Sepeda Lipat Brompton : Demi Fungsi, ataukah Gengsi?

Beberapa waktu lalu, ada pernyataan menggelitik dari salah satu kawan di perbincangan Whatsapp Group.

Beliau, konon seorang pesepeda handal dari zaman dahulu kala, menyatakan bahwa orang-orang yang kini tengah demam sepeda Brompton, membeli sepeda asal Inggris itu hanya karena gengsi.

Menurut beliau lagi, masih banyak sepeda lipat merk lain, yang sama berjaban atau bahkan lebih enak dipakai namun dengan harga yang jauh lebih murah.

Belum lagi, belakangan ini Brompton diserbu beberapa kompetitor yang bentuk, cara melipat yang mirip, mungkin sekilas sama persis. Harga? Wah tentu di bawah harga Brompton yang untuk jenis paling standar saja sudah berkisar di angka 27 juta rupiah.

Menanggapi tentang kicauan si Beliau ini aku menjawab pendek,” Yah, jika bujet ada untuk membeli sebuah Brompton, kenapa engga? Yang bahaya itu kalau maksa, bahkan sampai berhutang demi membelinya.”

Jawabanku tadi ditanggapi Si Beliau dengan mengatakan bahwa itu merupakan jawaban standart (atau klise?) dari para pemilik sepeda lipat Brompton.

Lah, mau bagaimana lagi yak? Pikirku.

Pada kenyataannya, sepeda lipat ini menurutku memang memiliki kelasnya tersendiri. Dari bentuk, warna, dan tentunya kualitas.

Brompton sangat serius dalam merancang sepeda lipat, komponennya dibuat dari bahan yang berkualitas, rapi dan presisi. Bersepeda lebih tenang dan senang karena merupakan sepeda yang tangguh dan tidak mudah rusak.

Berdasarkan hasil Googl-ing dan Youtub-ing, sepeda lipat Brompton terhitung ringan (jangan tanya yang berbahan titanium) dengan metode pelipatan yang efektif dan cepat.

Komponen yang dipasang secara manual dan dengan cermat membuat kita tidak akan kesusahan untuk melipat sepeda Brompton ketika diperlukan.

Sebagai seorang wanita, aku merasakan sekali kepraktisan menenteng sebuah Brompton untuk naik kereta api atau MRT, ketimbang saat aku membawa sepedaku yang lain, sebuah Dahon tipe Archer. Di bagasi mobilpun, Brompton tidak memakan banyak tempat.

Memang benar, di luar sana mungkin ada beberapa sepeda lipat dengan harga yang jauh lebih mahal, atau jauh lebih canggih.

Tapi kalau aku boleh mengibaratkan dengan sebuah merek jam tangan, Brompton mungkin setara dengan Rolex.

Setiap kolektor jam tangan premium, biasanya di awal akan memiliki atau paling tidak pernah punya sebuah Rolex. Padahal mungkin dia juga memiliki sebuah Vacheron Constantine, Richard Mille, Audermars Piguet, atau Patek Phillippe yang juuuuaaauh lebih mahal.

Mungkin ini yang menyebabkan ketika orang menyebut : sepeda lipat premium, atau sepeda sultan, yang pertama terlintas di kepala orang awam adalah : Brompton.

Itu juga yang mungkin menyebabkan mengapa saat ini Brompton seperti membanjiri jalanan di ibu kota, atau di Gelora Bung Karno saban sore.

Kembali lagi ke pertanyaan sesuai judul : orang membeli Brompton demi fungsi ataukah gengsi? Lagi-lagi aku akan memberikan jawaban yang terkesan klise.

Gimana individunya.

Lah ya iya.

Aku pribadi, sebelumnya tak pernah berpikir bisa tercebur dalam komunitas persepedaan. Kupikir, aku tak berjodoh dengan olahraga yang satu ini.

Satu kali sekitar tahun 2013 aku pernah terpelanting, hingga tempurung lutut kanan geser.

Suatu hari di tahun 2014 atau awal 2015 aku pernah mengalami pelecehan orang sakit jiwa saat duduk di atas sadel sepeda.

Kupikir : “That’s it, I’m not going to do this (bersepeda).”

Awal 2019 lalu aku memutuskan iseng iseng bersepeda dengan menggunakan sepeda lipat lama yang selama ini hanya dipakai buat mondar mandir ke warung.

Saat aku diajak gowes bersama dengan sebuah komunitas sepeda Brompton, saat itu aku satu satunya perempuan dan satu-satunya yang menggunakan merek sepeda yang berbeda.

I did not like it.

Rasanya seperti datang ke sebuah pesta dengan dress code hitam , aku datang lain sendiri dengan baju berwarna putih.

Dan 3 hari kemudian, aku sudah menggesek kartu kredit dan membawa pulang sebuah Brompton.

Apakah itu termasuk demi gengsi? Entahlah….

Soalnya, jikalau aku datang membawa sebuah Alex Moulton sekalipun (bukan sebuah Dahon), rasa-rasanya aku tetap akan membeli sebuah Brompton. Karena sepertinya aku tahu, aku akan masuk dalam komunitas merek sepeda tersebut.

Kalau demi fungsi, wah. Aku ini ngga ngerti apa-apa tentang sepeda. Aku cuma tahu dan bisa menggenjot pedalnya. Sepedaku termasuk tipe standart, bukan yang special apalagi limited edition.

Onderdilnya juga masih standart bawaan pabrik, tak diganti ini atau itu. Murni cuma bermodal dengkul, paha atas, perut dan sepeda.

Saat dipakai atau istilahnya digowes, menggunakan Brompton dengan ban 16′ tentu terasa lebih capek dari Dahon Archer yang menggunakan ban 20′.

Tapi untuk dilipat dan diangkat, Brompton jelas jauh lebih menyenangkan daripada si Dahon.

Tentu akhirnya aku tergabung dengan sebuah komunitas pengguna Brompton, tapi aku tergabung juga dengan sebuah komunitas all folding bikes di mana harga sepeda dari ratusan ribu hingga jutaan atau puluhan juta juga tak ada yang ambil pusing.

Dua komunitas ini sama porsinya bagiku. Masing masing punya nilai plusnya sendiri. Yang satu dikenal dengan bersepeda gaya, santai , ceria, terkadang hura-hura, sementara yang satu lagi meski lebih suka nongkrong di warung kopi dan jajan yang biasa saja namun skill mereka akan ilmu persepedaan tak diragukan lagi.

Guyubnya sama. Semuanya bisa membuatku tertawa, lupa sejenak akan ruwetnya hidup di Jakarta.

Jadi, jika ditanya apakah aku membeli sebuah Brompton demi sebuah gengsi ataukah fungsi? Nampaknya jawabanku adalah : iya, jujur. Dua-duanya. Karena aku suka fungsinya, efek yang ditimbulkannya, dan aku mampu membelinya.

Sekian.

Nyesel…?

Saat selesai menjalani sebuah hubungan romantis, pacaran gitu, aku biasanya jarang menyesal.

Mau seperti apa mantan(mantan) pacarku dulu, baik-buruknya selalu bisa kuterima.

Penyesalan pertama pernah datang saat aku masih kinyis-kinyis. Aku bahkan tak ingat berapa lama aku berpacaran dengan cowok itu. Sempat malah, kalau bisa, memori di situ langsung hilang, di-skip, pindah ke babak berikutnya.

Gara-gara apa?

Simpel. Dia kulihat suka mengkonsumsi obat-obatan sejenis anti depresan yang menurutku “engga banget”. Tapi pil-pil putih itu membuatku ilfil seketika dan bertahun tahun kemudian membuatku terhenyak : “Guuurl, what were you thinking???”

Padahal, yang kudengar, ia sangat membanggakan bisa pernah berpacaran denganku. Sementara aku .. duhh kalo bisa ngga usah ingat ingat lagi dah. Skip! Skiiip!

Kemudian di suatu waktu, aku pernah dekat dan bisa dikatakan berpacaran dengan seseorang laki laki.

Good looking lah, baik, nice, sweet., helpful.

So I thought…

Sampai tiba saatnya berbenturan dengan konflik. Mulanya, konflik terselesaikan dengan baik dan damai. Sampai suatu ketika dia memasukkan figur lain, yang konon katanya “hanya” seorang teman wanita.

Teman wanita yang katanya dan kelihatannya sih naksir banget ama dia.

Jealous?

Hahaha. I’m too proud to be jealous, my dear. Seriously.

Bagiku, entah untuk alasan apa, pria ini sangat menjaga baik-baik pertemanannya dengan si wanita ini. Padahal katanya ngga suka…. (LOL)

Tuduhanku sih… dasar aja ni laki lagi di atas angin, karena ada atau banyak yang naksir. Ia menikmati kebutuhan wanita itu akan dirinya.

Mungkin juga, sengaja dipiara buat memancing emosiku. Mungkin saja ia ingin mengetes dan penasaran sedalam apa cintaku padanya. Manas-manasin, gitu… agar api asmara semakin membara.

Pret.

Dan seperti yang sudah-sudah, aku enggan berkompetisi. Dih, apalagi demi ngerebutin laki-laki. So after.. I dunno, 4-5 months, I finally and calmly ended it.

Maybe he was hurt. Maybe he hated me. Afterall, he always said he loved me. Only me.

But I did not buy it.

Every pictures shown he and that woman were always side by side, and for me that was a disgrace and already told me everything.

That he did not respect me.

So sorry, man.. all that love you bullshit, I did not buy it. You gotta prove it better than that.

Dan selama melewati konflik sesudahnya, duh… ngga worth it banget.

Dia hina aku. Mulutnya pedas. Kalo pedas tepat sasaran yang mendinglah. Ini pedas semua dihajar dengan membabi buta yang saat itu kerap membuatku berpikir,” Heh??!?! Kok gituuu siih?!?!!”

Dia underestimate kemampuanku berpikir, bahkan memilih teman. Padahal sebagai anak rantau yang mudah bergaul, mungkin aku lebih banyak bertemu atau berteman orang-orang dengan karakteristik dan latar belakang yang beragam ketimbang doi, ya ngga?

He ditched me on the street, once. <— wagelaseeh yang ini ENGGA BANGED, sumpah. Kalo sampai anak laki-lakiku ada yang menghindari masalah dengan main kabur, apalagi sampai membiarkan anak gadis orang sendirian di jalan, kukemplang dia!

He was indecissive, when I gave him choices, serious choices like : me, or her ( ofcourse I was being reasonable and gave him win/win sollution first). Sorry mate, you can’t have them all. I’d better cut myself loose.

He was an overthinker. My God, how he thought about somebody’s or other people thought… Why bother?

He was manipulative. Somehow in every situation he put the ideas to people that I was super mean and he was the victim. Just like what happened in his previous relationship ( I began to wonder…).

He was childish. Yeah, indeed.

He scolded me of being selfish (that’s okay, I admit it, and thought that he was a total narcissist).

He never listen. He only heard what he wanted to hear.

He actually did not really care how I feel.

He thought he was the one that always right.

Basically….he was far knowing how to handle me.

When it finally ended, ada sesuatu yang mengganjal yang mungkin… mungkin menyebabkan aku berpikir,” Damn, why did I fall for him? Better have a no string attached relationship at the first place, so I would remember him like only one of those guys that I had kissed and told good bye on the next day.”

Eventhough I still can think something good and nice about this fella, somehow my head kept saying, ” Guuurl! What were you thinking?!?!!”

Heartbroken.

Kadang-kadang, kita memang harus mengambil sebuah langkah berani untuk keluar dari sebuah zona nyaman.

Memang, awalnya rasanya mengerikan dan penuh dengan tanda tanya.

Bagaimana jika….

Kalo nanti begini, gimana?

Duh, ada sesal ngga ya?

Atau…..

What would I do without you?

Wajar kalau takut. Manusiawi banget. Tapi tau ngga, seringkali apa yang ditakutkan terjadi tak seperti yang dibayangkan.

Pasrah aja.

Kayak kalo aku mesti ke dokter gigi karena ada ngilu yang mengganggu atau tambalan yang lepas.. Atau saat akan melakukan pemeriksaan kandungan tahunan di dokter spesialis kebidanan. Rasanya malessss banget deh.

Tapi tahu, harus dilakukan. Jadinya mau ngga mau ya duduk pasrah saja menanti antrian untuk “dieksekusi”.

Biasanya, di kepala aku selalu berulang-ulang mengucap mantra : “this too, shall pass..”.

Beneran sih.

Dalam 1-2 jam, kengerian itu akhirnya berakhir. Dan sesudahnya aku langsung lupa dengan rasa malas dan takut yang sebelumnya mendera di ruang tunggu praktik dokter.

Begitupun saat aku harus mengakhiri sebuah hubungan yang aku rasa sudah tak bisa lagi dipertahankan.

Butuh 1 tahun penuh untuk menimbang, berpikir masak-masak, sembari menunggu pertanda kapankah aku punya keberanian untuk keluar dari zona nyaman itu.

He’s a real gentleman.

He’s mature and know how to handle me.

He took care of me.

We did everything together, hobby, food hunting, work out, movies, or even for a foot massage.

We had so much in common.

He has a sexy tattoo on his back, great body, and ofcourse the ……*beep!*

What about this? What about that?

We were almost perfect for each other.

We looked good together, they said.

He respects me.

Dan mendadak segala keluhan tentang ke-posesif-an, egois, gengsian, kekurangarifan untuk segi finansial, segala macam aturan, ketidakmampuan mengambil keputusan penting dan bodyshaming kecil-kecilan termaafkan, terlupakan.

Biasalah, namanya juga setan yang berusaha menggoyang ketetapan hati.

Meski dengan segala kelebihan di atas, we just can’t be together, by fate (and by will, karena kalau ada niat sih…mestinya ada aja jalan, ya ngga?), I was once happy, 100% committed, faithful. At that time, I knew how it feels to love, unconditionally.

On the other hand, I am fully aware that life will never give you a smooth and hassle free road. There are always speedbumps, roadwork, a culdesac or even… road end.

Sadly, finally we came to a road end.

Oh that excrutiating 3 hours of long silence after I had the courage to drop the bomb. I had to finish it all, because I knew he could not decide or would not do anything more.

Aku pamit ya…. I need to move on with my life….” so I said on that one Wednesday morning.

He was shock, I was trembling. He was hurt, I guess. But I was hurt also because I had to hurt him.

You see….I loved him so much, too much. But I gotta love myself more. After years and years of happiness and sometimes a little sadness, I tasted the ultimate pain in a love relationship : a broken heart.

Kalau Cinta Itu Buta…

Kenapa pusat kebugaran penuh dengan wanita yang mati-matian membuat diri mereka selangsing sumpit mi ayam?

Mengapa promo katering diet, buah yang konon bisa melunturkan lemak, korset peramping dan obat penahan nafsu makan semakin bertebaran?

Kalo cinta itu buta….

Kenapa pakaian dalam wanita makin ke mari makin minim bahan dan semakin transparan?

Kenapa salon kecantikan yang menyediakan tanam benang, filler bibir, sulam alis dan ektension bulu mata laku keras? Padahal, menyakitkan dan mahal pula.

Jadi ya, sayang… Cinta itu sama sekali ngga buta buat kita para wanita.

……dan selalu ada tag harganya.

Berkompetisi? Dih, Ogah!

Di sebuah pusat kebugaran, seseorang menunjukkan foto seorang perempuan padaku.

” Coba lihat, temanku ini. Tadinya badannya seperti kamu, berisi. But she works hard, lihat sekarang badannya kayak gini…” katanya seraya menunjukkan foto orang yang sama, dengan versi yang berbeda.

Okay. She’s pretty. Oriental face. Badannya kurus langsing dengan perut kencang dan mulai menunjukkan definisi otot yang jelas.

Yeah, cool, so I thought.

Sampai beberapa waktu sesudahnya aku kerap mendengar :

” Kalau temanku itu, dia disiplin. Disiplin makan, disiplin latihan…”

Atau…

” Bagaimana bisa punya badan seperti temanku itu, kamu makannya kayak gitu…”

Atau…

” Makanya kayak temanku itu dooong…. ”

Geez. Ganggu banget.

Sampai akhirnya aku meledak. Aku ngga suka disuruh meniru orang lain. Ngga pernah suka. Apalagi disuru berkompetisi dengan orang lain.

Kompetisi buat kepentingan siapa? Buat diri lu?

Ogah banget.

Kalaupun aku mau melakukan sesuatu kepada diriku sendiri, mau tambah cakep, mau segede king kong, mau kurus kering ( yang satu ini belom pernah kejadian sih…hahahhaa…), mau menor atau polos tanpa make up, mau gaya madam-madaman, mau pakai sepatu belang sebelah, aku lakukan karena aku mau. Bukan karena meniru untuk jadi orang lain.

Apalagi jika ada seseorang yang sudah menghina orang lain, secara fisik pula, lantas malah membandingkan orang tersebut dengan diriku. Oh wow! It feels like a slap on my face.

What do you mean by that, anyway? What are you trying to say?

Tau ngga siiiiii…..

I don’t have time and energy to compete with anybody. I don’t even know why must people compete which each other?

Kalau orang lain lebih kece, pinter, kaya, lebih menyenangkan, lebih langsing, lebih yahud, yaude sikkkk… rejeki dia. Sesimpel itu aku menanggapi.

Tapi gak usah deh, dibanding-bandingin ama gue kaliiii…. Ganggu di kuping, dengerinnya.

Like me, accept me as I am. Don’t like me, well… nobody’s forcing you to stay.

Blo’on.

Suatu ketika, di sebuah supermarket, aku melihat seorang artis lawas, terkenal. Cantik. Lekat dengan image seksi.

Kebetulan aku berdiri di dekatnya, sehingga aku dapat mendengar jelas suara si Artis Lawas tengah berbicara melalui ponsel kepada orang yang kutebak adalah asisten rumah tangganya.

Si Artis tadi nampaknya sedang kesal, atau marah, dengan lawan bicara di ponselnya.

” Iya, karena kamu bego…” kata si Artis Lawas dengan nada tajam.

Aku yang kebetulan mendengar ucapannya, seketika merasa tidak nyaman.

” Memang, karena apa? Karena kamu itu emang BEGO!…” ulang si Artis Lawas.

I don’t like her, si Artis Lawas. Dia pongah, dengan mengatakan orang lain itu “bego”.

You see…I always value brain, that remarkable organ yang hingga kini tak tergantikan, apalagi ada manusia yang mampu menirukan ciptaan Tuhan yang satu ini.

Otak siapapun itu. Mau dikata memiliki keterbelakangan, memiliki gangguan, tingkat kecerdasan yang hanya rata-rata, apalagi otak dengan kemampuan di atas rata rata alias super cerdas, I value them all.

Organ lain dalam tubuh manusia, masih bisa tergantikan, semisal dengan transplantasi. Hati, jantung, mata, bisa saja tergantikan. Tapi pernah dengar, transplantasi otak?

Bagiku, otak dan kemampuan berpikir bukan merupakan bahan hinaan atau cemo’oh-an. Maka dari itu , aku tak pernah mau memaki seseorang dengan sebutan : goblok, tolol, bego, atau…. blo’on.

Etapi…..

Kalo konteks bercanda, sih tentu pernah… Everybody is doing it, in terms of joking or in the middle of good laugh.

You know lah what I mean…. You’re not stupid aren’t you? —–> lhaaaa!?! Hahahahaa…

Maka dari itu, tak ada hinaan yang paling hina yang pernah kuterima, adalah ketika seseorang mengatakan padaku :

” Kalau ngomong, pakai otak sedikit!”

Atau seperti yang barusan kuterima :

” Oon (alias blo’on, and repeated several times) “

Sh*t.

It was not only a slap on my face. But also a punch. Big one. And I hate you for that.

Oh yeah.

I hate you for that.

Note to self, and to you perhaps…

Some things are better left unexplained. What you’ve done wrong, admit it, but never expect anything in return.

He/ she is hurt, you’re hurt, yea yeah…everybody’s hurt. And then what? You’re gonna live your life of being hurt and hurt people in return like one vicious circle?

Some things are better left unsolved.

If it’s too much, too hard, too complicated, then leave it all behind. Trust destiny to decide, wheteher some people will stay or go in your life. The right people will stay, unconditionally. You do not have to burn yourself to make other people happy or content.

If somebody said they’re hurt of what you did, what you said, if you think you’re really doing what they said, do not hesitate to apologize.

If you don’t… well just really make sure you don’t do any hurtful thing to them. When you finally sure, just stand still. Be in complete silence. Cuz honey… you just can’t please everybody…..