Melihat Manusia, Namun Bukan Kemanusiaan

Unggahan di salah satu media sosial mengatakan : WHO tidak menjamin bahwa virus Corona akan benar benar hilang dari muka bumi. Satu-satunya harapan adalah dengan diketemukannya vaksin, yang nanti semestinya mudah diakses segala pihak. Eh satu lagi, ada obatnya juga, buat mereka yang kadung sakit.

Seketika aku teringat film tentang kiamat berjudul : 2012. Dalam film tersebut, digambarkan upaya menyelamatkan umat manusia dari kehancuran dunia dengan menggunakan bahtera besar, seperti apa yang dilakukan Nabi Nuh.

Umat manusia yang segitu banyak, tentu berbanding jauh dengan jumlah bahtera yang sekian biji. Mudah ditebak, yang dapat kesempatan untuk berada di dalamnya adalah orang orang VIP dan tentu, yang kooooayaaa roooayaaa banget.

Kembali ke masalah vaksin, mungkin saja mirip seperti yang digambarkan oleh film tadi. Begitu vaksin diketemukan, keistimewaan untuk dienjusss vaksin ini mulanya akan diberikan kepada orang-orang penting, dan si koooayaaa roayaaa yang gak masalah kalau harus membeli mahal sekaligus memborong vaksin-vaksin tersebut untuk istri, anak, aa’, teteh, om, tante, kolega bisnis, pacar gelap dan entah siapa saja yang dianggap penting.

Sama seperti rush buying masker saat pertama kali Indonesia konfirm terkena kasus Covid-19.

Satu keluarga bisa menumpuk berkotak-kotak masker sekali pakai.

Oooo, ternyata ada masker yang lebih canggih, impor yang tentunya lebih mahal? Ngga masalah! Punya berapa kotak? Borong semua!

Akhirnya, tenaga medis sempat kekurangan masker.

Akhirnya si keroco, orang kebanyakan serta rakyat jelata sempat hanya mampu membeli 1 pak masker isi 3 lembar. Itupun ada yang mencuci ulang, soalnya susah banget di pasaran.

[ Syukurlah saat tulisan ini diketik uda ngga gitu lagi ]

Kayak toko onlen, jika sampai ada open PO pemesanan order vaksin Covid-19, yakin bener dah…pesanan membludag sampai server hang.

Lah, pemesanan karcis nonton band U2 nyinden di Singapura kemarin aja begitu dibuka ludes dalam hitungan beberapa jam dan sampai websitenya hang kok. Padahal, ngga semua umat manusia demen U2.

Di deretan list open PO vaksin Covid-19, aku bayangkan posisi teratasnya para VVIP, VIP seperti pejabat, konglomerat, atau artis terkenal yang punya koneksi ke pejabat..

Aduh.. gak usah level negara deh.. tempo hari aku lihat sendiri pejabat daerah aja bisa gampang dapat rapid test kit sekian biji, bukan cuma buat keluarganya yang berjumlah 3 orang. Tapi sekalian 5 lagi buat keluarga cem-cemannya. Biasanya yang gini gini mah kaga bayar. Secara ghoib tau tau sudah dapet jatah.

Di deretan list berikutnya, ada pengusaha pengusaha kaya, karyawan sukses, pewaris tahta bisnis, para keturunan keluarga kaya 7 turunan..ah simpelnya mereka-mereka yang punya duit boooanyak banget dah.

” Pesan 150 vaksin! Saya langsung bayar! 4 buat saya, istri/suami, 4 buat ayah bunda dan kedua mertua, 8 buat supir-kang kebon-pembantu saya, 3 buat guru les anak anak saya, 30 buat kolega bisnis teratas saya…(terus panjang listnya)…sisanya buat jaga jaga. Inget ya, saya langsung bayar!!!”

Ngga menutup kemungkinan, ada modelan orang yang kayak saya gambarkan di atas. Lah, kayak di film 2012 tadi, tokoh konglomerat Rusia di situ bisa membawa serta mobil-mobil mewahnya kok, dalam bahtera penyelamatan. Padahal, jatah untuk 1 mobil itu bisa diisi oleh berapa banyak manusia?

Begitulah… terkadang manusia hari gini itu suka lupa untuk merasa cukup. Kalo bisa makan 7 donat kenapa mesti puas cuma dengan 3? Padahal, 3 itu sudah bikin begah.

Lah, yang 4 kan disimpan buat jaga-jaga kalau lapar? Begitu katanya.

Padahal di luar sana banyak yang di waktu yang sama, sudah dari kemarinnya kemarinnya merasakan lapar.

However….

Skenario open PO vaksin di atas semoga tak terjadi sampai gitu-gitu amat, deh. Jika benar nanti vaksin Covid-19 diketemukan dan diperlukan, pendistribusiannya niscaya akan diatur dengan adil dan merata.

Eh..

Tapi entah kenapa kok aku agak ragu sinis gimana gitu ya..>_<…

Karena, sama seperti pedagang penimbun masker, bisa jadi kelak ada juga calo vaksin…

Terserah, mungkin begitu di benak orang orang ini, yang penting aku aman..dan untung!

Manusia dan Covid-19

Selama masa pandemi ini, aku mengamati ada 3 jenis manusia :

1. Tim Parno, termasuk di antaranya mereka yang mendadak histeris melihat orang lain tidak menjaga jarak, tak mengenakan masker, masih keluar rumah, masih berolahraga outdoor, dan masih berkerumun.

2. Tim Nanggung. Ya gitu, mereka berusaha tetap menjaga protokol kebersihan dan kesehatan namun masih nekat sesekali beraktivitas di luar rumah tanpa mau banyak mikir macem-macem.

3. Tim Somsek. Yaitu adalah mereka yang gagah berani berkoar-koar tidak takut akan virus Covid-19 : “Hidup-matiku-di-tangan-Tuhan-jadi-bodok-amat-gue-mau-ngapain-suka-suka-gue-weeew!”

Kamu yang mana?

Bapak

Jika setelah dewasa seorang anak perempuan lebih dekat dengan ibunya, mungkin itu sudah biasa.

Jadi, perlu bertanya : bagaimana jika anak A, bagaimana masak ini, obat tradisional apa yang tepat , bumbu dapur mana yang dipakai, sapu mana yang lebih baik, bagaimana merawat baju putih yang terkena noda ini, mengapa tanaman itu tak kunjung berbuah… yaaa, yang begitu begitulah.

Tapi aku sepertinya tidak.

Urusan anak dan kewanitaan aku mayoritas belajar sendiri. Terlahir sebagai anak pertama, aku mau tak mau mesti bisa mandiri. Sedari kecil, aku sudah mikir sendiri, bahkan menisik atau menjahit seragamku sendiri.

Gimana ya…

Bukan berarti ibuku tak mengurusi aku. Mungkin saja kala itu ia sudah sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan mengurusi kedua adikku. Dan saat itu kami jarang sekali punya pembantu. Paling sering, adanya bibik gosok yang datang cuma untuk setrika, lalu pulang.

Mungkin juga aku tipikal orang yang malas nunggu, malas ribet. Jadi kalo bisa kuselesaikan sendiri, ya kuselesaikan sendiri, tanpa menunggu dibantu ibu.

Sementara bapakku, yang kukenang dari bapakku adalah ia orang yang memegang teguh komitmen sebagai seorang pegawai.

Hidupnya hanya bekerja untuk keluarga. Hobi pun ia nampaknya tak punya. Uang hasil keringatnya semua diberi ke ibuku untuk dikelola.

Waktu aku di usia sekolah dulu, aku lebih suka minta sesuatu sama bapakku. Enak, ngga ribet. Kalau iya, beliau bilang langsung iya. Kalau enggak, biasanya beliau diam agak lama, dan berkata : “Nanti, ya tunggu papa punya uang.”—> secara semua gajinya di tangan emak.

Di usia pensiun begini, bapakku akhirnya tinggal bersamaku, di ibukota. Sebelumnya, bapakku bertugas dan menetap di Kalimantan.

Sekarang, semua jadi seperti terbalik.

Jika dulu aku yang selalu meminta izin kepada beliau untuk ke luar rumah, les tambahan, ikut latihan ekstra kurikuler, sekarang terbalik.

Bapakku yang kini meminta izin kepadaku.

” Mmm.. papa ke sini ya…”

” Papa boleh ngga ke sana sebentar, ya?”

Bapakku juga sangat berhati-hati jika menginginkan dan meminta sesuatu kepadaku.

Padahal, beliau hanya perlu berkata, ” Papa mau ini dong. ”

Atau,

“Belikan papa itu dong.”

Dosa kan, kalau aku tak menuruti.

” Papa lagi kepengen itu, tapi ngga punya uang karena kemarin habis kirim mama.. kira-kira kamu ada yang ngga? Kalo ngga ada.. jangaan..”

(Aelah… padahal barang tersebut paling berapa harganya..murah!)

Antara geli, dan sedikit haru aku mendengarnya. Padahal meski rumah berstatus milikku, beliau kutempatkan setinggi-tingginya di sini.

Haru, karena beliau yang sebelumnya berkuasa penuh atas rumah tangga, sekarang menempatkan dirinya hanya sebagai anggota keluarga, dengan aku sebagai kepalanya.

Sekali lagi, bukan aku tak sayang ibuku. Tapi entah kenapa magnet bapakku terlalu besar sehingga tanpa sadar aku selalu mencari sosok beliau pada diri seorang pasangan.

Bapakku seorang pekerja keras.

Bapakku mudah berteman dan suka ngobrol.

Bapakku selalu punya kebutuhan untuk berderma.

Bapakku suka bercanda. Parah, apalagi saat menganalogikan sesuatu atau cela-celaan dengan ibuku.

Bapakku seorang penikmat makanan.

Bapakku memiliki prinsip tentang harga diri yang kuat.

Bapakku ngga pernah mau diperbudak uang, dan tahu cara menikmatinya.

Cuma satu saja kekurangannya. Beliau tak terbiasa berolahraga, boleh kubilang agaknya anti berkeringat. Nah.. kalau yang satu ini, baru kudapat dari ibuku!

Dunia Pernikahan

Belakangan ini, di lini masa sebuah media sosial sedang ramai bahasan drama korea tentang kehidupan rumah tangga yang bertema perselingkuhan.

Membaca komentar para netijen, wah… lumayan sadis. Rata-rata meneriakkan makian : “PELAKOR!!!!”

Itulah Indonesia, yang menurutku masih terlalu sangat amat patriarki banget. Laki-laki ditempatkan lebih tinggi dari perempuan.

Sedangkan sesama perempuan, lebih suka memaki sesama perempuan daripada menghajar langsung pacar, suami atau selingkuhannya.

Istri sah : ” Dasar pelakor!!!! Perempuan tak tahu diri!! Penggoda!! Pelacur!!! Perempuan hina! Dasar janda!!!”

Dan seterusnya.

Selingkuhan : ” Dasar gendut!! Jelek! Tua!!! Ngga bisa ngurus suami!! Tolol!! Lo tanya dong sama laki lo kenapa mau ama gua!! Makanya urusin tu badan!! Bego!! ”

Dan seterusnya.

Sementara sang laki laki hanya diam saja sambil lirik ke kanan dan ke kiri.

Netijen : ” Emang dasar pelakor!!! Udah tau milik orang masih aja mau! Jahat! Sampah!! Kucing disodorin ikan asin ya mau aja!! Perempun baik-baik ngga akan merebut milik orang!!! Pergi ke neraka sana!!”

Atau…

” Ya gimana lakinya ngga lari, lah dia gak jaga badannya, muka juga ampe rengsek gitu. Beli skin ker kek, nyalon kek, langsingin badan kek…”

Dan seterusnya.

Sang laki-laki yang diumpamakan kucing garong tadi entah kenapa, nyaris tak tersentuh oleh makian.

Padahal, sebenarnya laki-laki yang punya kuasa penuh untuk berselingkuh atau tidak. Pilihan ada di tangannya, begitu pula sebaiknya konsekwensinya.

Mau istrinya secantik bidadari atau seambyar apapun wajahnya atau bertubuh seperti kulkas tujuh pintu, adalah pilihan laki-laki untuk tetap setia atau berpaling.

Mau secantik apa wanita kedua yang dengan hebat menggodanya, dia yang punya pilihan, kok untuk tetap memegang teguh komitmen pernikahannya, atau mendua.

Jadi, berhentilah memaklumi pria dalam sebuah perselingkuhan. Ketiganya pasti sama ngaconya. Tak berarti seorang istri sah itu pasti tanpa cela, tak berarti pula seorang wanita kedua itu pasti sebegitu nista. Setiap case tentunya berbeda.

Berhentilah menjadi hakim dengan menyamaratakan kasus rumah tangga orang. Apalagi jika hanya berkaca dan menurut pemikiran kamu sendiri.

Hey, kamu bukan dia. Pasanganmu dan kamu bukan mereka. Karakteristik masing-masing individu dan masalah yang dihadapi sudah pasti berbeda. Jadi belum tentu sama.

https://pin.it/2smKKHS

Kelas Malam di Masa Pandemi

Kemarin baru pertama kalinya aku bersepeda malam hari selama masa karantina. 2 minggu terakhir, untuk bersepeda keluar kompleks seorang diri pun aku sudah tak berani lagi. Karena bertepatan denganbulan puasa, maka mau tak mau aku dan 3 orang teman baru bisa bersepeda setelah berbuka.

Seraya berkendara menuju pusat Jakarta, kulihat beberapa orang menuju masjid untuk shalat tarawih. Sedikit, biasanya bapak bapak dan ibu ibu yang sudah agak sepuh. Tak apa, aku enggan mengomentari. Yang penting bapakku yang sebelumnya bak remaja masjid, kini anteng di rumah.

Jika biasanya Jakarta hingar bingar, indah dengan lampu-lampunya, namun tadi malam tidak sama. Senayan City gelap, Plaza Senayan seperti mati. Tempat mangkal komunitasku di STC apalagi, temaram dan sepi. Parkir mobil diarahkan ke rubanah, tak bisa di lahan atas lagi.

“Takut dirazia,” kata Pak Satpam.

Menyusuri jantung kota Jakarta dengan bersepeda malam kali ini terasa berbeda. Gedung perkantoran dan pusat niaga di sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin seperti mati suri.

Jakarta benar-benar kehilangan lebih dari setengah kemolekannya. Meski demikian, walau tanpa bintang, langit terlihat jernih berwarna biru pekat. Tanpa ada semburat kelabu seperti biasa kulihat setelah lebih dari 20 tahun menetap di sini.

Untuk bersepeda, enak. Tidak banyak kendaraan bermotor dan asap knalpot yang terhirup. Masih ada pesepeda yang berkeliaran seperti kami, namun dengan grup kecil bahkan ada yang seorang diri. Ah, sebaiknya jangan lakukan solo riding. Ngeri, kriminalitas lagi meninggi.

Jalan protokol terhitung sangat sepi, meski sesekali di jalur tengah, serombongan bocah ngehe dengan motor kopling tarik-tarikan. Sayangnya, beberapa di antaranya tanpa mengenakan helm, dibiarkan saja oleh polisi.

Hampir semua resto, coffee shop, bahkan warung makan pinggiran tidak menyediakan makan di tempat. Beberapa warung emperan andalan bahkan tutup sama sekali, tampaknya sudah pulang kampung duluan.

Tak mengapa bagiku, jika ada 1-2 pedagang atau pengusaha resto yang nekat tetap menerima tamu untuk makan. Karena paling tidak 20 bahkan 30 orang lainnya tertib kok, mengikuti anjuran pemerintah.

Jika bersepeda selalu berjalan dua sesi, yakni makan malam dan ditutup dengan ngopi, tadi malam tak begitu lagi. Setelah mengisi perut sekedarnya, kami membubarkan diri. Pulang, dan segera langsung mandi.

Untuk diriku sendiri, saat sudah berbaring dengan pakaian bersih, aku akhiri hari dengan rasa terima kasih. Meski di masa sulit begini, aku, keluarga dan teman teman terdekat masih sehat, dan rezeki masih terpenuhi. Jadi, apa yang harus aku keluhkan lagi…..?

Masberto

I lafff laaff men with tattoo. Tapi bukan sembarang tato, tapi yang dibikin oleh a real tattoo artist.

Disain, warna, penyesuaian dengan warna kulit, lokasi rajahan yang dipilih turut menentukan berhasil tidaknya tato itu terlihat seksi.

Kemampuan mereka menahan sakit dalam membuat tato, oh…itu yang di mataku sungguh seksi!

*Masberto = masyarakat bertato

Covid-19, Di Rumah Aja dan Kebandelan Saya

Sepengetahuan saya, yang namanya virus berkaitan erat dengan daya tahan tubuh. Penyebarannya memang bisa sangat cepat, tetapi terinfeksi atau tidaknya tentu tergantung daya tahan tubuh seseorang.

Bagaimana meningkatkan daya tahan tubuh seseorang? Olahraga rutin, pelihara pola makan yang baik, dan selalu menjaga kebersihan. Sudah, sesimpel itu saja.

Minum vitamin? Saya sih kalau perlu saja. Lebih baik minum madu murni, makan buah dan sayur segar. Saya kurang suka mengkonsumsi apapun jenis pil dan kapsul.

Ketika wabah virus Covid-19 melanda seperti saat sekarang ini, bohong kalau saya tidak merasakan ketakutan. Awalnya engga terlalu, masih tenang-tenang saja meski tetap waspada.

Namun ramainya pemberitaan di berbagai media, diskusi-diskusi yang terkadang bercampur antara fakta, parnoisme, sotoy dan hoax di sosial media juga aplikasi chat tak urung berpengaruh pada benak saya yang sebelumnya sudah cukup “zen”.

Situasi di lapangan di mana jalanan Jakarta yang biasanya penuh hiruk pikuk mendadak lengang seperti hari ke dua Lebaran. Di mana mana orang nampak bergegas dengan masker menutupi sebagian muka dengan minim kontak mata. Teman, saudara, tetangga enggan berjabat tangan lagi.

Restoran, tempat makan sepi dan akhirnya melayani hanya pesanan untuk dibawa pulang, atau tutup total demi menghindari kerumunan.

Dengungan, himbauan, seruan dengan tagar “di rumah saja” tak henti henti digaungkan.

Ketika saya memutuskan tetap melakukan aktivitas olahraga di udara terbuka di luar rumah, saya kontan mendapat komentar heran dari beberapa teman.

“ Kok berani sih?”

“ Nekad!”

“ Bandel!”

Duh. Hari gini, beraktivitas di luar rumah ibarat keluyuran tanpa pake celana deh….

Tahu ngga, saya baru punya masker penutup wajah dua minggu sejak awal masa karantina. Bukan kenapa-napa, saat itu susah sekali membeli sekotak masker sekali pakai karena orang-orang serentak menumpuk masker wajah.

Saya hanya punya 2 hand sanitizer kecil, karena lebih nyaman mencuci tangan dengan sabun di wastafel. Belakangan, bertambah dua buah hand sanitizer itupun peninggalan dari 2 orang teman.

Sedikit selingan, perkara cuci tangan dan berjemur di udara pagi saya terpengaruh dengan komik dan kartun Jepang yang sedari kecil saya tonton.

Saya lupa filmnya apa, namun ada salah satu adegan, seorang kakek berkata,” Biar tak mudah sakit, selalu cuci tangan di manapun engkau sampai di tujuan.”

Sejak saat itu, di manapun saya tiba, mau di rumah, di restoran, di rumah teman, tempat les anak, rumah sakit, saya terbiasa langsung menuju wastafel untuk mencuci tangan. Setiap anak saya pulang sekolah, kata-kata pertama saya adalah,” Cuci tangan!”

Sedangkan berjemur, di tahun 90’an ada komik anak anak berjudul Kobo-Chan. Dalam komik tersebut, si Kobo ini punya kakek yang mengajarkan setiap pagi untuk berjemur agar mendapatkan tubuh yang kuat.

Memang ya, untuk masalah kebersihan dan menjaga kesehatan kita bisa belajar dari bangsa Jepang.

Oke. Kembali ke Covid-19 situesyen….

Membeli kacamata pelindung dan jaket tudung kepala dengan tirai plastik untuk melindungi wajah? Belum berminat.

Saya tidak serta merta berburu empon-emponan, jamu-jamuan dan “superfood” lainnya. Minum air rebusan jahe dengan irisan lemon sih, memang lebih dahulu sering saya lakukan. Tapi dulu niatnya untuk melegakan keluhan sinusitis.

Saya kemudian hanya mau membaca informasi dari situs resmi pemerintah dan WHO terkait perkembangan kasus Covid-19. Setiap pesan berantai atau unggahan sosial media yang diragukan kredibilitasnya saya lewati.

Tidak ada perlakuan istimewa dengan menyemprot tubuh mereka dengan diainfektan apalagi pemutih pakaian bagi teknisi, abang ojol, kang pijet, kurir yang memang harus datang ke rumah.

Saya juga malas mencuci satu persatu barang belanjaan dari supermarket atau kang sayur dengan disinfektan food grade. Biasa saja, seperti dulu sebelum virus ini merebak.

Terlalu cuek?

Bisa jadi.

Kenapa? Ya karena saya berpatokan pada paragraf pertama hingga ketiga dari tulisan ini.

Selain itu, saya sadar betul bahwa saya tak punya enerji lebih untuk merasa parno. Mental saya ngga kuat, beneran. Selama pandemi ini, sudah beberapa kali saya terkena serangan panik, psikosomatis dan anxiety. Dan itu rasanya sumpah, TIDAK ENAK.

Terkungkung di dalam rumah memang menimbulkan sedikit rasa aman. Namun fisik saya rupanya protes, mengingat saya terbiasa melakukan olahraga rutin indoor dan outdoor.

Sinus bolak balik kumat, badan kaku, linu, pegal seperti habis dipukuli. Sakit kepala, masuk angin, segala rupa deh.

Saya tidak dapat pergi ke pusat kebugaran, karena selama pandemi ditutup total. Untungnya masih bisa bersepeda, dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

Saya mencoba melakukan olahraga sendiri di rumah, namun mohon maaf… Tidak pernah sukses. Banyak permisifnya dan selalu berakhir dengan menggeledah isi kulkas, hahahaaa….

Lemes.

Jadi orang itu, yang pasti pasti aja. Kalau berkata A ya lakukan A. Kalau ngga yakin yakin amat, ya lebih baik gak usah banyak komen atau diam aja deh.

Sesungguhnya orang yang paling menyebalkan di mataku adalah ketika ia berkata A, namun tindak tanduknya malah B.

“ Lo tau ngga, kalo si Itu sekarang disebelin? Soalnya dia itu kan orangnya gitu sih.. Jadi deh dia ngga ada temennya…”

“ Geli gue ama si Itu! Geliii! “

“ Gua kan tau kwalitas si Itu. Kan gue da lama main ama dia. Orangnya gini gitu..”

“ Eh lu tau ngga, pas lu kemaren ke sono, si Itu kan begini begini ama cowok/cewek lain…” begitu kira kira contoh lemes-an lambe seseorang terhadap seseorang yang dikatakan pada orang lain, termasuk aku yang kebetulan juga sejenis orang.

Masalahnya, seseorang ini begitu seringnya ngomongin seseorang itu, tapi kalau ketemu langsung atau di sosial media, bisa deh pura pura tak terjadi apa apa.

I really don’t get this type of person. Mau perempuan, apalagi laki-laki, kok bisa ya begitu? Di belakang berkata tidak baik tentang seseorang tapi begitu bertemu, wah… sontak berperilaku bak besprennnnd!

Kalo aku, sih.. suka berteman dengan seseorang, ya suka aja. Kalo ngga suka suka amat, ya jaga jarak. Sekedar ngasih likes atau komentar di sosial medianya pun aku memberi jarak.

Tetapi, kalau aku sudah berkata buruk tentang seseorang, ya sikapku tentu akan sesuai dengan omonganku. Semua terlihat deh, dari sikapku.

Heran makanya akutu dengan tipe orang seperti itu. Tak punya sikap, HIH!

https://pin.it/2TJ9nSx

Mencintai, Diri Sendiri

“ Kenapa kamu ngga temenan lagi, ama si si Itu, si Anu dan si Enoh? “

“ Karena kata mereka aku orang yang sangat egois. “

“ Emang kamu ngerasa egois? “

“ Ngga tau. Mungkin. Menurut mereka kan begitu.”

“ Ngga tahu ya, kamu itu egois apa enggak. Kalau menurut aku, kamu itu ndableg. Ngeyel.”

“ Hahahaa… Bukan cuma kamu yang ngomong, kok. Iya, itu aku ngaku, aku anaknya ndableg banget. Makin disuruh melakukan sesuatu, makin ngga mau. Apalagi mendengar kata : ‘harusnya kamu..’, ‘jangan’ atau ‘ngga boleh’. Waduh rasanya menantang sekali untuk tak dituruti atau dilanggar.”

“ Nah kan, kamu itu emang begitu!”

“ Iyaaaa, ngakuuuuu..hahhaaa..”

You see, my dear friends.… Salah satu cara untuk mencapai sebuah kepercayaan diri itu adalah dengan mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri itu dimulai dengan memahami diri sendiri, tak hanya dengan kelebihan, namun juga dengan kekurangannya.

So what, kalau tetangga sebelah lebih tajir?

So what, jika teman kamu yang satu itu bodinya keceh badai sungguh luar biasa?

So what, kalau si Entuh uda cantik, tajir tapi nyinyir dan tukang ngatur-ngatur? Selagi ngga bersinggungan langsung dengan hidupmu, ya biarin aja…

So what, kalau orang itu banyak bener ditaksir orang padahal di matamu :’ah biasa aja’.

Poinnya adalah : fokus saja sama diri sendiri.

Iya sih, muke gue mah palingan meper dikit di angka Kriteria Kelulusan Minimal. Tapi kan, organnya lengkap dan sehat?

Iya sih, kadang-kadang saya bisa sangat menyebalkan kalau sedang menginginkan sesuatu. Tapi kan saya usaha sendiri? Ngga nyusahin orang lain?

Iya sih, aku ngga bisa setahun 7 kali ke luar negeri. Tapi kan, buat makan ngga perlu ngutang!

Iya sih, ni bodi ay mestinya susut 10 kiloan lah, biar gelambirnya engga nyata terlihat offside kayak begini. Kayaknya ay mesti diet dan naikin intensitas olahraga, deh!

Gitu aja… Konsen saja ke diri sendiri, yah?

Appreciation.

Someday you will find someone who will look you in your eyes, and say,” You are the best thing that ever happened to me.”

Or,

“ You look so good in that dress.”

Or,

“ I made them so jealous for having you, didn’t I ?”

Or,

“ I really love your lips…”

Or

Compliments your eyes..or smile, your laugh… and most important , embrace your imperfections. He or she will never let you feel worthless. He or she will ensure that both of you in this relationship together, equally. And if you’re very lucky, she or he will show you more love than you think you deserve.

Worry not, my dear…..You WILL find this him/her.