Dormant.

No matter how hard you tried, but somehow this pain won’t completely go away. It stays, like a black spot latching somewhere in one of your internal organs. Maybe it’s in your heart, your lungs, your liver, your kidney… you do not know for sure. But you know, it’s there.

It is not as big as before (thank God). It has shrunk into the size of a bean, but it’s there. Just like a dormant cancer cell. It’s not harmful at the moment, but still…a potential threat.

Advertisements

Dear Younger Me….

If you could go back in time, what would you say to younger you?I’d say : ……” Never give up the opportunity to earn money and turn into ‘just’ a housewife and a full time mother. You are not build into that kind of person. “P.SI’d say… travel more. But at that time, I had not enough money. So I guess, there’s nothing much to say about this… 😀

Berusaha Tetap Cantik Itu Nggak Dosa!

Sesungguhnya wanita itu cobaan di dunianya lebih berat dari pria. Contohnya saja, di usia 30an proses aging sudah dimulai, masuk 40an produksi kolagen bisa jadi sudah nyaris terhenti, metabolisme menurun sehingga lebih gampang merekah dengan sempurna. Wanita sudah kodratnya menua lebih cepat, sementara untuk perawatan tubuh dan wajah agar tetap paripurna butuh biaya yang tak murah, dan bisa jadi…dianggap pemborosan semata. Sementara, pria di usia 40-an lagi mapan ganteng-gantengnya, dan di titik itulah banyak pria yang suka alpa. Adalagi yang kepleset dan memberi alasan : sudah takdirnya bahwa jumlah perempuan 4 kali lebih banyak dari pria (woddeehelll?!).Moral of the story : masukkan bujet perawatan muka dan wajah sebagai penunjang rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah. Bagi gue itu bukan dosa, mungkin saja sebagai bentuk ibadah.( selain curhat karena muke gue kering, kusam, flek-an aging banget dah pokoknya, gue abis sebel baca gosip penyanyi religi yang bentar-bentar udah kawin mulu )

Daydreaming.

I like the mountain breeze as much as I enjoy walking on a white sandy beach…

I like European pebbled streets as much as I admire sclupted stones in Borobudur or any Balinese temples.

I like the taste of herbs and spices in Indonesian food, but I also don’t mind eating kebab and salad for days whenever I can’t find halal food.

Both winter and rainy season are the best time of the year for me.I like that feeling, the excitement, whenever I go travel to a new place, a new destination.

My mind, my eyes are always greedy, constantly hungry to see, to memorize everything, anything, oh…every single thing!

Bahagia?

Secara tak sengaja, aku membaca status di media sosial seorang teman. Isinya kira-kira semacam sebuah pernyataan, bahwa meski ia telah menikah cukup lama, dirinya dan suami merasa BAHAGIA, meski belum atau tidak dikaruniai seorang anak.

Di akhir kalimat, sang teman menyatakan kekhawatirannya tentang pandangan (kebanyakan) orang adalah tentang seperti apa seharusnya ‘bahagia’ itu.

Aku paham, maksudnya.

Aku juga paham, mungkin si Teman tadi sedang di titik lelah, bosan, eneg, males dengan pertanyaan klise : “kapan punya anak?”.

Mungkin sama dengan kamu yang jomblo : bosan ditanya kapan menikah.

You see..

Definisi bahagia itu tidak sama bagi setiap orang. Misalnya, ada yang bahagia meski dengan uang yang cuma seribu rupiah, namun ada pula yang gundah gulana meski memegang uang sejuta rupiah.

Ada yang bahagia jika hidupnya lengkap, dengan suami dan anak(-anak), tapi ngga bahagia karena punya mertua yang dirasa resek dan nyebelin, atau gaji yang dirasakan kurang.

Ada yang bahagia meski tak punya pasangan karena bebas dari segala belenggu dan aturan, namun ada kalanya merasa hampa karena tak ada tangan yang bisa selalu digenggam jelang waktu tidur tiba.

Seperti si Teman tadi, meski tak ada hadirnya buah hati, namun ia merasa tetap bahagia karena memiliki pasangan yang lucu, rame, dan mencintainya sepenuh hati.

You see..

Aku melihat untuk bisa menjadi bahagia itu ibaratnya memegang sebuah neraca, yang harus seimbang kedua sisinya.

Jika satu sisi terlalu berat, maka sisi lainnya ditambahkan sedikit lagi beban agar posisi neraca imbang, persis sama. Atau….Sisi yang lebih berat tadi dikurangi saja.

Semua juga tahu, dalam hidup itu kita tak pernah bisa dapat semuanya. Pasti ada salah satu yang berlebih, dan ada salah satu bagian yang dirasa kurang.

Tinggal pilihannya : mau fokus ke mana? Yang lebih, atau ke yang kurang?

Jika bagimu kebahagiaan yang hqq adalah punya keluarga lengkap dengan suami dan anak(-anak), sayangnya tak semua orang bisa bernasib sama, dan mereka harus mencari hal lain untuk menyempurnakan apa yang disebut “bahagia” tadi.

Does it mean you, the married people with children and what you thought your almost perfect life is better?

Maybe yes, maybe no. You tell me.

Begitu kau merasa bahagia itu adalah menjadi atau berpikir seperti dirimu, bagi saya “..oh belum cencyuuuu itu yang aku atau dia mau, paling tidak untuk saat ini”.

Mungkin bagi mereka-mereka yang berhati besar bisa berkata : doakan aja, aminkan saja. Toh hal yang baik ditanya : kapan punya anak, mengapa belum punya anak, atau semoga kamu cepat kawin..eh..nikah lagi.

Tapi mbok ya yang nanya yaa… yang bener aja. Liat liat dulu lah yang ditanya. Jika pasangan tanpa anak ini sudah berusia 40+ lah apakah masih penting, gimana caranya agar bisa bunting? Mungkin mereka sebenarnya sangat ingin punya anak, tapi hey…. yang ngatur urusan gini kan Tuhan? Mau usaha tiap hari sampai ledes, kalo memang tak diberi, mau apa?

Orang mah gampaaang, bilang : kan bisa usaha? Berobat ke Singapura, insem, bayi tabung, pijet, dukun… Tapi mau ngga ngasih duitnya?

Daripada berisik menyayangkan mengapa mereka tak dikaruniai keturunan, mending doakan saja semoga keduanya akan saling mencintai dan berbahagia sampai akhir hayat.

Gak usah pusing mikirin, nanti siapa yang mendoakan. Toh Tuhan ngasih 3 opsi, kok untuk amal yang tak terputus walau sudah mati : doa anak soleh, ilmu yang disebarkan, dan sedekah/wakaf yang bisa dipergunakan untuk kepentingan orang banyak.

Begitupun dengan yang sudah 2 tahun menjanda karena masih sakit hati karena diceraikan terus nggak kawin-kawin atau tak terlihat punya pacar tetap karena masih eneg dengan lembaga perkawinan. Makin didoakan cepet dapet jodoh agar bisa move on dan bahagia, malah yang ada makin sebel.

Palelu, gue kagak move on.

Emang bahagia itu ada di laki-laki dengan judul “suami”? Pernah kok punya suami, gak menjamin juga tuh dibahagiakan. Emang kalo kawin , eh nikah sudah pasti bahagia? Dikata kawin lagi menyelesaikan segala masalah? Najong bener kalo sampe gagal lagi, mestilah gue pikir tiga, empat, lima kali. Trus….Emang kalo sekarang, menurut lo gue gak bisa bahagia? Gak punya duit, naaah…baru gue gak bahagia. Apeloh..apeloooh??? <—- Nah…ini adalah contoh kesensian level expert dari pertanyaan dan doa agar segera kawin lagi yang diberikan kepada seorang wanita yang lo nggak tau kaaan, kalo ternyata masih patah hati.

So people, let’s just be kind to others. Jaga lisan, dan juga ketikan, untuk tak lancang menentukan gimana seseorang itu agar bisa bahagia. Apalagi, kalo orang itu ngga pernah nanya, minta tolong dibahagiakan atau meminta pendapat gimana caranya buat bahagia.

BPJS part 3, Faskes III.

Jum’at, 17 November 2017Pagi pagi aku sudah bangun dan mempersiapkan berbagai dokumen yang mesti kubawa, seperti : foto kopi KTP, KK, hasil lab, hasil USG, surat rujukan dari Faskes II, dan tak lupa, surat “sakti” dari Dokter Berhijab.Kupikir, antrean di RSCM pasti panjang, sehingga aku minta tolong ayahku sajalah untuk mengantarkan anakku ke sekolah. Pukul 5.30 pagi aku sudah berada di belakang setir dan meluncur menyusuri jalan.Lokasi rumahku berada di Jakarta Selatan, menuju RSCM yang berada di Jakarta Pusat, butuh waktu sekitar 40-45 menit pagi itu. Terhitung cepat, karena belum terjebak di rush hour.Sesampainya aku di sana, aku terperangah. Antrean yang bergerombol di ruang administrasi untuk mendapatkan SEP bukan panjang saja, tapi sangaaaaaat saangaaat panjang, ramai, penuh…! Kulihat gerombolan orang orang yang berjejal di depan pintu yang masih tertutup rapat.Udara di sekitar situ terasa sesak dan pengab dengan aneka rupa aroma. Aku juga melihat beberapa pasien dengan kondisi…ya Tuhan…Ada yang bola matanya hampir “lompat” dari soketnya.Ada yang kepalanya sangat besar sehingga kelopak matanya tertarik ke atas.Ada yang kedua matanya berjarak sangat jauh antara satu sama lain hingga mendekati telinga.Ada ibu ibu yang terbaring lemah dengan perut yang amat besar, membusung.Ada kakek kakek yang terduduk lemah di kursi roda dengan nafas yang sudah sangat kepayahan, sehingga ada suatu waktu aku mempertanyakan masihkah si kakek itu bernafas.Ada yang terbatuk batuk tanpa henti.Sebagian besar dari mereka memakai masker. Ah ya benar juga. Aku harus beli masker untuk menyaring udara. Karena kita tak tahu berapa banyak kuman yang bergerak bebas di udara di tempat itu.Mataku seketika memperhatikan papan petunjuk yang jelas nampak asing bagiku, karena itu kali pertama aku menginjakkan kaki ke RSCM. Aku mencari tulisan “pendaftaran BPJS”, namun tak kutemukan.Aduh, aku harus cari ke mana? Sekitar 15 menit aku mondar mandir di lantai dasar gedung tersebut, untuk beradaptasi dan menghapal dimana letak ruang atau poliklinik yang harus kutuju.RSCM secara umum terlihat memiliki 3 bangunan. Bangunan di paling kiri adalah gedung RSCM Kencana, yang aku tebak tak mungkin anggota BPJS akan dilayani di sana. Aku tahu, gedung dengan disain masa kini itu diperuntukkan bagi pasien yang mendambakan perawatan bertaraf internasional, dengan membayar tentunya.Bangunan terbaru di paling kanan adalah gedung RSCM Kiara. Aku pernah masuk ke situ untuk menumpang ke toilet, maka aku tahu gedung tersebut diperuntukkan khusus bagi pasien anak anak.Di antara kedua bangunan baru itu, terdapat gedung asli dari RSCM. Bangunan tua, dari zaman Belanda, dan sering kudengar kisah horornya dari para mahasiswa kedokteran yang magang di sana.Nah di gedung itu lah para peserta BPJS berkumpul, mengambil nomer antrean dan mendapat penanganan.Pertama tama aku mencari tulisan “Customer Service” untuk mendapatkan informasi. Karena aku pasien baru, maka aku harus mendaftar dulu untuk mendapat kartu pasien. Sesudahnya, aku mengambil nomer antrean untuk mendapatkan SEP ( Surat Eligibilitas Pasien ). Lumayan, seingatku untuk mendapatkan 2 hal itu, yang prosesnya tak kurang dari 5 menit itu, aku butuh waktu mengantre sekitar 3 jam.Setelah mendapatkan SEP, aku menuju Poli Kebidanan dan again, kembali mengantre dengan sabar. Sejam-an kemudian aku dipanggil untuk diperiksa oleh seorang dokter muda yang kuduga sedang mengambil spesialisisasi ( residen ). Berhijab juga, dan tutur katanya lemah lembut. Kuserahkan kembali “surat sakti” Dokter Berhijabku… Ah sudahlah….Kusebut saja sekarang namanya : Dr. Tricia Dewi Anggraini SpOG.Onk. Nah! Itu nama dokter baik hati yang memintaku memakai fasilitas BPJS.Setelah diperiksa secara “manual” alias tanpa alat USG canggih yang biasa kuterima, Dokter Muda tadi mengatakan akan menghubungi dan meneruskan hasil konsultasi hari itu kepada Dr. Anggi, demikian Dokter Berhijab biasa dipanggil.Aku dijadwalkan kembali seminggu kemudian.Jum’at, 24 November 2017Setelah kupikir-pikir, banyak kejadian fantastik yang terjadi pada diriku di hari Jum’at. Aku lahir di hari Jum’at, kembali mulai berkerja juga di hari Jum’at. Jadi pagi itu, aku memulai hari itu dengan do’a yang khusyuk. Agar di hari spesial itu, dimudahkan segala urusanku.Karena sudah pernah datang sebelumnya, aku sudah paham langkah yang harus kuambil.05.30 meluncur dari Lebak Bulus menuju RSCM.06.30 parkir mobil di gedung UKI yang berada di depan RSCM, karena untuk dapat parkiran tepat di depan RSCM agak agak mustahil ya….kecuali anda lagi sangat beruntung.07.45 duduk manis di luar gedung admission untuk mendapatkan SEP. Si SEP ini sebuah kemutlakan, kita harus membawa lembaran berwarna putih, pink dan kuning itu sebelum menuju poli. Aku dapat nomer antrian 200 sekian, hahahhaaa.Tahu tidak, seminggu sebelumnya, melihat gerombolan orang yang berjubel di tempat saat aku menunggu itu, aku sempat merasa tidak sanggup untuk meneruskan berobat dengan BPJS ini. Sempat terlintas di kepalaku, terserahlah. Mau bayar 50-60-70 jika masih berada di bawah 100 juta, tak mengapa. Tak sanggup rasanya berada di sini, demikian pikirku saat itu.Di parkiran RSCM, sekitar 30 menit-an aku mematung dan berpikir keras. Waduh, itu ya…berbagai suara berseliweran di kepalaku, bising sekali.Sampai akhirnya berbagai suara itu teredam satu persatu, sehingga tersisa satu suara yang berkata, ” Allah itu Maha Baik. Coba lihat bagaimana proses hingga engkau sampai di sini. Jika Ia menghendaki kau harus mengeluarkan uang sebegitu banyak, maka dari awal Dia tak akan menggerakkan hati Dr Anggi, tak akanlah beliau menyarankan mengambil langkah ini..”Aku masih terdiam.Dr Anggi mengatakan, JIKA tidak tertembus sampai RSCM, maka ia akan meminta koleganya untuk membantumu.”Jika”. Berarti prosesnya tidak sebegitu gampang, ya? Sementara, jika tak tertembus ke Faskes III apakah aku cukup nyaman dan percaya pada dokter yang akan mengoperasiku di Faskes II?Aku percaya pada Dr Anggi karena dokter kandunganku yakni Dr. Karno Soeprapto. SpOG menyebut nama beliau sebagai referensi. Dan….aku sangat percaya pada Dr Karno ( selain pada Tuhan, tentunya). “Sombong sekali, jika engkau menolak jalan ini hanya karena tidak mau keluar dari zona nyaman..”.Aku tertunduk. Selama hidupku, dari masih tinggal bersama orang tuaku, aku selalu dimudahkan untuk urusan berobat. Puskesmas di telingaku terdengar seperti : yah, gituuuu deh.Rumah sakit milik perusahaan tempat ayahku berkerja di kampungku sana, bagus. Amat bagus malah. Full AC dan royal, dalam memberi obat-obatan. Semacam vitamin, pembersih muka, obat tetes mata, bisa minta, ketimbang beli di luaran. Tidak sembarangan yang bisa berobat di situ. Hanya karyawan dan keluarganya saja, sehingga terjaga kualitas bahkan kebersihannya.Saat masih kuliah di Bandung, aku tinggal tunjuk rumah sakit pilihanku. Selanjutnya, berobat dan mendapat pelayanan medis dengan alat canggih seperti MRI ( yang kala itu harganya mooahaaal buanget ), rawat inap, tambal gigi, semuanya gratis dengan fasilitas kelas 1. Langsung dibayar oleh perusahaan, tanpa banyak cingcong.Setelah menikah, setiap aku dan anakku sakit atau berobat, pilihan kami adalah rumah sakit- rumah sakit swasta di Jakarta Selatan, seperti RS Pondok Indah, atau RS Brawijaya.Begitulah yah, manusia. Untuk menurunkan standart hidup, bagi beberapa orang itu…..rasanya luar biasa susah. Makanya tak heran, banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk jadi dan tetap kaya.Ah ya sudahlah.Kutarik nafas panjang, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan yang telah kumulai. Tanggung, sudah setengah jalan.11.00 Dipanggil masuk ke kamar 9, poli kebidanan. Bertemu lagi dengan dokter residen berhijab dengan suara lemah lembut, Dr Syifa namanya.Dr Syifa mengatakan sudah meneruskan hasil konsultasi seminggu sebelumnya. Dr Syifa mengatakan Dr Anggi berencana menemuiku hari itu. Dan aku dipersilahkan menunggu lagi di luar kamar periksa.11.30 Dr Anggi tiba di poliklinik. Beliau melihat hasil pemeriksaan Dr.Syifa dan selanjutnya mengatakan : ” Nampaknya semua sudah OK, tinggal tentukan jadwal operasi. Nanti dihubungi lagi ya, oleh klinik?”Aku mengangguk.Cegluk.Wah, beneran nih. Operasi.Note.Seingatku sekitar 3 hari kemudian aku dihubungi Dr. Syifa. Jadwal operasi, again. Di hari Jum’at, 8 Desember 2017.You see, my big day always starts on Friday.