Burning Out.

And all the sudden everything doesn’t feel right.

As if…The sky is falling, the birds are squealing, the sirens are wailing…oh so loud. Too loud.

Your mind can’t think straight, your heart is pumping hard , and all those statics in your head ain’t gonna stop buzzing for quite some time.

Until….

Your chat notification is beeping :

” Hi, wanna get together over coffee? ”

Bagi Tiga.

Tokoh agama terkenal itu akhirnya telah pergi. Meninggalkan 3 istri dengan delapan orang anak. Si bungsu yang baru lahir bahkan belum sempat lagi dibuai di pelukan.

3 perempuan serempak jadi janda. Hasil jerih payah seorang pria itu harus dibagi tiga, apakah mungkin bisa adil sama rata untuk ketiga-tiganya?

3 perempuan serempak jadi janda. Padahal, bisa saja satu orang diantaranya memilih mengabdi pada pria yang hanya bisa beristri satu saja. Dan jika pria beristri satu itu meninggal dunia, tak ada keribetan soal pembagian harta.

Jadi janda saja sudah cukup memusingkan kepala. Apalagi memikirkan bekal hidup yang harus dibagi tiga.

Di situlah aku berpikir, sebenarnya….di bagian mana poligami itu memuliakan wanita?

Tapi Kini…

” Mungkin mesti seperti itu, jalannya…” katamu.

” Seperti apa,” tanyaku, bingung.

” Harus bertemu orang lain dulu, baru akhirnya menyadari bahwa ia memang salah, selama ini,” jawabmu.

Aku terdiam.

” Tapi…”

Aku menarik nafas sejenak. Mencoba memilah kata.

” Tapi kini, aku menyadari kebodohan dan hilangnya hargaku selama ini. Akhirnya kukenal juga rasa bagaimana dicintai, dijaga, dirawat sepenuh hati dengan cara yang aku damba selama ini….” lanjutku pelan.

Kau pun terdiam.

Mantra Pagi.

Seperti yang pernah terlintas di benak, dan terucap lebih dari satu kali.. :

Bahwa tak peduli berapa banyak wajah yang menghampiri

Berkali-kali, silih berganti, mungkin juga tanpa henti

Tanpa sadar, aku lah yang kan selalu kau cari

Benakmu akan terlintas seperti ini :

Mengapa tak kutemukan dia di sini?

Sampai akhir jelang nafasmu terhenti,

Kau kelak sadari, aku takkan pernah terganti

Dan siapapun dia yang datang sesudah diri ini

Akan selamanya memaki :

” Mengapa bayang-bayang perempuan itu tak pernah bisa pergi!!???”

…..cukup seperti itulah mantra, sumpah, buah dari sebuah sakit dan hancurnya sebuah hati, demi kau bisa bersenang sendiri.

Kepada Engkau, Si Perempuan Simpanan

Ada janji-janji yang mulai dengan mudah tidak ia tepati

Kapankah terakhir kali ia memberikan hadiah kejutan yang kau sukai?

2 tahun sudah ia tak lagi anggap penting untuk melepas penat dengan tetirah

Tak ada dana, katanya

Bohong

Jika tak ada dana, mengapa masih bisa belanja?

Bingung perizinan, katanya

Bohong juga

Padahal ia tahu, betapa sukanya engkau akan tamasya

Tahu tidak?

Jika ia mau, ia bisa buat apa yang engkau minta

Ia akan temukan caranya

Masalahnya, ia tidak mau

Itu saja

Mau bukti?

Lihat!

Ia mulai hidup di sebuah rumah baru

Di rumah baru yang tak mungkin ia bangun sendiri tanpa teman berdiskusi

….dan itu bukan dirimulah yang pasti

Tidakkah kau sadari,

Hidupnya baik baik saja dengannya?

Katanya, ia amat mencintaimu

Berulang-ulang kau ceritakan, bahwa ia mengatakan lebih mencintaimu dari dirimu kepadanya

Aku rasa…

Lagi-lagi dia bohong

Karena mungkin ia tahu, kata-kata itu semacam mantra yang membuat hatimu terkunci

Dan dengan bodohnya, kau berkali-kali terperangkap dengan untaian kata-kata basi itu

Tahukah engkau,

Jika seseorang itu bisa saja berbohong untuk mendapatkan hal yang ia mau?

Sesungguhnya ia makhluk yang berlaku teramat tak adil untukmu

Mungkin tanpa sengaja, atau mungkin memang ia biarkan demikian adanya

Coba kau lihat lagi,

Segala sesuatu kini berjalan demi keuntungannya sendiri

Ia kini dapat semua yang ia butuhkan

Coba kau lihat lagi,

Sesungguhnya, justru engkau yang paling merugi

Lalu, sayangku….

Tunggu apa lagi untuk segera pergi?