Covid-19, Di Rumah Aja dan Kebandelan Saya

Sepengetahuan saya, yang namanya virus berkaitan erat dengan daya tahan tubuh. Penyebarannya memang bisa sangat cepat, tetapi terinfeksi atau tidaknya tentu tergantung daya tahan tubuh seseorang.

Bagaimana meningkatkan daya tahan tubuh seseorang? Olahraga rutin, pelihara pola makan yang baik, dan selalu menjaga kebersihan. Sudah, sesimpel itu saja.

Minum vitamin? Saya sih kalau perlu saja. Lebih baik minum madu murni, makan buah dan sayur segar. Saya kurang suka mengkonsumsi apapun jenis pil dan kapsul.

Ketika wabah virus Covid-19 melanda seperti saat sekarang ini, bohong kalau saya tidak merasakan ketakutan. Awalnya engga terlalu, masih tenang-tenang saja meski tetap waspada.

Namun ramainya pemberitaan di berbagai media, diskusi-diskusi yang terkadang bercampur antara fakta, parnoisme, sotoy dan hoax di sosial media juga aplikasi chat tak urung berpengaruh pada benak saya yang sebelumnya sudah cukup “zen”.

Situasi di lapangan di mana jalanan Jakarta yang biasanya penuh hiruk pikuk mendadak lengang seperti hari ke dua Lebaran. Di mana mana orang nampak bergegas dengan masker menutupi sebagian muka dengan minim kontak mata. Teman, saudara, tetangga enggan berjabat tangan lagi.

Restoran, tempat makan sepi dan akhirnya melayani hanya pesanan untuk dibawa pulang, atau tutup total demi menghindari kerumunan.

Dengungan, himbauan, seruan dengan tagar “di rumah saja” tak henti henti digaungkan.

Ketika saya memutuskan tetap melakukan aktivitas olahraga di udara terbuka di luar rumah, saya kontan mendapat komentar heran dari beberapa teman.

“ Kok berani sih?”

“ Nekad!”

“ Bandel!”

Duh. Hari gini, beraktivitas di luar rumah ibarat keluyuran tanpa pake celana deh….

Tahu ngga, saya baru punya masker penutup wajah dua minggu sejak awal masa karantina. Bukan kenapa-napa, saat itu susah sekali membeli sekotak masker sekali pakai karena orang-orang serentak menumpuk masker wajah.

Saya hanya punya 2 hand sanitizer kecil, karena lebih nyaman mencuci tangan dengan sabun di wastafel. Belakangan, bertambah dua buah hand sanitizer itupun peninggalan dari 2 orang teman.

Sedikit selingan, perkara cuci tangan dan berjemur di udara pagi saya terpengaruh dengan komik dan kartun Jepang yang sedari kecil saya tonton.

Saya lupa filmnya apa, namun ada salah satu adegan, seorang kakek berkata,” Biar tak mudah sakit, selalu cuci tangan di manapun engkau sampai di tujuan.”

Sejak saat itu, di manapun saya tiba, mau di rumah, di restoran, di rumah teman, tempat les anak, rumah sakit, saya terbiasa langsung menuju wastafel untuk mencuci tangan. Setiap anak saya pulang sekolah, kata-kata pertama saya adalah,” Cuci tangan!”

Sedangkan berjemur, di tahun 90’an ada komik anak anak berjudul Kobo-Chan. Dalam komik tersebut, si Kobo ini punya kakek yang mengajarkan setiap pagi untuk berjemur agar mendapatkan tubuh yang kuat.

Memang ya, untuk masalah kebersihan dan menjaga kesehatan kita bisa belajar dari bangsa Jepang.

Oke. Kembali ke Covid-19 situesyen….

Membeli kacamata pelindung dan jaket tudung kepala dengan tirai plastik untuk melindungi wajah? Belum berminat.

Saya tidak serta merta berburu empon-emponan, jamu-jamuan dan “superfood” lainnya. Minum air rebusan jahe dengan irisan lemon sih, memang lebih dahulu sering saya lakukan. Tapi dulu niatnya untuk melegakan keluhan sinusitis.

Saya kemudian hanya mau membaca informasi dari situs resmi pemerintah dan WHO terkait perkembangan kasus Covid-19. Setiap pesan berantai atau unggahan sosial media yang diragukan kredibilitasnya saya lewati.

Tidak ada perlakuan istimewa dengan menyemprot tubuh mereka dengan diainfektan apalagi pemutih pakaian bagi teknisi, abang ojol, kang pijet, kurir yang memang harus datang ke rumah.

Saya juga malas mencuci satu persatu barang belanjaan dari supermarket atau kang sayur dengan disinfektan food grade. Biasa saja, seperti dulu sebelum virus ini merebak.

Terlalu cuek?

Bisa jadi.

Kenapa? Ya karena saya berpatokan pada paragraf pertama hingga ketiga dari tulisan ini.

Selain itu, saya sadar betul bahwa saya tak punya enerji lebih untuk merasa parno. Mental saya ngga kuat, beneran. Selama pandemi ini, sudah beberapa kali saya terkena serangan panik, psikosomatis dan anxiety. Dan itu rasanya sumpah, TIDAK ENAK.

Terkungkung di dalam rumah memang menimbulkan sedikit rasa aman. Namun fisik saya rupanya protes, mengingat saya terbiasa melakukan olahraga rutin indoor dan outdoor.

Sinus bolak balik kumat, badan kaku, linu, pegal seperti habis dipukuli. Sakit kepala, masuk angin, segala rupa deh.

Saya tidak dapat pergi ke pusat kebugaran, karena selama pandemi ditutup total. Untungnya masih bisa bersepeda, dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

Saya mencoba melakukan olahraga sendiri di rumah, namun mohon maaf… Tidak pernah sukses. Banyak permisifnya dan selalu berakhir dengan menggeledah isi kulkas, hahahaaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s