Ifthar dan Sebuah Tampolan.

Ramadhan kali ini ada sesuatu yang….ah gimana ya ngejelasinnya.

Jadi gini….

Kan sudah jadi trend ya di Jakarta ini, tradisi bukber, alias buka bersama. Di 2 minggu puasa ini kalau kuhitung, aku sudah 4x buka puasa di luar rumah.

Satu kali, makan bakso di sebuah mal di dekat rumah. Billnya, atau tagihannya total 130 ribuan something lah buat berdua. Aku yang bayar. Karena sebelumnya teman berbukaku membayarkan biaya pijat refleksi yang nominalnya sekitar 180 ribu per orang. Jadi kalau dihitung, impaslah yaaa… aku tak ada hutang budi. Plus menang dikit…Hehehe…

Beberapa hari kemudian, aku kembali diajak bukber kedua. Kali ini di sebuah restoran di mal. Kalau kuhitung, pesananku mungkin total jumlahnya 150 ribuan, sepiring main course dan 2 gelas minuman.

Okelah harga segitu, kupikir. Masih mampu laah…

Namun ketika hendak membayar, salah satu teman berbukaku yang 3 orang itu mengeluarkan kartu kredit.

“Gue yang bayar.”

Wah! Alhamdulillah….Giranglah hati ini. Sudah ketemu teman-teman, haha hihi… eh makan dibayarin pula!

Bukber ketiga, aku pergi makan ke sebuah restoran Chinese food. Makanku terhitung sedikit, dibandingkan abang yang duduk di depanku. Dan total tagihan yang berjumlah 219 ribu itu, dibayar olehnya. Kali ini aku memang tak berinisiatif, sih… mengeluarkan dompet. Hahaha.

Bukber keempat, aku janjian bersama 3 orang teman bekas satu arisan, yang pernah diistilahkan oleh bapaknya anak-anak “geng jet set” (emotikon tertawa).

Kami berbuka puasa di restoran Turki, yang menurutku meski harga buffetnya mahal, 300ribu perorang dengan pilihan yang tak terlalu banyak, tapi rasanya memang lumayan enak.

Dari awal aku sudah enggan memilih buffet. Selain dari harganya yang menurutku mahal itu, aku takut tak mampu menghabiskan. Ya namanya juga berpuasa, ya. Kapasitas lambung pasti mengecil.

“Minta menu,” kataku pada seorang waitress yang menamakan dirinya Julia Roberts.

Datanglah menu itu.

Blaaaaar.

Aku nggak ngerti dan ngga kebayang bagaimana bentuk dan rupanya nama masakan Turki. Nyerah, deh!

“Saya buffet aja deh,” ujarku seraya menutup kembali menu. Pasrah.

Makan.. makan… tertawa.. gosip…curhat… makan… minum…tibalah saat membayar.

Uang di dompetku kurang sedikit dari 300 ribu. Itu saja belum dengan tax dari harga buffet tadi. Total tagihan sempat kulirik tadi. 1.3juta.

“Gue transfer aja ya…” ucapku sambil membuka aplikasi mobile banking.

Salah seorang temanku tadi mengambil tagihan dan mengeluarkan kartu kredit.

“Gue bayar 600ribu, sisanya bagi 3.”

Rupanya temanku tadi mensubsidi karena ia baru saja dapat promosi.

Setelah dihitung. Perorang jadi harus membayar Rp. 252.000.

Wah! Ada sih duit cash segini, pikirku tenang. Kuletakkan uang 5 lembar uang 50 ribuan.

” Kamu ngga usah bayar, ” kata si teman yang baru dapat promosi tadi menggeleng.

Lah katanya bagi 3?

“Ah enggak, ” kataku bersikeras meletakkan lembaran uang tersebut.

“Iya, kamu ngga usah….” kata teman disebelahku seraya menumpuk lebih banyak lembaran merah dan biru.

“Duuh jangan dooong…” ucapku. Aku teringat terakhir kali makan bersama mereka, aku pun tak mengeluarkan yang sepeser pun, padahal total tagihan mencapai nyaris 2 juta rupiah untuk bertiga ( mahal emang sih, makanannya ).

“Engga usaaaah…” ujar mereka kompak. ” Simpan uangnya buat nanti kalau kita jalan-jalan.”

Oh baiklah. Kumasukkan kembali uang ke dompet.

Saat menyetir pulang, aku berpikir. Nggak tahu, ya… ada sedikit rasa kurang enak di dalam hatiku dengan seringnya aku mendapat makanan gratis. Terutama dari beberapa orang teman.

Don’t get me wrong, they’re definitely kind people. Beneran. Dan tentunya, financially supported. Heck, some of them considered filthy rich.

Sesekali ditraktir, aku sih senang bangettt. Tapi jika harus terus dibayarin, kok ada rasa ngga enak ya….

Aku takut aku yang kebablasan. Karena selama ini aku suka gerah, melihat orang, apalagi laki-laki, yang makannya selalu enak, tapi yang bayarin teman atau orang lain.

Kok ndak malu, batinku saat itu.

Selama ini, aku merasa aku selalu take care my own bills. Meski ngga bisa traktir-traktir, saat masih jadi bini orang yang tinggal di rumah gedongan, aku selalu membayar sendiri apa yang kupesan.

Mungkin, aku masih punya “pride” itu. Mungkin juga aku memang orangnya seperti itu, ngga mau menyusahkan. Atau…. enggan berhutang budi?

Ataukah aku memang merasa tak ingin dikasihani, dengan statusku kini?

Sesampainya di rumah, sebelum mengetik tulisan ini, kukirim pesan singkat kepada teman-temanku tadi :

Sesudahnya aku menjadi agak lega. Yasudah, tak usah dipikirkan terlalu lama. Anggap rezeki saja. Kan enak, makan enak tapi dibayarin? Sesimpel itu saja.

Dengan uang 250 ribu yang tak jadi kubayar tadi, aku bisa ke pasar, beli ikan, udang, cumi-cumi, sayur mayur buat makan bapak-ibuku dan orang serumah.

Mungkin seperti itu siklus hidup ya… yang merasa berlebih, mau memberi dan berbagi. Meski aku tak bisa memberi lebih, mungkin aku juga harus memberi ke yang lebih kurang dariku.

Eh…

Aku jadi tertampol, aku kan belum beramal sedekah apa-apa di Ramadhan kali ini.

Advertisements

Titik Tertinggi.

Sesungguhnya, jika seorang wanita bisa mengikhlaskan buah hatinya,

Yang berbulan-bulan dikandungnya,

Yang rela ia pertaruhkan nyawa baginya,

Yang dibesarkan sepenuh kasih dan cinta,

Maka sesungguhnya,

Tak ada lagi yang tak bisa ia lepaskan di dunia

Apalagi cuma tentang teman, bahkan seorang pria?

Lirik Lagu Menye-menye.

Lirik dalam sebuah lagu.

Katanya :

“Kini t’lah kutemukan arti cinta”..

“Kutahu engkaulah jawabannya”…

“Ku akan menjagamu selamanya”…

“Kau yang terakhir”…

“Satu-satunya dalam hatiku”..

“Kita kan raih bahagia bersama”…

Pret.

Tunggu 5 tahun kemudian. Tunggu 10 tahun kemudian. Tunggu 15 tahun kemudian. Tunggu 20 tahun kemudian.

Akankah rasa itu akan sama? Akankan masing-masing akan setia dan tetap bisa tetap mesra?

Akankan tak ada keluhan ,”Kamu kenapa begini? ” atau “Kok kamu gitu sih?”

Or worse….

” Suamiku itu aslinya kayak gini , tau gak siiih..”

Atau.

” Ya lo tau lah bini gue, dia kan suka begitu.. suka anu…suka begini..begitu…”

You see…

Cinta itu dinamis. Dia bisa berubah. Iya, saat sedang tumbuh dan mekar, itu lagi indah indahnya.

And then what?

Tinggal menunggu layu, dan akhirnya rontok. Jadi kompos?

Bisaaaaaaaa.

Bagiku, gak ada cinta yang bertahan sama diantara 2 manusia yang berlawanan jenis. Semua nanti bakal ada adjustment-nya kok.

Kecuali….cinta seorang ibu pada anak anaknya, atau kakek pada cucunya deh.

Cinta kakak dan seorang adik atau sebaliknya aja masih bisa kok, terkena distorsi.

But yeah… masih mending lah.

Gak secetek antara cinta antara laki laki dan perempuan dalam hubungan asmara. Mungkin, ya… mungkin. Karena ada nafsu yang terlibat didalamnya. Makanya bisa get corrupted.

Seberantem-berantemnya kakak dan adik, pada akhirnya tetap akan baikan juga. Ya gimana, satu darah. Mau lari ke mana, tetap saja berbagi darah yang sama.

Tapi antara 2 orang yang (cuma) pacaran?

“Hih! Sape elu… ortu gueh bukaaan… sudara juga bukaaan, minta makan dari elu kagaaa… sapeeeh loooghhh…”

Begitu kira-kiranya.

Sementara dalam pernikahan, lebih kompleks lagi urusannya, karena makin berat embel embel yang mengikutinya, yang terkadang jadi sebuah beban yang ditumpuk perlahan lahan.

You knowlah…. hal hal seperti janji pas ijab kabul, keluarga besar yang harus dijaga, sanksi sosial, anak-anak, endebre endebra obladi oblada…

Hal hal seperti ini yang jika tak cermat menyikapinya berpotensi bikin pasal di masa yang akan datang. Bahkan bisa bikin berantakan, gak sesimpel dari sekedar hubungan pacaran.

Ya itu sih kalo kebetulan aja apek.. ketemu pasangan yang egois atau gengsinya 7 lapis durjana. Yang punya visi berbeda tentang apa yang telah menjadi komitmen pernikahan…

Manajemen Waktu.

Saat menumpang tinggal di apartemen Sabine Klank di Berlin, aku tertarik melihat sebuah notes di samping telepon yang tergantung di dinding.

Notes panjang itu berisi tanggal, hari dan garis panjang untuk diisi/ ditulis disamping keterangan waktu.

Keesokan harinya, Sabine akan menyobek lembar yang tanggalnya telah lewat, dan mengisi dengan data atau janji terbaru.

Rasanya, tak satu pun seorang temanku, yang sama sama ibu rumah tangga seperti Sabine, melakukan hal yang terencana dan sistimatis seperti itu.

Yang ada :

” Ya Tuhaaan! Aku terlewat, lupa kalau hari ini arisan!”

Atau,

” Rasanya, kita kemarin ada janji, ya? Kapan dan ke mana ya?”

Atau,

” Apa? Acaranya hari ini? Waduh! Aku tabrakan dengan janjianku dengan si Itu.. Gimana, ya?”

Termasuk aku sendiri. Di kepala sih sudah terbayang kira-kira seperti ini :

04.00 Bangun, persiapkan bekal anak

05.00 Subuhan

06.00 Bangunkan anak sekolah, lalu berangkat.

07.00

08.00 Olahraga di gym

09.00 Submit artikel

10.00 Mandi

11.00 Makan siang

12.00 Submit content medsos

13.00 Jemput anak sekolah

14.00 Istirahat , shalat

15.00 Istirahat , shalat

16.00 Mulai mengumpulkan materi artikel

17.00 Mulai menulis dan makan malam

18.00 Maghriban

19.00 Cek feedback netijen

20.00 Cek persiapan sekolah anak

21.00 Shalat, dan bersiap tidur

Idealnya mah gitu.. Kenyataannya, wah, amburadul…

Mungkin begitulah tipikal orang Indonesia. Nyantai, kurang disiplin. Ngga heran batal atau meleset janji dan jam karet biasa dimaklumi di sini.

Sementara di luar negeri, wadaow. Bisa habis kita, kena omel karena dianggap tidak sopan.

Aku pernah mencoba, membeli sebuah notes kecil yang formatnya kira kira miriplah dengan notes panjang milik Sabine tadi.

Seminggu sih tertib…

Sekarang, aku tak tahu ke mana notes itu pergi. Entahlah, mungkin terselip, atau tercecer. Dan akhirnya… manajemen waktuku kembali amburadul acakadul.

Tentang Amarah.

Jika selama ini kau dengar kata kata : bahaya akan marahnya seorang pendiam, maka kataku bahaya juga akan diamnya seorang yang biasa bicara.

Barusan kubaca, katanya amarah itu memang sifat dasar manusia. Namun, Allah/Tuhan menjanjikan, bagi orang orang yang mampu menahan amarahnya, maka Dia menjanjikan orang tersebut di akhirat kelak bisa memilih satu bidadari yang diinginkannya.

Pertanyaannya, bidadari itu sebenarnya laki-laki atau perempuan?

Dalam konteks agama yang kutahu, aku sering mendengar : lakukan A, maka kelak Tuhan menjanjikan bidadari-bidadari bagimu kelak.

Boom!

Lalu orang ini, yang biasanya laki-laki, melakukan bom bunuh diri demi dapat bidadari.

Jadi, konotasinya bidadari itu perempuan. Yes?

Di acara TV yang sedang kutonton saat ini, seorang host acara mengomentari dua wanita di belakangnya sebagai bidadari-bidadari cantik.

Nah kan. Jadi bidadari itu perempuan?

Jadi, jika kelak jika seseorang mampu menahan amarahnya dan dijanjikan bidadari, aku yang perempuan ini kelak dijanjikan apa ya, jika mampu menahan amarahku? Bidadari untuk mengerjakan pekerjaan rumah, atau sebagai teman curhat?

Ngomong-ngomong, apakah masih ada nafsukah di akhirat kelak? Jika sudah tak ada nafsu, mengapa perlu dijanjikan bidadari untuk menemani?

Lisan.

Ucapan itu ibarat pisau bermata dua. Terkadang bisa menyenangkan, membahagiakan, meski hanya sekedar dusta. Tapi sebaliknya, bisa menyakitkan, mengiris, meski katanya : ah hanya becanda.

Maka sebaik-baiknya lah kita menjaga lisan. Ucapkan apa yang perlu diucapkan, jika memang datang dari lubuk hati yang paling dalam.

Mungkin itu lebih baik daripada mengucapkan kata-kata yang terasa menyakitkan walau hanya sekedar untuk menggoda.

Tidak Ada Wanita yang Sempurna

Suatu hari, ada seseorang yang posting ini di WA grup :

Tulisan yang sepertinya diambil dari postingan di sebuah media sosial itu sungguh terasa menyejukkan. Aku berharap, oh sangat berharap yang menulis itu adalah seorang pria, seorang suami, atau seorang bapak yang tengah mengajarkan hal yang sama kepada anak laki-lakinya.

You see…

Sama seperti jika ada sesuatu yang tak beres pada seorang anak, dan orang yang nomer satu dituding adalah ibu, maka menurutku jika ada yang salah dari seorang istri, yang dituding ya suaminya. Mengapa tak pandai menakhodai rumah tangganya?

[Eh tapi…. liat case per case ya. Walau bagaimanapun di luar sana tetaplah ada seorang istri atau suami yang brengsek dari sononya bagaimanapun baiknya pasangan mereka ]

Cuma, ada satu kalimat dari tulisan di atas yang aku kurang setuju. Yakni : “apa kamu punya tabungan yang tak terbatas jumlahnya?”

Wah.

Yang nulis lupa, cobaan pria itu kan ada 3 : Tahkta, Harta dan Wanita.

Ketika takhta telah diraih, otomatis hartanya juga mengikuti. Begitu harta mengikuti, laki laki suka banyak yang jadi lupa. Kalo gak banyak bersyukur dan banyak ingat Tuhan sih….apalagi jika sampai dikelilingi wanita, mendadak istri di rumah banyak cela dan kekurangan.

Yang punya bini cakep, katanya bikin ribet.

Yang punya bini gak cakep, katanya ga bisa rawat diri.

Yang punya bini ibu rumah tangga, katanya kurang greget.

Yang punya bini tak berpenghasilan, dianggap sebelah mata.

Yang punya bini aktif di dunia sosial, katanya bisanya menghamburkan uang saja.

Yang punya bini ngga gaul, katanya cupu bikin malu.

Yang punya bini nurut manut, katanya membosankan.

Yang punya bini smart, katanya ngeyel gak tunduk pada suami.

Lalu, mentang-mentang ada uang dan tabungan dan bisa main tunjuk wanita yang disuka, lalu semena-mena deh…

(((Adaaaaaaaaaaaaa…)))

Mestinya kata-kata di atas itu diganti, karena punya tabungan luas tak terhingga tapi misalnya pelit juga, ya ngga ada gunanya.

Harusnya kalimat itu berbunyi : apa kau sudah cukup memanjakan istri dari segi materi?

Naaaaaaaah, kalau itu baru tepat!