Spoiled.

No Maid :

Boy : ” Mooooom…. can youuu…”

Mom : ” Do it yourself!”

And the boy did everything by himself.

With maid :

Boy : ” Mooooom…. can youuu…”

Mom : ” Do it yourself!”

Boy : ” Nggg….. eMBAAAAKKK…..!!!”

Because all the sudden the boy has no clue how to tear a sachet of chilli sauce.

The Broken.

Di momen Hari Raya Idul Fitri, semua media sosial serentak memamerkan hal yang sama : foto keluarga.

Ada keluarga inti, terdiri dari bapak, ibu dan anak anak. Keluarga besar: plus ortu, mertua, oma-opa, ipar-ipar, paman-bibi, kemenakan, bahkan cucu. Extended family : dengan tambahan keluarga ipar, sepupunya bokap-nyokap, kakak atau adik dari kakek, friends who became family, tetangga jaman kecil, dan selanjutnya dan selanjutnya.

Lalu…..the broken family pictures : anak anak tanpa ayah atau tanpa ibunya, walaupun kedua orang tua masih bernafas, alias hidup.

Mmmm… gimana kalau salah satu ortunya sudah meninggal, apakah masuk kriteria “broken“?

Ngga sih. Kata gue. Masuk ke keluarga inti lah. Termasuk yang uda pada foto ama anak anak tiri.

Tapi yang menjadi fokus gue kali ini adalah sebuah foto keluarga seorang teman. Yang beberapa tahun lalu, foto Lebarannya masuk kategori “the broken”.

Selang beberapa tahun kemudian, si Teman tadi sudah masuk kategori foto keluarga normal, karena dia sudah menikah kembali.

Tapi tahun ini, belakangan gue ngga lihat lagi foto pasangan barunya yang pas nikahnya gue kebetulan ngga diundang (eh, baper lu!).

Raib, dari media sosialnya. Padahal sebelumnya banyak dan tak lupa, kepsyen ayang-ayang disayangnya.

Lebaran kali ini, foto keluarganya entah kenapa, masuk kategori “the broken”.

What happened?

I don’t know, I won’t find out and I think I will never know. I am just “kepo“.

Bukan ke mengapa tak ada lagi foto pasangan barunya. Tapi lebih ke arah :

How do you make sure that second marriage will last longer than your first marriage?”

Tentang Ancaman dan Tuduhan.

TENTANG PUTUS

” Sudah, kalau begitu kita putus saja!”

Sekali. Aku diam.

” Arrrggh, ngga usah diterusin lagi. Putus!”

Dua kali. Aku masih diam.

” Bener… kali ini sudah ngga bisa diterusin lagi. Kita putus!

Tiga kali. Aku mulai gerah.

” KITA PUTUS!!!”

Empat kali. Dan saat kau kembali, berharap aku kembali menganulir kata “putus” itu lagi, I would not say a word.

Instead….

I’d f*ck you hard. Hard enough to make you think you are forgiven and what you’ve said is forgotten. After that, I would tell you this straight to your f*ckin’ face : “We’re DONE. And now, you may go.”

*

TENTANG MEDIA SOSIAL

Aku paling malas urusan dilet- mendilet. Apalagi blok-blok-an di sosial media. Malas. Menurutku itu suatu aksi yang kekanak-kanakan. Kayak uda yakin aja mau gak temenan atau berhubungan lagi dengan yang di-dilet, di-unfollow atau di-blok.

Semisal aku sedang tak bertegur sapa dengan si A ini meski ia masih terdaftar di deretan teman-teman di media sosial Instagram/Facebook. I don’t mind, seeing what his/her doing during the day, or everything she/he shares. I don’t mind.. or… lebih ke arah don’t really care, maybe?

Intinya aku ngga gampang memutus kontak dengan seseorang di media sosial.

Sampai….

Seseorang ini unggahannya bikin resah. Semisal berupa ujaran kebencian dan pornography or any disturbing pictures. DELETE!

Karena aku ngga gampang menghapus koneksi dengan orang lain di media sosial. Tapi begitu hal itu kulakukan, biasanya sudah tanpa ampun. Kuhapus sekalian dengan orangnya, bukan hanya akun media sosialnya saja.

Maka dari itu, jika di-delete apalagi di-blok oleh teman dekat atau orang terdekat, rasa sakitnya lebih minta ampuuuun.

Aku cuma mikir : ” Kok tega, ya…Kok bisa, ya? ”

Because I’d never do that to the person that I love.

Dan ketika mereka berkata : ” Ah hanya media sosial. Gampang, tinggal add aja lagi.”

Bagi mereka, memang mudah. No biggie. Tapi aku bukan mereka. Karena aku tak lakukan hal seperti mereka.

Jika mereka merasa tak perlu tahu tentang hidupku, why must I know about theirs too?

*

TENTANG SELINGKUH

” You cheat on me!”

” No, I don’t.”

” I know you cheat on me!”

” No, I don’t.

” You must be cheating on me!”

” No, I am not.”

” I know you’re cheating on me!”

I won’t answer you anymore. I won’t nod nor shake my head. I’ll leave you in silence, let you satisfied with your own truth. ‘Cos I know, on the next day I will make sure you will get what you’ve been accusing me : cheating on you.

Perempuan yang Tidak Biasa dan Diam.

Mendiamkan pasangan saat sedang marah adalah hal yang lumrah. Mungkin tujuan awalnya baik.

Agar tak memperpanjang masalah.

Oke. Fine.

Memberi waktu untuk cooling down.

That’s good.

Sehari atau dua hari semestinya cukup untuk bisa berfikir lebih jernih dan selanjutnya bicara, untuk menemukan solusi.

Ingat, ya : menemukan solusi. Jadi pada saat berbicara itu bukan untuk menuding, berdebat dan tetap keukeuh sumerekeuh memaksakan keinginan sendiri.

Tiga hari semestinya merupakan waktu maksimal, buat cuek-cuekan. Karena dalam ajaran agama kan katanya ngga boleh marahan lebih dari 3 hari.

Selain itu, kalo mengaku sayang apalagi cinta, kok bisa tahan, ya..Ngga bicara ama yang disayangnya? Kalau saya sih, ngga kuat…

Tiga hari.

Bukan seminggu. Dua minggu. Atau bahkan sampai 2.5 tahun. That is frikkkin’ insane!

Laki-laki, oh well.. perempuan juga banyak sih yang ambek-annya modelan begini, resleting mulut rapet rapet. Tapi since this is my story, berdasarkan pengamatan dan tentunya pengalaman, so it’s going to be about some particular gentlemen.

Menurut saya… laki laki yang mendiamkan pasangan sampai berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun adalah contoh laki-laki banci yang berlindung dibalik kantong menyan mereka yang bernama ego.

Ada, laki-laki seperti itu?

Ada. I’m familiar of this kind of breed. I lived for almost 17 years with one of them.

Laki-laki itu kan katanya imam, pemimpin. Problem solver. Decission maker. Harusnya.

Gimana mau memecahkan masalah, jika memilih diam?

Dengan memberikan silent treatment dan menunjukkan ketidakpedulian sebenarnya tak lebih demi memuaskan kepuasan ego laki-laki saja. Beneran. Itu doang!

They won’t care about your feeling. What you want, what you need and what you deserve.

Lo liat, karena ngga nurut gue bikin lo kayak gini. Ini konsekwensi karena lo gak nurut!”

Sh*t, man.

Apa yang didapat oleh pasangannya? Pelajaran dari perasaan tertekan? Diberi silent treatment for days biar kapok . Supaya patuh. Yang penting nurut, walaupun karena takut, daripada dilakukan dengan ikhlas karena berdasarkan cinta?

Gila lo. That’s emotional abuse.

Katanya :” Lah lu juga yang bikin. Gak nurut, gak patuh, gak bisa dibilangin. I’m doing this because of you.”

See. This is another form of punishment.

Mungkin bagi perempuan lain it will work.

For me? Yea. Once. Or twice. Or three times.

But if it’s repeated all the time, it won’t.

Bagi perempuan keras kepala dan seorang alpha female, akan susah membuat dirinya patuh, nurut dengan cara-cara tiran sejenis itu. Kayak ada rasa… makin ditantang, makin pengen ngelawan, gitu…

Ini bukan tentang siapa yang benar, siapa yang salah. Yang tahu benar dan salah itu sebenarnya cuma Tuhan, kok.

Saya memegang prinsip : sebab-akibat. Mengapa terjadi begini, karena ada begitu-nya. It’s always like that in life, menurut saya. Konsep benar-salah itu terlalu….kaku.

Merasa benar itu ibarat racun…Oh you should be worry about this, karena bisa amat memabukkan. Disalahkan itu rasanya sangat tidak menyenangkan. Kecuali memang dengan ikhlas menyadari : yeah, I slipped.

Sayangnya, yang saya temui, lebih banyak laki-laki yang merasa pasti benar. Mungkin karena berhadapan dengan perempuan “batu” seperti saya.

Ngga bisa. Perempuan seperti ini nanti bisa menginjak-injak saya yang seorang laki-laki!

Mungkin begitu kali, di benak mereka.

Padahal enggak.

Wek!

Kata teman saya ngga laki, ngga perempuan : ” Memang begitulah seorang laki-laki…”

Ah gila. Pegel banget, denger kalimat : namanya juga laki-laki.

Saya sih tipikal perempuan yang ngga takut menyadari kesalahan. Ngga kayak di quote yang wara wiri di medsos : perempuan selalu benar.

Ngggaaaaaaak. Di dunia saya kebalik. Saya yang jadi laki-laki. Selalu yang salaaaah. So guys, I KNOW how y’all feel! I do!

Sama seperti kebanyakan laki-laki, saya sih ngga takut say sorry duluan. Nyamperin duluan. Ngajak ngomong duluan. Malah kalo iseng, berani nyosor duluan. Beneran.

So you, dear gentlemen out there…

Kalian kan katanya pemimpin. Konon lebih logis, realistis ngga kayak kami ciwi-ciwi yang lebih emosionil. Kalau ada masalah, kalian semestinya mengajak berdiskusi. Dengarkan kebutuhan orang lain. Cari jalan tengah.

Jangan mentang-mentang pemimpin, dengan pongahnya berucap : because I know what’s the best!

Nope.

You are still human. Prone to errors, yaaa knowwww….

As an alpha female, kalo boleh ge-er sih, bukan berarti kami-kami ini ngga bisa dibilangin. Bisa. Tinggal caranya gimana.

Alpha female adalah sebutan yang merujuk pada keseluruhan pola pikir seorang perempuan. Ia mengenali dengan baik siapa dirinya, dan punya kendali penuh atas diri sendiri. Jadi, para perempuan yang tergolong sebagai alpha female akan terlihat lebih percaya diri dan mandiri.

We are stubborn, yes we are. Because we usually know what we want, and we dare put a fight for it.

But it doesn’t mean we can’t communicate, because well.. there’s always man-side in us. We can think more logic than most girls. And THAT, challenges your manhood. Am I right?

Bukan karena kalian tidak bisa, turunkan ego, dan mengajak bicara (duluan). You just do not want. Because it challenges your manhood. You put your love aside, and choose to feed your ego, because oh it’s so satisfying bisa membuat seorang perempuan patuh, manut dan nurut.

Am I right?

You see…

Adu batu dengan batu apa yang didapat? Perpecahan. Anak SD juga tahu. Adu batu dengan air, yang adem-adem, batunya perlahan terkikis dengan bentuk yang halus, tidak tajam. Ini juga anak SD tahu.

Adu batu dengan angin? Ya gitu aja ngga ada perubahan, ngga ngaruh. Batunya akan tetap kokoh berdiri, walaupun angin berlalu pergi.