Bapak

Jika setelah dewasa seorang anak perempuan lebih dekat dengan ibunya, mungkin itu sudah biasa.

Jadi, perlu bertanya : bagaimana jika anak A, bagaimana masak ini, obat tradisional apa yang tepat , bumbu dapur mana yang dipakai, sapu mana yang lebih baik, bagaimana merawat baju putih yang terkena noda ini, mengapa tanaman itu tak kunjung berbuah… yaaa, yang begitu begitulah.

Tapi aku sepertinya tidak.

Urusan anak dan kewanitaan aku mayoritas belajar sendiri. Terlahir sebagai anak pertama, aku mau tak mau mesti bisa mandiri. Sedari kecil, aku sudah mikir sendiri, bahkan menisik atau menjahit seragamku sendiri.

Gimana ya…

Bukan berarti ibuku tak mengurusi aku. Mungkin saja kala itu ia sudah sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurusi kedua adikku. Dan saat itu kami jarang sekali punya pembantu. Paling sering, adanya bibik gosok yang datang cuma untuk setrika, lalu pulang.

Mungkin juga aku tipikal orang yang malas nunggu, malas ribet. Jadi kalo bisa kuselesaikan sendiri, ya kuselesaikan sendiri, tanpa menunggu dibantu ibu.

Sementara bapakku, yang kukenang dari bapakku adalah ia orang yang memegang teguh komitmen sebagai seorang pegawai.

Hidupnya hanya bekerja untuk keluarga. Hobi pun ia nampaknya tak punya. Uang hasil keringatnya semua diberi ke ibuku untuk dikelola.

Waktu aku di usia sekolah dulu, aku lebih suka minta sesuatu sama bapakku. Enak, ngga ribet. Kalau iya, beliau bilang langsung iya. Kalau enggak, biasanya beliau diam agak lama, dan berkata : “Nanti, ya tunggu papa punya uang.”—> secara semua gajinya di tangan emak.

Di usia pensiun begini, bapakku akhirnya tinggal bersamaku, di ibukota. Sebelumnya, bapakku bertugas dan menetap di Kalimantan.

Sekarang, semua jadi seperti terbalik.

Jika dulu aku yang selalu meminta izin kepada beliau untuk ke luar rumah, les tambahan, ikut latihan ekstra kurikuler, sekarang terbalik.

Bapakku yang kini meminta izin kepadaku.

” Mmm.. papa ke sini ya…”

” Papa boleh ngga ke sana sebentar, ya?”

Bapakku juga sangat berhati-hati jika menginginkan dan meminta sesuatu kepadaku.

Padahal, beliau hanya perlu berkata, ” Papa mau ini dong. ”

Atau,

“Belikan papa itu dong.”

Dosa kan, kalau aku tak menuruti.

” Papa lagi kepengen itu, tapi ngga punya uang karena kemarin habis kirim mama.. kira-kira kamu ada yang ngga? Kalo ngga ada.. jangaan..”

(Aelah… padahal barang tersebut paling berapa harganya..murah!)

Antara geli, dan sedikit haru aku mendengarnya. Padahal meski rumah berstatus milikku, beliau kutempatkan setinggi-tingginya di sini.

Haru, karena beliau yang sebelumnya berkuasa penuh atas rumah tangga, sekarang menempatkan dirinya hanya sebagai anggota keluarga, dengan aku sebagai kepalanya.

Sekali lagi, bukan aku tak sayang ibuku. Tapi entah kenapa magnet bapakku terlalu besar sehingga tanpa sadar aku selalu mencari sosok beliau pada diri seorang pasangan.

Bapakku seorang pekerja keras.

Bapakku mudah berteman dan suka ngobrol.

Bapakku selalu punya kebutuhan untuk berderma.

Bapakku suka bercanda. Parah, apalagi saat menganalogikan sesuatu atau cela-celaan dengan ibuku.

Bapakku seorang penikmat makanan.

Bapakku memiliki prinsip tentang harga diri yang kuat.

Bapakku ngga pernah mau diperbudak uang, dan tahu cara menikmatinya.

Cuma satu saja kekurangannya. Beliau tak terbiasa berolahraga, boleh kubilang agaknya anti berkeringat. Nah.. kalau yang satu ini, baru kudapat dari ibuku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s