Melihatlah ke Belakang Barang Sekejab….

Penyanyi dan mantan juara ajang putri-putrian itu resmi bercerai. Tak pernah kudengar berita sumir, pernikahan itu berakhir dengan cepat, di tahun ke delapan. Hanya melewati 2 kali sidang saja.

Tak pernah kudengar rumor yang berhembus tentang keduanya. Yang aku tahu, istrinya getol sibuk berolahraga. Sekali, aku pernah lihat mereka. Bertiga, dengan anak mereka. Di sebuah event olahraga. Aku suka suka melihat pasangan itu. Dua duanya sama sama menjulang, untuk ukuran tubuh orang Indonesia. Cocok, pikirku.

Kembali ke berita perceraian, nomer satunya adalah : aku merasa sedih.

Aku seperti patah hati saban kali melihat atau mendengar sebuah perceraian. Apalagi jika sudah ada buah hati.

Sama seperti saat salah seorang temanku, dan istrinya yang juga seorang penyanyi, baru-baru ini bercerai tanpa angin dan badai.

” Mantan istrinya sudah punya pacar baru, hasil dari bisik-bisik tetangga,” kata adikku bergibah.

” Aku sudah pernah melihatnya,” lanjutnya menambah racun gibah.

Ah.

Mengapa kini gampang sekali orang Indonesia memutuskan bercerai? Banyak, aduuuh banyaaaaaaak sekali kasus ini terjadi di sekelilingku.

Tak bahagia, main gila, cerai.

Tak sabar menghadapi pasangan, cerai.

Jenuh, cerai.

Lagi pede-pedenya di puncak karir, cerai.

Kena goda, cerai.

Eh ini tidak berlaku ya untuk kasus kekerasan domestik, apalagi jika telah membahayakan jiwa. Bercerai sepertinya mau tak mau jadi sebuah solusi. Daripada mati?

Pernahkan mereka mengingat ingat bagaimana ribetnya dulu ketika saat akan menikah?

Pingitan, ribetnya mencari suvenir/penghulu/tukang jahit kebaya/ make up artis, pening menyatukan keinginan dari dua keluarga besar ( satu ngotot pakai adat ini, yang satu ngotot kudu pakai adat itu ), capeknya berdiri dipajang di panggung sambil harus senyum manis selalu ( apalagi jika mempelai wanita harus mengenakan sunting dan kembang goyang di kepala ), saldo tabungan yang mendadak defisit untuk bayar sewa gedung? Coba ingat-ingat. Seru ya? Apalagi mengingat malam pertama dimana apapun yang dilakukan menjadi halal. Oh yeaaaaaaah!

Pernahkah mereka kenang, proses pertama kalinya menjadi orang tua?

Berdegubnya dada menanti munculnya dua strip merah? Kunjungan perbulan ke dokter kandungan? Bahu membahu saling menguatkan di proses kelahiran? Tangis pertama anak mereka dan those sleepless nights sesudahnya? Hari pertama mengantar anak sekolah?

Bikin tersenyum, ya?

Memang, kita itu harus selalu menatap masa depan, maju dan tak melulu menoleh ke belakang.

Namun, ada beberapa hal dalam hidup yang perlu harus kita kenang dari masa lalu demi sebuah senyum di hari tua kita kelak.

Percaya deh, kita tua kelak, jika semua fase hidup telah kita lewati, yang tersisa dari kita hanyalah mengenang masa lalu.

Lihat saja nenek, kakek atau buyutmu. Dengar apa yang kerap beliau-beliau katakan.

” Dulu…..”

Atau

” Waktu kau kecil…”

Atau

” Saat zaman perang…”

Atau

” Saat aku menikah dengan nenekmu dulu…”

Atau

” Ayahmu bertemu ibu di sebuah pesta…”

Bagaimanapun juga, perceraian itu sebuah kepahitan, percaya deh. Akan ada anak keturunan yang kelak akan kau tarik untuk mendengarkan ceritamu. Kalau ternyata kau bercerai dan menikah lagi ( amit amit kalau lagi), bisa jadi akan ada sejarah yang dihilangkan sehingga tak pernah diceritakan.

Nah. Jika kau tengah berpikir hendak melakukan kepahitan ini, yakinkah jika tua kelak kau mau mengenangnya kembali?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s