Jadi Janda.

Jadi janda itu kudu sadar kalau jadi gampang mengundang sorotan mata. Bukan berarti pandangan itu memuja, tapi bisa jadi untuk sekedar menuding dan mencela sih.

Kalau hidupnya susah, disukur-sukurin kenapa dulu ngga jadi istri yang nurut suami serta berguna bagi keluarga, nusa, bangsa dan agama.

(Whaddaaaahell…)

Kalau ngga disukur-sukurin, dikasihan-kasihanin. Padahal daripada sekedar berkomentar, mendingan bantu! Tawarkan pekerjaan kek, kasih peluang bisnis kek. Kalau ngga bisa bantu, ya sudah, mending diam saja.

Begitu seorang janda terlihat dekat dengan teman pria, bisa saja dikira tengah mencari sarana numpang hidup pada orang lain, terutama laki (orang).

Kalau hidupnya tenang dan bahagia, nanti ada aja yang kasak kusuk: dibiayain siapa? Jangan-jangan……..

Kalau seterong, alias kuat, banting tulang buat jadi sukses, malah bisa ancaman bagi istri istri di luar sana.

Yah lebih sering ujung-ujungnya ngga jauh dari tuduhan bahwa seorang janda, pasti akan nyari cantelan finansial ke laki-laki juga. Atau… ya gitu. Dicantelin sama dede-dede gemes yang dikenal dengan akronim ‘brondong’.

Makanya, ngga usah berkoar koar apalagi bangga dengan status janda. Kalau bisa, malah mati-matian jaga harga.

Tapi tak perlu juga munafik dengan menutupi status janda. Sesekali lakukan dengan rasa canda, tentunya jangan lupa dengan sedikit tertawa.

Lagian, sebuah kepahitan atas hancurnya rumah tangga tak ada gunanya disangkal, apalagi sampai disesali.

Coba deh, tertawakan diri sendiri. Niscaya akan terasa sedikit lebih ringan.

Semisal…

A : ” Ngga usah bayar, aku yang traktir!”

B : ” Wah jangan.. makan aku banyak..”

A : ” Udaaah. Ngga usah.”

B : ” Wah alhamdulillah, pengertian juga lu ama nasib janda..”

A : ” Hahahhaaa..”

Atau…

A : ” Traktir gue makan doong…”

B : ” Iiidih enak aja.. lu kalo makan maunya yang mahal.”

A : ” Dalam ajaran agama, berdermalah pada fakir miskin, anak yatim dan janda-janda. Gue kan janda.”

B : ” Lah gue kan da ngga punya bapak..”

A : ” Hahhahaaaaa”

Kira-kira bercanda ringan seperti itu sajalah. Tapi jangan keseringan juga ya, bolak balik mengingatkan statusmu yang janda.

Lantas, bagaimana dengan berteman dengan rekan pria? Sah-sah saja. Mereka bukan najis, kok. Tapi sebagai seorang janda, selalu libatkan pembicaraan tentang keluarga si teman pria.

” Istri lu kerja di mana?”

” Anak lu mirip elu ya, tapi senyumnya persis emaknya.”

” Anak lu sekolah di mana?”

” Laki suka begitu, terkadang tidak bisa melihat hal yang kecil, ini biasanya kerjaan perempuan. Coba deh diskusikan dengan bini lu..”

” Anak sama bini lu ngga apa-apa nih kalo lu kelamaan sibuk ama hobi lu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lah kira-kira. Selalu ingatkan hal tentang rumah kepada bapak-bapak ini.

Hindari menerima curhatan tentang kekurangan istri-istri mereka. Karena percayalah, bagi beberapa pria, ada saja yang bisa jadi sumber kekurangan istri mereka.

Bilang saja ,” Ngga ikutan aaaah!”

Kecuali..

Kalau kamu juga sebenarnya suka sama dia. Wah, itu akan jadi lain cerita.

Tercabik.

Ketika akal sehat berkata “tidak” namun hati berkata “ya”. Sementara, engkau adalah seseorang yang sangat percaya kata hati dan intuisi.

Lalu kau ikuti kata hati.

Namun karena tak sejalan dengan akal sehat, ketika menemui suatu jalan buntu kau seperti tercabik.

Hati : ” Waduh! Kenapa begini?”

Akal sehat : ” Kubilang juga apa?!”

Hati : ” Mengapa menyakitkan seperti ini?”

Akal sehat : ” Sudah berkali-kali kukatakan: ‘kubilang juga apa’…”

Hati : ” Tolonglah…aku patah, berdarah..”

Akal sehat : ” Kubilang juga apa? Hah?!”

Dan dalam kebingungan engkau merasa tercabik. Karena apa yang menjadi bagian penting dalam dirimu saling berperang, bertentangan dan membuatmu seperti terperangkap dalam sebuah pusaran awan gelap tanpa kau ketahui bagaimana jalan keluarnya.

Apakah Ini yang Disebut Cinta?

Adalah tipis batasan antara benci dan cinta, jika ego yang diletakkan di atas segalanya.

Bagaimana bisa seseorang mengaku cinta, jika tega membiarkan pasangannya penuh tanda tanya?

Bagaimana bisa seseorang mengaku cinta jika tega demikian lama memilih diam seribu bahasa?

Bagaimana bisa seseorang mengaku cinta jika rasa sakit hati menutup hati akan alpanya?

Bagaimana bisa seseorang mengaku cinta jika benaknya penuh syak wasangka?

Bagaimana bisa seseorang mengaku cinta jika tak akan bergeming jika tak lebih dahulu disapa?

Bagaimana bisa seseorang mengaku cinta jika menghindar lebih baik daripada menatap wajah kekasihnya?

Bagaimana bisa seseorang mengaku cinta jika atas dasar gengsi tak ada peduli yang tersisa?

Bagaimana bisa seseorang mengaku teramat cinta jika merasa senang jika membuat gundah?

https://pin.it/ntyppi5rqqwuvo

Weird People on Instagram

I was changing my Instagram profile from private to public because of this stupid best nine application and accidently add some random people (RP) on Instagram :

RP : ” Hello. Where do you live?” –> by direct message

ME : ” Jakarta, Indonesia.”

RP : ” I’m half Korean half Arab.”

*sent a video picturing an Asian guy with a bushy eyebrows talking about something*

Me : [uhm, this feels something is off]

RP : [sent another video]

Me : [weirdo alert automatically ON]

RP : ” I live practically everywhere, since I love traveling. But I live in Istanbul with my big family. Maybe I’ll come to Jakarta to see you.”

Me : ” Mmmm.. have u ever been to Bangkok? Similar, but more busy.” —> tried to be a nice Visit Indonesia Ambassador, with weirdo alert still ON.

RP : ” Tell me about Jakarta.”

Me : ” Sorry, I’m driving.”

RP : ” Ok, don’t chat while driving.”

Okay.

I gotta get rid of this weirdo later. Ride (bicycle) first.

But I forgot.

On the next day :

RP : ” Hey, I’ll come to Jakarta on Monday morning.”

Me : ” Yay! Enjoy Jakarta.” —> it was a flat and ofcourse meaningless “yay!”.

If this guy asking for a meet up, something is off.

RP : ” I’ll be staying in Hotel Grand Melia, Kuningan area. Perhaps we can meet over coffee?” [smiley emoticon]

Okay.

Something is obviously off. If he’s that handsome and filthy rich so he can live everywhere in this world he won’t be this desperate asking to meet up some random people.

Me : ” Sorry. I don’t meet people that I barely know.”

Then I left the phone to clean my bicycle and hit the shower. Maybe almost an hour later, I looked at this guy’s reply by direct message on Instagram.

RP : ” Okay. Already unfollow. LOL.” [smiley emoticon]

Me : ” Good.”

Case closed.

League of Enemy/Haters.

Siang tadi, seorang temanku berkata,” Kata si Anu, aku harus berhati-hati denganmu. Katanya, semua aja diajak berantem sama kamu.”

Aku terdiam sejenak.

Benar sih.

Aku anaknya kayaknya gitu, punya banyak pertemanan atau perkenalan yang terputus tanpa ada harapan kembali tersambung. Dengan kata lain : banyak juga mungkin, musuhku.

Padahal orang-orang ini (dan tentunya kebanyakan adalah perempuan) adalah orang-orang yang pernah terhitung dekat denganku.

Coba aku list ya, berapa banyak teman.. well oke lah kalo mau engkau sebut : “sahabat” wanita yang tadinya amat dekat kini tak pernah lagi bertegur sapa.

Boro tegur sapa, bertemu saja bisa sikapku seperti tak pernah mengenalnya, atau mereka.

Seorang teman saat masih kuliah, sebut saja namanya Mawar (biar lucu). Persahabatanku mulai retak setelah aku mulai bekerja sampingan dan berpacaran dengan pria yang kemudian menjadi ayah bagi anak anakku.

Alasan yang Mawar kemukakan, ” Elu sekarang mengesklusifkan diri (padahal aku masih menggunakan bis Damri dan angkot). Udah gitu, elo tuh matre ngga kira-kira sampai cowok beda agama lo sikat juga.”

Heh?! Kok ngga nyambung?

Oke, fine.

Berikutnya adalah seorang sahabat yang aduuh, oh I loved her dearly, once I considered her as my big sister. Sebut saja namanya Dahlia.

Persahabatanku dengannya runyam dan hancur setelah suatu ketika dia mengirimkan pesan singkat,” Gue ngga peduli rumah tangga lo mau jadi apa, dan jangan ganggu laki gue lagi.”

Memang. Sebelumnya aku pernah sangat emosi menelepon suaminya di seberang benua sana. Tak terangkat, dan aku meninggalkan pesan di ponsel sang suaminya,” Elo ngomong apa sama laki gue?”

Sudah, begitu saja.

Alasannya simpel. Bapaknya anak-anak demen curhat sama suaminya (dan kemudian istrinya) tentang rumah tangga kami. Dan saat itu, bapaknya anak anak sering membawa-bawa nama mereka ini, untuk menguatkan argumentasinya.

“Kata si Ini… Buktinya saja mereka… Si Anu sampai bilang …”

Ih capek. Ok, fine.

Berikutnya seorang sahabat yang punya banyak kesamaan denganku. Seorang alpha female, decission maker, dan sama sama menggemari olahraga.

Sebut saja namanya Melati. Selama beberapa tahun, kami berteman dengan intens. Sehari, bisa meneleponku lebih dari takaran obat dokter.

We used to talk for hours. Lagi pasang kuteks, sedang berkendara, heck..bahkan pernah saat aku mandi.

Dia bawa aku ke lingkungan pertemannya dan I could blend easily.

Dia sih belum tentu bisa dan mau masuk ke lingkungan pertemananku.

Pertemanan kami mulai runyam ketika kami berencana ke luar kota, untuk sebuah event olahraga. Dia, yang saat itu tengah dekat dengan seorang pria, memastikan aku, dan salah seorang teman kami untuk berada di hotel yang sama.

Kekusutan mulai timbul ketika seorang teman perempuan lain, sebut saja namanya Aggrek meminta untuk ikut bersamaku. Karena ia tak memiliki teman yang ia rasa cukup nyaman untuk diajak berbagi kamar.

Anggrek tak tahu jika Dahlia tak menyukainya. Dan aku terlalu gampang iba, jika harus membiarkan Anggrek seorang diri. Dahlia nampaknya tidak nyaman dengan aku yang tak bisa menolak Anggrek.

Emosi Dahlia kemudian meledak, ketika pasanganku kemudian mendadak memutuskan ikut event olahraga yang sama, namun memesan penginapan yang berbeda.

Jadilah aku terjebak. Dan aku memilih pasanganku. Karena saat itu, pilihan itu yang memang harus aku ambil.

Aku bingung sebenarnya apa yang menjadi sumber kemarahan Dahlia.

Aku tak meninggalkan dia seorang diri. Ada teman laki lakinya, dan seorang teman wanita yang sekamar dengannya.

Selama di luar kota, aku dan pasanganku mengantar sekaligus menjemput mereka, dan menghabiskan waktu bersama.

Temanku si Anggrek tadi, akhirnya menemukan teman lain untuk sharing kamar, jadi tak pula mengganggu pandangan matanya.

Sepulang dari luar kota, hubungan perteman dengan Dahlia kembali seperti sedia kala. Walaupun aku yakin, pasti sudah tercoreng luka, mungkin di dirinya. Namun di diriku, aku cenderung memilih berhati-hati.

Sampai tiba-tiba suatu ketika sesudahnya, pasanganku dilanda cemburu. Cetek banget. Cuma gara-gara aku menerima pertemanan seorang pria di media sosial.

Sayangnya, aku merasa Dahlia menyiramkan bensin ke api yang tengah menyala.

Padahal, belum tentu itu maksud Dahlia. Mungkin she had no idea, ngga sengaja. Mungkiiin, ya.

Aku kemudian diam. Aku hanya ingin diam untuk beberapa saat. Namun sepertinya kadung sudah ada luka, dengan meledak-ledak Dahlia mengatakan sudah tak sanggup berteman denganku. Katanya, aku terlalu egois.

Ok, fine.

Aku dulu pernah punya geng-geng an. Namanya geng sarapan, karena biasanya kami berempat selalu bertemu saat selesai mengantar anak sekolah, pagi hari.

Selain aku, ada yang namanya Seruni, Kamboja dan Tai Kotok. Seruni cenderung dekat dengan si Tai Kotok, sedangkan aku dan Kamboja lebih sering bertemu, saling curhat dan hal hal yang dilakukan well.. sort of bff thingy.

I did most of everything Kamboja asked me to do.

” Let’s go to the mall, but pick me up since it’s closer to my place.”

So I picked her up.

” Let’s meet up, I’ve got something to tell you.”

So I met her up.

” Please come to my house, I can’t decide which bag to buy.”

So I came to her house.

Sampai suatu ketika, aku meminta Kamboja menjemputku untuk suatu acara yang harus kita datangi bersama, entah kenapa Kamboja mendadak ribet dan intinya tak mau menjemputku.

Aku jarang meminta. Maka dari itu, jika sekali aku meminta dan ditolak, sementara aku merasakan telah melakukan banyak untuk orang tersebut, aku rasanya seperti tertampar.

As usual, I wanted to stay quiet for a while, buat meredam kekesalan.

Kamboja tahu, aku kesal. Dia curhat pada si Tai Kotok yang sejak dari awal aku mengenalnya, aku sudah tahu ia ini ibarat seorang teman yang tersenyum di muka, sementara menggenggam sebuah belati di belakangnya, menunggu momen untuk menikamku kapan saja.

So they became allies.

Dan aku memutuskan hengkang dari grup sarapan itu.

Sampai brberaa waktu kemudian, out of pity, somehow I befriended again with Kamboja.

My bad.

I should’ve known I’m too strong for spoiled or “princess syndrome” women. Or those girly type ones.

She was not satisfied with me. Then she made allies with some other friends, badmouthed and tried to analyzed me. Ah, typical. Ah, lame.

And ofcourse, once again she and Tai Kotok became allies.

Ok. Fine. Next!

I was a member of this school moms gang. We used to hang out and have a routine arisan every month.

One day, the father of my children (somehow) joined the gang. Hey, I’m always cool with couple having the same friends or community. Enak, malah. Bisa bareng terus.

Things went bad when he, unfortunately, curhat massal di momen arisan di mana aku sedang tak ingin hadiri.

Maybe he was looking for a solution , because he THOUGHT these ladies were my friends. Or.. maybe it was his hobby. Talking about me, the mother of his children, to other people.

He did not know that I have my layers of friends.

Ring satu adalah teman teman yang benar benar aku nyaman untuk membuka masalah pribadi. Dan ini sangat sedikit jumlahnya.

Ring dua adalah teman-teman yang cuma tahu 1-2 hal pribadi.

Ring tiga adalah orang-orang yang aku sangat berhati-hati untuk bercerita terlalu banyak.

Dan seterusnya.

And these ladies are faaaaar from my layer number 1 or 2 or even 3.

He had no idea the impact of that curhat massal itu, apalagi ternyata si Tai Kotok ikut mendengarkan dengan tekun.

I was furious, humiliated. And hurt at the same time.

As usual, I wanted to be alone, and quiet for a while.

And he did not feel that it was wrong, opening out private life to these ladies.

So he continued to feed them, with our private life stories.

I was too lazy to play my words against his words to them. I did not need to explain myself to them.

What for? Bad news is always a good news, toh?

I just slowly slipped away from them, and finally became school moms gang’s public enemy.

Until that marriage was finally over.

(Begonya dia sih, untuk hal yang satu ini. Mau-mauan kena kompor)

Imbasnya, namaku sudah pasti tercemar ke mana-mana. Namanya juga mulut perempuan, ya… Wah terkadang sampai kaget sendiri, orang yang tak kenal aku bisa tahu cerita (buruk, tentunya) tentang diriku.

So some of these ladies became my enemy. Apalagi yang namanya Bunga Bangke dan tentu, my dear Tai Kotok.

But you know what, after the divorce, paling gak ada satu hal baik untukku. They don’t have a sufficient source anymore yang terus memberi daily update about how I live my life.

I was free, at last!

Ada satu perempuan di gym. Namanya.. uhm… udelah gak usah pakai nama. Gak penting soalnya.

Suatu ketika, dia mendiamkanku, menghapus namaku dari daftar teman chatnya.

Sepertinya ia menyalahkan aku akan rusaknya pertemannya dengan seorang teman pria yang ia kenal sejak lama.

Yaudah. Biarin aja.

Si teman pria ini kemudian hari sempat kumaki-maki karena pacarnya, yang nampaknya agak steheng itu, bicara macam-macam tentangku pada teman kami yang lain. Nampaknya ini perempuan tak tahan dengan pesonaku yang magnificent berat padahal katanya dia lebih cantik dan lebih aduhay dari diriku yang apalah remahan kemplang Palembang ini.

Ok. Fine.

You see, folks….

When I heard something bad about me, aku cenderung diam. Kecuali jika orang menanyakan : ” Apa benar, seperti ini… atau itu?”

( A real friend will do that, or at least they’re still make friends with you without any judgements)

Maka aku akan menjawab, dengan versiku.

Aku tak mau yang tiba-tiba datang dan menjelaskan tentang diriku kepada siapapun. Iya kalau mereka mau dengar, kalau mereka pikir : “Ah ngeles, aja lu..” gimana?

Kan percuma.

I would rather go away and make new friends.

Kupikir begini : if something is really off with me, I won’t be able to make friends anywhere.

The fact is, until today, I still have lotsa friends. Male, or female. Old, and new. I still have them all. I’m still get invited to parties, gatherings or meet ups by other friends.

Mereka mereka yang sudah tak menjadi teman atau orang yang kukenal, kuanggap saja seperti jodoh. Yaudah, jodohnya cuma sampai segitu.

Mau apa lagi?

Mungkin akhirnya aku seperti punya banyak musuh. Tapi kalau musuh kan, kesannya harus dilawan terus.

Aku enggak.

Aku diamkan saja kok, until their pictures fade away and out of my head. Niat membalas atau dendam pun enggak kok.

Eh ada deeeng, dendam sedikit, paling sama 1-2 orang. Yang lainnya?

Ngga ada rasanya tuh….

Merely sudah tidak berjodoh lagi dengan mereka-mereka ini. Sesimpel itu aja, sih.

Sepeda Lipat Brompton : Demi Fungsi, ataukah Gengsi?

Beberapa waktu lalu, ada pernyataan menggelitik dari salah satu kawan di perbincangan Whatsapp Group.

Beliau, konon seorang pesepeda handal dari zaman dahulu kala, menyatakan bahwa orang-orang yang kini tengah demam sepeda Brompton, membeli sepeda asal Inggris itu hanya karena gengsi.

Menurut beliau lagi, masih banyak sepeda lipat merk lain, yang sama berjaban atau bahkan lebih enak dipakai namun dengan harga yang jauh lebih murah.

Belum lagi, belakangan ini Brompton diserbu beberapa kompetitor yang bentuk, cara melipat yang mirip, mungkin sekilas sama persis. Harga? Wah tentu di bawah harga Brompton yang untuk jenis paling standar saja sudah berkisar di angka 27 juta rupiah.

Menanggapi tentang kicauan si Beliau ini aku menjawab pendek,” Yah, jika bujet ada untuk membeli sebuah Brompton, kenapa engga? Yang bahaya itu kalau maksa, bahkan sampai berhutang demi membelinya.”

Jawabanku tadi ditanggapi Si Beliau dengan mengatakan bahwa itu merupakan jawaban standart (atau klise?) dari para pemilik sepeda lipat Brompton.

Lah, mau bagaimana lagi yak? Pikirku.

Pada kenyataannya, sepeda lipat ini menurutku memang memiliki kelasnya tersendiri. Dari bentuk, warna, dan tentunya kualitas.

Brompton sangat serius dalam merancang sepeda lipat, komponennya dibuat dari bahan yang berkualitas, rapi dan presisi. Bersepeda lebih tenang dan senang karena merupakan sepeda yang tangguh dan tidak mudah rusak.

Berdasarkan hasil Googl-ing dan Youtub-ing, sepeda lipat Brompton terhitung ringan (jangan tanya yang berbahan titanium) dengan metode pelipatan yang efektif dan cepat.

Komponen yang dipasang secara manual dan dengan cermat membuat kita tidak akan kesusahan untuk melipat sepeda Brompton ketika diperlukan.

Sebagai seorang wanita, aku merasakan sekali kepraktisan menenteng sebuah Brompton untuk naik kereta api atau MRT, ketimbang saat aku membawa sepedaku yang lain, sebuah Dahon tipe Archer. Di bagasi mobilpun, Brompton tidak memakan banyak tempat.

Memang benar, di luar sana mungkin ada beberapa sepeda lipat dengan harga yang jauh lebih mahal, atau jauh lebih canggih.

Tapi kalau aku boleh mengibaratkan dengan sebuah merek jam tangan, Brompton mungkin setara dengan Rolex.

Setiap kolektor jam tangan premium, biasanya di awal akan memiliki atau paling tidak pernah punya sebuah Rolex. Padahal mungkin dia juga memiliki sebuah Vacheron Constantine, Richard Mille, Audermars Piguet, atau Patek Phillippe yang juuuuaaauh lebih mahal.

Mungkin ini yang menyebabkan ketika orang menyebut : sepeda lipat premium, atau sepeda sultan, yang pertama terlintas di kepala orang awam adalah : Brompton.

Itu juga yang mungkin menyebabkan mengapa saat ini Brompton seperti membanjiri jalanan di ibu kota, atau di Gelora Bung Karno saban sore.

Kembali lagi ke pertanyaan sesuai judul : orang membeli Brompton demi fungsi ataukah gengsi? Lagi-lagi aku akan memberikan jawaban yang terkesan klise.

Gimana individunya.

Lah ya iya.

Aku pribadi, sebelumnya tak pernah berpikir bisa tercebur dalam komunitas persepedaan. Kupikir, aku tak berjodoh dengan olahraga yang satu ini.

Satu kali sekitar tahun 2013 aku pernah terpelanting, hingga tempurung lutut kanan geser.

Suatu hari di tahun 2014 atau awal 2015 aku pernah mengalami pelecehan orang sakit jiwa saat duduk di atas sadel sepeda.

Kupikir : “That’s it, I’m not going to do this (bersepeda).”

Awal 2019 lalu aku memutuskan iseng iseng bersepeda dengan menggunakan sepeda lipat lama yang selama ini hanya dipakai buat mondar mandir ke warung.

Saat aku diajak gowes bersama dengan sebuah komunitas sepeda Brompton, saat itu aku satu satunya perempuan dan satu-satunya yang menggunakan merek sepeda yang berbeda.

I did not like it.

Rasanya seperti datang ke sebuah pesta dengan dress code hitam , aku datang lain sendiri dengan baju berwarna putih.

Dan 3 hari kemudian, aku sudah menggesek kartu kredit dan membawa pulang sebuah Brompton.

Apakah itu termasuk demi gengsi? Entahlah….

Soalnya, jikalau aku datang membawa sebuah Alex Moulton sekalipun (bukan sebuah Dahon), rasa-rasanya aku tetap akan membeli sebuah Brompton. Karena sepertinya aku tahu, aku akan masuk dalam komunitas merek sepeda tersebut.

Kalau demi fungsi, wah. Aku ini ngga ngerti apa-apa tentang sepeda. Aku cuma tahu dan bisa menggenjot pedalnya. Sepedaku termasuk tipe standart, bukan yang special apalagi limited edition.

Onderdilnya juga masih standart bawaan pabrik, tak diganti ini atau itu. Murni cuma bermodal dengkul, paha atas, perut dan sepeda.

Saat dipakai atau istilahnya digowes, menggunakan Brompton dengan ban 16′ tentu terasa lebih capek dari Dahon Archer yang menggunakan ban 20′.

Tapi untuk dilipat dan diangkat, Brompton jelas jauh lebih menyenangkan daripada si Dahon.

Tentu akhirnya aku tergabung dengan sebuah komunitas pengguna Brompton, tapi aku tergabung juga dengan sebuah komunitas all folding bikes di mana harga sepeda dari ratusan ribu hingga jutaan atau puluhan juta juga tak ada yang ambil pusing.

Dua komunitas ini sama porsinya bagiku. Masing masing punya nilai plusnya sendiri. Yang satu dikenal dengan bersepeda gaya, santai , ceria, terkadang hura-hura, sementara yang satu lagi meski lebih suka nongkrong di warung kopi dan jajan yang biasa saja namun skill mereka akan ilmu persepedaan tak diragukan lagi.

Guyubnya sama. Semuanya bisa membuatku tertawa, lupa sejenak akan ruwetnya hidup di Jakarta.

Jadi, jika ditanya apakah aku membeli sebuah Brompton demi sebuah gengsi ataukah fungsi? Nampaknya jawabanku adalah : iya, jujur. Dua-duanya. Karena aku suka fungsinya, efek yang ditimbulkannya, dan aku mampu membelinya.

Sekian.

Nyesel…?

Saat selesai menjalani sebuah hubungan romantis, pacaran gitu, aku biasanya jarang menyesal.

Mau seperti apa mantan(mantan) pacarku dulu, baik-buruknya selalu bisa kuterima.

Penyesalan pertama pernah datang saat aku masih kinyis-kinyis. Aku bahkan tak ingat berapa lama aku berpacaran dengan cowok itu. Sempat malah, kalau bisa, memori di situ langsung hilang, di-skip, pindah ke babak berikutnya.

Gara-gara apa?

Simpel. Dia kulihat suka mengkonsumsi obat-obatan sejenis anti depresan yang menurutku “engga banget”. Tapi pil-pil putih itu membuatku ilfil seketika dan bertahun tahun kemudian membuatku terhenyak : “Guuurl, what were you thinking???”

Padahal, yang kudengar, ia sangat membanggakan bisa pernah berpacaran denganku. Sementara aku .. duhh kalo bisa ngga usah ingat ingat lagi dah. Skip! Skiiip!

Kemudian di suatu waktu, aku pernah dekat dan bisa dikatakan berpacaran dengan seseorang laki laki.

Good looking lah, baik, nice, sweet., helpful.

So I thought…

Sampai tiba saatnya berbenturan dengan konflik. Mulanya, konflik terselesaikan dengan baik dan damai. Sampai suatu ketika dia memasukkan figur lain, yang konon katanya “hanya” seorang teman wanita.

Teman wanita yang katanya dan kelihatannya sih naksir banget ama dia.

Jealous?

Hahaha. I’m too proud to be jealous, my dear. Seriously.

Bagiku, entah untuk alasan apa, pria ini sangat menjaga baik-baik pertemanannya dengan si wanita ini. Padahal katanya ngga suka…. (LOL)

Tuduhanku sih… dasar aja ni laki lagi di atas angin, karena ada atau banyak yang naksir. Ia menikmati kebutuhan wanita itu akan dirinya.

Mungkin juga, sengaja dipiara buat memancing emosiku. Mungkin saja ia ingin mengetes dan penasaran sedalam apa cintaku padanya. Manas-manasin, gitu… agar api asmara semakin membara.

Pret.

Dan seperti yang sudah-sudah, aku enggan berkompetisi. Dih, apalagi demi ngerebutin laki-laki. So after.. I dunno, 4-5 months, I finally and calmly ended it.

Maybe he was hurt. Maybe he hated me. Afterall, he always said he loved me. Only me.

But I did not buy it.

Every pictures shown he and that woman were always side by side, and for me that was a disgrace and already told me everything.

That he did not respect me.

So sorry, man.. all that love you bullshit, I did not buy it. You gotta prove it better than that.

Dan selama melewati konflik sesudahnya, duh… ngga worth it banget.

Dia hina aku. Mulutnya pedas. Kalo pedas tepat sasaran yang mendinglah. Ini pedas semua dihajar dengan membabi buta yang saat itu kerap membuatku berpikir,” Heh??!?! Kok gituuu siih?!?!!”

Dia underestimate kemampuanku berpikir, bahkan memilih teman. Padahal sebagai anak rantau yang mudah bergaul, mungkin aku lebih banyak bertemu atau berteman orang-orang dengan karakteristik dan latar belakang yang beragam ketimbang doi, ya ngga?

He ditched me on the street, once. <— wagelaseeh yang ini ENGGA BANGED, sumpah. Kalo sampai anak laki-lakiku ada yang menghindari masalah dengan main kabur, apalagi sampai membiarkan anak gadis orang sendirian di jalan, kukemplang dia!

He was indecissive, when I gave him choices, serious choices like : me, or her ( ofcourse I was being reasonable and gave him win/win solution first). Sorry mate, you can’t have them all. I’d better cut myself loose.

He was an overthinker. My God, how he thought about somebody’s or other people thought… Why bother?

He was manipulative. Somehow in every situation he put the ideas to people that I was super mean and he was the victim. Just like what happened in his previous relationship ( I began to wonder…).

He was childish. Yeah, indeed.

He scolded me of being selfish (that’s okay, I admit it, and thought that he was a total narcissist).

He never listen. He only heard what he wanted to hear.

He actually did not really care how I feel.

He thought he was the one that always right.

Basically….he was far knowing how to handle me.

When it finally ended, ada sesuatu yang mengganjal yang mungkin… mungkin menyebabkan aku berpikir,” Damn, why did I fall for him? Better have a no string attached relationship at the first place, so I would remember him like only one of those guys that I had kissed and told good bye on the next day.”

Eventhough I still can think something good and nice about this fella, somehow my head kept saying, ” Guuurl! What were you thinking?!?!!”