Mpus…

Aku punya dua ekor kucing, yang jantan namanya Meng, yang betina namanya Titi. Bukan kucing kece jenis impor, hanya kucing kampung biasa. Keduanya sekitar 4 tahun yang lalu, datang sendiri ke rumah ini.

Orang bilang, kucing itu tahu jika pemilik sebuah rumah menyukai mereka. Tapi menurutku yang lebih masuk akal adalah, mereka menetap karena sebuah pola. Sekali kamu beri makan mereka, mereka akan kembali lagi.

Singkat cerita, mereka berdua menjadi anggota keluarga di rumah ini. 2 tahun lalu, keduanya kusteril, agar meredam birahi dan kemungkinan beranak pinak.

Sadis, ya?

Tapi katanya, sterilisasi kucing merupakan salah satu wujud sayang pemiliknya. Kucing betina cepat sekali bereproduksi. 2 bulan setelah melahirkan, ia bisa segera bunting lagi.

Kehamilan yang terlalu sering dikatakan dokter hewan juga tidak baik untuk kesehatan kucing betina. Belum lagi, yaa namanya kucing kampung ya.. anak anaknya bisa keleleran. Bisa dimangsa kucing jantan, atau predator lainnya. Belum yang terlindas kendaraan. Aduh.

Sayangnya, ada hal lain yang tak kuketahui tentang pemeliharaan kucing. Bahwa makanan kering yang selama ini kuberikan tak terlalu baik untuk mereka.

Semestinya kuselang seling dengan makanan basah. Aku hanya sesekali memberi makanan basah seperti ikan atau ayam, sisa masakan.

Karena rupanya makanan kering ini tidak terlalu baik bagi ginjal, terutama bagi kucing jantan yang telah disteril.

Seperti manusia, Meng mengalami kesulitan buang air kecil. Anyang-anyangan, sepertinya. Kasihan, ia tampak tersiksa sekali, lesu dan akhirnya kami memutuskan ia lebih baik di opname.

Berdasarkan info yang kami dapat, makanan yang dikonsumsi Meng sudah pasti harus diganti, dengan jenis yang..uhm..6-7 kali lipat lebih mahal dari makanan sebelumnya.

Yasudahlah, tak apa apa, ketimbang harus menyaksikan Meng menderita seperti tengah sembelit, di pojokan.

Maaf

Kapankah kata “maaf” kehilangan maknanya?

…itu adalah ketika maaf dilafazkan hanya sekedar untuk tidak memperpanjang masalah, tanpa menemukan solusinya.

…itu adalah ketika maaf berkali kali diucapkan tanpa ada niat, usaha dan perbaikan dari perbuatan yang dikeluhkan

…itu adalah ketika setelah diucapkan, tak lupa diimbuhi dengan kata “tapi….” atau “padahal…”

Menjadi seorang pemaaf itu memang mulia. Namun adakah yang bisa dimaafkan dari kata “maaf” yang diiringi kejadian-kejadian di atas?

Kerokan, Mitos ataukah Fakta?

Sejujurnya, saya tidak pernah bisa mengerti tentang keluhan “masuk angin” yang lumrah terjadi di sekitar kita ini.

Masuk angin biasanya ditandai dengan rasa kembung pada perut, mual-mual, kerap bersendawa, perasaan berat di sekitar pundak dan leher, dan jika sudah lumayan parah, kepala terasa sakit disertai pusing-pusing.

Perjalanan jauh, masuk angin.

Kena semburan AC atau kipas, masuk angin.

Telat makan, masuk angin.

Kecapekan, masuk angin.

Yang membingungkan saya adalah, ketika berada di negara asing saat musim dingin, saya tidak pernah masuk angin. Padahal, suhu minus, dan di beberapa kota seperti Amsterdam, Budapest atau Lisboa, anginnya tak hanya kencang, namun menusuk hingga sampai ke tulang. Aneh, ya?

Makanya bule bule itu mungkin bingung dengan kebiasaan kerokan ketika kita sedang masuk angin.

Kata mereka, mitos saja itu. Ngga ada yang namanya “enter wind”, itu hanya gas. Cukup minum teh jahe, atau peppermint, istirahat, kamu akan segera sembuh.

Aduh mister, andaikata bisa semudah ituuuuu…

Pada kenyataannya, kondisi masuk angin ini bisa beraneka rupa. Ada yang cukup dengan minum teh panas, makan mi instan rebus, dilanjutkan dengan tidur, sesudahnya angin tersebut lenyap.

Namun ada juga angin yang betah hingga berhari hari, yang menyebabkan keluhan tidak enak badan yang juga berhari-hari.

Saya sih, termasuk orang yang amat membatasi kerokan. Saya tak terlalu suka dengan “tato sementara” berbentuk tulang ikan itu menghiasi punggung dan leher saya.

Namun, jika kondisi tidak enak badan akibat masuk angin ini sudah saya alami hingga lebih dari dua hari, biasanya tak ada jalan lain bagi saya selain mencari koin dan sebotol minyak kayu putih.

Minum teh panas, sudah.

Makan makanan berkuah, sudah.

Minum parasetamol, sudah.

Tidur yang banyak, sudah.

Pasang koyo, sudah.

Tapi masih terasa “berat” juga?

Ya sudah… kerokan!

Sesudah kerokan, sembuhkah saya?

Ajaibnya… iya!

Jadi jika secara medis dikatakan masuk angin dan kerokan itu hanya mitos, terserah saja. Pada kenyataannya, kerokan sering kali berfungsi sempurna kok, buat saya.

https://pin.it/YkAtS1I

Afirmasi.

I really really thankful for the roof we’re living under.

Karena banyak orang yang belum memilikinya, atau tengah berjuang mendapatkannya, aku sudah memiliki tanpa perlu pusing memikirkan sewa kontrak atau cicilan.

….So I should not complain about the bills.

I really really thankful for the food on our table.

Ketika yang lain tengah berjibaku atau dilanda kegundahan untuk bisa makan, aku malah terlalu sibuk memikirkan liburan.

I really really thankful for my health, and the air that I still can breathe.

Karena di luar sana ada yang tengah didera nyeri, keputusasaan, dan segala cobaan dalam bentuk sakit.

I really really thankful for the love that I receive, from my parents, kids, siblings, family, special people, friends even my cats!

Banyak yang sudah harus merelakan kepergian orang tua, saudara atau orang yang disayang. Syukur ya Allah sungguh aku penuh puji syukur karena bapak, ibu bahkan seorang nenekku masih hidup hingga hari ini.

Not Sorry.

Maybe…. just maybe…

Some people thought I am a mean person and have hurt them badly.

Maybe, they’re right.

Maybe what I thought don’t matter still matters to them, somehow.

Maybe I never say sorry.

Because I always thought : what to sorry about?

Yea, maybe I am that bad.

That mean.

But I am still not sorry.

Kelulusan

Sekolah Kembang di kawasan Kemang, Jakarta Selatan adalah sekolah tingkat pendidikan dasar yang baik. Dengan pengajaran nilai-nilai yang juga sangat baik. Sekolah yang kukatakan semi peivate ini juga seru. Bagaimana tidak, anak anak tidak harus memakai seragam setiap hari, alias boleh pakai baju bebas, asal sopan dan rapi. Rambut anak laki-laki juga diperbolehkan panjang, gondrong. Tetap, asal rapi dan tentunya bersih.

Cuma ada 1 kelas untuk satu angkatan di Sekolah Kembang, dengan murid maksimal 20 anak. Tak heran, jika keterikatan batin di antara para murid sangat kuat. Lah gimana, yang dilihat dia lagi-dia lagi. Tentu ada 1-2 anak yang pindah ke sekolah lain, dan mungkin digantikan oleh 1 siswa baru. Tetapi lebih banyak anak anak yang selalu bersama bahkan sedari Taman Bermain di sekolah ini.

Hasilnya, anak-anak ini sudah lebih seperti saudara. Bahkan tak ada rasa sungkan untuk bermain bersama dan berkomunikasi dengan teman yang berbeda jenis kelamin.

Guru-gurunya pun cukup komunikatif tentang apapun perkembangan atau perubahan anak. Apalagi jika kamu modelan ibu ibu yang juga proaktif, mereka akan tanggap melayani.

Toleransi amat diutamakan di Sekolah Kembang. Tak seperti sekolah konvensional lain, dalam pelajaran agama, murid-murid mempelajari semua agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Sebagai gantinya, anak-anak memilih pelajaran agama masing-masing sebagai ekstrakurikuler. Atau ya, tambah sendiri di rumah.

Untuk anak-anak berkebutuhan khusus pun mendapat perhatian penting dari guru maupun sesama murid. Sekolah Kembang tidak mengizinkan shadow teacher. Jadi orang tua sebaiknya memastikan jika anaknya sudah bisa mandiri meski berkebutuhan khusus.

Kondisi fisik sekolah juga rapi, bersih dan menyenangkan. Secara keseluruhan, aku cukup puas telah memilih dan menyekolahkan kedua anakku di Sekolah Kembang.

Hari ini, anak keduaku lulus dari Sekolah Kembang. Tanpa seremoni, mengingat situasi pandemi yang sudah lebih dari 3 bulan mendera secara global. Tak mengapa, memang harus seperti ini jalannya. Toh masih ada jenjang SMP dan SMA yang akan dilaluinya.

Jika para ibu yang lain merasa sedih dan terharu,…sayangnya aku tidak. Padahal sudah l2 tahun aku mondar mandir di tempat di mana kedua anakku mengenyam pendidikan dasar di sekolah ini.

Dibalik rasa puas dan senang anak-anakku mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Kembang, terselip sebuah kelegaan untuk akhirnya tak perlu menginjakkan kaki lagi di situ.

Secara pribadi, tak banyak cerita indah yang bisa kukenang. Lebih besar kenangan bagaimana pahitnya perasaanku saat aku pernah menjadi bulan-bulanan pembicaraan beberapa orang tua murid di situ, terkait masalah pribadiku.

Pernikahanku pun berakhir saat anakku masih bersekolah di situ. Sebelumnya, lebih banyak tekanan yang kurasakan jika harus datang ke sekolah sebagai sebuah keluarga. Aku pernah menangis tersedu-sedu di hadapan wali murid anakku, karena perubahan yang harus dialami, sempat berimbas pula pada pendidikan anakku.

Aku memang tipikal orang yang susah melepaskan ingatan. Aku tak pernah lupa, dengan sebuah perasaan.

Ketika anakku memegang sertifikat kelulusannya hari ini, akupun merasa seperti merasakan tengah menjalani hal yang sama.

Seperti anakku yang akan mengarungi dunia baru di sekolah menengah, akupun merasa akan segera bergerak maju dan meninggalkan kenangan pahit masa lalu yang terus berulang saat masih harus mondar-mandir di sekolah itu.

Namun apapun itu, terima kasih kuucapkan untuk Sekolah Kembang. Atas semua yang telah dilewati. Terima kasih atas ilmu, persaudaraan, pendewasaan, kebahagiaan, kesedihan, canda, tawa, kepahitan, keseruan, tangis… terima kasih atas semuanya.

Luka Dalam Perkawinan

Mengapa seorang istri itu bisa demikian pemaaf setelah mengetahui cintanya dibagi?

Apakah di luar sana ada suami-suami yang juga bisa sedemikian pemaaf ketika mengetahui istrinya berkhianat?

Seperti apakah perubahan yang mereka alami, ketika memutuskan melanjutkan biduk pernikahan setelah mengetahui pengkhianatan ini?

Akankan mereka bisa kembali memupuk kepercayaan terhadap satu sama lain?

Mungkinlah pihak yang dikhianati secara tak sadar akan bertindak semena-mena atas dasar kesalahan yang dibuat pasangannya?

Apakah mereka akhirnya tetap bisa berbahagia hingga akhir hayat?

Ataukah mereka akan hidup dengan luka gores yang tak akan pernah hilang?

Bad/ Good Mother

What makes a woman the title of bad or good mother?

Because succesfully shaping her children as straight A students?

Or simply blessed for having independent and smart children?

What if her children were not academically smart but well behaved, is she also considered as a good mother?

What if .. her children are extremely smart but have lack of empathy? Or being a weird awkward person in social life? Does that mean she has done her job well too?

Unfortunately we are still living in a life where successfull parenting based on merely numbers and grades.

This, not only put pressure on our children, but also to us, parents.

( As if life was not getting more and more complicated everyday….)

Mentalitas

Kalau mendengar seorang laki-laki berkata padamu : ” Aku mencari pasangan yang bisa diajak hidup susah…” baiknya kamu segera minggat.

Apalagi kalau bapakmu selama ini cukup bisa memberikan sebuah kenyamanan hidup.

Kasihan.

Di mana-mana orang tua itu selalu ingin anaknya menjalani hidup lebih baik dari yang selama ini mereka bisa berikan. Paling tidak, sama lah. Jangan malah semakin susah.

Kata-kata di atas tadi seperti terdengar ucapan dari seorang pesimistis, dan… pemalas!

Sudah seharusnya seorang laki-laki itu bekerja keras mencari nafkah. Seperti sudah seharusnya juga wanita itu bekerja keras di rumah.

Semua orang tahu, jika hidup itu tentang naik dan turun. Tapi mental pekerja keras tentu akan bisa melewati tantangan hidup. Bukan yang belum apa-apa sudah pesimis bahwa akan membawa anak perempuan seseorang hidup susah.

Jadi..minggat aja deh, kalau denger begituan.