Every Secret Has A Price.

Sebuah chat situesyen :

” Jadi gini…..” ketiknya.

“…..Mmmmm. Kayaknya bakal nyusahin gue nih..” balasanku.

” Engga… Gini looo… Tadinya kan gue kan males ya pergi ama si Itu… Tapi karena dibayarin, ya jadinya… yaaa… Masalahnya…” lanjutnya.

” Gue aduin lo…” jawabku. Bercanda, tentunya.

Percakapan “bersayap” itu kalau disimpulkan adalah si Dia itu, memintaku untuk menutupi (kepada seseorang) keputusannya untuk pergi ke suatu bersama si Itu. Yang artinya, aku lagi-lagi memegang, sebuah rahasia.

Pada dasarnya, aku orangnya ogah ribet, dan tak pernah suka kepo dan ikut campur urusan orang lain.

Apalagi, sampai menghakimi orang lain. Malas.

Semisal :

Ngapain dia pergi berdua-duaan dengan lawan jenis, padahal belum menikah? Mau ngapain? Gak takut kenapa-napa? Nanti kalau begini, kalau begitu gimana?

Apalagi :

Kok si A keliatannya deket banget ama si J? Jangan-jangan mereka… Padahal mereka kan….

Atau :

Unggahan medsos teman yang ini kok gitu banget, gue rasa ada yang aneh deh. Kayaknya dia sedang….

Hedeeeeeh. Males.

Selama ini, I hold many secrets, yang mungkin bagi sebagian perempuan uuuuugh so juicy.

I take all these secrets sebagai pembelajaran. Serap, mana yang sekiranya bisa diemplementasikan dalam hidupku sendiri, mana yang tidak.

I don’t have time buat menilai atau menghakimi orang yang membagi cerita rahasianya padaku.

Walau bagaimanapun, kan dia bukan aku? Hidupnya kan bukan hidupku? Who am I to judge?

Karena dasarnya ngga demen ngurusin hidup orang, aku lebih sering cuek dan kurang menjaga image, menjaga tingkah laku. I am what you see, I don’t pretend. Apalagi dengan alasan biar ngga diomongin orang.

Udeh deh, kita hidup itu bukan buat menyenangkan mata orang lain, kok…

Jadi, mungkin saja seseorang, beberapa orang bahkan banyak orang merasa menyimpan rahasia yang kumiliki.

Padahal, apanya yang rahasia? Aku jarang ngumpet-ngumpet. Jika ada pertanyaan, maka akan aku jawab sejujur dan se-fair mungkin.

Jadi kata kata : ” ..Papa/mama/gue/saya/aku/om/tante cuman gak mau aja sih, kamu diomongin orang…” is not acceptable for me. Most of the times, to be precised, karena sometimes I do listen, kok… —> lah galauw?.

Selagi emang yang kuperbuat memang kulakukan dengan kesadaran penuh, dan bukan sesuatu yang aduh-gimana-ya-emang- engga-banget, aku mah seringan bodo amat ama komentar orang.

Nyatanya, tak semua orang semasa bodo aku dalam menyikapi sebuah rahasia. Ada satu, dua, tiga bahkan mungkin lebih, orang yang menjadikan “rahasia” orang lain itu sebagai senjata.

” Kartunya ada di gue,” celetuk seorang mantan teman dengan bangga, beberapa tahun lalu.

Seolah dia tau setiap menit, detik hidup seseorang yang ia bicarakan itu (maksudnya sih, seseorang itu ya aku sendiri, hahaha…).

Aku tahu, kemudian si mantan teman tadi dengan senang hati dan kesadaran penuh membagi cerita tentang apa yang pernah kuperbuat ke banyak orang, bahkan ke pasanganku saat itu.

Aku tahu, kemudian dia dan seorang mantan teman lainnya kembali melakukan hal yang sama. Sharing apa yang bagi mereka supposed to be my secret.

Untuk apa, dia dan mereka melakukan itu? Padahal di kemudian hari, satu keluarga bisa hancur sedikit banyak gara-gara omongan itu?

Entah.

Mungkin karena simply they didn’t like me. Maybe, telling other people bad story made them feel better about their own lives. Maybe…it was just an old habit. Demen aja, ngebocorin rahasia orang.

Were they wrong?

Kayaknya engga juga. Karena saat itu aku rasanya tak pernah menitipkan pesan :” Jangan bilang siapa-siapa, ya…”

Bagiku, selagi punya mulut, apapun itu, bisa bersuara. Apalagi manusia, normal, bukan seorang tuna wicara. Lantas, apa bisa, kita menahan resiko untuk dia tidak “bernyanyi”?

Banyak kok contohnya di dunia nyata, apalagi di pergaulan cewek-cewek. Kalo si A berantem ama si B, langsung deh ngalir topik bahasan tentang hal hal yang tadinya tak diketahui oleh orang lain.

” Lo tau ngga, dia kan…..”

” Asal lo tau ya, dia pernah…..”

” Alaaaaah, padahal dia itu…..”

Di berita, atau di film deh… kan banyak kejadian di mana seseorang berbalik “bernyanyi” mengungkapkan rahasia-rahasia yang ia pegang demi menyelamatlan dirinya sendiri.

Whistleblower, istilah kerennya.

Jadi, my friend….

Seperti judul di atas, setiap rahasia itu ada harganya. Bagi si pemilik rahasia, harganya tentulah sangat mahal. Harga diri, nama baik, kenyamanan, jalan hidup, bisa terpengaruh oleh sebesar apa rahasia yang ia punya.

Bagi si pemegang rahasia, yakni kuping yang mendengar, mata yang melihat, rahasia ini bisa saja jadi sebuah senjata, yang bisa digunakan untuk kepentingannya sendiri.

Agar bisa diterima di lingkungan pergaulan, mungkin… Untuk dapat didengar, untuk memeras, dan tentunya… untuk menyelamatkan diri.

Or simply….

Dasar aja demen ngebocorin rahasia orang, alias ga menganggap menjaga amanah itu adalah sebuah hal yang penting.

Intrik/ Intrigue.

IN-TRIK :

Merupakan kata nomina (kata benda) yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti penyebaran kabar bohong yang sengaja untuk menjatuhkan lawan.

Sementara,

IN-TRIGUE :

Has 2 meanings : arouse the curiosity or interest of; fascinate. Or….make secret plans to do something illicit or detrimental to someone.

Kedua kata itu kerap diucapkan seperti memiliki arti yang sama, padahal…secara harafiah ada perbedaan yang lumayan mencolok.

Contohnya :

” Gue ngga tahan main sama si Anu, kebanyakan intrik!” Katanya.

Ini pasti maksudnya ke arti kedua dari kata dalam bahasa Inggris tadi, intrigue. Rasanya ngga pas disamaartikan dengan “intrik” versi KBBI.

Penting, amat ya.. bahasan linguistik ini? Hahahaha…

But honestly, my point is.. sebenernya sih… I don’t dig intrigues yang versi bahasa Inggris kedua.

Meletihkan sekali harus ber-intrik..eh…tepatnya berstrategi, demi untuk mendapatkan sesuatu hal yang aku inginkan.

Berstrategi itu wajar, engga apa apa. Penting malah, demi menggapai harapan dan tujuan.

Akupun pernah, kok.

Tapi mbok ya… bikin strategi itu yang cantik, elegan. Pakai perhitungan, tidak menggampangkan, asal sruduk dan yang terpenting, tidak dengan cara ngerepotin atau menyeret-nyeret nama orang lain ( du-oh! ).

Mau tau ngga, modal utama biar strategi kamu sukses? Gampang, cuma perlu : SABAR. Kalau grasa-grusu, biasanya sih.. suka ngga dapet. Kalau sabar, jadinya tenang, energi yang dikeluarkan juga lebih positif.

Coba deh, kamu lebih suka dibujuk petugas marketing yang nyerocos, ngotot dan terkesan maksa, atau yang tenang, dengan kata kata teratur dan terkesan siap untuk ditolak jika kita tak berminat?

Rolling my eyes up.

At this point, I do not need anybody’s approval how to live my life. Especially those who does not have any idea what I have been thru.

I have tasted both success and failure. I’ve been very happy, sad, good, bad, evil.. yeah I’ve been bruised, but most important thing is I have learnt how to heal myself.

I know myself well, and what others think should be none of my concern.

I’m an adult, I take care of my own bills. In this house I own and living, I do not need anybody to poke on my personal things.

Well, ofcourse they can suggest or advice something, but never…. I repeat, never question my way of living. I already know what to do, and fully aware of all the consequences.

What I think best for myself maybe is not the same of what you think.

But hey, sorry… I’m entitled to choose my own path as long as it’s not something criminal or will humiliate myself.

Last but not least, I don’t have to explain myself to anybody. Those who like me won’t need it, and those who dislike me… won’t believe it.

Dead end.

I have a heart and it’s quite broken. 

It has stitches but definitely still prone.

I read his words as if they were spoken.

There’s already a dead end in what’s been shown.

About A Girl.

There is a girl. She lives her life by following her heart.

Based on intuition, she said.

Stubbornly.

She tends to break the rules. Not all of the rules, but yea.. probably most of them.

I have my own opinion and way of thinking, she said.

Stubbornly.

Eventhough others said it was wrong, it was uncommon, it was weird, whatsoever.

All I can see is, she hardly feels regrets.

That’s what keeps her going.

One day she said to me : ” Whatever you do, make sure you will never regret it. Acknowledge first, any possibilities of whatever things that you wanna do, good or bad. And be prepared of any consequences. Because the lousiest feeling in the world is regret.”

She paused for a few seconds.

” And best thing to not feel any regrets, is simply to be yourself.”

That’s what she said. And that’s what she does, or will do.

Stubbornly.

About A Boy.

There was a boy. Tall, fair, good looking boy.

Life’s been harsh to me, he said.

But I could not care less, he said.

One day he found another love, so he thought.

Since he was kind of picky, the boy has always been addicted to love as soon as he found one.

I don’t like to pretend..such a waste of time, he said.

But it was complicated.

The heart of that girl was once broken, and torn into pieces. It was mended, poorly… and still healing itself bit by bit.

That broken heart she had, was already growing stronger and tougher, sometimes too strong as if nothing can even shake it anymore.

The boy often feels frustated. Expectations lead him to sensitivity, his own heart sometimes bruised.

Is it him, or is it her?

Maybe, the boy had not realized that :

It takes a strong man to own a heart of a broken girl.

A Prayer.

Visited a dear friend this afternoon at the hospital. At first, she looked fine and she said she felt a lot better.

She told me, that before being hospitalized, she couldn’t move and couldn’t talk. Her body was aching and she felt severe pain in her left abdomen.

Some of the test results mentioned that there’s no problem in her kidney like she thought before. But she needs to do more spesific test on her abdomen.

Few hours later, suddenly she wrinkled on her bed. Infact, she was on painkiller and it was starting to worn out.

She was on fetal position, showing that she was bearing a lot of pain. When the nurse came in, i can hear her almost crying tone in her voice.

I freezed.

I did not know what to say or do. I could tell she was in a lot of pain, eventhough she tried so hard not to feel it.

I ran my fingers thru her hair. I did not say a word, only cast a pray for God to have mercy and ease her pain.

That friend of mine, behind that frail body, she kept a lion inside. She’s always a fighter and have been thru a lot in her life.

But seeing her wringkled like that….. really broke my heart.

So dear God,

If You listen and possibly reading this, please heal her. Bless her, like she always believe in You.

Aamiin.

Lebak Bulus, 21/08/2019