Ngga Nyangka…

Tak disangka, ternyata masih ada segores luka. Mungkin sudah bukan tentang diriku.

Hatiku? Oh, sudah lebih lebih jauh ia menuju sembuh. Perlahan-lahan merengkuh ikhlas dan mulai melebur dendam, syak wasangka, dan sakit hati tentunya.

Namun untuk orang-orang disekitarku..oh ternyata aku masih menyimpan rasa bersalah, yang masih mampu menguras deras air mata.

Mungkin suatu saat, sedih ini akan berubah juga. Dan orang-orang terdekat di hatiku itu akan mudah menghapus sebuah kenangan lama. Sehingga mereka mampu berkata,” Syukur, alhamdulillah. Kami jauh lebih bahagia melihat engkau di saat kini.”

Advertisements

Talking is Easy.

Sometimes, we find ourselves stuck in a toxic relationship with someone, among friends, or co-workers. Some, we can manage to end them easily, some well… not so simple.

The longer you’re in, the harder you’ll get out. Why? Because you have found so many excuses to be in that position.

“Maybe she’ll change….”

“But they are my only friends…”

“What would I do without him?”

“Perhaps, this is God’s will….”

“Where else can I find the coolest job like this?”

You know what, it’s totally okay to feel that way. And gathering the strength of finally let go, sure needs a lot of logical thinking and ofcourse, hard work.

Making a decission to end and walk away always needs preparations, if you don’t want end up in regrets, or worse… going back again and remain stuck in vicious circle. and remember…. to fight yourself, and your demon inside your head, is a lot harder than having a battle with other people.

What you have to do first is to open wide your eyes. See all the signs. Put your ego and heart aside.

Is this going to make me better?

If it’s not, then stop.

Is he going to leave her?

If he’s still with her after all those years, then stop.

Are they giving you as much as you give to them?

If it’s not, then stop.

Are you performing well in the office?

If going to the office feels like dragging a ball and chain, then stop!

…..right now, while writing this, I’m slapping my own face.

Politik Sabar.

Tau ngga, di era ponsel pintar kayak sekarang, semua orang memang maunya yang serba cepat dan enggan bersabar.

Pemerintah sedang membangun infrastruktur yang jelas ada buktinya, berupa jalan-jalan, jembatan, bendungan, bandara, yang efeknya mungkin belum langsung terasa dalam 1-2 hari, 1-2 bulan, bahkan 1-2 tahun ke depan.

Tapi, perut lapar itu ngga bisa menunggu, katanya. Ah, macam anak kecil dan dedek bayik saja, begitu lapar nangis jejeritan.

Lapar? Ya cari duit buat beli makanan, jangan buat beli kuota!

Aduh, ekonomi sulit! Gih ternak ubi atau singkong yang cepet numbuhnya. Ngga inget cerita di buku sejarah, zaman penjajahan susahnya kek apa? Tapi kan nenek moyang lo at the end survive juga?

Gak usah bebani otak dengan ribet mikirin di dalam parlemen dan politik ini gimana. Kita ngga kenal mereka secara pribadi, manalah tau mana yang lurus, mana yang emang setan.

Katanya, calon yang ini orang gila… Katanya calon yang itu hanya sebuah boneka.. Katanya calon yang anu kaga ada otaknya… Katanya … Katanya.

Gak usah pikirin! Mereka ada porsinya masing masing dan dengan resiko dosa yang mereka harus tanggung masing-masing, jika tak mampu memegang amanah.

Sebagai rakyat ya amati dan nikmati saja pembangunan yang ada. Kalau tidak dihentak dari sekarang, apa yang tengah dirintis pemerintah kini siapa yang berani menjalankan? Suka atau tidak suka, pembangunan infra struktur paling massive ada di era ini, setelah telah merdeka 73 tahun lamanya.

Tapi kan banyak utang? Lihat dulu utangnya buat apa. Dari jaman Nabi Udin juga negara kita emang banyak berhutang.

Udesikkk, biar negara dan para politikusnya yang mikirin gimana bayar utang.

Tapi kalo negara naikin pajak buat bayar utang gimana?

Haaaalaah, situ yakin taat bayar pajak?

Tanya Pak Polisi di Samsat deh. Mobil dan motor di Jakarta sekian banyaknya, berapa persen sih yang taat bayar pajak? Belum kalau bagian pajak-pajak lainnya seperti jual-beli, pendapatan, yang jujur aja… pasti sering diutak atik biar nominalnya berkurang.

Berapa banyak pembayaran BPJS yang mandeg, padahal kan bukan pajak?

Intinya, orang kita itu manja. Big giant babies yang diperburuk dengan ketergantungan akan gadget. Makanya guru, psikolog, pedogog wanti wanti agar anak sedapat mungkin dijauhkan dari gadget , dan perangkat game.

It makes your brain lazy! <—- sebagai ibu dari 2 anak laki-laki, aku SEPAKAT dengan ini

Bikin males mikir, dan maunya serba cepat dan instan. Menyerap informasi pun sepotong-sepotong saja. Lihat saja konten berita online, se emprit-emprit demi banyak dapat click. Belum lagi yang termakan berita hoax. Ya gimana, karena malas mikir, malas menganalisa, ya berita ngasal ditelan bulat-bulat.

4 tahun itu nyaris tak terasa, untuk sebuah kemajuan dari pembangunan sebuah negara. Bersabarlah sejenak, berbaik sangkalah jika kita akan menuju lebih baik ke depannya. Ingat, pikiran dan kata kata itu adalah do’a yang bisa jadi nyata. Dan yang namanya do’a selayaknya berupa kebaikan, bukan ancaman, hinaan, dan kutukan.

9/9/2018

PROLOG….

Semestinya, hari ini adalah tahun ke 19 aku menikah. Tapi kenyataannya, enggak….

Hehehe…

Pernikahan itu berakhir 3 bulan menjelang tahun ke 17. Selembar surat dari PA Jakarta Selatan menyatakan pernikahan itu resmi berakhir 2 hari sesudah ulang tahunku yang ke 40.

Tadinya, aku enggan mengetahui detail kapan tepatnya. Tapi gara-gara harus berurusan dengan surat menyurat terkait urusan rumah, mau tak mau harus kulihat surat yang baru kuambil 2 bulan dari tanggal pengesahan perceraian.

Siapa yang mengakhiri? Dia.

Siapa yang menyebabkan pernikahan itu berakhir? Tentunya, aku dan dia.

Sebuah berita yang kubaca dini hari tadi membuatku akhirnya membuatku kini bercerita. Tentang sebuah kenyataan yang sejak 2 tahun lalu, mungkin tak dengan gamblang berani kubuka. Meski kurasa, sebagian besar orang-orang di sekitarku sudah menduga.

Kembali ke berita yang kubaca tadi pagi, seseorang berkomentar : “tak ada yang tak berubah dari sebuah perceraian. Jangan bohongi anak anak dengan cerita semua akan baik-baik saja setelah perceraian orangtuanya”.

Membaca itu hatiku tergerak untuk turut berkomentar : “Betul. Perceraian pasti MERUBAH sesuatu atau seseorang. Pilihannya tinggal mau berubah ke arah mana, dan sejauh apa.”

Kutambahkan, bahwa aku selalu sedih jika mendengar ada pasangan yang bercerai.

Aku tahu, pahit getirnya menghadapi kenyataan menjadi seorang janda. Malunya, rasa marahnya, sedihnya.

Untungnya, setelah melalui berbagai goncangan, gesekan, dan hantaman, segala perasaan negatif itu telah jauh berkurang dalam 1.5 tahun saja.

Memendam rasa marah itu tidak enak, terutama jika dalam hati, kamu tahu tak mungkin membuang jauh-jauh sosok orang yang kau rasa telah menyakiti hatimu.

Beberapa perempuan mungkin mengalami atau terpaksa memilih untuk tak perlu berhubungan lagi dengan bapak dari anak-anak mereka. Biasanya alasannya, mereka dicerai karena adanya WIL, kekerasan fisik dan mental, si bapak udah kawin lagi atau tak memberi nafkah anak.

(Bohong, jika tak kukatakan sempat terlintas begitu bercerai, aku ingin kabur jauh-jauh. Pindah ke kota lain. Bandung kek, Bali kek…)

Tapi dalam kasusku, aku tak bisa lari begitu saja. Selain si Anak Bujang yang memilih tinggal bersama bapaknya, Pak Mantan adalah orang yang aku yakin 1000% mencintai, dan bertanggung jawab penuh atas anak-anakku.

Memutus kontak dengannya kurasakan tak adil bagi anak-anak. Apalagi bagi si Bontot yang tinggal bersamaku. Kasihan rasanya jika kupisahkan dia dari kakak, dan juga bapaknya.

Begitulah seorang ibu, ya…. apapun akan ia lakukan demi anak-anaknya. Termasuk mengesampingkan ego.

Seperti bagaimana kemarin aku bisa mampu bertahan sekian lama dengan pernikahan yang selama 2.5 terakhir terasa : sumpah, kupikir.. apakah seperti itu rasanya di neraka?

Ya semua bagi anak-anakku, demi mereka mendapatkan keluarga yang utuh.

Ketika harapan itu tak tercapai, aku masih harus bertarung mati-matian menghapus kemarahan, dendam dan sakit hati terhadap bapak mereka.

Demi anak-anakku. Dan akhirnya, demi ketenangan batinku.

I HAVE CHANGED….

Perjalanan selama 2 tahun lebih pasca perceraian memang telah merubahku.

Syukurnya, aku tak memiliki masalah finansial dan bagaimana bersikap mandiri. Hidupku terhitung cukup nyaman, karena masih punya “modal”. Untuk tak tergantung pada orang lain, dari dulu juga aku sudah seperti itu.

Paling-paling, kalau ada urusan rumah seperti atap bocor dan pompa air yang mampet, aku agak garuk-garuk kepala sedikit. Itulah satu-satunya momen di mana aku berpikir : ” Gosh, I need a man in the house“—–> ini tak berlaku saat ayahku sedang berada di rumah. It’s not gonna be a problem at all.

Selama ini, pernikahan yang kutahu adalah : seorang wanita dan pria mengikat janji sehidup semati, mereka memiliki keturunan untuk dibesarkan bersama, sampai akhirnya mereka dewasa, dan wanita dan pria tadi akan tetap bersama sampai maut memisahkan, apapun yang terjadi.

Itu pernikahan yang aku tahu. Yang selama ini kulihat di keluargaku. Aku tahu, beberapa dari mereka, kakek-nenekku, paman-bibiku, bahkan kedua orangtuaku, pernikahan mereka tak luput dari masalah.

Ada yang tingkatnya ecek-ecek, ada yg serius, ada juga yang hampir gawat. Tetapi ujungnya selalu sama : tak ada perceraian, semua akan tetap bersama. Demi sebuah komitmen saat ijab kabul, dan demi anak anak mereka terutama.

Masalah pasangan dianggap tak bisa memberi rasa bahagia, ya sudah. Tak usah melulu konsen ke bagian itu saja. Toh bahagia bisa dicari di mana-mana.

Itu kan keluargaku yah. Tapi tak berarti pasanganku saat itu memiliki value yang sama.

Oh well.

Perceraian membuatku : bebas.

Aku bisa pergi ke mana pun yang aku mau, tanpa harus menunggu approval dari siapapun.

Aku bisa ke manapun , bertemu siapapun untuk mencari uang. Otakku senantiasa bergerak mencari peluang. Letih memang, tapi berapapun nominal yang kudapat, terasa luar biasa dan patut disyukuri.

Ini terasa jauh lebih bermakna ketimbang duduk manis di rumah, diberi uang yang setiap bulan habis tak bersisa untuk keperluan rumah tangga. Dan itupun masih rentan dengan tuduhan : telah terjadi kejanggalan!

My God. Bagiku tak ada yang lebih rendah dari tuduhan istri menyelewengkan uang suami, apalagi jika diduga menafkahi laki-laki lain dengan uang belanja.

Aku merasa lebih hidup. Aku kini menentukan sendiri arah langkahku. Misalnya, kapan aku mau liburan, ke mana tujuanku. Anak? Gampang, tinggal titip di bapaknya. Enak ‘toh? Paling-paling, harus ekstra giat mencari uang biar bisa liburan.

Aku merasa lega. 2.5 tahun terakhir masa pernikahan itu membuatku seperti terombang ambing di lautan lepas. Dan dia, saat itu terasa seperti Tuhan yang mengarahkan kapan aku harus diamuk badai, dialun ombak, dihantam gelombang, diterpa panas dan hujan.

[Hingga kini, aku masih takjub loh, bagaimana saat itu aku bisa bertahan tanpa pernah sekalipun mendatangi seorang ahli agama atau psikiater]

Kini, aku telah lepas. Tak ada seorang pun yang bisa memaksaku berada di situasi yang tak aku inginkan.

TENTANG LAKI-LAKI….

Ketika perceraian itu telah terjadi, aku sebenarnya paling kesal jika ada ada yang berkata :

” Sekarang pacar kamu siapa?”

” Mau ngga kukenalin sama si Anu si Itu…”

” Cari pacar dong…”

” Semoga cepat dapat jodoh yang lebih baik…”

Dikata gampang, apa ya bagi gua…? Baru saja cerai lalu buru-buru kawin dan cari suami baru?

Wah, jujur hingga saat ini aku masih trauma, bergidik, dengar kata pernikahan.

Aku harus mengulang berada dalam belenggu yang bernama “perkawinan”?

Duh engga dulu deh.

Kata temanku, ” Kamu ngga boleh gitu, masa mau sendirian terus selamanya?”

Dia lupa, aku bukan dia, atau mereka.

Meski pernah memiliki suami, aku sudah terbiasa dan dibiasakan sendiri dan mandiri.

Perceraian membuatku masih memaknai suami itu hanya sebagai :

1. Pemberi nafkah lahiriah dan harus dimaklumi jika hanya bisa memberi sedikit kenyamanan batiniah, karena kan sudah capek kerja..kerja..dan kerja.

2. Supreme decision maker. Dalam norma sosial dan agama, istri itu harus nurut..rut..rut…titik! Ngga pake koma. Kalau ngga, kaga bakalan masuk surga! <—-whaaaaaaaaat!!?

3. Sebagai seorang majikan yang harus terus dielus ego-nya

Tapi……

Aku tentu masih perlu laki-laki. Bagaimanapun juga, tentu menyenangkan memiliki seseorang untuk bermanja-manja. Untuk bertukar pikiran. Untuk disentuh, untuk saling bergenggaman tangan, saling menguatkan. Dan itu harus seorang laki-laki (amit-amit jabang bayi, trauma lalu jadi lesbi..hiii!).

Tapi tidak seorang “SUAMI”.

Oh no!

Saat ini, aku hanya perlu laki-laki. Apa yang telah kujalani meninggalkan kesan bahwa seorang laki-laki bisa saja berbeda 180 derajat jika kelak menjadi suami.

Jadi saat ini, biarkan saja aku menikmati laki-laki, sampai kelak aku siap untuk menerima kembali seorang suami.

See… aku masih terbuka kok, untuk opsi pernikahan. Tapi ngga tau, kapan.

TENTANG ANAK-ANAK…

Dari awal, jauh sebelum perceraian itu terjadi, aku sudah mengkhawatirkan kondisi psikis si Sulung.

Anakku yang sebentar lagi berusia 17 tahun itu sudah kupahami, memiliki perasaan yang sensitif. Melankolis. Dia memang tak banyak bicara. Cenderung introvert.

Aku masih ingat tangisan kala di usia 14 tahun dia harus mendengar bapaknya berkata orangtuanya akan berpisah. Tangis itu di telingaku terdengar berupa lolongan putus asa, dan kesedihan yang begitu mendalam

My saddest moment ever, I’m telling you.

Walau sesudahnya si Sulung berusaha keras untuk chin up dan mencoba menyikapi perceraian orangtuanya dengan dewasa, sebagai seorang ibu, aku tahu hal itu telah meninggalkan luka.

Bagaimana dengan ungkapan anak juga tak bahagia melihat orangtuanya tak bahagia?

Duh… I’m a living proof living with parents who are constantly on each other’s neck but still stick together until today. For me and my siblings, this is so much better than having them separated or worse, married to someone else.

Bagiku, selagi orangtua ngga saling gaplok atau punya tabiat berselingkuh di depan mata anak-anaknya, atau salah satu orangtua adalah seorang pecandu narkoba, anything can be communicated and changed!

It is our duty as parents to make our children happy, not the other way around.

Katanya, bagaimana kita bisa membuat bahagia orang lain jika diri kita tak bahagia?

As grown ups, kita semestinya tahu, bahagia itu bisa dicari. Bukan diharapkan, apalagi dari orang lain. Cari!

Untuk si Bontot, entah kenapa, aku punya keyakinan, dia akan baik baik saja. Aku bahkan tak yakin perceraian membuatnya luka. Mungkin ada, tapi mungkin berupa goresan saja.

Selain ketika badai itu menghantam usianya masih sangat muda, karakternya yang lebih ekstrovert, easy going membuatku yakin dia akan bisa beradaptasi dengan segera.

Kepada mereka berdua, kukatakan hal yang sama. Sebuah permintaan maaf karena gagal mempersembahkan keluarga yang utuh bagi mereka.

Kukatakan maaf pada mereka karena telah memikul beban sebegini berat di usia yang masih sangat muda.

Kukisahkan. Mendengar orangtuaku, yakni kakek-nenek mereka bertengkar saja, hatiku sudah tersayat-sayat. Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaan mereka.

Kutitipkan pesan,” Kamu tahu sakitnya mengalami orangtua berpisah. Maka kamu pastikan anak-anak kamu tak akan mengalami hal yang sama.”

Si Sulung berkata,” I know, and I will.”

Kukatakan, jika kelak sudah yakin memilih seorang wanita, pegang teguh komitmen buat menerima dia apa adanya. Apalagi jika sudah menjadi seorang ibu dari anak anak mereka.

Terlalu dinikah pesan itu?

I have to. Nilai seperti itu akan kutanamkan sedari dini. Karena mereka tak akan memiliki nilai yang sama untuk memegang teguh “perkawinan sekali seumur hidup” yang telah kudapat sedari kecil.

Perkawinan bagiku itu, bukan semata memikirkan bahagiaku sendiri. Ada anak-anak, ada orangtua, ada keluarga besar. Kan aku masih orang Timur. Bukan dibesarkan dengan budaya Barat.

RUJUK KEMBALI?….

Di malam takbiran 2017 lalu, di teras rumah aku berpelukan dengan si Sulung. Habis berantem, ceritanya.

Bagi si Sulung, ia merasa tak nyaman berada di rumah baruku. Maka dari itu dia hanya 1 kali menginap di rumahku. Datang ke rumah ini lebih sering tak lebih dari 30 menit.

Dalam isakannya ia berkata,” Aku mau mami kembali ke rumah (bapaknya).”

Aku terdiam sembari mengelus kepalanya. Di benakku masih terbayang apa yang telah kualami selama 2.5 tahun berada di rumah megah di kawasan elit itu.

Maaf ya sayangku, mami tidak mau, demikian ucapku di dalam hati kala itu.

Suatu hari si Bontot berkata,” Mami tidak boleh punya pacar. Karena mami punya aku. Dan aku masih punya papa.”

Aku hanya tertawa saja.

Suatu malam menjelang tidur, si Bontot dengan mata yang setengah tertutup, bertanya kepadaku,” Mami, mengapa tidak kembali bersama dengan papa?”

Untunglah dia langsung terlelap, sehingga aku tak perlu menjawab pertanyaan 1 juta dollar itu.

Saat ini, hubungan komunikasiku dengan Pak Mantan sudah jauh lebih baik. Komunikasi ini hanya terkait urusan anak anak, namun ini kan yang terpenting?

Secara pribadi, belakangan ini dia menunjukkan apresiasi dengan beberapa kali memberikan aku barang-barang yang tak kuduga. Begitulah dia. Mungkin dasarnya saja tak pandai berkata-kata.

Setelah bercerai, aku menyadari bahwa mungkin selama ini memang aku sebenarnya punya cinta yang besar kepadanya, satu hal yang selama ini ia rasa tak pernah berhasil ia tangkap.

Komunikasi yang kerap salah sambung yang membuat kami berdua selama ini seperti seekor naga dan anjing yang saling berebut posisi sebagai yang ter…… dalam rumah tangga kami.

[Oh ya, dalam horoskop Tiongkok, kebetulan shio anjing dan naga itu adalah musuh bebuyutan. Bukan jodoh yang cocok. Terserah mau percaya atau tidak, but it happens to us, hehehe….]

Mungkin ini salah satu alasanku untuk tidak segera menikah lagi. Bagiku, dia masih tetap bapak yang terbaik bagi anak-anakku. Jadi aku tak perlu mengganti figur itu dengan laki-laki lain. Bahagiaku…ah itu nanti saja. Belakangan.

Mungkin nanti, jika dia duluan yang menikah kembali. Mungkin aku akan siap kembali bersuami.

Bisa juga Tuhan menggariskan aku dan dia kembali bersama, dan menghabiskan sisa hidup kami dengan saling salak dan melontarkan api.

Mungkin juga tidak.

Mungkin sampai akhir hayat aku memutuskan sendiri. Menikmati hari di sebuah rumah mungil di sebuah dataran tinggi.

Mungkin saja……