat baik masih memberi makanan yang ada di rumahku, air bersih yang masih bisa kuminum…”

Like….wow!

Sementara aku :

” Anjritttt… saldo tabungan gue tinggal segini, gimana ya? Kok tipis banget ya? Gimana kalooo…. anu… ini… ituu…”

Dan ketika 2 hari lalu tiba tiba pompa air ngadat dan aku harus membeli pompa baru :

” Duileeee, ada ada aja ya.. mau keluar duit. Makin tipis dah duit ane..”

Dan ketika isi kulkas mulai habis :

” Duuh, kudu belanja lagi nih, perasaan duit deres banget sih ngalirnya…”

Boro boro mikir bersyukur hal yang lain. Asik konsen ke satu hal yang jadi keluhan saja.

Paraaaaaah.

Pada saat temanku tadi bercerita tentang bagaimana Tuhan melalui tangan manusia seringkali sekonyong-konyong memberikan pertolongan tak terduga, kepalaku masih berpikir :

” Ya ngga mungkin juga kali, kalau tanpa usaha, orang akan memberi uang begitu saja…”

The point is…

Tampaknya aku masih kurang percaya, ya? Akan kekuasaan Tuhan?

Padahal mungkin poinnya bukan di situ, tak semudah dan sedangkal : bruk! Nyoooh, duit….nyoooh…!!!

Poinnya adalah bagaimana caranya agar selalu bisa menimbulkan aura positif. Dengan demikian, ngga melulu mumet mikirin hidup. Dengan menebar aura positif, kan katanya adalah magnet pula untuk mendapatkan hal hal yang baik pada akhirnya. Termasuk di dalamnya rezeki, yang salah satunya berupa uang.

The universe will conspire, istilahnya.

Secara teori, aku sih paham banget. Namun dalam prakteknya, hwaraaaakaaadah hadyyuuooh… kok ya aku ngga mudeng-mudeng juga….