Tinder.

Aku selalu takjub dengan orang-orang yang punya keberanian untuk berkenalan dengan orang lain melalui aplikasi cari jodoh.

Aku punya seorang teman wanita. Bercerai, mandiri, dan punya karir bagus. Ia memang mengincar untuk berkenalan dengan pria-pria asing, terutama yang memiliki level yang juga bagus di pekerjaannya. Bule terpelajar lah, katanya. Ia bahkan rela mendaftar di sebuah platform cari jodoh berbayar, demi menggapai cita-citanya yang satu ini.

Setiap ia mengunjungi benua lain, terutama Eropa, ia selalu mengaktifkan akun Tinder-nya. Kalau yang ini sih aplikasi gratisan, jadi lebih besar peluang untuk gayung yang dilempar segera bersambut.

Katanya sih, untuk sekedar teman ngobrol atau ketemu ngopi sesaat. Mana tahu kalau ternyata berjodoh juga…

Aku takjub.

Iya, benar. Aku takjub dengan keberanian sejenis ini. Bukan berarti aku menganggap hal seperti ini sesuatu yang negatif ya..

Aku punya kok, teman seorang laki-laki yang ngga sengaja berkenalan di ruang chat MIRC atau IRC gitu..(ketahuan umurnya dah!). Hingga kini, sudah sekitar 20 tahun kami tetap berteman.

Aku pernah juga membalas celotehan sok akrab seseorang di kolom komentar akun media sosial seorang teman. Iseng. Dan hasilnya? Sudah berjalan 5 tahun, aku hingga kini akrab beneran dengan Si Sok Akrab tadi.

Sudah. Itu saja.

Aku tipe orang yang jika berkenalan, memastikan asal usul orang tersebut. Terutama laki-laki. Akun media sosialku hampir semua dalam posisi terkunci.

Tapiii…Kalau hanya berkenalan karena sama sama antre nunggu panggilan dokter, ya sudahlah. Paling ngobrol sebentar, habis itu bhayyy! Belum tentu juga ketemu lagi, toh?

Tapi untuk perkenalan yang lebih intim, one on one , apalagi stranger to stranger : sumpah aku ngga bakalan berani.

Apalagi jika berkenalannya di negara orang. Bule pula. Mana tahu, latar belakangnya? Tujuannya apa? Worse, penyakitan apa kagak?

Hiih!

Di kepalaku, seorang laki-laki, jika bela-belain berkenalan dengan seorang perempuan secara random, 51 % otaknya sudah menuju ngeres.

Dan jika itu bule, persentasenya langsung melonjak drastis ke : 70-80% for sex. Logika aja, sebagian besar dari mereka PASTI memilih perempuan dengan foto profil yang dianggap menarik. Kecuali maniak ya, mungkin bagi mereka, asal bisa bernafas, jadilah.

Ngeri, buatku.

Mana tahu rampok. Mana tahu kelainan jiwa, kayak di film-film. Mana tahu human trafficker. Apalagi, di negara orang. Ada apa-apa, ke mana meminta pertolongan?

Mungkin jika bertemunya di lobby atau kafe di hotel tempat kita menginap, ya ngga apa apa. Relatif lebih aman. Asal ngga minta ikutan naik ke kamar. Ish! Nggak banget.

Call me old fashioned.

Aku pernah, punya akun sejenis si Tinder ini. Entahlah apa namanya, aku lupa. Awal mendaftar, karena kecele. Katanya buat cari temen. Begitu masuk, lah kok aneh? Satu akun bertahan sekitar beberapa hari, akun yang satu lagi cuma dalam hitungan jam langsung kuhapus.

Tapi aku emang ngga bisa begini-begini. Untuk berkenalan saja, aku memastikan si Anu ini siapa, temannya siapa. Apalagi untuk ke hal yang lebih intim.

I was no saint, I’ve done things. But an idea of one night stand with a total stranger is never a thing for me. Make me feel disrespected!

Advertisements

3 thoughts on “Tinder.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s