Dunia Pernikahan

Belakangan ini, di lini masa sebuah media sosial sedang ramai bahasan drama korea tentang kehidupan rumah tangga yang bertema perselingkuhan.

Membaca komentar para netijen, wah… lumayan sadis. Rata-rata meneriakkan makian : “PELAKOR!!!!”

Itulah Indonesia, yang menurutku masih terlalu sangat amat patriarki banget. Laki-laki ditempatkan lebih tinggi dari perempuan.

Sedangkan sesama perempuan, lebih suka memaki sesama perempuan daripada menghajar langsung pacar, suami atau selingkuhannya.

Istri sah : ” Dasar pelakor!!!! Perempuan tak tahu diri!! Penggoda!! Pelacur!!! Perempuan hina! Dasar janda!!!”

Dan seterusnya.

Selingkuhan : ” Dasar gendut!! Jelek! Tua!!! Ngga bisa ngurus suami!! Tolol!! Lo tanya dong sama laki lo kenapa mau ama gua!! Makanya urusin tu badan!! Bego!! ”

Dan seterusnya.

Sementara sang laki laki hanya diam saja sambil lirik ke kanan dan ke kiri.

Netijen : ” Emang dasar pelakor!!! Udah tau milik orang masih aja mau! Jahat! Sampah!! Kucing disodorin ikan asin ya mau aja!! Perempun baik-baik ngga akan merebut milik orang!!! Pergi ke neraka sana!!”

Atau…

” Ya gimana lakinya ngga lari, lah dia gak jaga badannya, muka juga ampe rengsek gitu. Beli skin ker kek, nyalon kek, langsingin badan kek…”

Dan seterusnya.

Sang laki-laki yang diumpamakan kucing garong tadi entah kenapa, nyaris tak tersentuh oleh makian.

Padahal, sebenarnya laki-laki yang punya kuasa penuh untuk berselingkuh atau tidak. Pilihan ada di tangannya, begitu pula sebaiknya konsekwensinya.

Mau istrinya secantik bidadari atau seambyar apapun wajahnya atau bertubuh seperti kulkas tujuh pintu, adalah pilihan laki-laki untuk tetap setia atau berpaling.

Mau secantik apa wanita kedua yang dengan hebat menggodanya, dia yang punya pilihan, kok untuk tetap memegang teguh komitmen pernikahannya, atau mendua.

Jadi, berhentilah memaklumi pria dalam sebuah perselingkuhan. Ketiganya pasti sama ngaconya. Tak berarti seorang istri sah itu pasti tanpa cela, tak berarti pula seorang wanita kedua itu pasti sebegitu nista. Setiap case tentunya berbeda.

Berhentilah menjadi hakim dengan menyamaratakan kasus rumah tangga orang. Apalagi jika hanya berkaca dan menurut pemikiran kamu sendiri.

Hey, kamu bukan dia. Pasanganmu dan kamu bukan mereka. Karakteristik masing-masing individu dan masalah yang dihadapi sudah pasti berbeda. Jadi belum tentu sama.

https://pin.it/2smKKHS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s