Kalau Cinta Itu Buta…

Kenapa pusat kebugaran penuh dengan wanita yang mati-matian membuat diri mereka selangsing sumpit mi ayam?

Mengapa promo katering diet, buah yang konon bisa melunturkan lemak, korset peramping dan obat penahan nafsu makan semakin bertebaran?

Kalo cinta itu buta….

Kenapa pakaian dalam wanita makin ke mari makin minim bahan dan semakin transparan?

Kenapa salon kecantikan yang menyediakan tanam benang, filler bibir, sulam alis dan ektension bulu mata laku keras? Padahal, menyakitkan dan mahal pula.

Jadi ya, sayang… Cinta itu sama sekali ngga buta buat kita para wanita.

……dan selalu ada tag harganya.

Advertisements

Berkompetisi? Dih, Ogah!

Di sebuah pusat kebugaran, seseorang menunjukkan foto seorang perempuan padaku.

” Coba lihat, temanku ini. Tadinya badannya seperti kamu, berisi. But she works hard, lihat sekarang badannya kayak gini…” katanya seraya menunjukkan foto orang yang sama, dengan versi yang berbeda.

Okay. She’s pretty. Oriental face. Badannya kurus langsing dengan perut kencang dan mulai menunjukkan definisi otot yang jelas.

Yeah, cool, so I thought.

Sampai beberapa waktu sesudahnya aku kerap mendengar :

” Kalau temanku itu, dia disiplin. Disiplin makan, disiplin latihan…”

Atau…

” Bagaimana bisa punya badan seperti temanku itu, kamu makannya kayak gitu…”

Atau…

” Makanya kayak temanku itu dooong…. ”

Geez. Ganggu banget.

Sampai akhirnya aku meledak. Aku ngga suka disuruh meniru orang lain. Ngga pernah suka. Apalagi disuru berkompetisi dengan orang lain.

Kompetisi buat kepentingan siapa? Buat diri lu?

Ogah banget.

Kalaupun aku mau melakukan sesuatu kepada diriku sendiri, mau tambah cakep, mau segede king kong, mau kurus kering ( yang satu ini belom pernah kejadian sih…hahahhaa…), mau menor atau polos tanpa make up, mau gaya madam-madaman, mau pakai sepatu belang sebelah, aku lakukan karena aku mau. Bukan karena meniru untuk jadi orang lain.

Apalagi jika ada seseorang yang sudah menghina orang lain, secara fisik pula, lantas malah membandingkan orang tersebut dengan diriku. Oh wow! It feels like a slap on my face.

What do you mean by that, anyway? What are you trying to say?

Tau ngga siiiiii…..

I don’t have time and energy to compete with anybody. I don’t even know why must people compete which each other?

Kalau orang lain lebih kece, pinter, kaya, lebih menyenangkan, lebih langsing, lebih yahud, yaude sikkkk… rejeki dia. Sesimpel itu aku menanggapi.

Tapi gak usah deh, dibanding-bandingin ama gue kaliiii…. Ganggu di kuping, dengerinnya.

Like me, accept me as I am. Don’t like me, well… nobody’s forcing you to stay.

Blo’on.

Suatu ketika, di sebuah supermarket, aku melihat seorang artis lawas, terkenal. Cantik. Lekat dengan image seksi.

Kebetulan aku berdiri di dekatnya, sehingga aku dapat mendengar jelas suara si Artis Lawas tengah berbicara melalui ponsel kepada orang yang kutebak adalah asisten rumah tangganya.

Si Artis tadi nampaknya sedang kesal, atau marah, dengan lawan bicara di ponselnya.

” Iya, karena kamu bego…” kata si Artis Lawas dengan nada tajam.

Aku yang kebetulan mendengar ucapannya, seketika merasa tidak nyaman.

” Memang, karena apa? Karena kamu itu emang BEGO!…” ulang si Artis Lawas.

I don’t like her, si Artis Lawas. Dia pongah, dengan mengatakan orang lain itu “bego”.

You see…I always value brain, that remarkable organ yang hingga kini tak tergantikan, apalagi ada manusia yang mampu menirukan ciptaan Tuhan yang satu ini.

Otak siapapun itu. Mau dikata memiliki keterbelakangan, memiliki gangguan, tingkat kecerdasan yang hanya rata-rata, apalagi otak dengan kemampuan di atas rata rata alias super cerdas, I value them all.

Organ lain dalam tubuh manusia, masih bisa tergantikan, semisal dengan transplantasi. Hati, jantung, mata, bisa saja tergantikan. Tapi pernah dengar, transplantasi otak?

Bagiku, otak dan kemampuan berpikir bukan merupakan bahan hinaan atau cemo’oh-an. Maka dari itu , aku tak pernah mau memaki seseorang dengan sebutan : goblok, tolol, bego, atau…. blo’on.

Etapi…..

Kalo konteks bercanda, sih tentu pernah… Everybody is doing it, in terms of joking or in the middle of good laugh.

You know lah what I mean…. You’re not stupid aren’t you? —–> lhaaaa!?! Hahahahaa…

Maka dari itu, tak ada hinaan yang paling hina yang pernah kuterima, adalah ketika seseorang mengatakan padaku :

” Kalau ngomong, pakai otak sedikit!”

Atau seperti yang barusan kuterima :

” Oon (alias blo’on, and repeated several times) “

Sh*t.

It was not only a slap on my face. But also a punch. Big one. And I hate you for that.

Oh yeah.

I hate you for that.

Note to self, and to you perhaps…

Some things are better left unexplained. What you’ve done wrong, admit it, but never expect anything in return.

He/ she is hurt, you’re hurt, yea yeah…everybody’s hurt. And then what? You’re gonna live your life of being hurt and hurt people in return like one vicious circle?

Some things are better left unsolved.

If it’s too much, too hard, too complicated, then leave it all behind. Trust destiny to decide, wheteher some people will stay or go in your life. The right people will stay, unconditionally. You do not have to burn yourself to make other people happy or content.

If somebody said they’re hurt of what you did, what you said, if you think you’re really doing what they said, do not hesitate to apologize.

If you don’t… well just really make sure you don’t do any hurtful thing to them. When you finally sure, just stand still. Be in complete silence. Cuz honey… you just can’t please everybody…..

Every Secret Has A Price.

Sebuah chat situesyen :

” Jadi gini…..” ketiknya.

“…..Mmmmm. Kayaknya bakal nyusahin gue nih..” balasanku.

” Engga… Gini looo… Tadinya kan gue kan males ya pergi ama si Itu… Tapi karena dibayarin, ya jadinya… yaaa… Masalahnya…” lanjutnya.

” Gue aduin lo…” jawabku. Bercanda, tentunya.

Percakapan “bersayap” itu kalau disimpulkan adalah si Dia itu, memintaku untuk menutupi (kepada seseorang) keputusannya untuk pergi ke suatu bersama si Itu. Yang artinya, aku lagi-lagi memegang, sebuah rahasia.

Pada dasarnya, aku orangnya ogah ribet, dan tak pernah suka kepo dan ikut campur urusan orang lain.

Apalagi, sampai menghakimi orang lain. Malas.

Semisal :

Ngapain dia pergi berdua-duaan dengan lawan jenis, padahal belum menikah? Mau ngapain? Gak takut kenapa-napa? Nanti kalau begini, kalau begitu gimana?

Apalagi :

Kok si A keliatannya deket banget ama si J? Jangan-jangan mereka… Padahal mereka kan….

Atau :

Unggahan medsos teman yang ini kok gitu banget, gue rasa ada yang aneh deh. Kayaknya dia sedang….

Hedeeeeeh. Males.

Selama ini, I hold many secrets, yang mungkin bagi sebagian perempuan uuuuugh so juicy.

I take all these secrets sebagai pembelajaran. Serap, mana yang sekiranya bisa diemplementasikan dalam hidupku sendiri, mana yang tidak.

I don’t have time buat menilai atau menghakimi orang yang membagi cerita rahasianya padaku.

Walau bagaimanapun, kan dia bukan aku? Hidupnya kan bukan hidupku? Who am I to judge?

Karena dasarnya ngga demen ngurusin hidup orang, aku lebih sering cuek dan kurang menjaga image, menjaga tingkah laku. I am what you see, I don’t pretend. Apalagi dengan alasan biar ngga diomongin orang.

Udeh deh, kita hidup itu bukan buat menyenangkan mata orang lain, kok…

Jadi, mungkin saja seseorang, beberapa orang bahkan banyak orang merasa menyimpan rahasia yang kumiliki.

Padahal, apanya yang rahasia? Aku jarang ngumpet-ngumpet. Jika ada pertanyaan, maka akan aku jawab sejujur dan se-fair mungkin.

Jadi kata kata : ” ..Papa/mama/gue/saya/aku/om/tante cuman gak mau aja sih, kamu diomongin orang…” is not acceptable for me. Most of the times, to be precised, karena sometimes I do listen, kok… —> lah galauw?.

Selagi emang yang kuperbuat memang kulakukan dengan kesadaran penuh, dan bukan sesuatu yang aduh-gimana-ya-emang- engga-banget, aku mah seringan bodo amat ama komentar orang.

Nyatanya, tak semua orang semasa bodo aku dalam menyikapi sebuah rahasia. Ada satu, dua, tiga bahkan mungkin lebih, orang yang menjadikan “rahasia” orang lain itu sebagai senjata.

” Kartunya ada di gue,” celetuk seorang mantan teman dengan bangga, beberapa tahun lalu.

Seolah dia tau setiap menit, detik hidup seseorang yang ia bicarakan itu (maksudnya sih, seseorang itu ya aku sendiri, hahaha…).

Aku tahu, kemudian si mantan teman tadi dengan senang hati dan kesadaran penuh membagi cerita tentang apa yang pernah kuperbuat ke banyak orang, bahkan ke pasanganku saat itu.

Aku tahu, kemudian dia dan seorang mantan teman lainnya kembali melakukan hal yang sama. Sharing apa yang bagi mereka supposed to be my secret.

Untuk apa, dia dan mereka melakukan itu? Padahal di kemudian hari, satu keluarga bisa hancur sedikit banyak gara-gara omongan itu?

Entah.

Mungkin karena simply they didn’t like me. Maybe, telling other people bad story made them feel better about their own lives. Maybe…it was just an old habit. Demen aja, ngebocorin rahasia orang.

Were they wrong?

Kayaknya engga juga. Karena saat itu aku rasanya tak pernah menitipkan pesan :” Jangan bilang siapa-siapa, ya…”

Bagiku, selagi punya mulut, apapun itu, bisa bersuara. Apalagi manusia, normal, bukan seorang tuna wicara. Lantas, apa bisa, kita menahan resiko untuk dia tidak “bernyanyi”?

Banyak kok contohnya di dunia nyata, apalagi di pergaulan cewek-cewek. Kalo si A berantem ama si B, langsung deh ngalir topik bahasan tentang hal hal yang tadinya tak diketahui oleh orang lain.

” Lo tau ngga, dia kan…..”

” Asal lo tau ya, dia pernah…..”

” Alaaaaah, padahal dia itu…..”

Di berita, atau di film deh… kan banyak kejadian di mana seseorang berbalik “bernyanyi” mengungkapkan rahasia-rahasia yang ia pegang demi menyelamatlan dirinya sendiri.

Whistleblower, istilah kerennya.

Jadi, my friend….

Seperti judul di atas, setiap rahasia itu ada harganya. Bagi si pemilik rahasia, harganya tentulah sangat mahal. Harga diri, nama baik, kenyamanan, jalan hidup, bisa terpengaruh oleh sebesar apa rahasia yang ia punya.

Bagi si pemegang rahasia, yakni kuping yang mendengar, mata yang melihat, rahasia ini bisa saja jadi sebuah senjata, yang bisa digunakan untuk kepentingannya sendiri.

Agar bisa diterima di lingkungan pergaulan, mungkin… Untuk dapat didengar, untuk memeras, dan tentunya… untuk menyelamatkan diri.

Or simply….

Dasar aja demen ngebocorin rahasia orang, alias ga menganggap menjaga amanah itu adalah sebuah hal yang penting.

Intrik/ Intrigue.

IN-TRIK :

Merupakan kata nomina (kata benda) yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti penyebaran kabar bohong yang sengaja untuk menjatuhkan lawan.

Sementara,

IN-TRIGUE :

Has 2 meanings : arouse the curiosity or interest of; fascinate. Or….make secret plans to do something illicit or detrimental to someone.

Kedua kata itu kerap diucapkan seperti memiliki arti yang sama, padahal…secara harafiah ada perbedaan yang lumayan mencolok.

Contohnya :

” Gue ngga tahan main sama si Anu, kebanyakan intrik!” Katanya.

Ini pasti maksudnya ke arti kedua dari kata dalam bahasa Inggris tadi, intrigue. Rasanya ngga pas disamaartikan dengan “intrik” versi KBBI.

Penting, amat ya.. bahasan linguistik ini? Hahahaha…

But honestly, my point is.. sebenernya sih… I don’t dig intrigues yang versi bahasa Inggris kedua.

Meletihkan sekali harus ber-intrik..eh…tepatnya berstrategi, demi untuk mendapatkan sesuatu hal yang aku inginkan.

Berstrategi itu wajar, engga apa apa. Penting malah, demi menggapai harapan dan tujuan.

Akupun pernah, kok.

Tapi mbok ya… bikin strategi itu yang cantik, elegan. Pakai perhitungan, tidak menggampangkan, asal sruduk dan yang terpenting, tidak dengan cara ngerepotin atau menyeret-nyeret nama orang lain ( du-oh! ).

Mau tau ngga, modal utama biar strategi kamu sukses? Gampang, cuma perlu : SABAR. Kalau grasa-grusu, biasanya sih.. suka ngga dapet. Kalau sabar, jadinya tenang, energi yang dikeluarkan juga lebih positif.

Coba deh, kamu lebih suka dibujuk petugas marketing yang nyerocos, ngotot dan terkesan maksa, atau yang tenang, dengan kata kata teratur dan terkesan siap untuk ditolak jika kita tak berminat?

Rolling my eyes up.

At this point, I do not need anybody’s approval how to live my life. Especially those who does not have any idea what I have been thru.

I have tasted both success and failure. I’ve been very happy, sad, good, bad, evil.. yeah I’ve been bruised, but most important thing is I have learnt how to heal myself.

I know myself well, and what others think should be none of my concern.

I’m an adult, I take care of my own bills. In this house I own and living, I do not need anybody to poke on my personal things.

Well, ofcourse they can suggest or advice something, but never…. I repeat, never question my way of living. I already know what to do, and fully aware of all the consequences.

What I think best for myself maybe is not the same of what you think.

But hey, sorry… I’m entitled to choose my own path as long as it’s not something criminal or will humiliate myself.

Last but not least, I don’t have to explain myself to anybody. Those who like me won’t need it, and those who dislike me… won’t believe it.