Tentang Amarah.

Jika selama ini kau dengar kata kata : bahaya akan marahnya seorang pendiam, maka kataku bahaya juga akan diamnya seorang yang biasa bicara.

Barusan kubaca, katanya amarah itu memang sifat dasar manusia. Namun, Allah/Tuhan menjanjikan, bagi orang orang yang mampu menahan amarahnya, maka Dia menjanjikan orang tersebut di akhirat kelak bisa memilih satu bidadari yang diinginkannya.

Pertanyaannya, bidadari itu sebenarnya laki-laki atau perempuan?

Dalam konteks agama yang kutahu, aku sering mendengar : lakukan A, maka kelak Tuhan menjanjikan bidadari-bidadari bagimu kelak.

Boom!

Lalu orang ini, yang biasanya laki-laki, melakukan bom bunuh diri demi dapat bidadari.

Jadi, konotasinya bidadari itu perempuan. Yes?

Di acara TV yang sedang kutonton saat ini, seorang host acara mengomentari dua wanita di belakangnya sebagai bidadari-bidadari cantik.

Nah kan. Jadi bidadari itu perempuan?

Jadi, jika kelak jika seseorang mampu menahan amarahnya dan dijanjikan bidadari, aku yang perempuan ini kelak dijanjikan apa ya, jika mampu menahan amarahku? Bidadari untuk mengerjakan pekerjaan rumah, atau sebagai teman curhat?

Ngomong-ngomong, apakah masih ada nafsukah di akhirat kelak? Jika sudah tak ada nafsu, mengapa perlu dijanjikan bidadari untuk menemani?

Advertisements

Lisan.

Ucapan itu ibarat pisau bermata dua. Terkadang bisa menyenangkan, membahagiakan, meski hanya sekedar dusta. Tapi sebaliknya, bisa menyakitkan, mengiris, meski katanya : ah hanya becanda.

Maka sebaik-baiknya lah kita menjaga lisan. Ucapkan apa yang perlu diucapkan, jika memang datang dari lubuk hati yang paling dalam.

Mungkin itu lebih baik daripada mengucapkan kata-kata yang terasa menyakitkan walau hanya sekedar untuk menggoda.

Tidak Ada Wanita yang Sempurna

Suatu hari, ada seseorang yang posting ini di WA grup :

Tulisan yang sepertinya diambil dari postingan di sebuah media sosial itu sungguh terasa menyejukkan. Aku berharap, oh sangat berharap yang menulis itu adalah seorang pria, seorang suami, atau seorang bapak yang tengah mengajarkan hal yang sama kepada anak laki-lakinya.

You see…

Sama seperti jika ada sesuatu yang tak beres pada seorang anak, dan orang yang nomer satu dituding adalah ibu, maka menurutku jika ada yang salah dari seorang istri, yang dituding ya suaminya. Mengapa tak pandai menakhodai rumah tangganya?

[Eh tapi…. liat case per case ya. Walau bagaimanapun di luar sana tetaplah ada seorang istri atau suami yang brengsek dari sononya bagaimanapun baiknya pasangan mereka ]

Cuma, ada satu kalimat dari tulisan di atas yang aku kurang setuju. Yakni : “apa kamu punya tabungan yang tak terbatas jumlahnya?”

Wah.

Yang nulis lupa, cobaan pria itu kan ada 3 : Tahkta, Harta dan Wanita.

Ketika takhta telah diraih, otomatis hartanya juga mengikuti. Begitu harta mengikuti, laki laki suka banyak yang jadi lupa. Kalo gak banyak bersyukur dan banyak ingat Tuhan sih….apalagi jika sampai dikelilingi wanita, mendadak istri di rumah banyak cela dan kekurangan.

Yang punya bini cakep, katanya bikin ribet.

Yang punya bini gak cakep, katanya ga bisa rawat diri.

Yang punya bini ibu rumah tangga, katanya kurang greget.

Yang punya bini tak berpenghasilan, dianggap sebelah mata.

Yang punya bini aktif di dunia sosial, katanya bisanya menghamburkan uang saja.

Yang punya bini ngga gaul, katanya cupu bikin malu.

Yang punya bini nurut manut, katanya membosankan.

Yang punya bini smart, katanya ngeyel gak tunduk pada suami.

Lalu, mentang-mentang ada uang dan tabungan dan bisa main tunjuk wanita yang disuka, lalu semena-mena deh…

(((Adaaaaaaaaaaaaa…)))

Mestinya kata-kata di atas itu diganti, karena punya tabungan luas tak terhingga tapi misalnya pelit juga, ya ngga ada gunanya.

Harusnya kalimat itu berbunyi : apa kau sudah cukup memanjakan istri dari segi materi?

Naaaaaaaah, kalau itu baru tepat!

3 Things.

3 the most important things in my bags :

…wallet, car key, mobile phone(s).

3 the most important persons m in my life :

…my children, my monkey, my dad.

3 hal yang diidamkan dari pasangan hidup :

… bisa menjadi teman/sahabat, ngga pelit, sering beraktivitas bareng.

3 hal yang disebelin hari ini :

… orang yang perhitungan sama orang tua, harga makanan yang terlalu mahal, kerupuk udang yang rasanya ngga udang banget.

3 hal yang jadi impian :

…kembali tinggal di area Cipete, ganti mobil merk dan jenis yang sama tapi tahun lebih baru, duit buat bisa jalan jalan.

3 kejelekan yang dimiliki :

…suka menggampangkan, keras hati, terlalu cuek.

3 kebohongan besar yang pernah dilakukan :

…keturunan separo Korea (haha!), ngaku-ngaku pinter, engg… jumlah mantan?

3 harapan dalam waktu dekat :

…turun 5 kilo, cicilan cepet lunas, embak cepet pulang.

3 rutinitas sehari hari :

…gym, anter jemput bocah, nulis artikel ( yang semestinya saat ini gue lakukan ketimbang ngetik pertanyaan sendiri, jawab-jawab juga sendiri ini).

3 hal yang akan dirubah demi pasangan :

…akan jauh mengurangin sensik , ngurangin gengsi, tak berekspektasi.

3 kriteria positif sebagai pasangan :

… I know probably I’m hard to love, but man… when I love, I can love hard !….sure can handle budget and money, definitely will keep a home tidy and clean.

3 hal yang bikin orang males deketin :

…raut wajah jutek, ngomong suka terlalu blunt, sering kecuekan ngeloyor-ngeloyor aja jadi sering dibilang songong.

3 hal yang bikin ketar ketir :

…duit menipis, jika badan sakit atau ngasi sinyal ada yang ngga beres, duit menipis.

…ya sekian lah, makasih jika ada yang baca hal ngga penting bagi hidup kleyan ini….

Percaya.

Aku punya seorang teman, seorang artis. Aku masih ingat, ketika pertama kali mendengar namanya, aku masih kuliah, pertengahan tahun 90’an lah.

Dari ceritanya, kisah hidupnya dari dulu lumayan dramatis, penuh warna warni. Penuh pergolakan dan perjuangan, bahkan nyaris menyerempet kematian.

Pun hingga kini.

Namun, temanku tadi memilih percaya, dan bersandar pada Tuhan. Dalam artian BENAR-BENAR percaya dengan kekuatan teguh akan doa dan pertolongan Tuhan.

Which

Untuk yang satu ini, entah kenapa masih saja susah kujalani.

[rollingmyowneyes]

Katanya,” Aku mencoba bersyukur tentang apapun juga setiap saat. Aku bersyukur, aku masih bisa bernafas, kakiku masih menapak lantai. Aku bersyukur, jari jemariku masih bisa digerakkan… aku bersyukur berapapun uang yang tersisa di di dompetku… Bagiku, Tuhan masih sangat baik masih memberi makanan yang ada di rumahku, air bersih yang masih bisa kuminum…”

Like….wow!

Sementara aku :

” Anjritttt… saldo tabungan gue tinggal segini, gimana ya? Kok tipis banget ya? Gimana kalooo…. anu… ini… ituu…”

Dan ketika 2 hari lalu tiba tiba pompa air ngadat dan aku harus membeli pompa baru :

” Duileeee, ada ada aja ya.. mau keluar duit. Makin tipis dah duit ane..”

Dan ketika isi kulkas mulai habis :

” Duuh, kudu belanja lagi nih, perasaan duit deres banget sih ngalirnya…”

Boro boro mikir bersyukur hal yang lain. Asik konsen ke satu hal yang jadi keluhan saja.

Paraaaaaah.

Pada saat temanku tadi bercerita tentang bagaimana Tuhan melalui tangan manusia seringkali sekonyong-konyong memberikan pertolongan tak terduga, kepalaku masih berpikir :

” Ya ngga mungkin juga kali, kalau tanpa usaha, orang akan memberi uang begitu saja…”

The point is…

Tampaknya aku masih kurang percaya, ya? Akan kekuasaan Tuhan?

Padahal mungkin poinnya bukan di situ, tak semudah dan sedangkal : bruk! Nyoooh, duit….nyoooh…!!!

Poinnya adalah bagaimana caranya agar selalu bisa menimbulkan aura positif. Dengan demikian, ngga melulu mumet mikirin hidup. Dengan menebar aura positif, kan katanya adalah magnet pula untuk mendapatkan hal hal yang baik pada akhirnya. Termasuk di dalamnya rezeki, yang salah satunya berupa uang.

The universe will conspire, istilahnya.

Secara teori, aku sih paham banget. Namun dalam prakteknya, hwaraaaakaaadah hadyyuuooh… kok ya aku ngga mudeng-mudeng juga….

Stress dan Hal-hal Resek yang Mengikutinya

Hampir 2 tahun terakhir seingatku aku sudah 4 kali mengalami sakit kepala yang menyiksa. Tak seperti sakit kepala hormonal yang biasa datang sebulan sekali, dengan durasi tak lebih dari 24 jam, sakit kepala yang satu ini…..OHMYGOD! Ampuuuun, ganggu banget..nget..nget!

Serangan pertama dan kedua dalam dua tahun terakhir ini awalnya kukira karena faktor syaraf terjepit di C5 dan C6, yang memang sudah tahunan kuidap. Sempat keder juga, aduh.. kalo suka kumat kumatan begini, bagaimana ke depannya? Kan serem banget kalo mesti operasi?

Serangan ketiga terjadi di akhir 2017 lalu. Sakitnya sempat kutahan-tahan, sehari.. dua hari.. tiga hari.. hari ke empat, aku nggak kuat. Aku datangi deh, Pak Dokter.

“Dok, saya sudah 4 hari sakit kepala di belakang sini dok..” ujarku menunjuk kepala bagian belakang. ” Leher dan bahu saya kakunya minta ampunuuun… Oh ya, dok.. saya punya sejarah syaraf kejepit di leher.”

Pak Dokter yang tinggi besar itu manggut manggut. Beliau bertanya umur, dan aktivitas yang sehari-hari aku lakukan. Trus aku disuruh berbaring, lalu duduk, diperiksa pake stetoskop dan dipegang pundak dan leherku.

“Apa kolesterol tinggi ya, Dok? Apa syaraf leher saya kumat lagi?”

Pak Dokter bilang, melihat aktivitasku yang harian berolahraga, dan pola makanku, beliau merasa sepertinya bukan karena kolesterol.

“Kelihatan, usia 40 tahun lebih, bentuk badan begitu. Kamu pasti rutin olahraga dan jaga makan.”

(((Aduuuuuuuh… akunya kan jadi kepengen Ge-eR…)))

“Saya cenderung menduga ini sakit kepala karena ketegangan otot. Kamu banyak kerja pakai laptop, atau yang bikin kamu sering nunduk?” Tanya Pak Dokter.

Aku mengangguk. Kemudian oleh Pak Dokter aku diberi 3 jenis obat. Parasetamol, vitamin syaraf, dan apa ya satu lagi? Percuma juga, karena yang sudah sudah, biasanya aku malas minum obat.

Di kepalaku cuma satu yang kupikir : jika ini karena otot, dan tak mempan hanya dengan stretching, maka harus di…….akupuntur.

Sepulang dari dokter, aku segera mencari tahu tentang sakit kepala yang kuderita. Ternyata namanya adalah : Tension Type Headache.

TTH ini memiliki gejala khas, yaitu :

  • Bisa berlangsung dari 30 menit, hingga berhari hari. Bahkan sampai mingguan!
  • Gejala yang kurang nyaman yakni ketegangan, mulai terasa ketika tubuh sudah mulai dipakai beraktivitas. Dalam kasusku, aku bangun pagi dalam keadaan bahagia, enteng,nyaman. Namun sesudah jam makan siang, mulai tuh… seperti ada ketegangan yang menjalar, dari bahu, leher dan kepala belakang. Makin sore, intensitasnya makin cihuy… Besok paginya hilang, sesudah makan siang mulai kumat lagi, begitu seterusnya hingga berhari hari.
  • Jika sakit kepala hormonal begitu diminumkan obat ( aku mah biasanya cuma panadol saja, yang bagi sebagian orang “gak nendang”), akan perlahan lahan mereda, sakit kepala jenis ini cenderung susah redanya.
  • Rasa sakitnya khas, tidak berdenyut seperti migren biasa. Gimana ya menjabarkannya? Hmmmm… gini. Kalo migren kan ada senuut…senuuut….gitu rasanya. Si TTH ini ya cuma sakit aja. Rasanya seperti membawa sebuah batu besar berbentuk bola di belakang leher. Atau rasanya seperti diduduki seseorang di bahu dan leher, seperti di film horor Thailand yang judulnya “Shutter”. It’s there, and it hurts just like that.

Penyebabnya apa? Kata Mbah Gugel sih ini :

  • Stress and/or anxiety
  • Poor posture
  • Depression

Jiaah.

Itu sih, aku semua punya. Hahahahhaaa…

Postur badanku memang kurang baik, dari kecil. Aku agak bungkuk. Dan ada skoliosis, kecil sih. Hanya 15 derajat. Aku terbiasa membawa beban hanya di satu lengan dan bahu, yakni sisi kiri. Itu,membuatku menderita syaraf terjepit di bagian leher.

Pekerjaanku yang berkaitan dengan tulis menulis pun ternyata berkontribusi juga. Aku sering mengetik menggunakan handphone, dan ini menambah tekanan pada leherku.

Ah. Sebal.

Kutengok bungkusan obat yang kudapat dari Pak Dokter.

Aduuuh, malas sangat meminumnya. Akhirnya kuputuskan kembali ke cara lama, yang aku rasakan paling cespleng untuk urusan syaraf syarafan begini : akupuntur.

Perkenalanku dengan akupuntur terjadi di sekitar tahun 1997-1998. Saat itu, mungkin karena kecapekan kerja sekalian kuliah, ditambah flu yang cukup berat, tiba tiba aku merasakan dunia berputar. Pusing sekali. Tiap kali aku mencoba berdiri, aku hilang keseimbangan dan jauh terduduk sembari rapat rapat memejamkan mata.

Setelah ke dokter, dan melakukan MRI, aku divonis vertigo. Seperti biasa, aku dapat segabruk obat.

Obat habis, sensasi berputar itu masih kurasakan. Ganggu sekali, dan bikin parno.

Sampai suatu ketika seorang teman kos menawarkan untuk ikut pulang ke rumahnya ke Bogor. Katanya, ada dokter ahli akupuntur langganan kedua orang tuanya, yang mungkin bisa membantu.

Singkat kata, aku mau mencoba.

Saat mendatangi ruang prakter dokter tersebut, aku dalam kondisi gamang. Dalam artian, benar benar langkahku bak tidak menjejak bumi, seperti melayang. Sekelilingku ibaratnya seperti terus menerus bergoyang membentuk sebuah putaran. Pusing.

Setelah menceritakan keluhanku, aku berbaring dan membiarkan Dokter Akupuntur itu menusuki tubuhku dengan sejumlah jarum jarum halus di kaki, tangan, belakang telinga, dan kepalaku.

“Tunggu 30 menit ya, coba rileks, ” ujar si Dokter.

Aku melirik ke jam yang terpaku di tembok, nampak bergoyang ringan seperti dialun ombak. Pukul 10.10. Kupejamkan mata.

Eh ternyata susah ya tidur kalau mesti terbujur kaku begini, pikirku saat itu.

Kubuka mata.

Huh. Baru juga sepuluh menit…

EH.

Loh…kok jamnya jadi diam? Nggak goyang goyang lagi? I swear to God, saat aku baru membuka mata, aku bisa melihat jam di tenbok itu dari (terasa) bergoyang perlahan hingga pelan pelan mantep, diam. Tak bergoyang lagi. Kuputar mata mencoba melihat objek yang lain, lampu, tirai,ujung kakiku, semua nampak stabil. Diam pada tempatnya!

This is really working!

Setelah 3 kali sesi, aku merasa jauhhhh lebih baik daripada saat aku harus meminum segala macam pil pil itu, dan gerakan gerakan fisioterapi yang harus kulakukan setiap hari.

Sejak saat itu, selain pada Tuhan, aku percaya, bangetttt pada pengobatan asal negeri Tiongkok tersebut. Top lah, tapi asal dengan dokter spesialis akupuntur yaaa…

Hal yang sama kini kulakukan untuk pening kepala yang kata Pak Dokter tadi akibat : stress atau tekanan psikis.

What do you know…. Padahal aku merasa aku gak stress-stress amat. Pikiran, pasti punya lah. Akan tetapi, tubuh itu pasti memberi alarm jika ada sesuatu yang tak beres. Tinggal sejeli apa kita menyikapinya.

Contohnya nih ya… kalau aku mulai sering migren, biasanya aku akan mengurangi asin. Jika lidahku terasa gatal, biasanya makanan yang kumakan berlebihan kadar MSG nya. Jika aku sariawan, berarti fisikku lagi drop, jika tak dihajar dengan buah dan sayuran segar, maka dipastikan aku bisa terkena flu.

Kira kira begitu.

Aku pada dasarnya amat malas minum obat. Maaaaaalaaaaaas banget. Kalo ada cara lain yang lebih natural, lebih baik itu saja yang kulakukan meski butuh waktu lebih lama.

Sakit kepala ya aku pilih pijat, segala macam pijat, you name it. Pijat refleksi, Thai massage, pijat seluruh badan, totok kecantikan, totok sirkulasi darah, pijat sport, aku punya semua datanya. Sesudah pijat, aku biasanya tidur. Kalo bangun tidur masih terasa, okelah…berarti parah bener tu sakit kepala. Minum saja obat yang dijual bebas dan terhitung aman. Satu saja. Biasanya untukku, sudah jauh lebih baik.

Sakit kepala pun aku bisa membedakan, mana yang karena kebanyakan makan yang gurih gurih ( alias garam ), mana yang hormonal, dan yang terakhir ini. Tension Type Headache.

Untuk tipe yang terakhir ini, akupun sudah tahu, semua tindakan di atas udah nggak mempan. Hanya bisa : dijarumin!

Perkawinan? Blah.

I thought I’m the one who has been thru hell..

I thought I’m the one who is sailing the most uncertain sea..

But when I look at my right and left, Actually…I’m not alone.

Really.

There are other women who are still struggling, and living what other thought is hell. Yes, at the moment, we all are fighting our own battle in life, and facing different demons.

Tak ada indikatornya sih, mana yang perangnya lebih besar, atau musuh siapa yang lebih keji. Karena masing masing adalah individu yang berbeda, berhadapan dengan individu yang berbeda, mengalami problematika yang berbeda pula.

Ada yang istrinya baik, setia, tapi ga mau di”pegang”. Ada yang suaminya ganteng, mesra, tapi doyan main gila. Ada yang suaminya tekun rajin bekerja kaya raya, tapi gak percayaan sama bini sendiri. Ada yang istrinya ibu yang baik, salihah, cetak anak pintar tapi gak jaga penampilan raganya. Ada istri yang ngeluh mulu tentang suaminya a i u e o, padahal suaminya terlihat anteng aja, gak banyak bacot. Ada yang suaminya cuma gegara kepincut janda jadi lupa segala galanya. Ada istri yang gak bawel, cerewet, ngatur, mandiri, duit terima sedikasihnya aja tapi tetap dianggap gak guna karena mungkin diharapkan merangkap jadi babu juga. Ada yang lama pacaran dan akhirnya nikah dengan orang yang sama, akhirnya selingkuh, mungkin niatnya sekedar variasi, malah kepatil juga. Ada yang suaminya kaya roaya sakseis dalam karir hasil keringet sendiri, sayang istri, eh..demen beli perempuan juga. Ada suami yang terlihat lugu dan cupu, eeee….taunya suka juga beli perempuan, gak kalah sama bos besar. Ada seorang istri yang punya suami yang selisih umur jauh lebih tua tapi baik, sakseis, sayang bini, eh mau lari dan rela diporotin ama laki laki lain cuma gara gara urusan ranjang.

Pilih mana :

Punya suami yang ngga ketauan atau emang engga main gila, tapi insecurenya aujubilah,

Atau

Punya suami yang sayang, cinta begitu rupa, tapi males malesan cari nafkah?

Pilih mana :

Suami yang uda ketauan main gila, tapi mati matian tetap berusaha mempertahankan kita yang katanya nomer satu yang paling dia cinta, tapi ga mau juga setia

Atau

Suami yang gak tau setia atau enggak, tapi control freak dan pelitnya juara?

Pilih mana,

Disakiti di depan mata, suami punya anak dari perempuan lain namun memenuhi semua kemauan dengan harta,

Atau

Suami yang kelihatannya diam dan nurut saja, ga ada angin ga ada badai tanpa bicara main gugat cerai saja dengan alasan yang ngga banget?

Pilih mana,

Berjuang mempertahankan pernikahan menjalani babak demi babak proses pengadilan agama yang menyakitkan itu demi laki laki yang kepincut wanita lain namun pada akhirnya dicerai juga dan tak lama setelah cerai lakinya kawin lagi juga?

Atau..

Memilih tutup mata tutup telinga dan fokus jalani hidup ke depan, karena kadung letih dan sakit hati karena sudah sampai 3x diancam kata cerai oleh suaminya?

Untuk seorang saya, sekarang ini, dengan semua yang telah saya alami dan lihat dan dengar, nilai plus dari sebuah perkawinan itu hanyalah adanya pegangan bahwa if shit happens : entah sakit, atau musibah, ada partner yang BERKEWAJIBAN membantu. Baik dari segi finansial maupun moral. Dah gitu aja.

Ngeri ya?

Entahlah. Mungkin karena saya masih eneg dengan berkurangnya komitmen orang orang masa kini dengan lembaga perkawinan. Mungkin juga saya selama ini udah dibentuk untuk sadar bahwa meski menikah : I am my own hero. I’m the one who can save myself. I depend on myself.

Jadinya ya kayak gini. Perkawinan nampak seperti sebuah belenggu, based on sudah dinafkahi secara materi, ya harus tunduk pada suami.

Ya kan itu getir gila.

Wagelaaaseh.

Eh tapi….

Moga moga ke depannya enggak ya. Tetaplah, saya kepingin lah merasakan ketenangan dan kenyamanan batin bersama seseorang.

Lagian…Kan saya maunya Lebaran ada foto keluarga, ada yang dibawa saat bertemu keluarga besar… Dan saat naik haji kelak , bersama pasangan, biar bisa gandengan. Sesederhana itu saja dulu lah.