Bully / Perundungan

Sebagai seorang ibu, tentunya aku terbiasa mendengar obrolan para emak-emak ( dan terkadang juga bapak) dengan hal hal yang terjadi di seputar sekolah.

Salah satu topik paling serius adalah tentang bullying, atau bahasa bakunya : perundungan.

Kebetulan beberapa hari lalu, lewat sebuah siaran radio aku mendengar kisah seorang korban perundungan, berikut dampak psikologis yang ia dapat dari tindakan itu.

” Aku takut masuk sekolah. Bangun pagi terasa malas dan berat sekali, sampai akhirnya aku ngga mau ke sekolah sama sekali..” demikian ucap si Korban.

Waduh.

Aku seperti bisa merasakan seperti apa rasa tak nyamannya si Korban tadi. Terbayang tidak, jika ini terjadi pada anak sendiri?

Aku lantas mengingat-ingat, apakah pernah aku mengalami perundungan?

Hmmm… perundungan sepertinya sih tidak. Kalau terror psikis sih, adalah beberapa kali. Hahahaa.

Ataukah…

Sebenarnya aku mungkin pernah mengalami perundungan, namun dengan reaksi yang berbeda.

Aku ingat, saat duduk di kelas 1 SMP, entah bagaimana ceritanya, atas urusan apa, tahu-tahu aku berada di toilet sekolah dikelilingi oleh beberapa kakak kelas, cewek juga tentunya.

Salah satunya berkata,” Kamu itu mestinya respek sama kakak kelas!”

Seingatku, reaksiku hanya memasang muka lempeng, sembari di dalam hati berkata,” Idih, sape luh..”

Tanpa berkata apa-apa aku hanya ngeloyor keluar toilet, membuka pintu sekaligus membantingnya.

Setelah itu rasanya tak pernah lagi aku “dikeroyok” seperti itu. Paling banter, karena ada teman mereka yang sepertinya tertarik padaku, yang kerap diledek ledek saban kali aku melintas di depan area kelas mereka.

At that time, honestly I did not really care, sih… Belum tertarik sama naksir-naksiran.

Sampai tiba waktunya aku melanjutkan kuliah di sebuah universitas negeri di kota Bandung. Mau tak mau aku harus terjun bebas di lingkungan baru, orang-orang baru, yang tentunya tak sesteril kampung di belantara Kalimantan Timur itu.

Aku harus ikut ospek, katanya. Kalau tidak, akan bla bla bla.

Yasudah, aku ikuti. Ospek Universitas, aku aman. Paling-paling dipanggil karena kena dedel di keliman rok SMA yang kukenakan karena dianggap kurang panjang. Ospek fakultas, juga aman. Sampai tiba ospek jurusan.

Idiiiih.

Kayaknya aku dan 2 teman ( kebetulan kami bertiga langsung akrab) paling habis dikerjai oleh kakak-kakak kelas.

Kata beberapa kakak kelas (sembari bergantian berteriak) mukaku nyebelin. Katanya, aku sebagai anak baru tak pernah menyapa dan menunjukkan rasa hormat kepada mereka.

Teriakan teriakan ini bak nyanyian sumbang di telingaku. Apakah membuat aku takut?

Oh tidak sama sekali.

Seperti biasa di benakku melintas,” Sape lu. Minta makan ma lu juga kagak…”

Atau…

” Lah gue mah anaknya gitu, kalo ngga kenal ya emang diem aja…”

Atau…

” Iiiih siapa yang ngerasa sok cantik? Orang gue ngerasanya gue ini ganteng…”

Atau…

” Ya Tuhaaan, lapar amat ya. Mi instan enak nih dingin-dingin begini..”

Aku akhirnya agak terpancing, ketika ujug-ujug seorang alumni cewek, mendadak menuruni bukit tempat ia mengawasi kami, si para korban ospek, langsung menuju tempatku berdiri.

Konon, katanya si Alumni ini, 6 angkatan di atasku, terkenal puaaaling guuuaaalaaaak setiap masa orientasi.

Begitu berada di hadapanku, dia langsung memuntahkan….entah deh apaan aja. Aku juga ngga ingat apa tepatnya kata-katanya.

Karena orangnya jauh lebih pendek, dan agak bulet (ngga kece pula) aku yang dipaksa selalu menundukkan kepala, dengan leluasa dapat melihat ekspresi wajahnya.

Rupanya dia ngga suka.

Katanya aku menantangnya. Lantas dengan jemarinya ia mendorong-dorong bagian atas dadaku, tepat di antara tulang selangka. Lumayan keras, sampai aku terdorong sedikit ke belakang.

Oh kali ini, aku yang tak suka.

Words can do me harm. Kalo uda main fisik, lain ceritanya.

Di benakku, dengan satu kali tumbuk, paling tidak bengkak memar tulang hidungnya, pendek ini kok orangnya. Masalah dipanggil ketua jurusan atau dekan sekalipun, entar aja dipikirin.

I did nothing wrong, kok, except join this stupid orientation program.

Kepalan tangan kananku kemudian sudah siap mengudara, sampai dilihat oleh beberapa senior laki-laki yang memang sudah mengawasi.

Aku buru-buru ditarik, kami pun dipisahkan.

Dan sesudahnya…

Aku makin habis dikerjai secara fisik oleh senior-senior cewek lainnya, hahahhaa.

You see…

Moral of the story adalah tak ada seorang pun, apalagi yang entah dari mana asalnya, ngga ngasih kita makan, yang berhak menekan kita.

Apalagi cuma dengan kata-kata. Words can never let you down, unless you let them.

” Jelek lo!”

Ya deh, lu kece banget daaah. Ngga papa gue segini aja.

” Belagu ya lo..”

Idiiih orang gua kagak ngapa-ngapain, apa yang gua belaguin?

” Cupu! You are nothing, tau ngga?!

Yeaaah.. perhaps only for you. For many other people, I am precioussss.

” Awas ya lo, kalo berani lewat sini lagi.”

Ya ude, tawuran aja, gimana? Emang ni tempat atau gang punya nenek moyang lu? Bonyok pikirin belakangan daah… Prinsip gue mah, yang penting lawan aja dulu.

Begitu, kira-kira… Menurut benakku.

Tapi yang perlu diingat, jangan sampai memulai duluan, jika sampai ada adu fisik. Pokoknya jangan. Kalau bisa, pastikan ada saksi yang melihat, atau bukti jika kita memang terpaksa membela diri.

Atau sesimpel : just walk away, dengan kepala tegak. Don’t let them bullies feed on your fear.

Karena menurut pengamatanku, selain beraninya keroyokan, perundung cendurung keder jika lawannya balik menggertak, meski terkadang…hanya dengan tatapan mata.

Maka dari itu, wahai pemirsaaah…

Adalah penting menanamkan rasa percaya diri, pada diri sendiri dan juga pada anak.

Korban perundungan biasanya merasa tak berdaya, takut, memiliki pribadi introvert yang amit amit bisa akhirnya menjurus ke arah depresi. Hal ini erat kaitannya loh, dengan rasa tidak percaya diri.

Sebagai orang tua, apa yang harus kita lakukan agar anak percaya diri?

Simpel (menurutku loh ya… Etapi jangan lupa juga, aku itu bukan psikolog looh yaa).

Show them your pure love. Show your kids you are proud of having them as yours.

Nilai mereka jelek, jangan dikata-katai, atau dimaki. Terus beri dorongan, jangan paksa anak anda jadi harus pintar matematika, dokter, arsitek, atau apapun yang kamu mau.

Suruh anak main dengan siapa saja, tanpa pilih-pilih. Mau kaya, mau engga. Mau kece, atau engga. Mau laki, mau perempuan. Biar mereka bisa belajar beradaptasi, dan menempatkan diri.

Eh. Tapi jangan pula dikasih main dengan teman yang engga engga… you know lah what I mean.

Dan yang terpenting, selalu jalin komunikasi dengan anak. Sekarang uda ngga jaman, kok.. orang tua jaim-jaiman, dan pasang wibawa.

Oh well…Tetap mesti disisain sih, jaim dan wibawa sebagai orang tua. Aku masih penganut pola asuh ketimuran, kok.

I can be your friend, you can tell me anything, but still I am your mother so I demand some respect type of parenting gitu deh…..

PerBIKEan, di Mata Saya.

Folding bikes vs non folding bikes :

Jika bisa gowes sejauh jauhnya tanpa ribet mikirin gimana pulangnya, kenapa engga? Begitu capek, tinggal lipet. Masukin mobil atau kereta. Done!

Fixed gear vs multi gears :

Jika ada yang meringankan, kenapa pilih yang memberatkan? Apalagi buat tabah menjalani tanjakan.

Folding bike vs road bike :

Jika bisa berpakaian semaunya, kenapa harus terkekang dengan seragam? Masuk mal atau kantor pakai kaos atau kemeja sembari nenteng sepeda yang dilipat mah biasa.

Folding bike vs folding bike :

Jika ada duitnya buat beli yang cakep mahal atau yang spek termutakhir, kenapa harus beli yang jelek modelnya, ribet dilipat atau berat ditentengnya?

Brake or brakeless :

Jika ada bisa menyelamatkan, kenapa memilih yang membahayakan?

Rules vs no rules :

Aturan ya dibuat untuk keamanan semua pihak. Bukan hanya untuk pesepeda itu sendiri, namun juga bagi pengguna jalan yang lain.

Gunakan jalur sepeda, kalau ada.

Lampu merah, ya diam berhenti.

Helm ya dipakai saat gowes di jalan raya.

Lampu depan belakang pastikan dinyalakan saat gowes malam.

Do not swarm the road like those damn flies. You share, not own the road.

Gagal Paham.

Selama 21 tahun tinggal di ibu kota Jakarta ini aku mengenal banyak beragam jenis manusia. Setiap mereka adalah unik, dengan latar belakang dan ceritanya masing-masing.

Tapi kini aku sedang enggan membahas yang ribet ribet atau konflik njlimet yang kerap membelit kaum metropolis. Yang enteng saja, ya?

Tinggal di wilayah selatan Jakarta, yang konon dikenal sebagai daerah paling “gahol” alias “hits”, tentunya membuatku banyak mengenal manusia manusia dengan status sosial yang berbeda.

Selain para embak, suster, kang sayur, kang jamu, pemilik warung, satpam, tukang parkir, sehari-hari pergaulanku pastinya juga naik kelas ke pemilik strata sosial menengah, berada, artis terkenal, anak gaul Jakarta, artis ngga terlalu terkenal hingga mantan artis, kaya doang sampai ke yang koooaayaa rooayaaaaaaaa…. Banyak deh, beraneka rupa.

Bagi seorang anak rantau dari sebuah kota satelit kecil di belantara Kalimantan Timur sana, strata sosial ini entah mengapa tak membawa efek apa-apa bagiku.

” Okay… lu kaya banget! Rejeki lu.”

” Ooo, aslinya kamu begini ya kalau lagi sedang ngga masuk TV… ”

” Eh, ternyata bapakmu pejabat yang itu…”

Ya sudah begitu saja aku melihat mereka. Sama-sama bernafas, sama sama demen makan nasi dan mi ayam, sama-sama manusia.

Makanya aku suka heran, jika beberapa orang merasa penting berteman atau berada di lingkungan dengan strata sosial yang uhm… anggap deh, tinggi.

Lah, yang ngetop dan kaya kan mereka. Kenapa harus berharap diri kita juga ikutan ngetop?

Buat apa? Faedahnya apa?

Apakah dengan mendompleng status sosial seseorang kita juga akan ikutan naik pangkat?

(Kecuali kalau dengan tujuan upaya bisnis ya, nah beda!)

Kalau cuma karena urusan pergaulan saja, apa sih pentingnya?