Kelas Malam di Masa Pandemi

Kemarin baru pertama kalinya aku bersepeda malam hari selama masa karantina. 2 minggu terakhir, untuk bersepeda keluar kompleks seorang diri pun aku sudah tak berani lagi. Karena bertepatan denganbulan puasa, maka mau tak mau aku dan 3 orang teman baru bisa bersepeda setelah berbuka.

Seraya berkendara menuju pusat Jakarta, kulihat beberapa orang menuju masjid untuk shalat tarawih. Sedikit, biasanya bapak bapak dan ibu ibu yang sudah agak sepuh. Tak apa, aku enggan mengomentari. Yang penting bapakku yang sebelumnya bak remaja masjid, kini anteng di rumah.

Jika biasanya Jakarta hingar bingar, indah dengan lampu-lampunya, namun tadi malam tidak sama. Senayan City gelap, Plaza Senayan seperti mati. Tempat mangkal komunitasku di STC apalagi, temaram dan sepi. Parkir mobil diarahkan ke rubanah, tak bisa di lahan atas lagi.

“Takut dirazia,” kata Pak Satpam.

Menyusuri jantung kota Jakarta dengan bersepeda malam kali ini terasa berbeda. Gedung perkantoran dan pusat niaga di sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin seperti mati suri.

Jakarta benar-benar kehilangan lebih dari setengah kemolekannya. Meski demikian, walau tanpa bintang, langit terlihat jernih berwarna biru pekat. Tanpa ada semburat kelabu seperti biasa kulihat setelah lebih dari 20 tahun menetap di sini.

Untuk bersepeda, enak. Tidak banyak kendaraan bermotor dan asap knalpot yang terhirup. Masih ada pesepeda yang berkeliaran seperti kami, namun dengan grup kecil bahkan ada yang seorang diri. Ah, sebaiknya jangan lakukan solo riding. Ngeri, kriminalitas lagi meninggi.

Jalan protokol terhitung sangat sepi, meski sesekali di jalur tengah, serombongan bocah ngehe dengan motor kopling tarik-tarikan. Sayangnya, beberapa di antaranya tanpa mengenakan helm, dibiarkan saja oleh polisi.

Hampir semua resto, coffee shop, bahkan warung makan pinggiran tidak menyediakan makan di tempat. Beberapa warung emperan andalan bahkan tutup sama sekali, tampaknya sudah pulang kampung duluan.

Tak mengapa bagiku, jika ada 1-2 pedagang atau pengusaha resto yang nekat tetap menerima tamu untuk makan. Karena paling tidak 20 bahkan 30 orang lainnya tertib kok, mengikuti anjuran pemerintah.

Jika bersepeda selalu berjalan dua sesi, yakni makan malam dan ditutup dengan ngopi, tadi malam tak begitu lagi. Setelah mengisi perut sekedarnya, kami membubarkan diri. Pulang, dan segera langsung mandi.

Untuk diriku sendiri, saat sudah berbaring dengan pakaian bersih, aku akhiri hari dengan rasa terima kasih. Meski di masa sulit begini, aku, keluarga dan teman teman terdekat masih sehat, dan rezeki masih terpenuhi. Jadi, apa yang harus aku keluhkan lagi…..?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s