Glen Nanlohy.

First time we met : coffee shop-nya Aksara Book Store, Kemang. Taunnya lupa.

Elo pake kaos lengan panjang, turtle neck, warna merah cabe dan celana jeans. You were friendly, and quite jumpy.

Lupa juga, ada Kaira apa enggak, di situ. Tapi kayaknya enggak ada.

My first thought : ” Bused, rame banget, ni orang. ”

I did not recall, kapan dan gimana tepatnya kita mulai deket. Yang gue ingat, you took me to many places. Embassy sebelum tutup, Loewy, bahkan pas awal Immigrant buka.

Pernah juga nemenin gigs lo at Olive, Embassy Bandung, Sundaze, Lucy in The Sky, private parties, banyak lah. Bahkan pergi pijat bareng .

You often said to them, your friends,” Don’t think funny, my wife let me go if I’m with her.”

And you said to me that it’s the truth.

Because sometimes I was just wondering, how Kaira would feel knowing her husband went out with another girl. Alas, I did not think about what my husband would feel, knowning his wife is going out with another man! (Well, my bad)

Ingat nggak? You took me to Alexis and make those cungkuoks line up dan salaman ma gue.

Yang laki-laki beneran aja belom tentu masuk ke tempat prostitusi paling hits di zamannya itu. Sementara, manajernya dengan suka rela ngasih tur keliling, bukain semua kamar beserta wahana bermain di dalamnya. Tak lupa, mamerin ‘produk’ mereka ke depan muka gue.

Wah, itu gila sih.

You introduced me to a lot of cool and beautiful people. Crème de la crème of Jakarta. Well now it feels don’t really matter anyway, because at that time I felt like I was just nobody and, they were somebody.

Yea. But it was still fun, though..

Ada moment momen di mana kita ketemu cuma lewat telepon, sekedar cekikikan, gosipan, ngata-ngatain orang.

Ada juga momen di mana gue agak sebal karena sepertinya elo ngga suka gue main dengan orang orang tertentu.

” What are you doing with those people? They’ll do you no good. They don’t even know what they’re doing with their lives.”

And I said to you : ” Elo sombong! Seenaknya judging orang.”

Dan lo jawab, sinis banget,” What the hell is judging? It’s not even a word!”

Rasanya, saat itu, elo nyebelin banget. Tapi ngga lama,I think you said sorry. And after that first and last fight, we were always good, never argue, only fun talk and made those never ending broken promises of having brunch or lunch together.

Ada momen di mana I feel like you’re really care, and stood up for me.

” He was a jerk,” you said to me on one of my darkest days .

” He doesn’t have the right to treat you like this. I was so angry when he neglected your anniversary wish. I take it as a total humiliation for you. ”

I always remember those words. I thank you again, darling, for your support.

Oh yea also…you never let me pay for anything. <— yeah, I’m that cheap.

You see Glen…

We were never so close, but we were never far. Ngga pernah benar benar hilang. Elo benar benar hebat, menjaga pertemanan. Makanya temen lo banyak banget, dan pada sayang sama elo.

You were nice and always helpful. Everybody said that you were humble.

You were unique.

You were different.

Stylish as hell, mungkin karena campuran Baon dan Manado lo. Seperti saat suatu ketika saat Zara baru-baru buka, lo minta temenin cari sepatu.

” Ini keren,” lo bilang.

Gue lihat sepatu hitam dengan ujung runcing sambil mikir,” Bused.”

Lo bawa, bayar ke kasir. Beberapa hari kemudian, lo aplot foto make sepatu itu, yang somehow… bisa fit perfectly dengan dengan celana dan hem putih yang lo pake.

No wonder they call you “cong”.

Atau saat ..entah deh. Waktu elo di Jepang, atau Singapura, gue lupa. Di kamar ganti butik Comme des Garçons, lo kirim foto.

” Gue mau beliin ini buat Vira, bagus nggak,” begitu isi chat lo.

Dikirimlah 2 atau 3 foto yang isinya elo berpose dengan memakai baju baju yang mau elo belikan buat bini lo. Salah satu di antaranya, ada atasan yang nampak sesak karena lo paksa pake.

Orang gila.

Pertama kali gue punya iPhone, elo orang pertama yang gue datangi.

Nanya servis iMac, elo yang pertama gue tanya karena everybody knows elo anak Apple beneeeur.

Oh ya. Sorry ya, Glen.. beberapa tahun lalu gue sering banget menolak tawaran get together.

“Sudah ngga kuat lagi, juooo’… gue begadang!” Kata gue.

You deserve some fun, you said. You should have fun now, you said. This is the time, you said.

….And you stopped asking after I turned you down many times.

Oh Gwueeen…

Tau nggak? Tak ada yang lebih nyesek di dunia ini selain penyesalan. Saat ini , apalagi 2 hari lalu, gue pahami benar rasa itu.

I should have come to see you, Jum’at sore, 22 Maret 2019 lalu. Mestinya gue ngga usah ribet mikirin jarak, traffic, izin, atau apalah itu.

Mestinya gue nekat, karena saat itu elo masih bisa terima tamu. Kan gue akan bisa kasih semangat dan doa secara langsung.

Mungkin lo dengan bacot lo itu akan ngomong, ” Udeh, jangan berisik…I’m nervous, I need to see some boobies.”

But it never happen.

Gue akhirnya datang, Glen. Mau nemuin elo. Gue jalan abis maghrib Jum’at sore itu. But I was too late. Begitu sampai, tepat di jam elo sudah ngga bisa dijenguk. Kaira pun sudah pulang.

Saat itu gue pikir, ah entar aja. Pas lo da baikan. Karena gue berharap dan percaya, elo pasti baikan. PASTI.

But it never happen….

Setelah operasi Senin, 25 Maret 2019 itu, lo ditidurkan.

3 hari kemudian, gue cek ipar lo, katanya lo masih ditidurkan.

Beberapa hari kemudian gue tanya temen lo, lo masih ditidurkan.

Gue ngga berani nanya Kaira.

Lo tidur terus.

Sampai 3 April kemarin, bertepatan dengan Hari Isra’ Miraj, telepon gue berdering jam 11 malem, padahal gue udah tidur.

Katanya, gue harus melayat. Karena elo sudah tidur beneran dan ngga akan bangun lagi.

Oh, Gwuen.

My dear Glen.

Dengan bacot lo itu. Dengan grumpy nya elo itu…. I’m not gonna hear that ever again, am I?

Dan kita ngga akan lagi teleponan, gosipan dan cekikikan ngata ngatain orang?

I’m sure gonna miss that.

Istirahat yang tenang ya Glen di sana. Jangan nakal. Jangan porak porandakan surga dengan lagu Jazz but not Jazz lo itu. Makanlah mi ayam kesukaan lo sepuasnya di sana.

Etapi…Jangan pula kau ajak temen-temen baru lo di sana makan babi, ya. Lo tuh nyandang nama Ilyas Muhammad di nisan lo, which…. baru gue tau nama itu kemarin.

Last but not least, my vrooh…I want you to know, you have taught me a valuable lesson.

Bahwasanya, saat berniat menjenguk seseorang, jangan pernah ditunda. Karena, bisa saja berbuah penyesalan yang tak terhingga. Sama, kayak yang baru gua rasakan.

Selamat jalan ya Glen… Maafin gue, gak sempet pegang tangan lo.

I love you with all my heart, Glen Scot Nanlohy.

May you rest in Peace.

Alfatihah.

Advertisements

Suara dari Dalam

Pengen ngomong, kalau bisa sih…teriak.. :

” Berikanlah aku rezeki yang banyak, ya Allah….Agar bisa lebih banyak memberi.”

Sekian.

Lebak Bulus, 31 Maret 2019

Signs of An Ending?

It is when your heart start saying :

” I’m (so) tired…”

” Whatever will be, will be. I choose what comforts me most.”

” Why can’t I do the same thing?”

” You (often) leave me behind.”

” You don’t ask for my approval anymore. But I still have to ask all the time.”

” Sh*t. Another unnecessary fight.”

” Why is most of the time things must happen according to you? ”

” What about me?”

” D*mn, should I be in this same situation, AGAIN???”

” Why does it feel fine when not talking for hours… wait… worse. For days?”

” Should I be the one who always call and say sorry?”

” Sh**********t. Another unnecessary fight.”

Du-oh.

Bukan Pejuang Cinta…yang Segitunya.

Kau tahu mengapa aku tak ingin terlalu bergantung pada cinta, kecuali jika ia berkaitan dengan hubungan darah?

Karena cinta yang seperti itu terlalu rentan menjadi remuk, akibat ekspektasi yang terjadi di dalamnya.

Hubungan darah membuat suatu kepasrahan, dan akhirnya menjadi sebuah pemakluman. Ya abis gimana, mau lari ke mana…?

We share the same blood lines.

Mau ape loh?

Melihatlah ke Belakang Barang Sekejab….

Penyanyi dan mantan juara ajang putri-putrian itu resmi bercerai. Tak pernah kudengar berita sumir, pernikahan itu berakhir dengan cepat, di tahun ke delapan. Hanya melewati 2 kali sidang saja.

Tak pernah kudengar rumor yang berhembus tentang keduanya. Yang aku tahu, istrinya getol sibuk berolahraga. Sekali, aku pernah lihat mereka. Bertiga, dengan anak mereka. Di sebuah event olahraga. Aku suka suka melihat pasangan itu. Dua duanya sama sama menjulang, untuk ukuran tubuh orang Indonesia. Cocok, pikirku.

Kembali ke berita perceraian, nomer satunya adalah : aku merasa sedih.

Aku seperti patah hati saban kali melihat atau mendengar sebuah perceraian. Apalagi jika sudah ada buah hati.

Sama seperti saat salah seorang temanku, dan istrinya yang juga seorang penyanyi, baru-baru ini bercerai tanpa angin dan badai.

” Mantan istrinya sudah punya pacar baru, hasil dari bisik-bisik tetangga,” kata adikku bergibah.

” Aku sudah pernah melihatnya,” lanjutnya menambah racun gibah.

Ah.

Mengapa kini gampang sekali orang Indonesia memutuskan bercerai? Banyak, aduuuh banyaaaaaaak sekali kasus ini terjadi di sekelilingku.

Tak bahagia, main gila, cerai.

Tak sabar menghadapi pasangan, cerai.

Jenuh, cerai.

Lagi pede-pedenya di puncak karir, cerai.

Kena goda, cerai.

Eh ini tidak berlaku ya untuk kasus kekerasan domestik, apalagi jika telah membahayakan jiwa. Bercerai sepertinya mau tak mau jadi sebuah solusi. Daripada mati?

Pernahkan mereka mengingat ingat bagaimana ribetnya dulu ketika saat akan menikah?

Pingitan, ribetnya mencari suvenir/penghulu/tukang jahit kebaya/ make up artis, pening menyatukan keinginan dari dua keluarga besar ( satu ngotot pakai adat ini, yang satu ngotot kudu pakai adat itu ), capeknya berdiri dipajang di panggung sambil harus senyum manis selalu ( apalagi jika mempelai wanita harus mengenakan sunting dan kembang goyang di kepala ), saldo tabungan yang mendadak defisit untuk bayar sewa gedung? Coba ingat-ingat. Seru ya? Apalagi mengingat malam pertama dimana apapun yang dilakukan menjadi halal. Oh yeaaaaaaah!

Pernahkah mereka kenang, proses pertama kalinya menjadi orang tua?

Berdegubnya dada menanti munculnya dua strip merah? Kunjungan perbulan ke dokter kandungan? Bahu membahu saling menguatkan di proses kelahiran? Tangis pertama anak mereka dan those sleepless nights sesudahnya? Hari pertama mengantar anak sekolah?

Bikin tersenyum, ya?

Memang, kita itu harus selalu menatap masa depan, maju dan tak melulu menoleh ke belakang.

Namun, ada beberapa hal dalam hidup yang perlu harus kita kenang dari masa lalu demi sebuah senyum di hari tua kita kelak.

Percaya deh, kita tua kelak, jika semua fase hidup telah kita lewati, yang tersisa dari kita hanyalah mengenang masa lalu.

Lihat saja nenek, kakek atau buyutmu. Dengar apa yang kerap beliau-beliau katakan.

” Dulu…..”

Atau

” Waktu kau kecil…”

Atau

” Saat zaman perang…”

Atau

” Saat aku menikah dengan nenekmu dulu…”

Atau

” Ayahmu bertemu ibu di sebuah pesta…”

Bagaimanapun juga, perceraian itu sebuah kepahitan, percaya deh. Akan ada anak keturunan yang kelak akan kau tarik untuk mendengarkan ceritamu. Kalau ternyata kau bercerai dan menikah lagi ( amit amit kalau lagi), bisa jadi akan ada sejarah yang dihilangkan sehingga tak pernah diceritakan.

Nah. Jika kau tengah berpikir hendak melakukan kepahitan ini, yakinkah jika tua kelak kau mau mengenangnya kembali?

Pudar….

Kau tahu, tanda utama akan memudarnya sebuah cinta?

Tak lain dan tak bukan : rusaknya sebuah komunikasi.

Jika kau merasa tenang-tenang saja, tak mendengar atau berbicara dengannya selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari, maka ketahuilah: cinta itu telah memudar.

Apapun alasannya : sibuk. Sedang sakit. Lagi marah. Gengsi, apapun!

Karena jika kamu (masih) mencintai seseorang, maka akan sukar melepaskan dirinya dari keseharianmu.

Mau pergi, ingat memberi tahu.

“Hai Sayaaang, aku hari ini mau ke sini ya… kayaknya lusa aku ada pertemuan di situ, deh.. nanti kukasih tau lagi ya..jadi apa enggaknya…”

Having a rough day, dia orang pertama yang ingin kamu curhati.

” Aduh, kepalaku mendadak sakiiit banget tadi… nggak enak deh… Kenapa ya? Perasaan ngga makan yang aneh-aneh..”

Having a good day, dia orang pertama yang ingin kamu bagi.

” Eh kamu tau nggak, masa ya tadi aku dapat arisan! Pas bener, pas lagi bokek-bokeknya!”

Mau mandi, makan, kerap teringat akan si dia, sama seperti judul lagu jadul itu. Terkadang, sebuah pesan singkat atau telepon dengan isi pembicaraan yang remeh dilakoni <— meski terlihat nggak penting, namun sesungguhnya hal ini maha penting. Kalau bicara cuma untuk hal-hal yang penting, ya apa bedanya pasangan dengan rekan kerja atau tukang somay langganan anda?

” Eh..eh.. aku mau gosipan… Masa ya, tadi si Anu…berantem ama si Itu…”

Atau…

” Itu artis yang Enoh ketangkep gara-gara apaan sih?”

Atau….

” Kamu jangan pakai lagi ya baju yang itu.. aku ngga suka.”

Kira-kira seperti itu… pembicaraan remeh yang nampaknya tak penting namun nyatanya teramat penting untuk menjalin sebuah komunikasi.

Sedang kesal pun, kamu akan rasakan adalah siksaan untuk tak berbicara dengannya. Karena…. cinta itu semestinya sih tanpa gengsi.

” Yang…Udah dong… jangan ngambek terus…”

Atau…

” Diem aja, kamu masih marah ya?”

Atau…

” Maaf ya, tadi aku kata-katanya kasar sama kamu.. ”

Atau…

” Baikan yuk…. Sudah jangan berantem lagi. Sini, peluk.”

By the way, gengsi itu sangat bisa merusak cinta. Selain dari perselingkuhan dan kepelitan. Ini kataku, loh ya….

Ketika komunikasi sudah tak terjaga, tentunya masing masing akhirnya akan mencari kesibukan atau berusaha mengabaikan sebuah “kehilangan” itu.

Mungkin dengan harapan : ah, nanti juga balik lagi sendiri.

(Atau…… memang dasarnya sudah tak peduli? I don’t know. Go ask him..or her…)

Perlahan-lahan sebuah kebersamaan menjadi tak penting lagi. Perhatian-perhatian kecil semakin tak pernah diterima lagi.

Dia atau kamu mulai sibuk sendiri.

Dia atau kamu sudah tak pernah memberikan atau membelikan pasangan sesuatu lagi.

Dia biarkan engkau membayar makanmu sendiri. <—- khusus kalo “dia” itu laki-laki.

Dia tak pikirkan kado ulangtahunmu lagi.

Wah…itu sih sudah gawat!

Perempuan ke Dua…Tiga, dst.

Salah satu ustadz terkemuka itu tengah sakit keras. Mukanya menghitam akibat efek kemoterapi. Media massa mengatakan bahwa beliau didiagnosa menderita 2 penyakit kanker sekaligus. Namun berkat ridha Allah, lagi lagi menurut media, dalam dua bulan saja kedua penyakit itu dinyatakan bersih.

Ada dua hal yang menjadi fokus di benakku.

Pertama : mata sang Ustadz yang nampak sendu. Jelas. Siapa yang mau menderita sakit? Penyakit yang gawat, pula. Aku berempati pada beliau, sungguh.

Ke dua, adalah siapa yang mendampingi beliau saat kini tengah menjalani serangkaian perawatan di negara tetangga : istri pertamanya.

Sang Ustadz ini yang kutahu, beristri lebih dari satu. Dua, tiga, bahkan sepertinya hendak memiliki istri ke empat. Eh apa sudah, ya?

Hal ini menggelitik benakku.

Mengapa istri-istri lainnya tak ada?

Media pun ramai memuji istri pertama sebagai wanita yang luar biasa. Setia, berhati lapang seluas samudera. Karena ikhlas dan rela dimadu, pun tetap nomer satu merawat sang suami yang hati dan kemaluannya telah terbelah belah.

Ah.

Sungguh membuat mataku terbelalak, terbuka selebar-lebarnya. Bahwa cinta yang kumau sesungguhnya tak pernah mau dibagi, apapun alasannya, surga sekalipun yang dijanjikan.

“Tak mengapa, bisa kok cari jalan lain menuju surga,” pikirku.

Pikirku, wanita ke dua, ke tiga dan seterusnya, sesungguhnya hanya merupakan “pelengkap”, aksesoris dari yang sudah ada.

Ibarat busana, istri pertama bak sebuah blus yang mungkin motifnya dirasa masih polos. Sementara wanita wanita berikutnya adalah sebuah bros, atau kalung yang tak ada pun tak membuat si pemakai busana telanjang.

“Sebuah penggenap dari bilangan yang ganjil,” ujarku.

Lantas, mengapa wanita mau, menjadi yang ke dua, ke tiga dan seterusnya?

[Apalagi yang dengan bodohnya mau dijadikan simpanan tanpa pernah akan diberi sebuah kejelasan]

Mungkin karena tak ada pilihan lain. Karena kebutuhan hidup itu perlu dipenuhi.

[Nah ini… tipe yang banyak terjadi di ibukota]

Jika mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, kok masih mau jadi wanita ke dua, ke tiga dan seterusnya?

[Apalagi yang dengan bodohnya mau disimpan tapi masih juga memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, ngga bakal juga dinikahi]

Karena kadung cinta, tampaknya….

Ah cinta.

Bodoh memang kau kadang-kadang karena cinta, mak cik!