Mentalitas

Kalau mendengar seorang laki-laki berkata padamu : ” Aku mencari pasangan yang bisa diajak hidup susah…” baiknya kamu segera minggat.

Apalagi kalau bapakmu selama ini cukup bisa memberikan sebuah kenyamanan hidup.

Kasihan.

Di mana-mana orang tua itu selalu ingin anaknya menjalani hidup lebih baik dari yang selama ini mereka bisa berikan. Paling tidak, sama lah. Jangan malah semakin susah.

Kata-kata di atas tadi seperti terdengar ucapan dari seorang pesimistis, dan… pemalas!

Sudah seharusnya seorang laki-laki itu bekerja keras mencari nafkah. Seperti sudah seharusnya juga wanita itu bekerja keras di rumah.

Semua orang tahu, jika hidup itu tentang naik dan turun. Tapi mental pekerja keras tentu akan bisa melewati tantangan hidup. Bukan yang belum apa-apa sudah pesimis bahwa akan membawa anak perempuan seseorang hidup susah.

Jadi..minggat aja deh, kalau denger begituan.

Lebaran Minimalis

Jika ada yang berkeluh kesah Lebaran kali ini tak bisa bertemu keluarga besar, sungkem bersentuhan tangan, ingatlah ada keluarga yang tercerai berai. Syukurilah masih bisa tersenyum dan berpose lengkap, ayah, ibu dan anak-anak kalian. Karena itu yang paling utama.

Jika ada yang menyayangkan tak bisa berpesta dengan sajian lengkap seperti tahun sebelumnya, ingatlah ada keluarga yang tengah kebingungan karena kepala keluarga baru saja kehilangan pekerjaan.

Jika ada yang bersedih baru saja kehilangan orang yang disayang, ingatlah hari ini diri sendiri maupun orang-orang ditinggalkan masih diberi nafas dan masih dapat bersentuhan.

Jika ada yang mengenakan busana yang sama dengan tahun sebelumnya, ingatlah bahwa tak ada juga yang mengingat, melihat atau memujinya.

Lebaran kali ini memang mengajarkan banyak hal. Untuk kita lebih menahan diri, mawas diri, banyak berterima kasih dan berdamai dengan keadaan. Mungkin itu, yang selama ini dirasa kurang, oleh Tuhan.

6.5

Do you know when it’s time to realize that maybe you should leave that toxic relationship?

It is when someone is trying to change who you really are

It is when you always get punished for making your partner feel bad, whether you’re wrong or right

It is when your partner decides your social life

It is when you feel your faithfulness and loyalty is never enough

It is you, who always beg for forgiveness

It is when your partner makes you think that you are easily replaceable

It is when your concern is probably heard, but never acknowledged

It is when you try to speak your mind and your partner pointed at your fault and flaws instead

It is when you feel like your anger and frustation escalating day by day or worse, year by year

It is when when you can’t see and talk about the future…….

Melihat Manusia, Namun Bukan Kemanusiaan

Unggahan di salah satu media sosial mengatakan : WHO tidak menjamin bahwa virus Corona akan benar benar hilang dari muka bumi. Satu-satunya harapan adalah dengan diketemukannya vaksin, yang nanti semestinya mudah diakses segala pihak. Eh satu lagi, ada obatnya juga, buat mereka yang kadung sakit.

Seketika aku teringat film tentang kiamat berjudul : 2012. Dalam film tersebut, digambarkan upaya menyelamatkan umat manusia dari kehancuran dunia dengan menggunakan bahtera besar, seperti apa yang dilakukan Nabi Nuh.

Umat manusia yang segitu banyak, tentu berbanding jauh dengan jumlah bahtera yang sekian biji. Mudah ditebak, yang dapat kesempatan untuk berada di dalamnya adalah orang orang VIP dan tentu, yang kooooayaaa roooayaaa banget.

Kembali ke masalah vaksin, mungkin saja mirip seperti yang digambarkan oleh film tadi. Begitu vaksin diketemukan, keistimewaan untuk dienjusss vaksin ini mulanya akan diberikan kepada orang-orang penting, dan si koooayaaa roayaaa yang gak masalah kalau harus membeli mahal sekaligus memborong vaksin-vaksin tersebut untuk istri, anak, aa’, teteh, om, tante, kolega bisnis, pacar gelap dan entah siapa saja yang dianggap penting.

Sama seperti rush buying masker saat pertama kali Indonesia konfirm terkena kasus Covid-19.

Satu keluarga bisa menumpuk berkotak-kotak masker sekali pakai.

Oooo, ternyata ada masker yang lebih canggih, impor yang tentunya lebih mahal? Ngga masalah! Punya berapa kotak? Borong semua!

Akhirnya, tenaga medis sempat kekurangan masker.

Akhirnya si keroco, orang kebanyakan serta rakyat jelata sempat hanya mampu membeli 1 pak masker isi 3 lembar. Itupun ada yang mencuci ulang, soalnya susah banget di pasaran.

[ Syukurlah saat tulisan ini diketik uda ngga gitu lagi ]

Kayak toko onlen, jika sampai ada open PO pemesanan order vaksin Covid-19, yakin bener dah…pesanan membludag sampai server hang.

Lah, pemesanan karcis nonton band U2 nyinden di Singapura kemarin aja begitu dibuka ludes dalam hitungan beberapa jam dan sampai websitenya hang kok. Padahal, ngga semua umat manusia demen U2.

Di deretan list open PO vaksin Covid-19, aku bayangkan posisi teratasnya para VVIP, VIP seperti pejabat, konglomerat, atau artis terkenal yang punya koneksi ke pejabat..

Aduh.. gak usah level negara deh.. tempo hari aku lihat sendiri pejabat daerah aja bisa gampang dapat rapid test kit sekian biji, bukan cuma buat keluarganya yang berjumlah 3 orang. Tapi sekalian 5 lagi buat keluarga cem-cemannya. Biasanya yang gini gini mah kaga bayar. Secara ghoib tau tau sudah dapet jatah.

Di deretan list berikutnya, ada pengusaha pengusaha kaya, karyawan sukses, pewaris tahta bisnis, para keturunan keluarga kaya 7 turunan..ah simpelnya mereka-mereka yang punya duit boooanyak banget dah.

” Pesan 150 vaksin! Saya langsung bayar! 4 buat saya, istri/suami, 4 buat ayah bunda dan kedua mertua, 8 buat supir-kang kebon-pembantu saya, 3 buat guru les anak anak saya, 30 buat kolega bisnis teratas saya…(terus panjang listnya)…sisanya buat jaga jaga. Inget ya, saya langsung bayar!!!”

Ngga menutup kemungkinan, ada modelan orang yang kayak saya gambarkan di atas. Lah, kayak di film 2012 tadi, tokoh konglomerat Rusia di situ bisa membawa serta mobil-mobil mewahnya kok, dalam bahtera penyelamatan. Padahal, jatah untuk 1 mobil itu bisa diisi oleh berapa banyak manusia?

Begitulah… terkadang manusia hari gini itu suka lupa untuk merasa cukup. Kalo bisa makan 7 donat kenapa mesti puas cuma dengan 3? Padahal, 3 itu sudah bikin begah.

Lah, yang 4 kan disimpan buat jaga-jaga kalau lapar? Begitu katanya.

Padahal di luar sana banyak yang di waktu yang sama, sudah dari kemarinnya kemarinnya merasakan lapar.

However….

Skenario open PO vaksin di atas semoga tak terjadi sampai gitu-gitu amat, deh. Jika benar nanti vaksin Covid-19 diketemukan dan diperlukan, pendistribusiannya niscaya akan diatur dengan adil dan merata.

Eh..

Tapi entah kenapa kok aku agak ragu sinis gimana gitu ya..>_<…

Karena, sama seperti pedagang penimbun masker, bisa jadi kelak ada juga calo vaksin…

Terserah, mungkin begitu di benak orang orang ini, yang penting aku aman..dan untung!

Manusia dan Covid-19

Selama masa pandemi ini, aku mengamati ada 3 jenis manusia :

1. Tim Parno, termasuk di antaranya mereka yang mendadak histeris melihat orang lain tidak menjaga jarak, tak mengenakan masker, masih keluar rumah, masih berolahraga outdoor, dan masih berkerumun.

2. Tim Nanggung. Ya gitu, mereka berusaha tetap menjaga protokol kebersihan dan kesehatan namun masih nekat sesekali beraktivitas di luar rumah tanpa mau banyak mikir macem-macem.

3. Tim Somsek. Yaitu adalah mereka yang gagah berani berkoar-koar tidak takut akan virus Covid-19 : “Hidup-matiku-di-tangan-Tuhan-jadi-bodok-amat-gue-mau-ngapain-suka-suka-gue-weeew!”

Kamu yang mana?

Bapak

Jika setelah dewasa seorang anak perempuan lebih dekat dengan ibunya, mungkin itu sudah biasa.

Jadi, perlu bertanya : bagaimana jika anak A, bagaimana masak ini, obat tradisional apa yang tepat , bumbu dapur mana yang dipakai, sapu mana yang lebih baik, bagaimana merawat baju putih yang terkena noda ini, mengapa tanaman itu tak kunjung berbuah… yaaa, yang begitu begitulah.

Tapi aku sepertinya tidak.

Urusan anak dan kewanitaan aku mayoritas belajar sendiri. Terlahir sebagai anak pertama, aku mau tak mau mesti bisa mandiri. Sedari kecil, aku sudah mikir sendiri, bahkan menisik atau menjahit seragamku sendiri.

Gimana ya…

Bukan berarti ibuku tak mengurusi aku. Mungkin saja kala itu ia sudah sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurusi kedua adikku. Dan saat itu kami jarang sekali punya pembantu. Paling sering, adanya bibik gosok yang datang cuma untuk setrika, lalu pulang.

Mungkin juga aku tipikal orang yang malas nunggu, malas ribet. Jadi kalo bisa kuselesaikan sendiri, ya kuselesaikan sendiri, tanpa menunggu dibantu ibu.

Sementara bapakku, yang kukenang dari bapakku adalah ia orang yang memegang teguh komitmen sebagai seorang pegawai.

Hidupnya hanya bekerja untuk keluarga. Hobi pun ia nampaknya tak punya. Uang hasil keringatnya semua diberi ke ibuku untuk dikelola.

Waktu aku di usia sekolah dulu, aku lebih suka minta sesuatu sama bapakku. Enak, ngga ribet. Kalau iya, beliau bilang langsung iya. Kalau enggak, biasanya beliau diam agak lama, dan berkata : “Nanti, ya tunggu papa punya uang.”—> secara semua gajinya di tangan emak.

Di usia pensiun begini, bapakku akhirnya tinggal bersamaku, di ibukota. Sebelumnya, bapakku bertugas dan menetap di Kalimantan.

Sekarang, semua jadi seperti terbalik.

Jika dulu aku yang selalu meminta izin kepada beliau untuk ke luar rumah, les tambahan, ikut latihan ekstra kurikuler, sekarang terbalik.

Bapakku yang kini meminta izin kepadaku.

” Mmm.. papa ke sini ya…”

” Papa boleh ngga ke sana sebentar, ya?”

Bapakku juga sangat berhati-hati jika menginginkan dan meminta sesuatu kepadaku.

Padahal, beliau hanya perlu berkata, ” Papa mau ini dong. ”

Atau,

“Belikan papa itu dong.”

Dosa kan, kalau aku tak menuruti.

” Papa lagi kepengen itu, tapi ngga punya uang karena kemarin habis kirim mama.. kira-kira kamu ada yang ngga? Kalo ngga ada.. jangaan..”

(Aelah… padahal barang tersebut paling berapa harganya..murah!)

Antara geli, dan sedikit haru aku mendengarnya. Padahal meski rumah berstatus milikku, beliau kutempatkan setinggi-tingginya di sini.

Haru, karena beliau yang sebelumnya berkuasa penuh atas rumah tangga, sekarang menempatkan dirinya hanya sebagai anggota keluarga, dengan aku sebagai kepalanya.

Sekali lagi, bukan aku tak sayang ibuku. Tapi entah kenapa magnet bapakku terlalu besar sehingga tanpa sadar aku selalu mencari sosok beliau pada diri seorang pasangan.

Bapakku seorang pekerja keras.

Bapakku mudah berteman dan suka ngobrol.

Bapakku selalu punya kebutuhan untuk berderma.

Bapakku suka bercanda. Parah, apalagi saat menganalogikan sesuatu atau cela-celaan dengan ibuku.

Bapakku seorang penikmat makanan.

Bapakku memiliki prinsip tentang harga diri yang kuat.

Bapakku ngga pernah mau diperbudak uang, dan tahu cara menikmatinya.

Cuma satu saja kekurangannya. Beliau tak terbiasa berolahraga, boleh kubilang agaknya anti berkeringat. Nah.. kalau yang satu ini, baru kudapat dari ibuku!