Bahagia?

Secara tak sengaja, aku membaca status di media sosial seorang teman. Isinya kira-kira semacam sebuah pernyataan, bahwa meski ia telah menikah cukup lama, dirinya dan suami merasa BAHAGIA, meski belum atau tidak dikaruniai seorang anak.

Di akhir kalimat, sang teman menyatakan kekhawatirannya tentang pandangan (kebanyakan) orang adalah tentang seperti apa seharusnya ‘bahagia’ itu.

Aku paham, maksudnya.

Aku juga paham, mungkin si Teman tadi sedang di titik lelah, bosan, eneg, males dengan pertanyaan klise : “kapan punya anak?”.

Mungkin sama dengan kamu yang jomblo : bosan ditanya kapan menikah.

You see..

Definisi bahagia itu tidak sama bagi setiap orang. Misalnya, ada yang bahagia meski dengan uang yang cuma seribu rupiah, namun ada pula yang gundah gulana meski memegang uang sejuta rupiah.

Ada yang bahagia jika hidupnya lengkap, dengan suami dan anak(-anak), tapi ngga bahagia karena punya mertua yang dirasa resek dan nyebelin, atau gaji yang dirasakan kurang.

Ada yang bahagia meski tak punya pasangan karena bebas dari segala belenggu dan aturan, namun ada kalanya merasa hampa karena tak ada tangan yang bisa selalu digenggam jelang waktu tidur tiba.

Seperti si Teman tadi, meski tak ada hadirnya buah hati, namun ia merasa tetap bahagia karena memiliki pasangan yang lucu, rame, dan mencintainya sepenuh hati.

You see..

Aku melihat untuk bisa menjadi bahagia itu ibaratnya memegang sebuah neraca, yang harus seimbang kedua sisinya.

Jika satu sisi terlalu berat, maka sisi lainnya ditambahkan sedikit lagi beban agar posisi neraca imbang, persis sama. Atau….Sisi yang lebih berat tadi dikurangi saja.

Semua juga tahu, dalam hidup itu kita tak pernah bisa dapat semuanya. Pasti ada salah satu yang berlebih, dan ada salah satu bagian yang dirasa kurang.

Tinggal pilihannya : mau fokus ke mana? Yang lebih, atau ke yang kurang?

Jika bagimu kebahagiaan yang hqq adalah punya keluarga lengkap dengan suami dan anak(-anak), sayangnya tak semua orang bisa bernasib sama, dan mereka harus mencari hal lain untuk menyempurnakan apa yang disebut “bahagia” tadi.

Does it mean you, the married people with children and what you thought your almost perfect life is better?

Maybe yes, maybe no. You tell me.

Begitu kau merasa bahagia itu adalah menjadi atau berpikir seperti dirimu, bagi saya “..oh belum cencyuuuu itu yang aku atau dia mau, paling tidak untuk saat ini”.

Mungkin bagi mereka-mereka yang berhati besar bisa berkata : doakan aja, aminkan saja. Toh hal yang baik ditanya : kapan punya anak, mengapa belum punya anak, atau semoga kamu cepat kawin..eh..nikah lagi.

Tapi mbok ya yang nanya yaa… yang bener aja. Liat liat dulu lah yang ditanya. Jika pasangan tanpa anak ini sudah berusia 40+ lah apakah masih penting, gimana caranya agar bisa bunting? Mungkin mereka sebenarnya sangat ingin punya anak, tapi hey…. yang ngatur urusan gini kan Tuhan? Mau usaha tiap hari sampai ledes, kalo memang tak diberi, mau apa?

Orang mah gampaaang, bilang : kan bisa usaha? Berobat ke Singapura, insem, bayi tabung, pijet, dukun… Tapi mau ngga ngasih duitnya?

Daripada berisik menyayangkan mengapa mereka tak dikaruniai keturunan, mending doakan saja semoga keduanya akan saling mencintai dan berbahagia sampai akhir hayat.

Gak usah pusing mikirin, nanti siapa yang mendoakan. Toh Tuhan ngasih 3 opsi, kok untuk amal yang tak terputus walau sudah mati : doa anak soleh, ilmu yang disebarkan, dan sedekah/wakaf yang bisa dipergunakan untuk kepentingan orang banyak.

Begitupun dengan yang sudah 2 tahun menjanda karena masih sakit hati karena diceraikan terus nggak kawin-kawin atau tak terlihat punya pacar tetap karena masih eneg dengan lembaga perkawinan. Makin didoakan cepet dapet jodoh agar bisa move on dan bahagia, malah yang ada makin sebel.

Palelu, gue kagak move on.

Emang bahagia itu ada di laki-laki dengan judul “suami”? Pernah kok punya suami, gak menjamin juga tuh dibahagiakan. Emang kalo kawin , eh nikah sudah pasti bahagia? Dikata kawin lagi menyelesaikan segala masalah? Najong bener kalo sampe gagal lagi, mestilah gue pikir tiga, empat, lima kali. Trus….Emang kalo sekarang, menurut lo gue gak bisa bahagia? Gak punya duit, naaah…baru gue gak bahagia. Apeloh..apeloooh??? <—- Nah…ini adalah contoh kesensian level expert dari pertanyaan dan doa agar segera kawin lagi yang diberikan kepada seorang wanita yang lo nggak tau kaaan, kalo ternyata masih patah hati.

So people, let’s just be kind to others. Jaga lisan, dan juga ketikan, untuk tak lancang menentukan gimana seseorang itu agar bisa bahagia. Apalagi, kalo orang itu ngga pernah nanya, minta tolong dibahagiakan atau meminta pendapat gimana caranya buat bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s