Perjanjian Pra Nikah

Buat beberapa, atau banyak orang pre-nuptual agreement atau perjanjian pra nikah itu dianggap tabu.

“ Belum juga nikah tapi seperti mendo’akan hal-hal yang ngga baik,” begitu katanya.

“ Mau ibadah kok malah sibuk mikirin harta, belum juga apa-apa..” begitu katanya.

“ Nanti beneran kejadian loh!” begitu katanya.

Loh.. kok malah nyumpahin, ya?

Padahal, menurut pendapatku, pre-nup malah justru memberikan kenyamanan dalam menjalani biduk rumah tangga kelak.

Mau selingkuh, oooo… ada ketentuannya, dan tentu… ganjarannya.

Mau main tangan? Awas, nanti bisa berakibat hilang harta yang susah payah dikumpulkan bersama.

Mau beristri lagi? Wah, boleh saja asal siap kalau nanti pasangan minta cerai dan sebagian besar (atau bahkan semua) harta diserahkan pada pasangan dan anak anak dari buah perkawinan.

Pasangan tak bisa merawat diri, tak bertutur kata dan bertingkah laku baik, tak melaksanakan kewajibannya? Silakan saja ajukan gugatan selama ada bukti.

Tenang bukan, semua ada aturannya? Membuat draft aturan ini pun tentunya atau sebaiknya dilakukan bersama dengan calon pasangan hidup kelak. Jadi tak seperti kontrak antara majikan dan pekerja, semua atas kesepakatan bersama yang kelak disahkan secara hukum.

Tak apa apa , keluar modal sedikit menggaji pengacara. Memang mereka yang mengerti tata caranya kok. Yang penting kan tenang menjalani pernikahan kelak.

Surat kesepakatan, ngga usah dilihat-lihat lagi. Umpetin di brankas, atau safe deposit box juga bagus. Yang penting, ada dan disimpan saja. Buat berjaga-jaga kok itu.

Taken from https://pin.it/udvwuAC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s