Jadi Janda.

Jadi janda itu kudu sadar kalau jadi gampang mengundang sorotan mata. Bukan berarti pandangan itu memuja, tapi bisa jadi untuk sekedar menuding dan mencela sih.

Kalau hidupnya susah, disukur-sukurin kenapa dulu ngga jadi istri yang nurut suami serta berguna bagi keluarga, nusa, bangsa dan agama.

(Whaddaaaahell…)

Kalau ngga disukur-sukurin, dikasihan-kasihanin. Padahal daripada sekedar berkomentar, mendingan bantu! Tawarkan pekerjaan kek, kasih peluang bisnis kek. Kalau ngga bisa bantu, ya sudah, mending diam saja.

Begitu seorang janda terlihat dekat dengan teman pria, bisa saja dikira tengah mencari sarana numpang hidup pada orang lain, terutama laki (orang).

Kalau hidupnya tenang dan bahagia, nanti ada aja yang kasak kusuk: dibiayain siapa? Jangan-jangan……..

Kalau seterong, alias kuat, banting tulang buat jadi sukses, malah bisa ancaman bagi istri istri di luar sana.

Yah lebih sering ujung-ujungnya ngga jauh dari tuduhan bahwa seorang janda, pasti akan nyari cantelan finansial ke laki-laki juga. Atau… ya gitu. Dicantelin sama dede-dede gemes yang dikenal dengan akronim ‘brondong’.

Makanya, ngga usah berkoar koar apalagi bangga dengan status janda. Kalau bisa, malah mati-matian jaga harga.

Tapi tak perlu juga munafik dengan menutupi status janda. Sesekali lakukan dengan rasa canda, tentunya jangan lupa dengan sedikit tertawa.

Lagian, sebuah kepahitan atas hancurnya rumah tangga tak ada gunanya disangkal, apalagi sampai disesali.

Coba deh, tertawakan diri sendiri. Niscaya akan terasa sedikit lebih ringan.

Semisal…

A : ” Ngga usah bayar, aku yang traktir!”

B : ” Wah jangan.. makan aku banyak..”

A : ” Udaaah. Ngga usah.”

B : ” Wah alhamdulillah, pengertian juga lu ama nasib janda..”

A : ” Hahahhaaa..”

Atau…

A : ” Traktir gue makan doong…”

B : ” Iiidih enak aja.. lu kalo makan maunya yang mahal.”

A : ” Dalam ajaran agama, berdermalah pada fakir miskin, anak yatim dan janda-janda. Gue kan janda.”

B : ” Lah gue kan da ngga punya bapak..”

A : ” Hahhahaaaaa”

Kira-kira bercanda ringan seperti itu sajalah. Tapi jangan keseringan juga ya, bolak balik mengingatkan statusmu yang janda.

Lantas, bagaimana dengan berteman dengan rekan pria? Sah-sah saja. Mereka bukan najis, kok. Tapi sebagai seorang janda, selalu libatkan pembicaraan tentang keluarga si teman pria.

” Istri lu kerja di mana?”

” Anak lu mirip elu ya, tapi senyumnya persis emaknya.”

” Anak lu sekolah di mana?”

” Laki suka begitu, terkadang tidak bisa melihat hal yang kecil, ini biasanya kerjaan perempuan. Coba deh diskusikan dengan bini lu..”

” Anak sama bini lu ngga apa-apa nih kalo lu kelamaan sibuk ama hobi lu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lah kira-kira. Selalu ingatkan hal tentang rumah kepada bapak-bapak ini.

Hindari menerima curhatan tentang kekurangan istri-istri mereka. Karena percayalah, bagi beberapa pria, ada saja yang bisa jadi sumber kekurangan istri mereka.

Bilang saja ,” Ngga ikutan aaaah!”

Kecuali..

Kalau kamu juga sebenarnya suka sama dia. Wah, itu akan jadi lain cerita.