League of Enemy/Haters.

Siang tadi, seorang temanku berkata,” Kata si Anu, aku harus berhati-hati denganmu. Katanya, semua aja diajak berantem sama kamu.”

Aku terdiam sejenak.

Benar sih.

Aku anaknya kayaknya gitu, punya banyak pertemanan atau perkenalan yang terputus tanpa ada harapan kembali tersambung. Dengan kata lain : banyak juga mungkin, musuhku.

Padahal orang-orang ini (dan tentunya kebanyakan adalah perempuan) adalah orang-orang yang pernah terhitung dekat denganku.

Coba aku list ya, berapa banyak teman.. well oke lah kalo mau engkau sebut : “sahabat” wanita yang tadinya amat dekat kini tak pernah lagi bertegur sapa.

Boro tegur sapa, bertemu saja bisa sikapku seperti tak pernah mengenalnya, atau mereka.

Seorang teman saat masih kuliah, sebut saja namanya Mawar (biar lucu). Persahabatanku mulai retak setelah aku mulai bekerja sampingan dan berpacaran dengan pria yang kemudian menjadi ayah bagi anak anakku.

Alasan yang Mawar kemukakan, ” Elu sekarang mengesklusifkan diri (padahal aku masih menggunakan bis Damri dan angkot). Udah gitu, elo tuh matre ngga kira-kira sampai cowok beda agama lo sikat juga.”

Heh?! Kok ngga nyambung?

Oke, fine.

Berikutnya adalah seorang sahabat yang aduuh, oh I loved her dearly, once I considered her as my big sister. Sebut saja namanya Dahlia.

Persahabatanku dengannya runyam dan hancur setelah suatu ketika dia mengirimkan pesan singkat,” Gue ngga peduli rumah tangga lo mau jadi apa, dan jangan ganggu laki gue lagi.”

Memang. Sebelumnya aku pernah sangat emosi menelepon suaminya di seberang benua sana. Tak terangkat, dan aku meninggalkan pesan di ponsel sang suaminya,” Elo ngomong apa sama laki gue?”

Sudah, begitu saja.

Alasannya simpel. Bapaknya anak-anak demen curhat sama suaminya (dan kemudian istrinya) tentang rumah tangga kami. Dan saat itu, bapaknya anak anak sering membawa-bawa nama mereka ini, untuk menguatkan argumentasinya.

“Kata si Ini… Buktinya saja mereka… Si Anu sampai bilang …”

Ih capek. Ok, fine.

Berikutnya seorang sahabat yang punya banyak kesamaan denganku. Seorang alpha female, decission maker, dan sama sama menggemari olahraga.

Sebut saja namanya Melati. Selama beberapa tahun, kami berteman dengan intens. Sehari, bisa meneleponku lebih dari takaran obat dokter.

We used to talk for hours. Lagi pasang kuteks, sedang berkendara, heck..bahkan pernah saat aku mandi.

Dia bawa aku ke lingkungan pertemannya dan I could blend easily.

Dia sih belum tentu bisa dan mau masuk ke lingkungan pertemananku.

Pertemanan kami mulai runyam ketika kami berencana ke luar kota, untuk sebuah event olahraga. Dia, yang saat itu tengah dekat dengan seorang pria, memastikan aku, dan salah seorang teman kami untuk berada di hotel yang sama.

Kekusutan mulai timbul ketika seorang teman perempuan lain, sebut saja namanya Aggrek meminta untuk ikut bersamaku. Karena ia tak memiliki teman yang ia rasa cukup nyaman untuk diajak berbagi kamar.

Anggrek tak tahu jika Dahlia tak menyukainya. Dan aku terlalu gampang iba, jika harus membiarkan Anggrek seorang diri. Dahlia nampaknya tidak nyaman dengan aku yang tak bisa menolak Anggrek.

Emosi Dahlia kemudian meledak, ketika pasanganku kemudian mendadak memutuskan ikut event olahraga yang sama, namun memesan penginapan yang berbeda.

Jadilah aku terjebak. Dan aku memilih pasanganku. Karena saat itu, pilihan itu yang memang harus aku ambil.

Aku bingung sebenarnya apa yang menjadi sumber kemarahan Dahlia.

Aku tak meninggalkan dia seorang diri. Ada teman laki lakinya, dan seorang teman wanita yang sekamar dengannya.

Selama di luar kota, aku dan pasanganku mengantar sekaligus menjemput mereka, dan menghabiskan waktu bersama.

Temanku si Anggrek tadi, akhirnya menemukan teman lain untuk sharing kamar, jadi tak pula mengganggu pandangan matanya.

Sepulang dari luar kota, hubungan perteman dengan Dahlia kembali seperti sedia kala. Walaupun aku yakin, pasti sudah tercoreng luka, mungkin di dirinya. Namun di diriku, aku cenderung memilih berhati-hati.

Sampai tiba-tiba suatu ketika sesudahnya, pasanganku dilanda cemburu. Cetek banget. Cuma gara-gara aku menerima pertemanan seorang pria di media sosial.

Sayangnya, aku merasa Dahlia menyiramkan bensin ke api yang tengah menyala.

Padahal, belum tentu itu maksud Dahlia. Mungkin she had no idea, ngga sengaja. Mungkiiin, ya.

Aku kemudian diam. Aku hanya ingin diam untuk beberapa saat. Namun sepertinya kadung sudah ada luka, dengan meledak-ledak Dahlia mengatakan sudah tak sanggup berteman denganku. Katanya, aku terlalu egois.

Ok, fine.

Aku dulu pernah punya geng-geng an. Namanya geng sarapan, karena biasanya kami berempat selalu bertemu saat selesai mengantar anak sekolah, pagi hari.

Selain aku, ada yang namanya Seruni, Kamboja dan Tai Kotok. Seruni cenderung dekat dengan si Tai Kotok, sedangkan aku dan Kamboja lebih sering bertemu, saling curhat dan hal hal yang dilakukan well.. sort of bff thingy.

I did most of everything Kamboja asked me to do.

” Let’s go to the mall, but pick me up since it’s closer to my place.”

So I picked her up.

” Let’s meet up, I’ve got something to tell you.”

So I met her up.

” Please come to my house, I can’t decide which bag to buy.”

So I came to her house.

Sampai suatu ketika, aku meminta Kamboja menjemputku untuk suatu acara yang harus kita datangi bersama, entah kenapa Kamboja mendadak ribet dan intinya tak mau menjemputku.

Aku jarang meminta. Maka dari itu, jika sekali aku meminta dan ditolak, sementara aku merasakan telah melakukan banyak untuk orang tersebut, aku rasanya seperti tertampar.

As usual, I wanted to stay quiet for a while, buat meredam kekesalan.

Kamboja tahu, aku kesal. Dia curhat pada si Tai Kotok yang sejak dari awal aku mengenalnya, aku sudah tahu ia ini ibarat seorang teman yang tersenyum di muka, sementara menggenggam sebuah belati di belakangnya, menunggu momen untuk menikamku kapan saja.

So they became allies.

Dan aku memutuskan hengkang dari grup sarapan itu.

Sampai brberaa waktu kemudian, out of pity, somehow I befriended again with Kamboja.

My bad.

I should’ve known I’m too strong for spoiled or “princess syndrome” women. Or those girly type ones.

She was not satisfied with me. Then she made allies with some other friends, badmouthed and tried to analyzed me. Ah, typical. Ah, lame.

And ofcourse, once again she and Tai Kotok became allies.

Ok. Fine. Next!

I was a member of this school moms gang. We used to hang out and have a routine arisan every month.

One day, the father of my children (somehow) joined the gang. Hey, I’m always cool with couple having the same friends or community. Enak, malah. Bisa bareng terus.

Things went bad when he, unfortunately, curhat massal di momen arisan di mana aku sedang tak ingin hadiri.

Maybe he was looking for a solution , because he THOUGHT these ladies were my friends. Or.. maybe it was his hobby. Talking about me, the mother of his children, to other people.

He did not know that I have my layers of friends.

Ring satu adalah teman teman yang benar benar aku nyaman untuk membuka masalah pribadi. Dan ini sangat sedikit jumlahnya.

Ring dua adalah teman-teman yang cuma tahu 1-2 hal pribadi.

Ring tiga adalah orang-orang yang aku sangat berhati-hati untuk bercerita terlalu banyak.

Dan seterusnya.

And these ladies are faaaaar from my layer number 1 or 2 or even 3.

He had no idea the impact of that curhat massal itu, apalagi ternyata si Tai Kotok ikut mendengarkan dengan tekun.

I was furious, humiliated. And hurt at the same time.

As usual, I wanted to be alone, and quiet for a while.

And he did not feel that it was wrong, opening out private life to these ladies.

So he continued to feed them, with our private life stories.

I was too lazy to play my words against his words to them. I did not need to explain myself to them.

What for? Bad news is always a good news, toh?

I just slowly slipped away from them, and finally became school moms gang’s public enemy.

Until that marriage was finally over.

(Begonya dia sih, untuk hal yang satu ini. Mau-mauan kena kompor)

Imbasnya, namaku sudah pasti tercemar ke mana-mana. Namanya juga mulut perempuan, ya… Wah terkadang sampai kaget sendiri, orang yang tak kenal aku bisa tahu cerita (buruk, tentunya) tentang diriku.

So some of these ladies became my enemy. Apalagi yang namanya Bunga Bangke dan tentu, my dear Tai Kotok.

But you know what, after the divorce, paling gak ada satu hal baik untukku. They don’t have a sufficient source anymore yang terus memberi daily update about how I live my life.

I was free, at last!

Ada satu perempuan di gym. Namanya.. uhm… udelah gak usah pakai nama. Gak penting soalnya.

Suatu ketika, dia mendiamkanku, menghapus namaku dari daftar teman chatnya.

Sepertinya ia menyalahkan aku akan rusaknya pertemannya dengan seorang teman pria yang ia kenal sejak lama.

Yaudah. Biarin aja.

Si teman pria ini kemudian hari sempat kumaki-maki karena pacarnya, yang nampaknya agak steheng itu, bicara macam-macam tentangku pada teman kami yang lain. Nampaknya ini perempuan tak tahan dengan pesonaku yang magnificent berat padahal katanya dia lebih cantik dan lebih aduhay dari diriku yang apalah remahan kemplang Palembang ini.

Ok. Fine.

You see, folks….

When I heard something bad about me, aku cenderung diam. Kecuali jika orang menanyakan : ” Apa benar, seperti ini… atau itu?”

( A real friend will do that, or at least they’re still make friends with you without any judgements)

Maka aku akan menjawab, dengan versiku.

Aku tak mau yang tiba-tiba datang dan menjelaskan tentang diriku kepada siapapun. Iya kalau mereka mau dengar, kalau mereka pikir : “Ah ngeles, aja lu..” gimana?

Kan percuma.

I would rather go away and make new friends.

Kupikir begini : if something is really off with me, I won’t be able to make friends anywhere.

The fact is, until today, I still have lotsa friends. Male, or female. Old, and new. I still have them all. I’m still get invited to parties, gatherings or meet ups by other friends.

Mereka mereka yang sudah tak menjadi teman atau orang yang kukenal, kuanggap saja seperti jodoh. Yaudah, jodohnya cuma sampai segitu.

Mau apa lagi?

Mungkin akhirnya aku seperti punya banyak musuh. Tapi kalau musuh kan, kesannya harus dilawan terus.

Aku enggak.

Aku diamkan saja kok, until their pictures fade away and out of my head. Niat membalas atau dendam pun enggak kok.

Eh ada deeeng, dendam sedikit, paling sama 1-2 orang. Yang lainnya?

Ngga ada rasanya tuh….

Merely sudah tidak berjodoh lagi dengan mereka-mereka ini. Sesimpel itu aja, sih.

4 thoughts on “League of Enemy/Haters.

  1. Aku bisa relate dengan semua ceritanya, kadang memang kita memang serba salah jadi manusia ini. Diam salah, berbuat sesuatu juga salah. Masalah pertemanan memang yang paling sulit, apalgi kalau untuk seorang intorvert, hubungan pertemanan itu sangat berharag. sangat disayangkan kalau berteman dengan orang yg tidak bisa menghargai pertemanan.

    Like

    1. Aku ekstrovert. Eh ambivert deng. Tapi malah sebaliknya, sering dianggap tak bisa menghargai pertemanan. Mungkin karena menolak untuk terlalu attach atau loyal dengan satu lingkungan pertemanan, atau saat menghadapi konflik aku cenderung diam, kalau merasa tak berbuat salah.

      Like

  2. Ternyata ribet juga ya dunia pertemanan untuk perempuan hehehe. Ada teman kuliah, sahabat, geng sarapan, ring satu, ring dua, ring tiga, dan seterusnya dan terakhir teman di gym. Hadeuh. Btw keep posting ya mbak karena saya suka tulisannya. Terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s