Halusinasi.

Tadi malam aku mendadak terjaga. Kukira sudah subuh, ternyata masih pukul tiga. Hujan deras, pula. Ya sudah, aku putuskan kembali menutup mata.

Di sesi tidur ke dua tadi, aku bermimpi, absurd sekali.

Ah, tadinya aku ingat babak pertamanya. Namun sekarang sudah lupa.

Yang kuingat, bagian tengahnya. Aku bersama beberapa orang pergi berwisata, naik sepeda. Ke Cirebon nampaknya.

Di sebuah rumah makan kami berhenti, karena perut lapar sekali.

Setelah memesan, makanan tak kunjung tiba. Lama mananti tak juga disajikan di muka.

Aku tak sabar, segera ke dapurnya. Kulihat sepi tak ada kompor menyala. Di tengah tengah, yang punya rumah makan tiba. Ujug ujug keliatannya naksir aku, entah kenapa.

Aku tak berminat mendadak jengah. Setengah berlari, kuberteriak,” Gantengaan juga pacaaaar guaaaaaaaaaaa…”

Ini halusinasi macam apa, ya?

Bucin.

Hari gini, istilah “BUCIN” atau budak cinta lumrah kita dengar dan saksikan langsung.

Misalnya :

Cewek, yang selalu memastikan dan nyampe duluan saat janjian dengan cowoknya. Terkadang harus menunggu lumayan lama. Udah gitu, bisa tiba-tiba dibatalkan sepihak. Kata gue itu cewek itu bucin.

Cewek, yang selalu siap sedia, on call, tiap kali pasangannya membutuhkan. Sementara si cowok, oh belum tentyuuuuu… Kata gue tu cewek ya bucin.

Cewek, yang nurut-manut aja dilarang dan diperintah apapun sama pasangannya, sementara si pasangan susah diperlakukan sebaliknya. Kata gue, cewek itu bucin.

Cewek, yang tak berdaya dan memilih berada dalam toxic relationship padahal nggak jelas ujungnya, kata gue itu bucin banget.

Cewek, yang punya keluhan atau ketidakpuasan terhadap pasangan, memilih diam karena takut kehilangan, itu mah sudah pasti bucin.

Dan bagaimana sih caranya melepas titel bucin ini?

To be honest, I don’t really know. Bahkan untuk sekedar dikhayalkan gimana teorinya, I can’t get the clue.

Paling-paling, menurutku, yang bisa menyembuhkan ke-bucin-an seseorang itu adalah waktu.

Mungkin pada akhirnya seorang bucin berani mengambil tindakan setelah menjalani serangkaian peristiwa berulang yang membuat hatinya menggeliat. Karena biasanya majikan (karena pasangannya diistilahkan budak) tetap tak bisa memahami kondisi yang ada.

Yang sering kuamati sih , majikan biasanya memang tipe egois yang tak paham bagaimana berempati. Terkadang, sebuah hubungan terlihat seperti neraca yang miring sebelah.

Yeah.. in a relationship usually there’s someone who loves more than the other, it’s common. Tapi semestinya ngga jauh jauh amat lah selisihnya.

Kalau masing-masing bisa saling berempati, mau saling menerima, meminta dan memahami, maka neraca tersebut dapat berimbang. Kalau sudah berimbang, ya tentunya ngga ada yang namanya BUCIN, karena their feeling and effort are mutual.

https://pin.it/v2qnaowfs4ocjy

The Matter of Trust.

Once I always say to my man : “ I trust you, but I don’t trust that girl. So do what you think you must do about it.”

Then I never brought that matter up again.

Years passed me by, and ofcourse, I have learnt some valuable lessons. One of them is : beside your loving family, there’s nobody you can trust except yourself.

Some good friends might earn your trust, but a man in this digital and social media environment?

No, sir.

Valentine 2020

Current status : single but not that available

Current thought : I’d rather have a loyal and trustworthy maid than a husband at the moment

Current plan : will go for a bicycle ride wearing pink t-shirt this afternoon, or.. attend a bicycle community meeting also in pink t-shirt, haha!

Current mood : in between house chores and the urge to get back to work to earn money for winter trip 2020

Laki-laki dan Media Sosial.

“ Kenapa ya, ni orang nge-like postingan kamu terus?”

Faktanya : malah si Mas yang lebih sering nge-like postingan cewek-cewek. Katanya,” Ah gitu doang..Orang kenal, ga ada apa apa.. Cuma teman.”

“ Asal kamu tahu ya, aku ngga demen sama si Ini. Komen mulu di medsos kamu, eh malah kamu jawabin!”

[ Lah masa orang komen didiemin? ]

Faktanya : Coba deh sesekali minta lihat isi chat di hape si Abang. Mau chat pribadi ataupun grup yang isinya random cowok dan cewek (apalagi kalau ada sosok cewek yang lumayan jadi pusat perhatian). Trus katanya,” Ah itu kan cuma bercanda…”

“ Kenapa sih kamu ngotot banget main sama orang itu? Aku sih yakin kamu ngga ada apa apa sama dia. Tapi ga bisa cari temen yang lain apa?”

Faktanya : Si Aa’ ngerasa sah-sah aja meladeni cewek lain yang jelas jelas sudah ngode-in melalui chat atau direct message. Eh gak jarang, si Aa’ yang iseng komentar duluan di postingan Instastory embaknya. Katanya,” Aku ngga suka sama dia, pegang kata-kata aku. Aku ngga suka cewek kayak dia karena..bla…bla..bla…”

[ ..dan kemudian mereka tak terpisahkan kemana pun bersamaaa…maaa…maaaaa… *yearight*]

“ Aku ini laki-laki. Aku tahu modus itu gimana. Dia itu pasti naksir sama kamu. Hapus! Blok dia!”

Faktanya : bagi beberapa laki-laki, komentar berupa ajakan ngopi atau hang out yang ia lontarkan di media sosial dengan teman wanita cuma sekedar asal nyeplos. “Kan ngga aku lakuin?” Gitu katanya… Enteng.

Di era dijital ini, sesungguhnya hanya Tuhan dan bajaj yang tahu, apa gimana isi percakapan di aplikasi chat, direct message dan komentar komentar seorang pria di media sosialnya. Ataupun apa niat seorang pria dalam berinteraksi dengan lawan jenisnya melalui media sosial.

Gak masalah, jika alasannya iseng dan sekedar bercanda. Asal bisa dengan bijak pula dooooong, menanggapi isi media sosial pasangannya.

Jika emang ngga ada niatan aneh-aneh, mestinya seseorang itu, ngga laki-laki atau perempuan, ya cuek aja jika telepon genggamnya dilihat, atau dioprek chat maupun media sosialnya. Eh tapi tetap dengan izin ya.. walau bagaimanapun hape itu memang sesuatu yang personal.

Jadi jika si Do’i adalah tipikal laki-laki yang santai saja jika kamu memegang dan membuka hapenya tanpa kamu minta, KEEP HIM!

Oh keep him tight!

https://pin.it/XnYZmmn

Perjanjian Pra Nikah

Buat beberapa, atau banyak orang pre-nuptual agreement atau perjanjian pra nikah itu dianggap tabu.

“ Belum juga nikah tapi seperti mendo’akan hal-hal yang ngga baik,” begitu katanya.

“ Mau ibadah kok malah sibuk mikirin harta, belum juga apa-apa..” begitu katanya.

“ Nanti beneran kejadian loh!” begitu katanya.

Loh.. kok malah nyumpahin, ya?

Padahal, menurut pendapatku, pre-nup malah justru memberikan kenyamanan dalam menjalani biduk rumah tangga kelak.

Mau selingkuh, oooo… ada ketentuannya, dan tentu… ganjarannya.

Mau main tangan? Awas, nanti bisa berakibat hilang harta yang susah payah dikumpulkan bersama.

Mau beristri lagi? Wah, boleh saja asal siap kalau nanti pasangan minta cerai dan sebagian besar (atau bahkan semua) harta diserahkan pada pasangan dan anak anak dari buah perkawinan.

Pasangan tak bisa merawat diri, tak bertutur kata dan bertingkah laku baik, tak melaksanakan kewajibannya? Silakan saja ajukan gugatan selama ada bukti.

Tenang bukan, semua ada aturannya? Membuat draft aturan ini pun tentunya atau sebaiknya dilakukan bersama dengan calon pasangan hidup kelak. Jadi tak seperti kontrak antara majikan dan pekerja, semua atas kesepakatan bersama yang kelak disahkan secara hukum.

Tak apa apa , keluar modal sedikit menggaji pengacara. Memang mereka yang mengerti tata caranya kok. Yang penting kan tenang menjalani pernikahan kelak.

Surat kesepakatan, ngga usah dilihat-lihat lagi. Umpetin di brankas, atau safe deposit box juga bagus. Yang penting, ada dan disimpan saja. Buat berjaga-jaga kok itu.

Taken from https://pin.it/udvwuAC