BPJS part 3, Faskes III.

Jum’at, 17 November 2017

Pagi pagi aku sudah bangun dan mempersiapkan berbagai dokumen yang mesti kubawa, seperti : foto kopi KTP, KK, hasil lab, hasil USG, surat rujukan dari Faskes II, dan tak lupa, surat “sakti” dari Dokter Berhijab.

Kupikir, antrean di RSCM pasti panjang, sehingga aku minta tolong ayahku sajalah untuk mengantarkan anakku ke sekolah. Pukul 5.30 pagi aku sudah berada di belakang setir dan meluncur menyusuri jalan.

Lokasi rumahku berada di Jakarta Selatan, menuju RSCM yang berada di Jakarta Pusat, butuh waktu sekitar 40-45 menit pagi itu. Terhitung cepat, karena belum terjebak di rush hour.

Sesampainya aku di sana, aku terperangah. Antrean yang bergerombol di ruang administrasi untuk mendapatkan SEP bukan panjang saja, tapi sangaaaaaat saangaaat panjang, ramai, penuh…! Kulihat gerombolan orang orang yang berjejal di depan pintu yang masih tertutup rapat.

Udara di sekitar situ terasa sesak dan pengab dengan aneka rupa aroma. Aku juga melihat beberapa pasien dengan kondisi…ya Tuhan…

Ada yang bola matanya hampir “lompat” dari soketnya.

Ada yang kepalanya sangat besar sehingga kelopak matanya tertarik ke atas.

Ada yang kedua matanya berjarak sangat jauh antara satu sama lain hingga mendekati telinga.

Ada ibu ibu yang terbaring lemah dengan perut yang amat besar, membusung.

Ada kakek kakek yang terduduk lemah di kursi roda dengan nafas yang sudah sangat kepayahan, sehingga ada suatu waktu aku mempertanyakan masihkah si kakek itu bernafas.

Ada yang terbatuk batuk tanpa henti.

Sebagian besar dari mereka memakai masker. Ah ya benar juga. Aku harus beli masker untuk menyaring udara. Karena kita tak tahu berapa banyak kuman yang bergerak bebas di udara di tempat itu.

Mataku seketika memperhatikan papan petunjuk yang jelas nampak asing bagiku, karena itu kali pertama aku menginjakkan kaki ke RSCM. Aku mencari tulisan “pendaftaran BPJS”, namun tak kutemukan.

Aduh, aku harus cari ke mana?

Sekitar 15 menit aku mondar mandir di lantai dasar gedung tersebut, untuk beradaptasi dan menghapal dimana letak ruang atau poliklinik yang harus kutuju.

RSCM secara umum terlihat memiliki 3 bangunan. Bangunan di paling kiri adalah gedung RSCM Kencana, yang aku tebak tak mungkin anggota BPJS akan dilayani di sana. Aku tahu, gedung dengan disain masa kini itu diperuntukkan bagi pasien yang mendambakan perawatan bertaraf internasional, dengan membayar tentunya.

Bangunan terbaru di paling kanan adalah gedung RSCM Kiara. Aku pernah masuk ke situ untuk menumpang ke toilet, maka aku tahu gedung tersebut diperuntukkan khusus bagi pasien anak anak.

Di antara kedua bangunan baru itu, terdapat gedung asli dari RSCM. Bangunan tua, dari zaman Belanda, dan sering kudengar kisah horornya dari para mahasiswa kedokteran yang magang di sana.

Nah di gedung itu lah para peserta BPJS berkumpul, mengambil nomer antrean dan mendapat penanganan.

Pertama tama aku mencari tulisan “Customer Service” untuk mendapatkan informasi. Karena aku pasien baru, maka aku harus mendaftar dulu untuk mendapat kartu pasien. Sesudahnya, aku mengambil nomer antrean untuk mendapatkan SEP ( Surat Eligibilitas Pasien ). Lumayan, seingatku untuk mendapatkan 2 hal itu, yang prosesnya tak kurang dari 5 menit itu, aku butuh waktu mengantre sekitar 3 jam.

Setelah mendapatkan SEP, aku menuju Poli Kebidanan dan again, kembali mengantre dengan sabar. Sejam-an kemudian aku dipanggil untuk diperiksa oleh seorang dokter muda yang kuduga sedang mengambil spesialisisasi ( residen ). Berhijab juga, dan tutur katanya lemah lembut. Kuserahkan kembali “surat sakti” Dokter Berhijabku…Ah sudahlah….Kusebut saja sekarang namanya : Dr. Tricia Dewi Anggraini SpOG.Onk. Nah! Itu nama dokter baik hati yang memintaku memakai fasilitas BPJS.

Setelah diperiksa secara “manual” alias tanpa alat USG canggih yang biasa kuterima, Dokter Muda tadi mengatakan akan menghubungi dan meneruskan hasil konsultasi hari itu kepada Dr. Anggi, demikian Dokter Berhijab biasa dipanggil.

Aku dijadwalkan kembali seminggu kemudian.

Jum’at, 24 November 2017

Setelah kupikir-pikir, banyak kejadian fantastik yang terjadi pada diriku di hari Jum’at. Aku lahir di hari Jum’at, kembali mulai berkerja juga di hari Jum’at. Jadi pagi itu, aku memulai hari itu dengan do’a yang khusyuk. Agar di hari spesial itu, dimudahkan segala urusanku.

Karena sudah pernah datang sebelumnya, aku sudah paham langkah yang harus kuambil.

05.30 meluncur dari Lebak Bulus menuju RSCM.

06.30 parkir mobil di gedung UKI yang berada di depan RSCM, karena untuk dapat parkiran tepat di depan RSCM agak agak mustahil ya….kecuali anda lagi sangat beruntung.

07.45 duduk manis di luar gedung admission untuk mendapatkan SEP. Si SEP ini sebuah kemutlakan, kita harus membawa lembaran berwarna putih, pink dan kuning itu sebelum menuju poli. Aku dapat nomer antrian 200 sekian, hahahhaaa.

Tahu tidak, seminggu sebelumnya, melihat gerombolan orang yang berjubel di tempat saat aku menunggu itu, aku sempat merasa tidak sanggup untuk meneruskan berobat dengan BPJS ini. Sempat terlintas di kepalaku, terserahlah. Mau bayar 50-60-70 jika masih berada di bawah 100 juta, tak mengapa. Tak sanggup rasanya berada di sini, demikian pikirku saat itu.

Di parkiran RSCM, sekitar 30 menit-an aku mematung dan berpikir keras. Waduh, itu ya…berbagai suara berseliweran di kepalaku, bising sekali.

Sampai akhirnya berbagai suara itu teredam satu persatu, sehingga tersisa satu suara yang berkata, ” Allah itu Maha Baik. Coba lihat bagaimana proses hingga engkau sampai di sini. Jika Ia menghendaki kau harus mengeluarkan uang sebegitu banyak, maka dari awal Dia tak akan menggerakkan hati Dr Anggi, tak akanlah beliau menyarankan mengambil langkah ini..”

Aku masih terdiam.

” Dr Anggi mengatakan, JIKA tidak tertembus sampai RSCM, maka ia akan meminta koleganya untuk membantumu.”

Jika.

Berarti prosesnya tidak sebegitu gampang, ya? Sementara, jika tak tertembus ke Faskes III apakah aku cukup nyaman dan percaya pada dokter yang akan mengoperasiku di Faskes II?

Aku percaya pada Dr Anggi karena dokter kandunganku yakni Dr. Karno Soeprapto. SpOG menyebut nama beliau sebagai referensi. Dan….aku sangat percaya pada Dr Karno ( selain pada Tuhan, tentunya).

” Sombong sekali, jika engkau menolak jalan ini hanya karena tidak mau keluar dari zona nyaman…”

Aku tertunduk. Selama hidupku, dari masih tinggal bersama orang tuaku, aku selalu dimudahkan untuk urusan berobat. Puskesmas di telingaku terdengar seperti : yah, gituuuu deh.

Rumah sakit milik perusahaan tempat ayahku berkerja di kampungku sana, bagus. Amat bagus malah. Full AC dan royal, dalam memberi obat-obatan. Semacam vitamin, pembersih muka, obat tetes mata, bisa minta, ketimbang beli di luaran.

Tidak sembarangan yang bisa berobat di situ. Hanya karyawan dan keluarganya saja, sehingga terjaga kualitas bahkan kebersihannya.

Saat masih kuliah di Bandung, aku tinggal tunjuk rumah sakit pilihanku. Selanjutnya, berobat dan mendapat pelayanan medis dengan alat canggih seperti MRI ( yang kala itu harganya mooahaaal buanget ), rawat inap, tambal gigi, semuanya gratis dengan fasilitas kelas 1. Langsung dibayar oleh perusahaan, tanpa banyak cingcong.

Setelah menikah, setiap aku dan anakku sakit atau berobat, pilihan kami adalah rumah sakit- rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, seperti RS Pondok Indah, atau RS Brawijaya.

Begitulah yah, manusia. Untuk menurunkan standart hidup, bagi beberapa orang itu…..rasanya luar biasa susah. Makanya tak heran, banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk jadi dan tetap kaya.

Ah ya sudahlah.

Kutarik nafas panjang, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan yang telah kumulai. Tanggung, sudah setengah jalan.

11.00 Dipanggil masuk ke kamar 9, poli kebidanan. Bertemu lagi dengan dokter residen berhijab dengan suara lemah lembut, Dr Syifa namanya.

Dr Syifa mengatakan sudah meneruskan hasil konsultasi seminggu sebelumnya. Dr Syifa mengatakan Dr Anggi berencana menemuiku hari itu. Dan aku dipersilahkan menunggu lagi di luar kamar periksa.

11.30 Dr Anggi tiba di poliklinik. Beliau melihat hasil pemeriksaan Dr.Syifa dan selanjutnya mengatakan : ” Nampaknya semua sudah OK, tinggal tentukan jadwal operasi. Nanti dihubungi lagi ya, oleh klinik?”

Aku mengangguk.

Cegluk.

Wah, beneran nih. Operasi.

Note.

Seingatku sekitar 3 hari kemudian aku dihubungi Dr. Syifa. Jadwal operasi, again. Di hari Jum’at, 8 Desember 2017.

You see, my big day always starts on Friday.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s