A adalah A.

Suatu ketika seseorang bertanya kepadaku :

” Kamu dulu dari kecil ya main sama si Itu? Dia bilang sudah kenal lama sama kamu dan keluargamu…” begitu katanya.

Aku terdiam sejenak. Heh. Kenal (cukup) lama sih iya. Kenal keluargaku sih iya. Tapi ngga juga sedari kecil ‘kali.

Aku lantas berpikir, oh. Mungkin si Itu sengaja berkata demikian karena memiliki kepentingan tertentu. Tapi karena hal ini ditanyakan langsung kepadaku, ya gimana yah. Aku maunya menjawabnya tentu dengan versiku.

” Ah, kagaklah kalo dari kecil. Kalo dekat dan kenal dengan keluargaku sih iya,” jawabku.

” Tapi kok katanya uda kenal dari kecil sih?” kata si Seseorang itu dengan nada bingung.

” Dibo’ongin, lu…” sahutku sambil tertawa dan berlalu.

Jadi begini.

Aku tipikal orang yang paling malas ngeles-ngeles atau bohong-bohong manis. Kalo mau bohong, ya yang mutakhir lah, sekalian.

Eh…Enggaaa kok, aku ngga suka bo’ong koook….

Pada dasarnya dasarnya aku hanya punya 2 pilihan : diam, atau jujur apa adanya sekalian.

Jika faktanya A, dan situasi tak memberikan opsi lain untuk berkata B atau C atau D atau E, yasudah. Kukatakan A.

Walaupun jika berkata A bisa berimbas dengan resiko dituding… hmmm…. brengsek misalnya.

Maka aku akan siap untuk mengakui : iya, gue emang brengsek, sih. Selesai.

Prinsipku sesimpel begini : gua, kalo gak ditanya akan diam. Tapi kalau ditanya, ya gua jawab.

P.S – Jawabannya juga pasti kupikirkan laaah. Ngga juga segitu gampang dan bodohnya main mengaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s