Takut.

We live in a stressful world. Full of fear.

Takut ga punya uang. Takut gak disukai orang. Takut kemalingan. Takut sendirian. Takut anak gak naik kelas, anak ngga pinter , anak nggak dapet sekolah bagus. Takut pembantu kabur. Takut sakit parah. Takut naik pesawat. Takut mati. Takut masuk neraka. Takut pasangan selingkuh. Takut… takut… takut.

Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.

Sebagai seseorang yang pernah beberapa kali mengalami anxiety atau panic attack, aku paham betul efek dari rasa takut pada tubuh.
Tiba-tiba merasa dingin di mulai dari tubuh bagian bawah, napas yang mendadak terasa sesak, mual, jantung berdebar-debar dan mata berkunang-kunang. Tahap akhirnya gejala-gejala di atas kalau tak terkontrol : pingsan.
Padahal, sebenarnya tak ada yang salah dengan fisik. Tensi normal. Respons mata normal. Detak jantung normal. Murni hanya : psikologis.
Ah…Kan bodoh, ya?
Katanya, jika merasa tak tenang, berarti kurang mendekatkan diri pada Tuhan. Kurang pasrah, kurang percaya pada Tuhan.
Mmmmm… bisa jadi siiiih….
Tapi, Tuhan.. eh.. tepatnya sih.. sesuatu agama, menurutku turut berkontribusi baik secara langsung maupun tak langsung dengan anxiety, fear, dan panic attack.
Bagaimana tidak, ketimbang mengedepankan cinta kasih, selama ini yang lebih ditonjolkan lebih banyak berupa ancaman, demi sebuah kepatuhan.
Kalo ngga shalat, berdosa. Masuk neraka.
Kalau istri ngga nurut suami, berdosa. Masuk neraka.
Gak zakat, sedekah, infaq, hartanya ngga berkah. Makan uang haram, berdosa. Masuk neraka.
Pilih pemimpin politik berbeda agama dan ngga direstui ulama, berdosa. Masuk neraka.
Ucapkan kalimat selamat hari raya pada pemeluk agama lain, berdosa. Masuk neraka.
Tak berhijab, setiap langkah dan mata yang memandang adalah dosa, bukan hanya pada dirimu namun juga bapakmu.
Pacaran, berdosa. Masuk neraka.
Masukin uang di bank itu riba, berdosa.
Kata seorang teman : “Harus begitu, dikerasin dulu agar patuh. Jika melaksanakan ibadah karena ketakutan masuk neraka, maka lama lama akan jadi sebuah kebisaan.”
[Mendengar hal ini, entah kenapa ya.. aku langsung teringat era Orde Baru. Atau….. negara Korea Utara]
Akhirnya, merasa berdosa sedikit saja, parnonya bisa luar biasa. Padahal namanya manusia, kan sarangnya alpa dan salah?
Aku pernah ditegur oleh seseorang. Katanya : ” Kau tak boleh mempertanyakan dan memperdebatkan kitab suci, karena kau seperti mempertanyakan kata-kata Tuhan. Wah…Itu ngeri, sekali!”
Nah kan.
Ada sebuah unsur ancaman yang menakutkan dalam kalimat “ngeri sekali” itu.
Padahal….siapaaaa yang mau mempertanyakan dan memperdebatkan? Kan titik beratku adalah cara penyampaian?
Coba ganti dengan feel yang positif misalnya seperti ini:
“Shalat, yuk…. dalam shalat penuh dengan ucapan doa dan pujian pada Allah. Setiap doa dan pujian itu berupa pahala untukmu.”
” Suami kamu capek ya mencari nafkah, dia juga mengurus kamu dan anak anak… jaga baik-baik ya, dia. Sayangi, hormati dan jangan lupa doa’kan… besar nanti berkah dan pahalanya untukmu…”
Jadi ketimbang ngancem dengan dosa dan masuk neraka, coba tawarkan janji yang indah indah. Jadi melakukan ibadah itu dengan cinta, bukan karena takut.
Menurutku sih, gitu ya.
Tapi ngga usah juga yang mendayu-dayu sehingga seperti bujuk rayu. Lebay, ah…
Yang bisa diterima logis aja, meski berbicara tentang sesuatu yang well…abstrak.
Kembali ke rasa takut, sedari kecil kita sudah dikenalkan dengan rasa takut. Contoh saja, pada saat baru bisa berjalan atau lagi senang-senangnya berlari :
” Awas nanti jatuh!”
” Awas, nanti kejedug!”
Makanya, ketika anak-anakku kecil, aku tak mau mengatakan hal seperti ini. Kuawasi saja mereka saat berjalan dan berlari. Paling kuingatkan agar tidak terlalu kencang.
Ketika mereka tak mendengarnya dan akhirnya terjatuh dengan dengkul bonyok berdarah, aku hanya berkata singkat :
” Kan tadi mami bilang apa? Sakit?”
Dan biasanya mereka keburu gengsi, karena tak mengindahkan ucapanku. Mereka akan menggeleng dan menahan tangis. Segera berdiri, dan kembali tegak lagi.
That’s, how I build a (little) man.
Oh ya…Anak-anakku keduanya laki-laki, by the way anyway busway… dan pada …superaktif, yang pertama malah sempat hiperaktif.
Nampak ideal, ya?
Bah.
Sesungguhnya enggak. Terhadap orang lain aku bisa menanamkan rasa percaya diri dan menghalau ketakutan.
Namun terhadap diri sendiri? Ah, ternyata tak semudah itu, Maria Esperanza!
Dalam hidup, aku senantiasa berjaga-jaga. Aku selalu sedikit lebih banyak menyiapkan diri dengan kemungkinan terburuk. Biar ngga kecewa, alasannya.
I learned this from my mom. Ada satu episode dalam hidupku ketika aku dengan jelas mengingat momen beliau menerapkan metode ini.
( So mommas, becareful how you behave infront of your children, especially your daughters. Kata-kata maupun tindakan kita tanpa disadari bisa membentuk watak dan karakter yang terbawa hingga anak-anak ini dewasa )
Kukira, selama ini dengan memikirkan kemungkinan terburuk dahulu, membuatku kuat. Siap dengan segala situasi dan kondisi. Jadi tangguhlah, gak mudah kecewa.
Awalnya iya. Akhir-akhir ini, sejalan dengan bertambahnya umur, kusadari ternyata……. enggak begitu.
Memikirkan sesuatu yang negatif itu pada dasarnya tak pernah baik. Ia seperti nikotin yang jika dihirup setiap hari, menjadi flek-flek dan kemudian menjelma menjadi plak yang melekat erat di paru-parumu.
Kusadari kini, alam bawahku terlalu banyak merekam ketakutan. Sepanjang hidupku aku terlalu sibuk berjaga-jaga dalam berbagai hal : tentang hati, finansial, bahkan kesehatan.
Hal yang semestinya baru sampai tahap dipikirkan, sudah mulai kupersiapkan. Jika engkau berpikir tentang hari ini dan lusa, dia berpikir tentang lusa dan minggu depan, maka aku sudah merancang hal untuk 3 bulan ke depan.
Padahal, setelah berhasil ditarik ulang, aku ternyata masih berjibaku dengan gembolan beban masa lalu, yang kukira sudah berhasil kulewati dengan gemilang.
Duh!
Akhirnya, benakku letih. Overload. Berasap. Tubuhku protes. Meski aku rutin berolahraga nyaris setiap hari.
Secara fisik, aku nampak sehat. Namun secara mental, aku ternyata sedikit babak belur …eh apa banyak ya? Hehehe.
Penyebabnya apa?
Ya itu, ketakutan-ketakutan yang belum terjadi yang membuatku selalu sibuk berjaga-jaga setiap waktu. Aku selalu merasa seorang diri yang harus bertanggung jawab akan segala sesuatunya.
Aku kini tak punya pegangan atau sandaran, karena aku merasa hanya aku seorang yang bisa diandalkan.
( Aku merupakan anak pertama, cucu pertama di keluarga besar yang selama ini selalu berulang-ulang disebutkan untuk menjadi contoh dan sosok pelindung dan pengayom, dan rupanya hal ini tertanam kuat di kepalaku )
I always think too much. My mind is constantly busy. And it’s slowly destroying me.
What about God?
Itu salah satunya. I believe in God, Allah Al Mighty, I do.
Tapi otak gue yang konslet ini selalu berpikir bahwa God wants me to think and do something first. Jadi aku harus berusaha sendiri dulu. Hubunganku dengan Tuhan selama ini baru hanya sebatas do’a.
” Ya Allah… Ampuni dosaku, dosa kedua orangtuaku…”
” Ya Allah.. Jadikan aku orang yang tahu bersyukur akan nikmatMu dan jangan jadikan aku orang yang pongah dan takabur.”
” Ya Allah lindungi anak-anakku..”
” Ya Allah, murahkan rezekiku, sesungguhnya aku tahu dan yakin bahwa Engkau akan selalu menjagaKu…”
” Ya Allah, maka sembuhkanlah sakitku, karena sesungguhnya tanpa ridhamu tak akan ada kesembuhan, hanya Engkau Sang Maha Penyembuh…”
Iya. Sebatas do’a dan meminta saja, bukan sebuah komunikasi berupa dialog yang menggetarkan hati, sehingga akhirnya tercapai sebuah kepasrahan dan keikhlasan yang luar biasa.
Kepasrahan dan keihklasan ini yang seharusnya menggantikan metoda : think of negativity first yang selama ini kupakai.
It should turn into : positivity and optimistic first, ikhlas next. Hilangkan pikirkan gagal/ngga dapet/ngga berhasil dulu. Karena apapun itu, segala bentuk kenegatif-an tak pernah ada faedahnya bagi diri kita.
Susah lo. Tapi bisa dilakukan. Dan mau sekali aku lakukan. Di usia yang matang pohon ini, aku akhirnya menyadari. Bahwa sesungguhnya, cintai lah dirimu sendiri dulu, tentunya dengan tidak merugikan orang orang sekelilingmu, ya…
||di suatu Minggu pagi di pertengahan Desember 2018, ditingkahi dengan dengungan dan suara kriettt kriettt kunyahan rahang di telinga kiri||
Advertisements

2 thoughts on “Takut.

  1. bagus euy tulisannya 🙂 . Takut itu manusiawi sih, pertanda kalo manusia itu lemah. Orang super manapun punya sesuatu yang akan dia takuti. Superman aja takut ama kryptonite, apalagi saya haha.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s