Perempuan yang Tidak Biasa dan Diam.

Mendiamkan pasangan saat sedang marah adalah hal yang lumrah. Mungkin tujuan awalnya baik.

Agar tak memperpanjang masalah.

Oke. Fine.

Memberi waktu untuk cooling down.

That’s good.

Sehari atau dua hari semestinya cukup untuk bisa berfikir lebih jernih dan selanjutnya bicara, untuk menemukan solusi.

Ingat, ya : menemukan solusi. Jadi pada saat berbicara itu bukan untuk menuding, berdebat dan tetap keukeuh sumerekeuh memaksakan keinginan sendiri.

Tiga hari semestinya merupakan waktu maksimal, buat cuek-cuekan. Karena dalam ajaran agama kan katanya ngga boleh marahan lebih dari 3 hari.

Selain itu, kalo mengaku sayang apalagi cinta, kok bisa tahan, ya..Ngga bicara ama yang disayangnya? Kalau saya sih, ngga kuat…

Tiga hari.

Bukan seminggu. Dua minggu. Atau bahkan sampai 2.5 tahun. That is frikkkin’ insane!

Laki-laki, oh well.. perempuan juga banyak sih yang ambek-annya modelan begini, resleting mulut rapet rapet. Tapi since this is my story, berdasarkan pengamatan dan tentunya pengalaman, so it’s going to be about some particular gentlemen.

Menurut saya… laki laki yang mendiamkan pasangan sampai berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun adalah contoh laki-laki banci yang berlindung dibalik kantong menyan mereka yang bernama ego.

Ada, laki-laki seperti itu?

Ada. I’m familiar of this kind of breed. I lived for almost 17 years with one of them.

Laki-laki itu kan katanya imam, pemimpin. Problem solver. Decission maker. Harusnya.

Gimana mau memecahkan masalah, jika memilih diam?

Dengan memberikan silent treatment dan menunjukkan ketidakpedulian sebenarnya tak lebih demi memuaskan kepuasan ego laki-laki saja. Beneran. Itu doang!

They won’t care about your feeling. What you want, what you need and what you deserve.

Lo liat, karena ngga nurut gue bikin lo kayak gini. Ini konsekwensi karena lo gak nurut!”

Sh*t, man.

Apa yang didapat oleh pasangannya? Pelajaran dari perasaan tertekan? Diberi silent treatment for days biar kapok . Supaya patuh. Yang penting nurut, walaupun karena takut, daripada dilakukan dengan ikhlas karena berdasarkan cinta?

Gila lo. That’s emotional abuse.

Katanya :” Lah lu juga yang bikin. Gak nurut, gak patuh, gak bisa dibilangin. I’m doing this because of you.”

See. This is another form of punishment.

Mungkin bagi perempuan lain it will work.

For me? Yea. Once. Or twice. Or three times.

But if it’s repeated all the time, it won’t.

Bagi perempuan keras kepala dan seorang alpha female, akan susah membuat dirinya patuh, nurut dengan cara-cara tiran sejenis itu. Kayak ada rasa… makin ditantang, makin pengen ngelawan, gitu…

Ini bukan tentang siapa yang benar, siapa yang salah. Yang tahu benar dan salah itu sebenarnya cuma Tuhan, kok.

Saya memegang prinsip : sebab-akibat. Mengapa terjadi begini, karena ada begitu-nya. It’s always like that in life, menurut saya. Konsep benar-salah itu terlalu….kaku.

Merasa benar itu ibarat racun…Oh you should be worry about this, karena bisa amat memabukkan. Disalahkan itu rasanya sangat tidak menyenangkan. Kecuali memang dengan ikhlas menyadari : yeah, I slipped.

Sayangnya, yang saya temui, lebih banyak laki-laki yang merasa pasti benar. Mungkin karena berhadapan dengan perempuan “batu” seperti saya.

Ngga bisa. Perempuan seperti ini nanti bisa menginjak-injak saya yang seorang laki-laki!

Mungkin begitu kali, di benak mereka.

Padahal enggak.

Wek!

Kata teman saya ngga laki, ngga perempuan : ” Memang begitulah seorang laki-laki…”

Ah gila. Pegel banget, denger kalimat : namanya juga laki-laki.

Saya sih tipikal perempuan yang ngga takut menyadari kesalahan. Ngga kayak di quote yang wara wiri di medsos : perempuan selalu benar.

Ngggaaaaaaak. Di dunia saya kebalik. Saya yang jadi laki-laki. Selalu yang salaaaah. So guys, I KNOW how y’all feel! I do!

Sama seperti kebanyakan laki-laki, saya sih ngga takut say sorry duluan. Nyamperin duluan. Ngajak ngomong duluan. Malah kalo iseng, berani nyosor duluan. Beneran.

So you, dear gentlemen out there…

Kalian kan katanya pemimpin. Konon lebih logis, realistis ngga kayak kami ciwi-ciwi yang lebih emosionil. Kalau ada masalah, kalian semestinya mengajak berdiskusi. Dengarkan kebutuhan orang lain. Cari jalan tengah.

Jangan mentang-mentang pemimpin, dengan pongahnya berucap : because I know what’s the best!

Nope.

You are still human. Prone to errors, yaaa knowwww….

As an alpha female, kalo boleh ge-er sih, bukan berarti kami-kami ini ngga bisa dibilangin. Bisa. Tinggal caranya gimana.

Alpha female adalah sebutan yang merujuk pada keseluruhan pola pikir seorang perempuan. Ia mengenali dengan baik siapa dirinya, dan punya kendali penuh atas diri sendiri. Jadi, para perempuan yang tergolong sebagai alpha female akan terlihat lebih percaya diri dan mandiri.

We are stubborn, yes we are. Because we usually know what we want, and we dare put a fight for it.

But it doesn’t mean we can’t communicate, because well.. there’s always man-side in us. We can think more logic than most girls. And THAT, challenges your manhood. Am I right?

Bukan karena kalian tidak bisa, turunkan ego, dan mengajak bicara (duluan). You just do not want. Because it challenges your manhood. You put your love aside, and choose to feed your ego, because oh it’s so satisfying bisa membuat seorang perempuan patuh, manut dan nurut.

Am I right?

You see…

Adu batu dengan batu apa yang didapat? Perpecahan. Anak SD juga tahu. Adu batu dengan air, yang adem-adem, batunya perlahan terkikis dengan bentuk yang halus, tidak tajam. Ini juga anak SD tahu.

Adu batu dengan angin? Ya gitu aja ngga ada perubahan, ngga ngaruh. Batunya akan tetap kokoh berdiri, walaupun angin berlalu pergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s