Perempuan ke Dua…Tiga, dst.

Salah satu ustadz terkemuka itu tengah sakit keras. Mukanya menghitam akibat efek kemoterapi. Media massa mengatakan bahwa beliau didiagnosa menderita 2 penyakit kanker sekaligus. Namun berkat ridha Allah, lagi lagi menurut media, dalam dua bulan saja kedua penyakit itu dinyatakan bersih.

Ada dua hal yang menjadi fokus di benakku.

Pertama : mata sang Ustadz yang nampak sendu. Jelas. Siapa yang mau menderita sakit? Penyakit yang gawat, pula. Aku berempati pada beliau, sungguh.

Ke dua, adalah siapa yang mendampingi beliau saat kini tengah menjalani serangkaian perawatan di negara tetangga : istri pertamanya.

Sang Ustadz ini yang kutahu, beristri lebih dari satu. Dua, tiga, bahkan sepertinya hendak memiliki istri ke empat. Eh apa sudah, ya?

Hal ini menggelitik benakku.

Mengapa istri-istri lainnya tak ada?

Media pun ramai memuji istri pertama sebagai wanita yang luar biasa. Setia, berhati lapang seluas samudera. Karena ikhlas dan rela dimadu, pun tetap nomer satu merawat sang suami yang hati dan kemaluannya telah terbelah belah.

Ah.

Sungguh membuat mataku terbelalak, terbuka selebar-lebarnya. Bahwa cinta yang kumau sesungguhnya tak pernah mau dibagi, apapun alasannya, surga sekalipun yang dijanjikan.

“Tak mengapa, bisa kok cari jalan lain menuju surga,” pikirku.

Pikirku, wanita ke dua, ke tiga dan seterusnya, sesungguhnya hanya merupakan “pelengkap”, aksesoris dari yang sudah ada.

Ibarat busana, istri pertama bak sebuah blus yang mungkin motifnya dirasa masih polos. Sementara wanita wanita berikutnya adalah sebuah bros, atau kalung yang tak ada pun tak membuat si pemakai busana telanjang.

“Sebuah penggenap dari bilangan yang ganjil,” ujarku.

Lantas, mengapa wanita mau, menjadi yang ke dua, ke tiga dan seterusnya?

[Apalagi yang dengan bodohnya mau dijadikan simpanan tanpa pernah akan diberi sebuah kejelasan]

Mungkin karena tak ada pilihan lain. Karena kebutuhan hidup itu perlu dipenuhi.

[Nah ini… tipe yang banyak terjadi di ibukota]

Jika mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, kok masih mau jadi wanita ke dua, ke tiga dan seterusnya?

[Apalagi yang dengan bodohnya mau disimpan tapi masih juga memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, ngga bakal juga dinikahi]

Karena kadung cinta, tampaknya….

Ah cinta.

Bodoh memang kau kadang-kadang karena cinta, mak cik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s